Masuk“Tessa!”
Tessa yang baru saja selesai menyisir rambutnya, segera berlari menuju lantai bawah di mana ibunya memanggilnya dengan keras. Sampai di hadapan ibunya, Tessa bertanya, “Iya, Bunda? Kenapa beteriak seperti itu, panggilnya pelan-pelan aja, Tessa dengar kok.”
Hari ini, Tessa memang libur kuliah dan memilih untuk menghabiskan waktunya di rumah. Selain karena tidak memiliki rencana dengan teman-temannya, Tessa tidak memiliki uang. Namun, Tessa sendiri tidak merasa keberatan untuk tinggal di rumah. Setidaknya, Tessa bisa menggunakan waktu liburnya untuk istirahat di kamarnya. Itu pun, jika Tessa tidak diganggu oleh ibu dan kakaknya yang sering membuat tingkah menyebalkan saat ayahnya tidak ada di rumah. Benar, keduanya tampaknya sangat senang berperan sebagai ibu dan kakak tiri yang jahat terhadap Tessa. Sayangnya, Tessa sama sekali tidak bisa bertindak tegas saat berhadapan dengan ketidakadilan yang dilakukan oleh keduanya. Tessa berubah bak Cinderella yang tidak berdaya di hadapan keduanya. Yah, Tessa sudah sering kali berubah menjadi upik abu saat ayahnya tidak ada di rumah.
“Kamu Bunda panggil berkali-kali, baru nyaut dan turun dari kamar. Abis ngapain kamu?” tanya Vania ketus.
“Tessa baru selesai mandi. Jadi, kenapa Bunda panggil Tessa?” tanya Tessa.
Elena muncul dengan gaun tidurnya dan memberikan sebuah daftar bahan makanan yang membuat Tessa mengernyit dalam. “Ini apa?” tanya Tessa tidak mengerti.
“Pergi, dan beli semua yang tertulis di sana,” ucap Elena.
“Kakak kan bisa minta salah satu pelayan,” sanggah Tessa merasa jika apa yang diminta oleh Elena terlalu berlebihan. Tessa saat ini tengah berlibur, dan hal yang ia inginkan adalah beristirahat. Setidaknya, ia ingin menikmati waktunya dengan tenang. Karena setiap dirinya kuliah, itu artinya ia harus bekerja ekstra karena dirinya juga harus bekerja setelah pulang kuliah.
“Para pelayan tengah sibuk. Hari ini, adalah hari perawatan berkala rumah kita. Selain itu, mereka juga harus menyiapkan taman untuk sesi pemotretan kakakmu. Jadi, karena kamu menganggur, setidaknya bantu Bunda dengan berbelanja. Itu semua adalah bahan yang dibutuhkan oleh kakakmu,” ucap Vania memotong sesi debat Elena dan Tessa.
Tessa menghela napas pelan. Jika sudah seperti ini, mana mungkin Tessa bisa menolak apa yang diinginkan oleh Elena dan Vania. Tessa pun mengangguk dan berkata, “Oke, Tessa bakal belanja. Tessa minta uangnya, Bunda.”
Vania pun segera mengeluarkan sebuah kartu dari dompet mewahnya dan memberikannya pada Tessa. “Pastikan kamu membeli setiap barang yang ada di catatan itu,” ucap Vania memberikan peringatan.
Tessa mengangguk. “Ini Tessa boleh beli ice cream enggak Bunda?” tanya Tessa pada Vania dan membuat Elena menahan tawa.
“Seperti anak kecil saja,” cemooh Elena sembari melenggang pergi.
Sementara Tessa masih menunggu jawaban dari Vania. “Apa uang dari Bunda sebelumnya sudah habis?” tanya Vania.
Tentu saja sudah habis tanpa sisa. Tessa sebenarnya memiliki uang pribadi, yang ia hasilkan dari pekerjaan paruh waktunya. Namun, Tessa harus menyimpan uang itu untuk keperluan mendesak yang bisa datang kapan saja. Karena itulah, untuk camilan, Tessa tetap memilih untuk meminta uang pada bundanya, atau memilih untuk berpuasa jajan saja daripada harus menggunakan uang simpanannya. Tessa pun memberikan jawaban berupa anggukkan, dan hal itu membuat Vania menghela napas panjang. “Kamu tidak boleh terlalu boros. Kamu boleh membeli ice cream, tapi hanya satu buah,” ucap Vania.
Tessa pun tersenyum dan mengangguk. “Iya, Bunda!” seru Tessa lalu segera beranjak kembali ke kamarnya untuk bersiap pergi berbelanja. Meskipun di luar rencananya, tetapi pergi berbelanja juga terdengar cukup menyenangkan.
**
“Pak Arif tunggu di sini saja,” ucap Tessa pada supir yang mengantarkannya. Pak Arif ini adalah supir pibadi yang hanya boleh mengendarai mobil yang ditumpangi oleh Vania. Namun, Vania memberikan izin bagi Tessa untuk menggunakan mobil pribadinya.
“Baik, Non,” jawab Pak Arif patuh.
Setelah mendengar jawaban itu Tessa pun beranjak memasuki super market di mana dirinya akan berbelanja semua keperluan kakaknya. Tessa menghela napas panjang saat membaca daftar panjang yang diinginkan oleh Elena. Itu dimulai dari beberapa keperluan kosmetik, hingga bahan-bahan menu diet Elena yang jelas membuat kening Tessa mengernyit dalam. “Apa Kakak bisa hidup senang dengan memakan makanan kambing seperti ini?” tanya Tessa sembari melangkah menuju tempat kosmetik dijajakan. Tessa memutuskan untuk membeli skincare terlebih dahulu sebelum membeli sayur mayur yang jelas akan lebih memakan waktu untuk memilih dan membawanya yang jelas lebih berat.
Tessa tampak begitu manis dengan kaos oversize dan celana baggie pants sebetis. Jangan lupakan topi yang ia kenakan semakin melengkapi penampilannya yang kasual. Tessa bergerak lincah dengan mengambil beberapa barang yang sudah ditulis oleh Elena. Untunglah, Elena menuliskan semua hal yang ia inginkan secara detail. Meskipun Tessa tidak terlalu suka berdandan dan tidak pandai berias, tetapi ia tidak terlalu buta masalah make up. Jadi, ia tidak kesulitan untuk membeli barang-barang tersebut. Hanya membutuhkan waktu tiga puluh menit, Tessa sudah menyelesaikan sesi belanja make up. Tessa pun beranjak menuju tempat berbelanja sayur. Tessa tampak teliti memilih sayur yang diinginkan oleh Elena.
Hal itu terjadi, karena Elena memang sangat rewel dalam masalah makanan. Saat Elena memilih sawi, Tessa mendapatkan telepon dari Haikal. Tessa mengernyitkan keningnya dan segera mengangkat telepon tersebut. “Aku tebak, kamu pasti lagi belanja sayur,” ucap Haikal dari ujung sambungan telepon.
Tessa yang mendengar hal itu tertawa renyah dan mengedarkan pandangannya. Saat berbalik, ia melihat Haikal yang melangkah mendekat padanya. Tessa pun memutuskan sambungan telepon dan bertanya, “Kok di sini? Ngapain?”
“Lagi nanem sayur,” jawab Haikal membuat Tessa mengurucutkan bibirnya.
“Jangan ngaku jadi temennya Tessa ya, aneh banget,” ucap Tessa lalu mengambil seikat sawi dan mendorong keranjang belanjaannya.
Haikal pun mengambil alih keranjang belanjaan dan bertanya, “Apa Elena yang menyuruhmu belanja?”
“Ya siapa lagi kalo bukan Kakak,” jawab Tessa sembari mengambil lemon segar berukuran cukup besar.
“Dia beneran kayak kakak tiri di dongeng Cinderella ya?”
“Dan aku kayak Upik Abu?” tanya Tessa menyahut pertanyaan Haikal.
Haikal mengangguk dan menjawab, “Mirip sih.”
Tessa menggerutu kesal, tetapi tidak mengatakan apa pun lagi. Haikal adalah temannya sejak kecil, jadi tentu saja Haikal mengenal betul bagaimana kondisi keluarganya. Bahkan, hanya Haikal yang tahu bagaimana hubungannya yang sesungguhnya dengan ibu dan saudari tirinya. Jadi, bagi Tessa dan Haikal, bukan hal yang aneh jika mereka membicarakan hal seperti ini dengan sikap santai seolah-olah itu adalah hal yang biasa. Karena itu memang hal yang biasa bagi mereka. “Ini sudah?” tanya Haikal pada Tessa.
Tessa pun memeriksa belanjaannya dan mengangguk. “Sudah. Ayo ke kasir,” ucap Tessa.
Tidak memerlukan waktu yang terlalu lama, Tessa pun selesai berbelanja. Haikal pun membantu Tessa membawa tas belanjaan menuju area parkir. Namun, begitu tida di sana, Haikal mendapatkan telepon dari rumah jika dirinya harus segera pulang. Tessa pun berkata, “Pulang aja. Ada Pak Arif kok yang bantu. Salam ya buat Tante.”
Haikal dengan enggan meletakkan semua tas belanjaan Tessa di atas aera parkir. “Maaf ya. Aku harus pergi.”
Tessa mengangguk. “Iya. Dah!” seru Tessa mengantarkan kepergian Haikal.
Lalu, Tessa pun berusaha menelepon supirnya itu. Sayangnya, teleponnya berulang kali dialihkan. Tessa mendapatkan firasat buruk saat tiba-tiba dirinya mendapatkan pesan dari kakaknya. Tessa membukanya dan mengerang kesal. “Pak Arif tidak bisa menunggumu. Dia harus mengantarku ke salon. Jadi, jangan manja. Pulang sendiri.”
“Yang manja di sini siapa deh? Heran!” seru Tessa kesal.
Saat itulah, sebuah mobil mewah berhenti tepat di hadapan Tessa. Lalu seorang pria turun dari sana. Benar sosok pria itu tak lain adalah Aio. Tessa mundur selangkah. Rasanya, Aio sangat mencurigakan di matanya. Entah mengapa, Tessa merasa jika Aio selalu muncul di mana pun Tessa berada. Aio mendengkus saat melihat kewaspadaan Tessa. “Kau mau pulang? Kalau begitu, aku antar.”
“Om ini penguntit ya?” tanya Tessa saat Aio akan mengambil alih tas belanjaan Tessa. Namun, begitu mendengar pertanyaan Tessa, Aio menghentikan gerakan tangannya dan menatap Tessa dengan terkejut.
“Apa katamu?” tanya balik Aio tidak mempercayai pendengarannya.
Tessa berdeham. “Rasanya enggak salah Tessa berpikir seperti itu. Soalnya, Om selalu muncul di mana pun Tessa berada. Seakan-akan, Om itu tau di mana dan ke mana Tessa pergi,” jawab Tessa.
Aio yang mendengar hal itu tertawa renyah. Ia bersandar pada sisi badan mobilnya dan melipat kedua tangannya di depan dada. Aio menatap Tessa dengan netranya yang memang pada dasanya selalu menyorot tajam. Mendapatkan tatapan seperti itu, Tessa pun salah tingkah. Padahal, sebelumnya Tessa hanya bermain-main dengan perkataannya. Namun, saat Aio sama sekali tidak mengelak apa yang sudah ia katakan sebelumnya, maka Tessa pun mulai merasa takut. Bagaimana jika benar Aio menguntitnya? Itu terlalu menakutkan! Meskipun Aio adalah pria tampan yang mapan dari segala bidang kehidupan, tetapi tetap saja. Kasus penguntitan terasa sangat menyeramkan bagi Tessa yang hanya orang biasa ini.
Melihat raut wajah Tessa yang ketakutan, Aio pun berdeham dan berhasil membuat Tessa kembali ke dunia nyata. “Kau masih muda, tapi terlalu sering melupakan banyak hal. Yang pertama, aku sudah mengatakan padamu, jika aku tidak akan membuatmu terluka. Yang kedua, aku sudah berkata padamu untuk tidak memanggilku dengan sebutan Om. Lalu yang ketiga, aku sudah mengatakan jika aku akan menjadikanmu sebagai milikku, tentu saja dengan cara apa pun. Menguntitmu jelas terdengar sebagai salah satu cara yang menarik untuk mengetahui semua hal mengenai dirimu, dan berakhir menjadikanmu milikku. Bagaimana? Apa kau tertarik memiliki penguntit sepertiku?”
“Tessa!”Tessa yang baru saja selesai menyisir rambutnya, segera berlari menuju lantai bawah di mana ibunya memanggilnya dengan keras. Sampai di hadapan ibunya, Tessa bertanya, “Iya, Bunda? Kenapa beteriak seperti itu, panggilnya pelan-pelan aja, Tessa dengar kok.”Hari ini, Tessa memang libur kuliah dan memilih untuk menghabiskan waktunya di rumah. Selain karena tidak memiliki rencana dengan teman-temannya, Tessa tidak memiliki uang. Namun, Tessa sendiri tidak merasa keberatan untuk tinggal di rumah. Setidaknya, Tessa bisa menggunakan waktu liburnya untuk istirahat di kamarnya. Itu pun, jika Tessa tidak diganggu oleh ibu dan kakaknya yang sering membuat tingkah menyebalkan saat ayahnya tidak ada di rumah. Benar, keduanya tampaknya sangat senang
“Astaga!” seru Tessa kaget karena begitu ke luar dari klinik tempatnya bekerja, Tessa disambut oleh Aio yang menatapnya dengan datar.“Tu—Maksudku, Kak Aio, kenapa berdiri di sini? Kliniknya dan penitipan hewannya masih buka, kalo mau reserfasi, silakan masuk,” ucap Tessa lalu memberikan ruang bagi Aio memasuki klinik hewan tersebut. Namun, Aio sama sekali tidak bergeak.“Aku datang untuk bertemu denganmu,” ucap Aio.Tessa pun mundur menjauh saat Aio berusaha untuk meraih tangannya. Tessa tentu saja masih mengingat kejadian di mana Aio mencium tangannya dan mengatakan sesuatu yang terdengar menyeramkan bagi Tessa. Selain itu, Tessa sendiri sudah berjanji
“Argh!” teriak Tessa terbangun dari tidurnya.Lagi-lagi, Tessa mendapatkan mimpi buruk yang mengerikan. Teresa bangkit dari posisi berbaringnya dan beranjak untuk minum. Akhir-akhir ini, Tessa memang selalu terganggu oleh mimpi buruk. Mimpi buruk yang datang setelah Tessa bertemu dengan Aio tempo hari di klinik hewan. Sebenarnya, Aio sama sekali tidak melakukan sesuatu yang berlebihan padanya. Namun, perkataan yang dikatakan oleh Aio saat mencium pergelangan tangannya benar-benar terasa menakutkan bagi Tessa. “Aku akan membuatmu menjadi milikku, Tessa. Aku berjanji.”Perkataan Aio itu terus terngiang dalam benak Tessa. Jelas, Tessa merasa takut. Rasanya, wanita mana pun akan merasa takut jika tiba-tiba ad
Aio terlihat begitu percaya diri saat melangkah memasuki gedung perusahaan keluarga Heidi, yang rasanya sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan perusahaan yang dimiliki oleh keluarga Dawson. Kehadiran Aio dengan fisiknya yang menonjol, jelas membuat perhatian orang-orang dengan mudahnya tertuju pada sosoknya yang memesona. Aio terlihat didampingi oleh seorang pria muda yang juga tidak kalah memesona darinya. Keduanya menjadi pusat perhatian para karyawan yang berlalu lalang. Namun, Aio dam asistennya yang bernama Chiko, sama sekali tidak terganggu dengan hal itu dan fokus dalam perjalanan mereka menuju lantai teratas gedung ini, di mana ruangan Galih Heidi berada.Tentu saja, karena para staf sudah mengenal Aio dan sebelumnya pun Chiko sudah membuat janji dengan asisten Galih, kedatangan Aio disambut dengan
Mendengar keributan di taman, Galih pun beranjak dari ruang makan dan terkejut melihat putrinya yang tengah bergelayut di pembatas balkon. “Astaga, Tessa! Kenapa kamu seperti itu? Berbahaya, kembali ke tempat yang aman!” seru Galih. Seruan tersebut membuat Vania dan Elena beranjak mengikuti Galih. Keduanya merasa kesal karena Tessa yang terlihat muncul dengan kondisi cantik, merusak rencana yang sudah mereka susun. Perkiraan Tessa memang benar. Keduanya yang mengunci Tessa di dalam kamar, agar Aio tidak bisa bertemu dengan Tessa. Hal itu dilakukan, agar Aio hanya fokus dan jatuh hati pada Elena yang cantik. Namun, Tessa malah merusak semua usaha yang sudah dilakukan oleh ibu dan anak itu.“Iya, Ayah!” jawab Tessa sedikit berseru.
Vania—sang nyonya rumah di kediaman Heidi—memberikan isyarat pada putrinya Elena untuk mengikutinya ke lantai dua. Tentu saja, Elena yang mengerti dengan apa yang akan dilakukan oleh ibunya, segera melangkah mengikuti langkah ibunya dengan senang hati. Elena melirik kotak berisi gaun dari desainer terkenal di tangan ibunya. Elena mengerucutkan bibirnya dan mengeluh, “Kenapa Bunda menyiapkan gaun secantik itu untuknya? Harusnya, Bunda menyiapkan gaun cantik hanya untukku. Malam ini, aku harus terlihat mencolok karena kecantikanku, hingga anak itu tidak bisa menarik perhatian siapa pun.”Vania menatap putrinya yang cantik sembari mengulum senyum. “Bukan Bunda yang menyiapkan gaun ini dan gaun yang kau kenakan, Elena. Ayahmu yang menyiapkannya. Toh, gaun yang kamu kenakan terlihat leb