LOGINHingga malam menjelang, di bawah cahaya bulan dan bintang bersinar terang. Kota Malvado tetap hidup tanpa kesepian, malam seperti siang. Keramaian terus terjadi tanpa henti.
University Malvado.
Saat malam tiba, semua orang di kampus memilih keluar dari asrama. Aku baru kembali dan sedang menuju asrama. Para lelaki di kampus ini mulai berkeliaran seperti kucing kampung yang liar. Melangkahkan kaki menaiki anak tangga hingga menuju kamar sendiri. Di depan kamar, aku dikejutkan dengan seorang pria yang bersama Luna. Pria itu tampak tergesa-gesa.
Lalu Luna menyapa diriku, “Hai, An Jinshi. Sudah kembali ya! Mau jalan-jalan malam ini?”
“Ah tidak, terima kasih. Tetapi sebaiknya kamu saja yang jalan-jalan. Kamu tampak lelah. Aku harus mengurus sesuatu sekarang” jawabku bergegas masuk ke kamar dan mengambil jaket lalu keluar dari kamar dan pergi lagi.
“Hai, kamu mau kemana lagi?” teriak Luna padaku.
“Aku akan pergi jalan-jalan di tempat ini. Pergilah kemanapun sesukamu!” jawabku tidak peduli dengannya.
Luna terdiam, lalu dirinya masuk ke kamar dan menutup pintu. She mulai menyiapkan diri dan tidak perlu waktu yang lama Luna keluar dari kamar. She mulai pergi meninggalkan asrama ini
Sementara diriku terus berjalan menuju lapangan asrama, bulan dan bintang berjalan seperti mengikuti diriku. Cahaya bulan menerangi tempat ini. Aku berdiri di tengah-tengah lapangan, angin berhembus ke arahku. Membuat diriku merasa sedikit kedinginan. Melihat ke bulan yang bersinar terang, bulan yang berwarna kekuningan itu membuat ingatan kelam dalam diriku. Bulan itu akan berubah menjadi merah semerah darah.
Tiba-tiba saat diriku memandang bulan, seseorang bicara padaku yang membuat diriku menoleh ke arahnya.
“Apa kamu menyukai bulan malam ini? Bulan malam ini sangat indah kan?” ucap seseorang padaku.
Aku menoleh ke arah suara ini, suara seorang pria dan menjawab “Ya aku suka sekali bulan, tetapi bukan bulan seperti ini.” Tersenyum manis melihat bulan di langit.
“Ya, bulan seperti apa yang kamu suka?”
“Bulan merah di hutan Aima”
“Hah, apakah bulan disana itu berbeda hingga kamu harus menyukai bulan di hutan Aima? Hutan Aima itu sangat jauh letaknya kan?”
“Ya kamu benar. Letaknya sangat jauh dengan kota ini, tetapi jika ada waktu luang aku ingin pergi kesana.”
Tiba-tiba di tengah perbincangan, seorang pria lainnya datang. He berdiri di sampingku juga dan berucap “Huh, kenapa menyukai hutan seperti itu? Apa kau tahu tentang hutan itu?.’
Aku menoleh ke arah kiri, seorang pria lainnya bicara padaku. Melihat wajahnya, aku pernah bertemu dengannya. Pria ini adalah Ace.
“Ace?”
“Ya, ini aku. Kau tahu tentang hutan itu?”
Aku menggelengkan kepala dan menjawab “Tidak, aku tidak tahu. Tetapi tempat itu sangat sepi, gelap dan kabar terakhir mengenai hutan itu adalah hutan yang dijadikan tempat sebagai pemujaan iblis, sekte.”
“Oh begitu ya! Aku tidak tahu, setahuku tempat itu cukup bagus dan menarik.”
“Apa kamu pernah kesana?”
“Tidak, tetapi aku ingin kesana.”
“Untuk apa?”
“Entahlah, tetapi aku pikir sesuatu telah menuntunku untuk kesana. Bagaimana denganmu?”
Lalu pria yang berada di sebelah kananku menjawab, “Ya, kami ingin kesana. Apakah kamu ikut? Luna, teman kami juga akan ikut kesana.”
“Siapa kamu? Apakah kamu teman Luna juga?”
“Ya aku adalah teman Luna. Perkenalkan namaku Aaron! Aaron yang asli”
“Aaron yang asli?”
Ace menjawab apa yang aku tanyakan, “ Ya, soalnya ada dua Aaron di kampus ini, jadi he adalah Aaron yang asli.”
Tiba-tiba di tengah perbincangan, seorang pria lainnya datang. He berdiri di sampingku juga dan berucap “Huh, kenapa menyukai hutan seperti itu? Apa kau tahu tentang hutan itu?.’Aku menoleh ke arah kiri, seorang pria lainnya bicara padaku. Melihat wajahnya, aku pernah bertemu dengannya.
Hingga malam menjelang, di bawah cahaya bulan dan bintang bersinar terang. Kota Malvado tetap hidup tanpa kesepian, malam seperti siang. Keramaian terus terjadi tanpa henti.
Sementara itu di asrama, kamar Luna.Seseorang telah mengetok pintu kamar Luna, Luna yang mendengar ketokan pintu itu dengan tumbuh semboyongan she bergegas berdiri dan membuka pintu. She melihat kekasihnya datang, sang pria itu bergegas memeluk erat Luna dan masuk ke dalam kamar ini. Luna yang setengah sadar memeluk pria ini, dan pria ini membalas pelukan Luna dengan sebelah tangan. Sementara tangan yang satunya mengunci pintu kamar Luna, dan meletakan kunci di atas meja. Setelah itu, pria ini mulai memeluk era
Kemudian aku dan Luna bergegas keluar dari kamar ini. Luna mengunci pintu dan menyembunyikan kuncinya. Lalu kami berdua jalan bersamaan, kami akan berkeliling tempat yang luas ini.Sembari berjalan, Luna bicara padaku. She berucap, “An Jinshi, apakah kamu orang asia?”
University MalvadoPagi hari yang cerah, dimana arunika tampak bersinar terang. Di pusat kota, keramaian kota terdengar jelas. Suara knalpot mobil dan motor, suara orang-orang berbincang, kepadatan aktivitas di jalan dan aktivitas telah dimulai sejak matahari bersinar atau bahkan sebelum mataha