Masuk'Sayang.'
Itulah ID si pengirim pesan itu.
Tangan Meisya semakin bergetar, namun rasa penasarannya menuntunnya untuk melihat pesan itu.
Meisya membuka pesan itu dan isi pesan itu adalah,
"Sayang, kamu kenapa pulang sepagi ini? Apakah kamu sudah tidak menginginkan aku? Apakah aku memuaskan kamu tadi malam? Kamu jahat sekali sayang, kamu mengatakan jika istrimu tidaklah menarik sama sekali dan kamu selalu mengatakan jika aku ini jauh lebih cantik darinya dan pandai memuaskan kamu. Tapi kenapa kamu masih saja mempertahankan dia?"
Deg …
Jantung Meisya berdetak dengan cepat. Seluruh tubuhnya terasa lemas semua.
Hatinya terasa sangat sakit saat membaca itu semua.
Meisya pun membaca pesan sebelumnya dan disana dia membaca semua kegiatan yang mereka lakukan.
Suaminya memangkas uang belanja untuk kebutuhan rumah tangganya hanya untuk memanjakan selingkuhannya bahkan dia tidak segan-segan membelikan apartemen mewah untuk selingkuhannya.
Membaca itu semua, tangan Meisya semakin lemas dan tanpa terasa ponsel itu terjatuh dari tangannya.
Dada Meisya terasa sangat sesak dan air mata pun mulai meluncur dari sudut matanya.
Meisya tidak menyangka jika suami yang dia percayai dan dia bangga-banggakan didepan semua orang telah mengkhianatinya bahkan telah memandang rendah dirinya.
"Apakah aku sehina ini dimata kamu mas! Kenapa … kenapa …, kenapa kamu mengatakan padanya jika aku ini jelek dan tidak menarik lagi?! Hiks …. Hiks … hiks …," ucap Meisya. Air matanya mengalir deras bagaikan air hujan yang turun dengan lebatnya.
Meisya menatap wajah tampan Arya yang sedang memejamkan matanya. Dia tertidur dengan pulasnya dan terlihat jika dia seperti tidak memiliki kesalahan apapun kepada Meisya.
Meisya tertawa sambil menangis. Dia menertawakan dirinya yang sudah bodoh selama ini.
"Aku memang bodoh! Ya aku memang bodoh! Aku percaya dengan semua ucapan kamu, kamu pernah mengatakan padaku. Jika aku ini adalah wanita paling cantik di dunia ini bahkan kamu sengaja mengurungku seperti ini karena takut aku meninggalkan kamu. Tapi nyatanya, kamu memiliki hubungan dengan wanita lain. Bahkan kalian …, hiks … hiks ...," Meisya menghentikan ucapannya dan segera bangun dari tempat duduknya saat ini.
Meisya tidak sanggup lagi membayangkan jika tadi malam suaminya telah tidur dengan wanita lain dan tidak mengingatnya sama sekali.
Meisya pun membawa pergi nampan berisi makanan itu dan dia pun langsung membuangnya ke tempat sampah sambil menangis.
"Pembantu? Ya aku hanya seorang pembantu untuknya. Dia pikir, aku menikah dengannya hanya untuk dijadikan pembantu bukan sebagai istri yang harus dia hormati, hiks … hiks … hiks, kamu memang brengsek Arya! Kamu memang brengsek!" Teriak Meisya sambil melempar piring itu bersama makanan yang ada di dalamnya langsung ke tempat sampah.
Hatinya sangat hancur, dikala semua pengorbanan yang dia lakukan untuk Arya hanya dipandang sebelah mata.
Meisya pun terus menangis dalam keheningan yang ada disekitarnya. Namun, saat dia melihat putranya yang sibuk bermain dengan mainannya, hati Meisya merasa jauh lebih sakit.
Dia ingin pergi meninggalkan rumah itu sejauh-jauhnya, tapi dia tidak mungkin meninggalkan putranya sendiri, apalagi meninggalkan putranya pada wanita yang belum tentu menyayanginya bahkan di lihat dari pesan yang tadi dia baca, Meisya menangkap jika wanita itu hanya tahu berdandan dan mempercantik dirinya saja. Dia mungkin tidak akan bisa sepertinya yang mampu menangani semua urusan rumahnya dengan tangannya sendiri.
Meisya langsung memeluk putranya dengan erat dan air mata pun terus mengalir hingga pendangannya terhalang oleh air mata yang memenuhi matanya saat ini.
Abian yang masih sangat kecil hanya bisa menatap wajah ibunya yang sedang menangis dan dia pun ikut menangis karena Abian mengira jika ibunya menangis karena ulahnya.
"Hiks … hiks … hiks, mama! Mama jangan menangis. Abi janji tidak akan nakal lagi!" Ucap Abian, dia memeluk erat ibunya dan merasa takut jika dirinya sudah membuat ibunya bersedih.
Meisya mengusap lembut rambut putranya dan berusaha untuk tersenyum didepannya.
"Abi, mama baik-baik saja. Abi jangan menangis ya!" Ucap Meisya dengan suara lirih. Dia harus bertahan dan tetap tersenyum walaupun sebenarnya hatinya sungguh-sungguh sakit. Jauh lebih sakit dari pada saat dia melahirkan Abian.
Keduanya pun saling berpelukan dan setelah selesai. Meisya pun melepaskan pelukannya dan menyuruh Abian untuk bermain kembali.
"Abi sayang, kamu main lagi ya nak! Mama mau ke kamar dulu sebentar. Abi tidak apa-apa kan, kalau mama tinggal kamu dulu disini sebentar?" Tanya Meisya. Dia menatap wajah putranya.
Abian pun menganggukkan kepalanya dan dia langsung tersenyum manis kearah ibunya.
"Iya ma, Abi disini saja," jawab Abian. Dia pun langsung kembali ke tempat dimana mainannya yang kini terlihat sangat berantakan.
Meisya pun bangun dari tempat duduknya dan perlahan meninggalkan Abian yang masih asik dengan semua mainannya.
Dengan berat hati, Meisya pun segera pergi meninggalkan putranya dan Meisya pun berjalan menaiki tangga dan kembali masuk ke dalam kamarnya. Kamar dimana ada Arya yang saat ini masih terbaring diatas tempat tidurnya. Tidur yang menjadi saksi cintanya namun kini tempat tidur itu ternodai oleh Arya yang sudah mengkhianatinya bersama dengan wanita lain dibelakangnya.
Kreeekkk ….Pintu pun terbuka.Meisya melihat jika kamar yang dahulu terasa hangat dan penuh cinta, kini berubah menjadi dingin dan hatinya sudah tidak bisa lagi merasakan ada getaran-getaran cinta didalam kamar ini. Meisya berjalan masuk dan dia melihat kearah Arya yang masih tertidur lelap karena kelelahan.Meisya menitikkan air matanya lagi namun dia langsung menghapusnya kembali. Dia memiliki sebuah tekad yang kuat dan dia harus tegar dan tujuan utamanya kali adalah memberi pelajaran kepada suaminya dan dia akan membalas semua yang Arya lakukan kepadanya."Aku harus kuat! Ya, aku harus kuat! Aku harus membuatnya menyesal karena dia telah menyakitiku," ucap Meisya sambil mengusap air mata yang tersisa di pipinya.Meisya pun berjalan mendekati lemari pakaian dan melihat banyak pakaian yang dahulu s
'Sayang.'Itulah ID si pengirim pesan itu.Tangan Meisya semakin bergetar, namun rasa penasarannya menuntunnya untuk melihat pesan itu.Meisya membuka pesan itu dan isi pesan itu adalah,"Sayang, kamu kenapa pulang sepagi ini? Apakah kamu sudah tidak menginginkan aku? Apakah aku memuaskan kamu tadi malam? Kamu jahat sekali sayang, kamu mengatakan jika istrimu tidaklah menarik sama sekali dan kamu selalu mengatakan jika aku ini jauh lebih cantik darinya dan pandai memuaskan kamu. Tapi kenapa kamu masih saja mempertahankan dia?"Deg …Jantung Meisya berdetak dengan cepat. Seluruh tubuhnya terasa lemas semua.Hatinya terasa sangat sakit saat membaca itu se
Keesokan harinya.Cahaya matahari pun masuk dari celah-celah jendela yang tanpa sengaja mengenai wajah seorang wanita yang masih saja memejamkan matanya sambil memeluk erat putranya.Wanita itu adalah Meisya.Meisya langsung membuka matanya secara perlahan dan saat melihat kearah jam dinding, Meisya pun merasa sangat terkejut."Oh tidak! Kenapa aku bisa bangun se siang ini!" Ucap Meisya. Dia pun langsung melepaskan pelukannya dan segera bangun dari tempat tidurnya.Meisya langsung pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan.Namun, saat Meisya baru saja menyalakan kompornya. Meisya baru ingat jika suaminya belum pulang sejak tadi malam."Oh iya. Aku lupa! Mas Arya kan belum pulang sejak tadi malam, hhhmm … menginap dimana ya dia tadi malam?!" Ucap Meisya. Dia merasa penasaran bercampur dengan rasa khawatir kar
Arya tidak menyadari jika ponselnya terus berbunyi karena dia terus sibuk bermesraan dengan Juwita di cafe itu.Baginya dunia ini hanyalah milik mereka berdua dan tidak ada yang boleh mengganggunya sama sekali.Keduanya pun terus larut didalam dunia cinta yang mereka berdua ciptakan. Tidak ada Meisya atau pun putranya karena didalam pikirannya saat ini adalah, ingin menikmati tubuh indahnya Juwita hingga dirinya merasa sangat puas.Setelah bermesraan dan menghabiskan waktu makan malam romantisnya.Mereka pun pergi meninggalkan restoran itu."Sayang, bisakah malam ini kamu menginap di apartemen ku? Aku merasa sangat kesepian jika harus tidur sendiri malam ini," ucap Juwita. Dia memeluk Arya dengan suara manja yang membuat Arya tidak rela untuk meninggalkannya.Arya tidak bisa menolaknya karena dia juga memang menginginkan tubuh Juwita yang sejak tadi terus menggodanya."
Lima tahun.Rumah tangga Meisya dan Arya berjalan dengan lancar. Mereka di karuniai seorang putra yang tampan dan juga pintar dan putra mereka itu bernama Abian.Dari awal menikah hingga lima tahun mereka bersama. Arya sangat mencintai Meisya dan bahkan melarang Meisya untuk bekerja dan merias diri.Arya adalah tipe pria yang pencemburu karena jika istrinya terlihat cantik, maka dia takut jika mata pria lain akan tertuju padanya.Egois.Itulah Arya, dia memang tipe pria egois dan hanya mementingkan dirinya sendiri.Meisya merasa sangat bahagia karena jika suaminya seperti itu. Berarti suaminya memang sangat mencintainya.Akhirnya, Meisya memutuskan untuk berhenti bekerja dan menjalani hidup sebagai ibu rumah tangga.Rambut di ikat Cepol dan setiap hari hanya memakai pakaian rumah yang terlihat sangat seder