Share

5. Menunggu Waktu

Penulis: Miafily
last update Tanggal publikasi: 2020-10-12 10:34:40

“Astaga!” seru Tessa kaget karena begitu ke luar dari klinik tempatnya bekerja, Tessa disambut oleh Aio yang menatapnya dengan datar.

“Tu—Maksudku, Kak Aio, kenapa berdiri di sini? Kliniknya dan penitipan hewannya masih buka, kalo mau reserfasi, silakan masuk,” ucap Tessa lalu memberikan ruang bagi Aio memasuki klinik hewan tersebut. Namun, Aio sama sekali tidak bergeak.

“Aku datang untuk bertemu denganmu,” ucap Aio.

Tessa pun mundur menjauh saat Aio berusaha untuk meraih tangannya. Tessa tentu saja masih mengingat kejadian di mana Aio mencium tangannya dan mengatakan sesuatu yang terdengar menyeramkan bagi Tessa. Selain itu, Tessa sendiri sudah berjanji untuk menjaga jarak dengan Aio. Tessa tidak mau sampai Elena berpikir jika Tessa adalah saingannya. Jika sampai itu terjadi, maka dunia Tessa akan berubah menjadi neraka sepenuhnya. Aio yang menyadari jika Tessa menghindarinya tentu saja mengernyitkan keningnya. Ia menarik tangannya sendiri dan kembali menyimpannya ke sisi tubuhnya yang tinggi dan proporsional sebagai pria dewasa yang memesona. “Apa kau takut padaku?” tanya Aio.

“Ti, Tidak,” ucap Tessa gugup.

“Benarkah? Lalu kenapa tingkahmu malah terlihat sebaliknya? Saat ini kau terlihat begitu ketakutan. Apa ini berkaitan dengan apa yang aku katakan saat tempo hari?” tanya Aio lagi merujuk pada saat Aio mencium pergelangan tangan Tessa dan menggumamkan janjinya.

Wajah Tessa berubah pucat pasi. Meskipun Tessa mengelak, tetapi rona wajahnya yang menghilang sudah lebih dari cukup mengonfirmasi apa yang dipikirkan oleh Aio. Pria itu pun menghela napas panjang. Jelas, ia mendekati Tessa bukan dengan alasan ingin membuat Tessa takut. Aio ingin Tessa jatuh hati padanya, bukannya merasa takut seperti ini. Sepertinya, apa yang dikatakan oleh Cendric dan Benroy sebelumnya ada benarnya. Aio harus banyak belajar mengenai wanita pada mereka. Namun, Aio sendiri belum menyerah. Ia ingin memiliki Tessa dengan caranya sendiri. Ia menatap Tessa yang terlihat seperti kelinci kecil yang ketakutan.

“Aku sama sekali tidak memiliki niat buruk padamu. Jadi, tidak perlu takut. Aku datang untuk menjemputmu, sekalian mengajakmu makan malam bersama. Tenang, aku sudah mendapatkan izin ayahmu, jadi pulang terlambat tidak akan membuatmu terkena marah,” ucap Aio.

Tessa yang mendengar hal itu terlihat terkejut. “Tunggu, apa Kakak bilang pada Ayah kalo aku bekerja di sini?” tanya Tessa cemas dan tanpa sadar menggenggam salah satu tangan Aio yang kekar.

Aio sendiri masih mengenakan setelan kerjanya yang lengkap dan necis. Pria itu mengernyitkan keningnya sesaat sebelum menyadari sesuatu. Ia menyeringai dan berkata, “Untuk sekarang tidak. Tapi, jika kau menolak ajakanku, aku tidak bisa berjanji untuk tidak mengatakannya pada ayahmu.”

Saat itulah, Tessa sadar jika dirinya sudah melakukan kesalahan. Saat ini, Aio sudah memegang kelemahannya dan pastinya akan memanfaatkannya untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Tessa pun mengerucutkan bibirnya tanpa sadar. Aio menyunggingkan senyum tipis. Tessa benar-benar bertingkah manis seperti Princess, adik bungsunya yang memang sangat ia sayangi. Aio pun berkata, “Kalau begitu, ayo pergi.”

Aio berbalik dan melangkah menuju mobil mewahnya. Ia membukakan pintu untuk Tessa dan memberikan isyarat agar Tessa segera masuk. Meskipun dengan bibir mengerucut tidak senang, Tessa pun menuruti apa yang diinginkan oleh Aio. “Tapi jagan lama-lama ya, Kak,” ucap Tessa begitu Aio mengemudikan mobilnya.

“Kita hanya akan makan malam,” ucap Aio.

Sepanjang perjalanan, mereka sama sekali tidak membicarakan apa pun. Tentu saja, itu adalah suasana canggung yang disukai oleh Tessa. Gadis satu itu memang tipe yang suka membicarakan banyak hal. Jadi, ketika dirinya harus diam, rasanya sangat tidak nyaman dan canggung luar biasa. Untungnya, tak lama mobil yang dikemudikan oleh Aio tiba di sebuah restoran berbintang yang cukup Tessa kenal. Ia sering makan di sini, ketika ayahnya mengajaknya makan keluarga bersama di luar rumah. Tentu saja, Tessa belum memiliki pengalaman datang ke tempat makan semewah ini selain dengan keluarganya. Tessa turun tanpa menunggu dibukakan pintu oleh Aio, dan hal itu membuat Aio mendengkus.

“Ayo masuk,” ucap Aio lalu berniat untuk menggandeng Tessa. Namun, Tessa dengan lihai menghindar dan masuk terlebih dahulu dari Aio.

Tessa agak malu, saat menyadari jika dirinya mengenakan pakaian yang terlalu kasual saat memasuki restoran mewah yang kebanyakan pengunjungnya mengenakan setelah mewah dan necis. Tessa dan Aio diarahkan menuju lantai tiga, di mana meja VIP sudah dipesan oleh Aio. Tessa tidak terlalu terkejut dan hanya berharap jika makan mala mini segera selesai. Aio sendiri meminta pelayan untuk menyajikan makanan pembuka. Tessa menatap Aio dan berkata, “Kak Aio, aku boleh minta tolong?”

“Tentu. Tapi gunakan namamu sendiri untuk memanggil dirimu.”

Tessa mengernyitkan keningnya. “Kenapa?”

“Karena itu terdengar manis,” jawab Aio.

Tessa memasang ekspresi aneh. Jelas, ia sendiri tidak ingin terlihat manis di hadapan Aio. Namun, Tessa tidak memiliki pilihan. “Setuju. Tapi Kakak harus janji dulu, jangan bilang Ayah kalau Tessa kerja part time.”

Jawaban Aio terinterupsi dengan kedatangan makanan pembuka mewah berupa salmon segar yang dibuat menjadi salad sekali suap. Tessa agak mengernyit karena dirinya tidak terlalu menyukai makanan mentah seperti ini. Jadi, dengan tegas, Tessa pun tidak menyentuh makanan pembuka tersebut. Aio yang melihatnya terdiam, dan melanjutkan pembicaraan mereka. “Baik, aku setuju.”

Tessa yang mendengar hal itu seketika tersenyum lebar. Itu senyuman pertama yang ditujukan Tessa pada Aio. Tentu saja, Aio tidak membuang kesempatan tersebut dan merekam senyuman indah Tessa baik-baik. Ia memberikan isyarat pada pelayan untuk membawakan makanan utama karena menyadari Tessa tidak menikmati makanan pembuka. Untuk makanan utama, Tessa tampaknya menyukainya dan memakannya dengan cukup lahap. Saat itulah, Aio mengatakan sesuatu yang membuat Tessa menghentikan kegiatannya. “Jangan terlalu dekat dengan pemuda bernama Haikal,” ucap Aio.

Tessa meletakkan alat makannya dan meminum air untuk melegakan tenggorokannya. Setelah itu, Tessa pun menatap Aio dengan berani. “Tidak mau. Haikal teman Tessa, lalu kenapa Tessa harus menjaga jarak dengannya? Malah, orang yang harusnya tidak terlalu dekat dengan Tessa, adalah Kakak sendiri. Kita, sama sekali tidak boleh dekat.”

Aio terlihat tidak senang saat mendengar apa yang dikatakan oleh Tessa. “Kenapa kita tidak boleh dekat?”

Tessa tampak berpikir serius sebelum memberikan jawaban, “Enggak ada alasan. Intinya, kita tidak boleh lebih dekat daripada ini.”

**

Aio terlihat memasang tampang serius di hadapan monitor komputer canggihnya. Cendric dan Benroy hanya mengamati Aio yang sejak pulang segera beranjak ke dalam ruangan rahasia mereka lalu tampak sibuk dengan komputernya. Keduanya sama sekali tidak bisa mendekat, karena Aio memang tidak mengizinkannya. “Apa mungkin ada hal buruk yang terjadi?” tanya Cendric.

Benroy menatap punggung saudara tertuanya dan berkata, “Sepertinya iya. Mungkin, Abang benar-benar ditolak.”

Benroy dan Cendric terkejut saat Aio tiba-tiba berbalik dan menatap keduanya dengan tajam. “Menurut kalian, jika gadis yang kalian dekati mengatakan jika tidak mau lebih dekat dengan kalian, apa yang membuatnya mengatakan hal itu?” tanya Aio.

Benroy dan Cendric saling bertatapan. Ternyata, apa yang mereka perkirakan memang benar. Kakak tertua mereka sudah ditolak oleh gadis yang ia sukai. Benroy berdeham, lalu memilah perkataan yang akan ia ucapkan sebagai jawaban dari pertanyaan kakaknya. “Sepertinya, gadis itu memang tidak menyukai kita,” ucap Benroy.

“Apa gadis yang Abang sukai menolak dengan mengatakan hal itu?” tanya Cendric hati-hati.

Aio mengernyitkan keningnya dalam-dalam lalu bangkit dari kursinya. Sebelum melangkah pergi, Aio berkata, “Kalian tidak perlu tahu.”

Tentu saja, Benroy dan Cendric menggerutu kesal dengan tingkah kakak mereka. Sementara itu, Aio pun kembali ke dalam kamarnya. Sebelumnya, ia sudah memastikan jika adik bungsunya sudah tidur, jadi semua tugas Aio hari ini sudah selesai. Aio yang kembali ke kamarnya ternyata menghidupkan ponselnya dan membaca informasi mengenai Tessa yang baru ia dapatkan. Tessa, ternyata bekerja karena kesulitan dengan masalah keuangan. Tentu saja, itu sangat tidak cocok dengan statusnya yang tak lain adalah anak gadis dari seorang pengusaha yang kaya raya. Namun, dia malah kesulitan karena masalah uang. Aio tentunya sudah bisa membaca, jika kesulitan yang dihadapi oleh Tessa berasal dari ulah ibu dan kakak tirinya.

“Kau mungkin bisa berkata, jika kita tidak boleh lebih dekat. Namun, aku sama sekali tidak akan mau menuruti maumu. Aku, akan membuatmu menyadari jika aku adalah orang yang sangat kau butuhkan dalam hidupmu, Tessa. Aku akan membuatmu bergantung pada diriku. Tinggal menunggu waktunya saja.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • The Billionaire Chasing Cinderella (Bahasa Indonesia)   6. Upik Abu

    “Tessa!”Tessa yang baru saja selesai menyisir rambutnya, segera berlari menuju lantai bawah di mana ibunya memanggilnya dengan keras. Sampai di hadapan ibunya, Tessa bertanya, “Iya, Bunda? Kenapa beteriak seperti itu, panggilnya pelan-pelan aja, Tessa dengar kok.”Hari ini, Tessa memang libur kuliah dan memilih untuk menghabiskan waktunya di rumah. Selain karena tidak memiliki rencana dengan teman-temannya, Tessa tidak memiliki uang. Namun, Tessa sendiri tidak merasa keberatan untuk tinggal di rumah. Setidaknya, Tessa bisa menggunakan waktu liburnya untuk istirahat di kamarnya. Itu pun, jika Tessa tidak diganggu oleh ibu dan kakaknya yang sering membuat tingkah menyebalkan saat ayahnya tidak ada di rumah. Benar, keduanya tampaknya sangat senang

  • The Billionaire Chasing Cinderella (Bahasa Indonesia)   5. Menunggu Waktu

    “Astaga!” seru Tessa kaget karena begitu ke luar dari klinik tempatnya bekerja, Tessa disambut oleh Aio yang menatapnya dengan datar.“Tu—Maksudku, Kak Aio, kenapa berdiri di sini? Kliniknya dan penitipan hewannya masih buka, kalo mau reserfasi, silakan masuk,” ucap Tessa lalu memberikan ruang bagi Aio memasuki klinik hewan tersebut. Namun, Aio sama sekali tidak bergeak.“Aku datang untuk bertemu denganmu,” ucap Aio.Tessa pun mundur menjauh saat Aio berusaha untuk meraih tangannya. Tessa tentu saja masih mengingat kejadian di mana Aio mencium tangannya dan mengatakan sesuatu yang terdengar menyeramkan bagi Tessa. Selain itu, Tessa sendiri sudah berjanji

  • The Billionaire Chasing Cinderella (Bahasa Indonesia)   4. Jaga Jarak

    “Argh!” teriak Tessa terbangun dari tidurnya.Lagi-lagi, Tessa mendapatkan mimpi buruk yang mengerikan. Teresa bangkit dari posisi berbaringnya dan beranjak untuk minum. Akhir-akhir ini, Tessa memang selalu terganggu oleh mimpi buruk. Mimpi buruk yang datang setelah Tessa bertemu dengan Aio tempo hari di klinik hewan. Sebenarnya, Aio sama sekali tidak melakukan sesuatu yang berlebihan padanya. Namun, perkataan yang dikatakan oleh Aio saat mencium pergelangan tangannya benar-benar terasa menakutkan bagi Tessa. “Aku akan membuatmu menjadi milikku, Tessa. Aku berjanji.”Perkataan Aio itu terus terngiang dalam benak Tessa. Jelas, Tessa merasa takut. Rasanya, wanita mana pun akan merasa takut jika tiba-tiba ad

  • The Billionaire Chasing Cinderella (Bahasa Indonesia)   3. Restu

    Aio terlihat begitu percaya diri saat melangkah memasuki gedung perusahaan keluarga Heidi, yang rasanya sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan perusahaan yang dimiliki oleh keluarga Dawson. Kehadiran Aio dengan fisiknya yang menonjol, jelas membuat perhatian orang-orang dengan mudahnya tertuju pada sosoknya yang memesona. Aio terlihat didampingi oleh seorang pria muda yang juga tidak kalah memesona darinya. Keduanya menjadi pusat perhatian para karyawan yang berlalu lalang. Namun, Aio dam asistennya yang bernama Chiko, sama sekali tidak terganggu dengan hal itu dan fokus dalam perjalanan mereka menuju lantai teratas gedung ini, di mana ruangan Galih Heidi berada.Tentu saja, karena para staf sudah mengenal Aio dan sebelumnya pun Chiko sudah membuat janji dengan asisten Galih, kedatangan Aio disambut dengan

  • The Billionaire Chasing Cinderella (Bahasa Indonesia)   2. Tanggung Jawab

    Mendengar keributan di taman, Galih pun beranjak dari ruang makan dan terkejut melihat putrinya yang tengah bergelayut di pembatas balkon. “Astaga, Tessa! Kenapa kamu seperti itu? Berbahaya, kembali ke tempat yang aman!” seru Galih. Seruan tersebut membuat Vania dan Elena beranjak mengikuti Galih. Keduanya merasa kesal karena Tessa yang terlihat muncul dengan kondisi cantik, merusak rencana yang sudah mereka susun. Perkiraan Tessa memang benar. Keduanya yang mengunci Tessa di dalam kamar, agar Aio tidak bisa bertemu dengan Tessa. Hal itu dilakukan, agar Aio hanya fokus dan jatuh hati pada Elena yang cantik. Namun, Tessa malah merusak semua usaha yang sudah dilakukan oleh ibu dan anak itu.“Iya, Ayah!” jawab Tessa sedikit berseru.

  • The Billionaire Chasing Cinderella (Bahasa Indonesia)   1. Pertemuan Pertama

    Vania—sang nyonya rumah di kediaman Heidi—memberikan isyarat pada putrinya Elena untuk mengikutinya ke lantai dua. Tentu saja, Elena yang mengerti dengan apa yang akan dilakukan oleh ibunya, segera melangkah mengikuti langkah ibunya dengan senang hati. Elena melirik kotak berisi gaun dari desainer terkenal di tangan ibunya. Elena mengerucutkan bibirnya dan mengeluh, “Kenapa Bunda menyiapkan gaun secantik itu untuknya? Harusnya, Bunda menyiapkan gaun cantik hanya untukku. Malam ini, aku harus terlihat mencolok karena kecantikanku, hingga anak itu tidak bisa menarik perhatian siapa pun.”Vania menatap putrinya yang cantik sembari mengulum senyum. “Bukan Bunda yang menyiapkan gaun ini dan gaun yang kau kenakan, Elena. Ayahmu yang menyiapkannya. Toh, gaun yang kamu kenakan terlihat leb

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status