LOGINArya tidak menyadari jika ponselnya terus berbunyi karena dia terus sibuk bermesraan dengan Juwita di cafe itu.
Baginya dunia ini hanyalah milik mereka berdua dan tidak ada yang boleh mengganggunya sama sekali.
Keduanya pun terus larut didalam dunia cinta yang mereka berdua ciptakan. Tidak ada Meisya atau pun putranya karena didalam pikirannya saat ini adalah, ingin menikmati tubuh indahnya Juwita hingga dirinya merasa sangat puas.
Setelah bermesraan dan menghabiskan waktu makan malam romantisnya.
Mereka pun pergi meninggalkan restoran itu.
"Sayang, bisakah malam ini kamu menginap di apartemen ku? Aku merasa sangat kesepian jika harus tidur sendiri malam ini," ucap Juwita. Dia memeluk Arya dengan suara manja yang membuat Arya tidak rela untuk meninggalkannya.
Arya tidak bisa menolaknya karena dia juga memang menginginkan tubuh Juwita yang sejak tadi terus menggodanya.
"Tentu saja sayang, malam ini aku akan menginap di tempat kamu dan malam ini juga, aku hanyalah milik kamu sayang," ucap Arya. Dia langsung mencium bibir Juwita dan membawanya masuk ke dalam mobil.
Mereka pun pergi meninggalkan tempat itu menuju apartemen Juwita yang ternyata apartemen itu dibelikan Arya khusus untuk dirinya.
Dari jauh.
Seorang pria tampan berjalan bersama dengansdengan anak laki-laki yang berumur empat tahun. Anak laki-laki itu terlihat sangat tampan dan wajahnya tidak mirip sama sekali dengan pria tampan itu.
Saat dia menuntun anak laki-laki itu, tanpa sengaja dia melihat pasangan tidak tahu malu itu sedang berciuman di tempat umum. Membuat pria tampan itu harus menutup kedua mata anak laki-laki itu dengan telapak tangannya.
"Ray, jangan melihatnya!" Ucap pria tampan itu sambil menutup mata anak laki-laki itu.
Anak laki-laki itu pun langsung menjawab, "Kenapa Ray tidak boleh melihat nya pa! Apakah itu sangat berbahaya?" Tanya anak laki-laki itu yang ternyata bernama Rayyan Zuriel dan pria tampan itu adalah ayahnya yang bernama Steven Zuriel. Pemilik asli dari perusahaan tempat Arya bekerja saat ini.
Steven pun merasa sangat kesal dengan tingkah dua orang yang tidak tahu malu itu. Apalagi ada anak-anak disekitar tempat itu.
"Ya sangat berbahaya, ini bukan hal yang bagus untuk di lihat anak-anak. Sudahlah, kita harus segera pulang, nenek kamu pasti akan marah jika kita pulang terlambat seperti ini," ucap Steven. Dia pun langsung menggendong putranya dan matanya masih saja dia tutupi.
Steven membawa masuk putranya ke dalam mobil dan mereka pun pergi meninggalkan tempat itu secepatnya.
***
Di dalam mobil Arya.
Juwita menyadarkan kepalanya di bahu Arya dan dia terus bersikap manja kepadanya.
Setiap ada lampu merah dan mobil mereka pun berhenti, mereka pasti akan berciuman dengan penuh gairah dan mengakhirinya jika lampu sudah berwarna hijau.
Itulah yang mereka lakukan hingga mereka akhirnya mereka pun sampai di apartemen tempat dimana Juwita tinggali saat ini.
Arya yang sudah terbakar oleh hasratnya sendiri, membuatnya merasa ingin sekali memakan Juwita secepatnya. Dia mengangkat tubuh Juwita yang dan bibir mereka terus menyatu tanpa ingin melepaskan satu sama lainnya.
Arya menendang pintu tempat tinggal Juwita karena dia merasa sudah tidak sabar lagi ingin memakan Juwita saat ini juga.
"Sayang, kamu milikku malam ini. Jangan pergi ya! Kau mohon ya sayang!" Ucap Juwita, disela-sela dia melepaskan bibirnya yang sejak tadi menempel erat dengan bibir Arya.
Arya menatap wajah Juwita dengan tatapan penuh hasrat dan juga dia sudah tidak bisa menahannya lagi.
"Tentu saja sayang, aku milikmu malam ini. Aku tidak akan meninggalkan kamu," ucap Arya. Dia pun tersenyum nakal dan kembali menyambar bibir Juwita. Mereka pun masuk ke dalam kamarnya dan dengan penuh hasrat mereka pun langsung melepaskan pakaiannya.
Arya yang sudah tidak bisa menahan dirinya lagi langsung menindih tubuh Juwita yang sudah polos diatas tempat tidur dan mereka pun langsung menghabiskan malam bersama dengan bercinta sepuasnya tanpa berpikir jika di rumahnya sedang ada seorang istri dan putranya sedang menunggu kepulangannya.
Miris sangat miris.
Arya sudah terlena dengan hasratnya sendiri dan hanya mementingkan keegoisannya. Dia telah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya. Dengan menelantarkan permata indah yang semua pria menginginkannya dan memungut baru kerikil yang hanya akan menusuknya suatu hari nanti.
Percintaan yang panas dan penuh dengan api cinta yang membara, membuat udara dingin dari AC di ruangan itu tidak terasa. Butiran-butiran keringat membasahi tubuh keduanya.
Hingga akhirnya, mereka berdua pun melakukan pelepasan terakhirnya. Keduanya mengerang merasa dan merasakan indahnya dunia cinta yang mereka ciptakan berdua. Juwita merasa sangat puas karena semakin lama, dia bisa mengendalikan Arya dan sebentar lagi. Arya akan menjadi miliknya seutuhnya dan istrinya, Juwita akan membuat Arya meninggalkan istrinya dan menjadikan dirinya sebagai wanita satu-satunya didalam hidup Arya.
Juwita tersenyum puas saat melihat Arya yang saat ini terbaring lemah disebelahnya sambil memeluknya dengan erat. Dia merasa sangat puas karena bisa menaklukan pria sehebat Arya. Pria tampan, mapan dan juga luar biasa.
Sambil menatap wajah Arya yang saat ini sedang menutup matanya karena sedang menikmati pelepasan terakhirnya. Juwita menyeringai sendiri.
"Arya sayang, kamu hanya akan menjadi milikku saja. Mungkin saat ini aku masih mengalah karena aku menjadi simpanan kamu. Tapi, sebentar lagi. Aku akan menjadi nyonya di rumah kamu dan menjadi istri kamu satu-satunya. Hehehehe … dan seluruh harta kamu itu, akan menjadi milikku!" Ucap Juwita didalam hatinya. Keserakahan dan ketamakan kini merasuk didalam hatinya.
Juwita tidak terlalu mencintai Arya. Tapi Juwita hanya mencintai hartanya saja.
Sedangkan Arya. Dia bukan mencintainya melainkan dia terlena olehe kecantikan, kepolosan serta kelembutan seorang Juwita yang membuatnya mabuk dalam pesonanya.
Setelah pelepasannya selesai. Arya pun bangun dari atas tubuh Juwita dan mengambil selimut untuk menutupi tubuh keduanya. Mereka pun saling berpelukan dibawah selimut dan menutup mata secara bersama-sama, menikmati indahnya malam yang mereka lewati hanya berdua. Malam yang penuh dengan cinta, hasrat dan kebahagiaan yang menurut Arya, dia tidak bisa mendapatkan itu semua saat bersama Meisya.
Kreeekkk ….Pintu pun terbuka.Meisya melihat jika kamar yang dahulu terasa hangat dan penuh cinta, kini berubah menjadi dingin dan hatinya sudah tidak bisa lagi merasakan ada getaran-getaran cinta didalam kamar ini. Meisya berjalan masuk dan dia melihat kearah Arya yang masih tertidur lelap karena kelelahan.Meisya menitikkan air matanya lagi namun dia langsung menghapusnya kembali. Dia memiliki sebuah tekad yang kuat dan dia harus tegar dan tujuan utamanya kali adalah memberi pelajaran kepada suaminya dan dia akan membalas semua yang Arya lakukan kepadanya."Aku harus kuat! Ya, aku harus kuat! Aku harus membuatnya menyesal karena dia telah menyakitiku," ucap Meisya sambil mengusap air mata yang tersisa di pipinya.Meisya pun berjalan mendekati lemari pakaian dan melihat banyak pakaian yang dahulu s
'Sayang.'Itulah ID si pengirim pesan itu.Tangan Meisya semakin bergetar, namun rasa penasarannya menuntunnya untuk melihat pesan itu.Meisya membuka pesan itu dan isi pesan itu adalah,"Sayang, kamu kenapa pulang sepagi ini? Apakah kamu sudah tidak menginginkan aku? Apakah aku memuaskan kamu tadi malam? Kamu jahat sekali sayang, kamu mengatakan jika istrimu tidaklah menarik sama sekali dan kamu selalu mengatakan jika aku ini jauh lebih cantik darinya dan pandai memuaskan kamu. Tapi kenapa kamu masih saja mempertahankan dia?"Deg …Jantung Meisya berdetak dengan cepat. Seluruh tubuhnya terasa lemas semua.Hatinya terasa sangat sakit saat membaca itu se
Keesokan harinya.Cahaya matahari pun masuk dari celah-celah jendela yang tanpa sengaja mengenai wajah seorang wanita yang masih saja memejamkan matanya sambil memeluk erat putranya.Wanita itu adalah Meisya.Meisya langsung membuka matanya secara perlahan dan saat melihat kearah jam dinding, Meisya pun merasa sangat terkejut."Oh tidak! Kenapa aku bisa bangun se siang ini!" Ucap Meisya. Dia pun langsung melepaskan pelukannya dan segera bangun dari tempat tidurnya.Meisya langsung pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan.Namun, saat Meisya baru saja menyalakan kompornya. Meisya baru ingat jika suaminya belum pulang sejak tadi malam."Oh iya. Aku lupa! Mas Arya kan belum pulang sejak tadi malam, hhhmm … menginap dimana ya dia tadi malam?!" Ucap Meisya. Dia merasa penasaran bercampur dengan rasa khawatir kar
Arya tidak menyadari jika ponselnya terus berbunyi karena dia terus sibuk bermesraan dengan Juwita di cafe itu.Baginya dunia ini hanyalah milik mereka berdua dan tidak ada yang boleh mengganggunya sama sekali.Keduanya pun terus larut didalam dunia cinta yang mereka berdua ciptakan. Tidak ada Meisya atau pun putranya karena didalam pikirannya saat ini adalah, ingin menikmati tubuh indahnya Juwita hingga dirinya merasa sangat puas.Setelah bermesraan dan menghabiskan waktu makan malam romantisnya.Mereka pun pergi meninggalkan restoran itu."Sayang, bisakah malam ini kamu menginap di apartemen ku? Aku merasa sangat kesepian jika harus tidur sendiri malam ini," ucap Juwita. Dia memeluk Arya dengan suara manja yang membuat Arya tidak rela untuk meninggalkannya.Arya tidak bisa menolaknya karena dia juga memang menginginkan tubuh Juwita yang sejak tadi terus menggodanya."
Lima tahun.Rumah tangga Meisya dan Arya berjalan dengan lancar. Mereka di karuniai seorang putra yang tampan dan juga pintar dan putra mereka itu bernama Abian.Dari awal menikah hingga lima tahun mereka bersama. Arya sangat mencintai Meisya dan bahkan melarang Meisya untuk bekerja dan merias diri.Arya adalah tipe pria yang pencemburu karena jika istrinya terlihat cantik, maka dia takut jika mata pria lain akan tertuju padanya.Egois.Itulah Arya, dia memang tipe pria egois dan hanya mementingkan dirinya sendiri.Meisya merasa sangat bahagia karena jika suaminya seperti itu. Berarti suaminya memang sangat mencintainya.Akhirnya, Meisya memutuskan untuk berhenti bekerja dan menjalani hidup sebagai ibu rumah tangga.Rambut di ikat Cepol dan setiap hari hanya memakai pakaian rumah yang terlihat sangat seder