LOGIN"T-tolong kasi..." sebelum bisa menyelesaikan kalimatnya, kepala pria itu sudah terlepas dari lehernya. Tubuh mayat itu langsung jatuh ke tanah, darahnya membasahi lantai dan bercampur dengan darah lainnya dalam ruangan tersebut.
Tumpukan mayat dimana-mana, dan bau darah yang pekat menyelemitu daerah sekitar.
Pelaku yang menyebabkan kekacauan ini hanya berdiam diri di tempatnya dengan ekspresi sedingin glester. Dia hanya menatap tumpukan mayat itu tanpa ekspresi, seolah yang dihadapannya bukanlah sebuah mayat tapi benda mati seperti meja dan sebagainya. Orang itu adalah Feng Tian Yi.
"Tuan, maafkan atas keterlambatan hamba dalam menemukan keberadaan tuan"
Tiba-tiba seorang pria berpakaian hitam penuh dari kaki sampai kepalanya muncul dibelakangnya dengan sikap berlutut sambil menundukkan kepalanya dengan hormat.
Melihat tak ada jawaban dari Feng Tian Yi, pria berbaju hitam itu mulai berkeringat dingin, dengan mempertahankan sikap hormatnya tak ada tanda-tanda dia akan berdiri sampai tuannya, Feng Tian Yi mengizinkannya.
"Feng San." Ucap Feng Tian Yi tiba-tiba.
Mendengar Feng Tian Yi mengucapkan namanya, Pria itu, Feng San langsung menjawab dengan sigap dan penuh rasa hormat"Ya, Tuan"
"Apakah kau pikir aku melemah?"
Mendengar pertanyaan tuannya yang dianggapnya maha kuasa itu mengajukan pertanyaan seperti itu, membuat Feng San mengalami dilema, yang membuat terdiam dan tak langsung menjawab.
"Jawablah dengan jujur!" Perintah Feng Tian Yi dengan nada datar yang membawa dingin sampai ketulang.
"Mohon maafkan hamba yang rendah ini, tapi... Y-ya tuan, kekuatan tuan menang sangat menurun drastis dari kekuatan tuan yang biasanya." Jawab Feng San dengan nada ragu, sedih dan marah. Ya, ia marah akan dirinya sendiri, walaupun ia adalah pengawal Feng Tian Yi. Ia tak bisa melindunginya dari bahaya yang menimpah tuannya.
"... Begitu" kata Feng Tian Yi singkat, sebelum mengangkat tangannya lalu sebuah cahaya kecil berwarna putih muncul di jarinya, sedetik kemudian darah yang berceceran di tanah mulai berkumpul di cahaya kecil tersebut, saat semua darah telah terkumpul cahaya itu berubah menjadi batu berwarna merah darah yang indah. Batu itu kemudian menghilang di tangan Feng Tian Yi.
Feng San hanya terus berdiri di belakang tuannya tanpa melakukan apapun, menunggu perintahnya.
"Ayo, pergi"
"Baik, tuanku"
Disaat berikutnya mereka berdua menghilang seperti tak pernah ada di situ sebelumnya, lalu api hitam besar datang dari udara hampa membakar tumpukan mayat dan bangunan sekitar hingga tak menyisahkan bahkan debu setitik pun.
Sosok dingin, kejam, jauh dan tak tersentuh adalah deskripsi yang tepat untuk tindakan Feng Tian Yi, tindakan yang benar-benar tak bisa dibayangkan dari sikap nakal dengan senyum simpul indah yang dimilikinya di depan Feng Xian Wu.
*****
Sedangkan diwaktu yang bersamaan
Kediaman Feng
Kamar Feng Xian Wu
Feng Xian Wu duduk dengan santai di tempat tidurnya sambil membalikkan buku yang diambilnya dari perpustakaan, dikakinya terdapat seekor kucing putih yang tidur dengan damai. Disampingnya terdapat tumpukan buku yang ia baca selama seharian, makanan yang dibawa pelayan untuknya sama sekali tak ia sentuh.
Tok tok tok
Mendengar ketukan pintu, Feng Xian Wu tak mengalihkan pandangannya sama sekali, masih dengan santainya membaca sambil berkata datar
"Ada apa?"
"Nona muda, Jenderal besar telah pulang. Dia meminta nona muda untuk menemuinya di ruangannya" jawab pelayan dengan formal.
Setelah menyampaikan hal tersebut, Feng Xian Wu merasa bahwa pelayan itu telah pergi, tanpa pemberitahuan.
"Meow..." 'Benar-benar pelayan yang kasar.'
Feng Xian Wu tak menghiraukan kekasaran pelayan dan kekesalan kucing putih itu.
Feng Xian Wu menutup buku yang dibacanya, mengangkat kucing putih yang masih kesal itu kedalam pangkuannya lalu berjalan menuju pintu.
"Meow..." Apakah tuan ingin pergi menemui Jendral besar, kakek tuan yang baru itu?
Mendengar pertanyaan kucing putih, Feng Xian Wu hanya menganggukkan kepalanya dan terus berjalan menuju ruang kerja Jendral besar kerajaan Yue, Li Wang yang memiliki nama asli Feng Li yang tak lain adalah kakek dari Feng Xian Wu.
Setelah berjalan kaki sekitar 20 menit dari kamarnya ke ruang kerja kakeknya, ia berdiri di depan pintu tanpa mengucapkan sepatah katapun ataupun mencoba mengetuk pintu.
Jujur saja dia tak memiliki kenangan yang indah di kehidupan lalunya dengan seseorang yang dipanggilnya kakek itu. Walaupun ia mendapatkan seluruh ingatan Feng Xian Wu yang dulu seolah itu adalah ingatannya sendiri tapi alam bawah sadarnya seakan mencoba menolak hal-hal seperti hubungan dekat seperti kata keluarga itu sendiri.
Setelah menenangkan pikirannya, Feng Xian Wu ingin mengetuk pintu menandakan kedatangan nya, karena tak ada seorangpun di depan ruangan kakeknya. Tapi sebelum ia bisa mengetuk suara dingin dan tegas terdengar dengan mantap dari dalam ruangan
"Mau berapa lama lagi kau ada di situ? Cepatlah masuk! Jangan membuang-buang waktu"
Mendengar suara dingin dan tegas itu Feng Xian Wu tanpa sadar mengerutkan kening. Kakek yang ada dalam ingatan Feng Xian Wu yang lama selalu berbicara dengan lembut padanya, walaupun terkadang tegas ia tak pernah mengeluarkan kata-katanya dengan begitu dingin dan tajam.
Lalu tanpa sungkan, ia membuka pintu dan mendapati kakeknya sedang duduk di kursinya sambil melihat sesuatu di hadapannya, menyadari bahwa cucu satu-satunya sudah memasuki ruangannya dia meletakkan dokumen yang dibacanya begitu saja mengalihkan pandangannya ke cucu kesayangannya itu dengan tatapan dingin.
"Wu'er apakah kau benar bersama pria lain saat kau sudah memiliki tunangan? Apa kau tak memiliki malu? Kakek tak ingat tuk mengajarimu menjadi orang tak tau malu seperti itu!" Kata Feng Li (nama kakek FXW) dengan dingin dan terlihat seperti menekan amarahnya yang terlihat akan meledak kapan saja.
Melihat kakeknya yang menyatakan hal tersebut tanpa memberikannya tempat untuk menjelaskan segala sesuatunya, Feng Xian Wu hanya bisa mengerutkan kening dan menatap Feng Li dengan dingin.
"Setelah dua tahun kakek di perbatasan dan tak pulang kerumah, bahkan selama itu kakek bahkan tak mengirimkan satupun surat untuk menanyakan keadaanku. Saat kakek pulang tuk pertama kalinya dalam dua tahun ini, hal pertama adalah langsung memanggilku lalu mengataiku begitu saja setelah mendengar rumor tak mendasar di luar sana tanpa mengecek kebenarannya terlebih dahulu, bahkan tak menanyaiku terlebih dahulu dan langsung saja mengatakan aku tak tau malu? Kakek kau benar-benar mengecewakanku" Kata Feng Xian Wu menjelaskan panjang lebar, itu adalah pertama kalinya dia mengatakan hal sepanjang ini semenjak dia bertransmigrasi ke dunia ini. Dia, Feng Xian Wu bahkan dikehidupan sebelumnya tak pernah mau tuk repot-repot menjelaskan hal kepada orang lain secara sukarela.
Tapi sekarang ia melakukannya, Feng Xian Wu merasakan perasaan aneh dan menjanggal di hatinya untuk pertama kalinya, perasaan marah karena dipandang rendah dan tak dipercayai. Di kehidupan sebelumnya dia tak jarang mendapati orang memandang rendah dan tak mempercayai dirinya, tapi ia hanya acuh terhadap hal itu, karena ia hanya perlu membuktikan dirinya. Feng Xian Wu perlahan menenangkan emosinya, emosi yang asing baginya tapi ia tak terlalu peduli. Yang penting hanyalah membuktikan dirinya tak bersalah untuk membuang perasaan tak enak di hatinya itu.
"Wu'er, kamu..."
"Meow..." 'Tuan mari kita pergi. Aku sudah lapar.'
Kata kucing itu dengan ceria, mencoba mengembalikan suasana buruk tuannya. Ia agak terkejut karena ini pertama kalinya ia melihat tuannya berbicara begitu banyak dan walaupun tak kelihatan dipermukaan ia tau bahwa tuannya sesaat hilang kendali atas emosi yang baru pertama kali dirasakan oleh tuannya tercinta.
Mendengar perkataan kucingnya, Feng Xian Wu melirik kucingnya dengan datar lalu mengelus-elus kepalanya dengan lembut.
Feng Li terdiam melihat cucunya yang bisa begitu akrab dengan kucing, bahkan ia menggendongnya dan mengelus kepalanya. Ia tau bahwa cucunya selalu suka dengan hewan berbulu lembut seperti anjing atau kucing, tapi setiap cucunya mendekati mereka, mereka sudah menjauhinya terlebih dahulu. Melihatnya untuk pertama kali begitu dekat dan akrab dengan kucing putih itu Feng Li merasakan kebahagian murni melihat cucunya yang mengelus kucing dengan lembut.
Feng Li lalu mengingat perkataan cucunya tadi, ekspresi dingin itu... Dia merasa bersalah tapi sebelum ia bisa mengatakan sesuatu, Feng Xian Wu sudah mengucapkan selamat tinggal lalu keluar dari ruangan tanpa berbalik.
Ia hanya melihat sosok belakang cucunya yang mengingatkannya pada putranya, ayah Feng Xian Wu yang sudah lama menghilang. Saat ia melihat momentum Feng Xian Wu tadi ia merasa seperti putranya yang berdiri di depannya.
Feng Li hanya berdiri di tempat memandangi sosok cucunya yang perlahan menjauh dan menghilang di belokan rumah, ia tak mengeluarkan satupun suara dan melihat kepergian cucunya dengan perasaan bersalah dan menyesal, menyadari kebodohannya sendiri Feng Li menghela nafas panjang.
Sehari setelah pertemuan dengan Mo Lian Yi, tersebar kabar bahwa Feng Xian Wu dan Mo Lian Yi telah memutuskan pertunangan secara informal, semua orang mulai membicarakan bahwa Feng Xian Wu memang tak pantas menjadi tunangan putra mahkota, betapa malangnya jendral Feng Li yang dihormati harus memiliki cucu seperti Feng Xian Wu dan lain sebagainya bahkan ada yang menyatakan wajah Feng Xian Wu hancur karena beberapa hal menyebabkan ia menjadi malu untuk menjadi tunangan Mo Lian Yi. Rumor beredar secepat suara di dalam kota. Tapi tak ada seorangpun dikediaman Feng yang terpengaruh, walaupun samar para penjaga dan pelayan di kediaman Feng menyadari bahwa sikap Miss muda mereka telah berubah sejak beberapa hari yang lalu. Sebagian besar pelayan di kediaman Feng telah melihat nona muda mereka dari lahir, walaupun tak ada kasih sayang sekuat Feng Li tapi masih ada rasa kasih murni kepada nona muda mereka itu.Disisi lain, Feng Xian Wu yang menj
Sehari setelah pertemuan dengan Mo Lian Yi, tersebar kabar bahwa Feng Xian Wu dan Mo Lian Yi telah memutuskan pertunangan secara informal, semua orang mulai membicarakan bahwa Feng Xian Wu memang tak pantas menjadi tunangan putra mahkota, betapa malangnya jendral Feng Li yang dihormati harus memiliki cucu seperti Feng Xian Wu dan lain sebagainya bahkan ada yang menyatakan wajah Feng Xian Wu hancur karena beberapa hal menyebabkan ia menjadi malu untuk menjadi tunangan Mo Lian Yi. Rumor beredar secepat suara di dalam kota. Tapi tak ada seorangpun dikediaman Feng yang terpengaruh, walaupun samar para penjaga dan pelayan di kediaman Feng menyadari bahwa sikap Miss muda mereka telah berubah sejak beberapa hari yang lalu. Sebagian besar pelayan di kediaman Feng telah melihat nona muda mereka dari lahir, walaupun tak ada kasih sayang sekuat Feng Li tapi masih ada rasa kasih murni kepada nona muda mereka itu.Disisi lain, Feng Xian Wu yang menj
Mendengar penolakan Feng Xian Wu, semua orang mengubah ekspresi mereka masing-masing.Feng Tian Yi yang paling dekat dengan Feng Xian Wu merasakan bahwa perasaan tak mengenakkan itu makin bertambah. Kenapa ia menolak? apakah Wu-er ingin terus menjadi pasangan Mo-apalah itu?!Suhu disekitarnya mulai turun beberapa derajat lagi.Mo Lian Yi sudah mempertimbangkan berbagai macam kemungkinan, tapi tak mengharapkan kenihilan ekspresi Feng Xian Wu setelah semua.Mo Lian Yi ingin mengatakan sesuatu untuk membalasnya, tapi Feng Xian Wu telah membuka mulutnya terlebih dahulu."Tapi yang mulia tenang saja, Objek ini setuju untuk pembatalan pertunangan," jelas Feng Xian Wu. Feng Xian Wu merasakan emosi negatif dalam tubuhnya telah berkurang sedikit. Apakah ia* ingin dirinya membalaskan perbuatan Mo Lian Yi sebelumnya?
Keesokan paginya, Feng Li telah menyiapkan ruang kerja sendiri untuk Feng Xian Wu lengkap dengan berbagai tanaman herbal, dan alat-alat yang dibutuhkan Feng Xian Wu di dalamnya.Feng Xian Wu agak terkejut melihat hal ini. Efisiensi kediaman Feng tak kalah dengan efisiensi orang-orang di dunia modern. Pujinya dalam hati.Feng Xian Wu lalu langsung menggunakan ruang kerja tersebut, ada beberapa bahan yang tak ada, tapi hal itu bisa ia temukan di ruang rahasia. Lalu Feng Xian Wu melakukan langsung melakukan eksperimen di ruang kerjanya.Bai Ze yang melihat tuannya tenggelam dalam dunianya sendiri hanya bisa menghela nafas, ini adalah penampilan yang sangat akrab baginya. Di kehidupan sebelumnya, selain melakukan beberapa hal di luar seperti menjalankan misinya, Feng Xian Wu biasanya hanya mengurung dirinya di ruang kerja tanpa mengenal waktu. Karena tak a
Setelah beberapa lama berkultivasi didalam ruang rahasia, Feng Xian Wu memutuskan untuk keluar meninggalkan Bai Ze yang sedang asik sendiri dengan tanaman di ruang rahasia.Saat Feng Xian Wu keluar, ia mendapati bahwa hari sudah menjelang malam dan disaat yang bersamaan seorang pelayan datang dan membawanya kepada kakek yang menunggunya di ruang makan. Ia agak terkejut sekaligus bingung, kenapa kakek tiba-tiba mengajaknya untuk makan malam bersama setelah kejadian kurang mengenakkan pagi tadi?Tapi kemudian Feng Xian Wu mendapati bahwa kakeknya sepertinya ingin meminta maaf akan kejadian tadi pagi dan... Entah bagaimana hubungan cucu-kakek ini menjadi lebih baik dari sebelumnya. Entah itu dikarenakan keinginan pemilik(Feng Xian Wu) sebelumnya yang sebelumnya atau Feng Xian Wu sendiri.Ditengah makan malam mereka, sesosok keindahan telah berdiri di depan pintu tanpa disadari siapap
Feng Xian Wu perlahan membuka matanya, melihat kearah kucing putih, Bai Ze yang memandangnya dengan penuh rasa cemas."Meow!" Nona kau membuatku cemas setengah mati!Melihat Bai Ze yang mengeluhkan kekhawatirannya tanpa henti kepadanya, tapi matanya dipenuhi kelegaan dan rasa syukur membuat Feng Xian Wu merasa manis dan bingung disaat yang sama. Kenapa ia terus mengeluh saat dia merasakan sebaliknya?Tapi Feng Xian Wu memilih tuk tak menyuarakan pikirannya itu melihat Bai Ze yang tanpa henti mengoceh. Setelah beberapa saat Bai Ze masih terus berceloteh Feng Xian Wu mengerutkan keningnya, merasa terganggu."Berisik"Mendengar nada dingin nonanya, Bai Ze akhirnya menutup mulutnya. Bai Ze membuka mulut kecilnya lagi ingin mengatakan sesuatu, tapi Feng Xian Wu melirik kearah Bai Ze dengan tak acuh."Aku ingat kau tak seberisik ini dulu."Mendengar perkataan Feng Xian Wu