LOGINSementara itu di asrama, kamar Luna.
Seseorang telah mengetok pintu kamar Luna, Luna yang mendengar ketokan pintu itu dengan tumbuh semboyongan she bergegas berdiri dan membuka pintu. She melihat kekasihnya datang, sang pria itu bergegas memeluk erat Luna dan masuk ke dalam kamar ini. Luna yang setengah sadar memeluk pria ini, dan pria ini membalas pelukan Luna dengan sebelah tangan. Sementara tangan yang satunya mengunci pintu kamar Luna, dan meletakan kunci di atas meja. Setelah itu, pria ini mulai memeluk erat Luna. Dengan setengah kesadaran Luna pun mencumbu pria ini dengan mesra, dan pria ini membalas kecupan Luna.
Pria ini pun mulai membawa tubuh Luna ke kasur, dan perlahan-lahan melepaskan pakaiannya. Melepaskan pakaian Luna, dan pria ini. Tubuh Luna yang menawan dan menggoda terlihat, dua gunung dan bagian sensitif. Dengan nafsu yang membara, pria ini mulai mengecup bagian leher Luna, lalu ke dua gunung dan memberikan pijatan yang lembut hingga Luna sedikit mendesah. Luna menikmati apa yang dilakukan pria ini pada tubuhnya. Pria ini pun mulai membuka selangkangan tubuh Luna, pria ini tersenyum penuh hasrat. He pun mulai mengenakan sesuatu pada kejantannya. Lalu menusukan benda yang telah mengeras dan besar ini pada tubuh Luna bagian bawah. He pun telah siap mengoncang dunia Luna dengan kehebatan. Luna menjerit kesakitan, dan penuh kenikmatan. Desahan itu hampir tidak terdengar dari luar kamar ini, karna kamar ini telah di pasang akan kedap suara hingga siapa pun yang berteriak minta tolong atau pun mendesah tidak akan terdengar di luar.
Melihat Luna terus mendesah dan kesakitan, he pun mempercepat goncangan hebatnya. Hingga mereka kelelahan, dan tubuh Luna yang sudah tidak berdaya. He pun terbaring di samping tubuh Luna yang telah lemas.
Di luar asrama, lapangan basket university.
Ace telah melihat seorang pria yang tidak asing menuju kamar Luna, dan berpikir gadis itu telah melakukan sesuatu lagi dengan si pria bajingan.
“Huh.... Aaron juga tidak disini! Luna juga sudah pasti melakukannya. Apakah Aaron juga melakukannya? Ya sepertinya malam ini pesta itu hanya untuk orang yang tidak terbiasa saja. Mereka akan mencari pasangan!” ucap Ace segera membereskan barangnya lalu pergi menuju lorong loker.
He melihat banyak gadis yang melintas dan membicarakan dirinya. Hampir semua gadis menyukai dirinya dan Aaron, tetapi bagi Ace mereka yang menyukai dirinya dan Aaron hanyalah orang-orang yang tidak mengetahui kebenaran tentang mereka berdua.
Setelah tiba di loker, Ace berada sendiri di barisan loker ini. Lorong yang sepi. Ace menghembuskan nafas dan berucap “Huh.... orang-orang pergi di waktu segang. Bodoh! Mereka pikir dengan begitu semuanya akan jauh lebih mudah ya? Aku kira kalian sudah kelewatan. Anak baru itu akan bersamaku, bukan bersama Aaron!.”
Saat dirinya sibuk dengan loker, beberapa gadis datang dan membuka loker mereka. Ace pun mendengar apa yang diperbincangan gadis-gadis secara diam-diam.
“Aku kasihan dengan Leisa, kudengar she masuk rumah sakit jiwa setelah kejadian itu!”
“Ya, aku mendengar hal itu juga. Kau tahu aku sangat sedih melihat kejadian itu, Leisa yang malang!”
“Hem...sebenarnya apa yang terjadi? Leisa menjadi gila dan Chica ditemukan tewas. Polisi bilang kalau kejadian itu disebabkan oleh Leisa. Tapi aku tidak percaya kalau Leisa adalah pembunuh. She kita kenal dengan sangat baik. Kecuali Luna, she bukan gadis baik menurutku.”
“Oh ya benar, semenjak Leisa dan Chica mengenal Luna. Semuanya berubah. Tetapi kita tidak bisa membuktikan siapa yang salah siapa yang benar. Aku selalu berdoa setiap malam untuk Leisa, agar she selalu diberikan kekuatan dalam hidupnya.”
“Ya, mengingat kejadian itu. Meski sudah lama, aku terus mengikuti kamar Leisa. Aku tahu ini sangat sulit, entah bagaimana kejadian itu bisa terjadi!”
“Heh, sudah lah! Sekarang tidak perlu khawatir, jika memang Leisa penjahat, she akan mendapat hukumannya segera. Tetapi jika Leisa bukan penjahat, she akan dibebaskan secepatnya!”
“Oh, ada apa denganmu? Apa kamu baik-baik saja? Leisa menjadi gila semejak melihat temannya telah meninggal bersimpah darah.”
“Hem....aku mengerti. Tapi maksudku pasti akan ada waktu dimana pembalasan itu akan datang. Oh ya, apakah kalian mendengar berita yang hebat?”
“Apa? Berita apa?”
“Aku dengar kabar mengenai sebuah rumah di hutan, tempat terpecil dan tidak jauh dari desa. Rumah itu digunakan untuk membangkitkan iblis. Polisi katakan rumah untuk pemujaan iblis. Polisi menangkap beberapa orang pelaku. Orang-orang yang melakukan pembangkitan iblis itu mengorbankan dengan sadis seorang yang masih muda. Aku melihatnya di televisi, anak perempuan yang ditemukan di tengah lingkaran setan. She dipenuhi darah. Sangat malang nasibnya!”
“Hah, apakah she masih hidup?”
Teman perempuan menggelengkan kepala dan menjawab “Sayangnya mereka yang berada di lokasi itu tidak mengatakan apapun soal gadis itu lagi.”
Lalu seorang anak perempuan lainnya datang mendekat, dan menyambung apa yang mereka bicarakan.
“Kalian membicarakan gadis yang malang itu ya? Kudengar soal gadis itu tidak ada yang mengakuinya sebagai anak. Tidak ada orang tua yang mengatakan anak mereka hilang. Aku berharap gadis malang itu segera kembali ke orang tua mereka.”
“Oh, apakah gadis itu masih hidup?”
“Tidak, she telah meninggal di tempat itu. She dibunuh. Polisi sedang menyelidiki khasus gadis ini, she korban tetapi tidak ada yang tahu berasal dari mana dirinya. Bahkan pemimpin sekte tidak mengakui keberadaan gadis itu. Mereka seolah-olah menutup mulut akan gadis itu.”
“Wah, kamu tahu banyak ya?”
“Ya tentu saja, itu berita hari ini. Baru saja aku mendengarnya!”
“Lalu apakah ada kabar baru lagi?”
Gadis yang baru saja datang menggelengkan kepala dan menjawab, “Aku tidak tahu! Aku harus mengambil sesuatu di loker. Sampai jumpa lagi!”
“Ya, sampai jumpa!”
Perbincangan itu berakhir, dan Ace pun pergi meninggalkan tempat ini. He baru saja mendengarkan sesuatu yang baru.
“Huh, sekte ya! Ajaran sesat tetapi banyak sekali peminatnya. Memang apa untungnya?” oceh Ace berjalan menuju asrama.
Tiba-tiba di tengah perbincangan, seorang pria lainnya datang. He berdiri di sampingku juga dan berucap “Huh, kenapa menyukai hutan seperti itu? Apa kau tahu tentang hutan itu?.’Aku menoleh ke arah kiri, seorang pria lainnya bicara padaku. Melihat wajahnya, aku pernah bertemu dengannya.
Hingga malam menjelang, di bawah cahaya bulan dan bintang bersinar terang. Kota Malvado tetap hidup tanpa kesepian, malam seperti siang. Keramaian terus terjadi tanpa henti.
Sementara itu di asrama, kamar Luna.Seseorang telah mengetok pintu kamar Luna, Luna yang mendengar ketokan pintu itu dengan tumbuh semboyongan she bergegas berdiri dan membuka pintu. She melihat kekasihnya datang, sang pria itu bergegas memeluk erat Luna dan masuk ke dalam kamar ini. Luna yang setengah sadar memeluk pria ini, dan pria ini membalas pelukan Luna dengan sebelah tangan. Sementara tangan yang satunya mengunci pintu kamar Luna, dan meletakan kunci di atas meja. Setelah itu, pria ini mulai memeluk era
Kemudian aku dan Luna bergegas keluar dari kamar ini. Luna mengunci pintu dan menyembunyikan kuncinya. Lalu kami berdua jalan bersamaan, kami akan berkeliling tempat yang luas ini.Sembari berjalan, Luna bicara padaku. She berucap, “An Jinshi, apakah kamu orang asia?”
University MalvadoPagi hari yang cerah, dimana arunika tampak bersinar terang. Di pusat kota, keramaian kota terdengar jelas. Suara knalpot mobil dan motor, suara orang-orang berbincang, kepadatan aktivitas di jalan dan aktivitas telah dimulai sejak matahari bersinar atau bahkan sebelum mataha