Bencana pernikahan

Bencana pernikahan

last updateLast Updated : 2020-10-05
By:  NP SukaryantoOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
1Chapters
32views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Synopsis

Anya Zoulfa tidak pernah menyangka jika pernikahannya yang berawal dari perjodohan akan berakhir menyakitkan. Dimalam pertamanya menjadi seorang istri, Anya langsung dihadapi dengan pernyataan Dante Alvaro, sang suami yang mengatakan akan segera menikahi kekasihnya yang saat ini sedang mengandung benih cintanya. Dante juga memberikan surat perjanjian pernikahan yang isinya mengatakan, dirinya akan segera menceraikan Anya, jika ayah Anya sudah pulih dari penyakitnya. Polemik rumah tangga mereka pun dimulai, Anya yang bersikukuh mempertahankan bahtera rumah tangganya dengan Dante, justru harus menelan pil pahit, bukan hanya harus berbagi suami dengan madunya dan berusaha membuat Dante mencintai dirinya. Anya juga harus dihadapi dengan kehadiran seorang lelaki tampan namun kasar yang secara terang-terangan menyatakan cinta kepada dirinya, lelaki tersebut bahkan berniat merebut Anya dan menghancurkan rumah tangganya bersama Dante.

View More

Chapter 1

Prolog

Malam temaram mulai menyapu setiap sudut jalanan kota Yogyakarta, hembusan angin syahdu berpadu dengan rintisan air hujan, bagaikan sebuah melodi indah yang mengiringi pesta pernikahan yang baru saja usai terlaksana disebuah hotel berbintang lima.

Anya sang mempelai wanita terlihat tengah duduk di ujung ranjang hotel dengan tatapan kosong menatap nanar kearah balkon. Nampak raut wajah sedih dan kecewa tercipta jelas dari manik hitam legamnya. Gadis bertubuh mungil dengan tinggi badan seratus lima puluh lima sentimeter itu, termenung berkelana di dalam pikirannya sendiri.

Bukan perihal biaya pernikahannya yang telah menelan biaya mahal yang saat ini mengganggu pikirannya, atau amplop para tamu undangan yang jumlahnya sedikit hingga membuat dirinya tidak balik modal. Namun, dirinya hingga detik ini, masih belum bisa percaya jika sekarang dia telah resmi menyandang status menjadi seorang istri. Istri dari lelaki yang tidak ia cintai dan tidak mencintainya.

Ya! Pernikahan ini terjadi bukan atas dasar cinta, melainkan keterpaksaan.

Miris bukan, tapi begitulah takdir hidup yang menghampiri dirinya. Anya gadis berusia 23 tahun itu, tidak dapat menolak permintaan sang ayah yang saat ini sedang terbaring kritis dirumah sakit untuk menikah dengan Dante Alvaro, laki-laki yang ia kenal sebagai sahabat karib sang kakak. Sulit memang, tapi Anya berusaha ikhlas menerimanya.

"Kau sedang apa?" Anya terkesiap, ketika sebuah sergahan seorang lelaki berhasil menariknya keluar dari lamunannya. Anya menoleh dan mendapati Dante, sang suami tengah berdiri dengan pakaian yang begitu rapih.

"Kakak mau pergi?" tanyanya binggung.

Dante melirik jam tangan yang melingkar indah di lengan kekarnya, kemudian kembali lelaki berbadan tegap dengan tubuh yang ditumbuhi rambut halus itu menatap Anya dengan tatapan tanpa ekspresi.

"Pulang," jawabnya singkat.

Anya menautkan kedua alisnya, binggung tentu saja. Pulang? Pulang kemana? Bukannya mereka sudah sepakat untuk menghabiskan malam pertama di hotel ini, lalu apa lelaki ini akan merubah rencananya?

"Pulang? Maksudnya ke Bantul?" Mencoba menebak, dengan tempat yang sekiranya menurut dia benar.

Bantul? Ya! Mungkin itu benar. Dante ingin menghabiskan malam pertamanya di rumah kedua orangtuanya, mungkin Dante menginginkan sesuatu yang lebih intim? Begitu pikir Anya.

"Tidak. Kita pulang ke Jakarta, sekarang." Dante meraih kopernya yang terletak disudut hotel, menaikan koper bermerek swis army itu, ke atas ranjang yang bertabur dengan kelopak mawar dan melati.

"Hah, pulang?" Anya mendelikkan matanya tidak percaya, kenapa tiba-tiba lelaki ini mengajaknya pulang ke Jakarta? Apa dia ada pekerjaan mendesak disana, tapi sepertinya tidak mungkin. Lelaki ini kan bos, masa bos harus bekerja di hari pernikahannya.

"Ia. Kita pulang sekarang," jawab Dante tanpa mengalihkan antesi.

"Kenapa? Bukannya kita besok menyambut kedatangan mas Danish? Dan menjenguk papa, dirumah sakit?" Anya menatap Dante nanar, menunggu jawaban dari sang suami dengan tidak sabarnya.

Dante meleparkan bajunya yang baru dia lipat dengan kasar ke dalam koper, membalikkan tubuhnya menghadap Anya. Sedetik kedua mata mereka saling bertemu, sebelum akhirnya Dante membuang pandangannya ke arah balkon hotel yang tidak tertutup.

"Aku tidak mau terjadi apa-apa malam ini, sementara kedua orangtua kita sedang merencanakan sesuatu untuk malam pertama kita.".

Anya kembali menautkan alisnya, mencoba mencerna setiap kata demi kata yang baru Dante katakan, "maksudnya?"

Dante mendesis, melipat kedua tanyanya di dada dan kembali menatap Anya, "kedua orangtua kita sedang menyiapkan malam pertama untuk kita Anya. Dan aku menghidarinya..."

"Kenapa?" tanya cepat Anya memotong ucapan Dante.

Dante tersenyum sinis, "kenapa kata kamu? Jelas aku menolak. Pernikahan kita ini terlaksana karena keinginan ayah kamu, dan aku tidak akan pernah menyetuh sedikit pun wanita yang tidak saya cintai."

Anya tertegun, dengan penjelasan Dante. Dirinya tau, jika pernikahan ini terlaksana karena keinginan ayah Anya yang sedang sekarat dirumah sakit, tapi apa perlu hingga seperti ini. Mereka baru saja menikah pagi tadi, dan malam ini mereka memutuskan untuk kembali ke Jakarta, dengan alasan konyol pula.

"Kamu bercanda kan, kak? Masa cuma karena menghindari malam pertama kamu mutusin untuk balik ke Jakarta?"

"Lalu, mau kamu bagaimana, hah?" Dante menaikkan intonasi suaranya, "aku menuruti semua yang ibu kita inginkan? Menyetuh tubuhmu, dan menikmati malam ini penuh dengan nafsu dan desahan?..." Menghela nafas keras, "maaf, tapi aku tidak bisa." Kembali memasukkan semua barang-barangnya ke dalam koper.

Anya termenung, diam dan meresapi semua perkataan yang baru saja Dante jabarkan. Bukan, itu ingin dia. Dirinya juga tidak menginginkan pernikahan ini, apalagi melakukan hubungan tubuh dengan Dante. Dirinya hanya tidak ingin cepat-cepat meninggalkan Yogjakarta, Anya ingin menjenguk dan merawat ayahnya beberapa hari kedepan, menjemput dan menyambut kedatangan kakaknya Danish, yang saat ini tinggal dan menetap di Singapura. Dirinya bahkan telah menuliskan daftar kegiatan apa saja, yang akan dia lakukan selama di Yogyakarta.

Dirinya ingin protes dengan keputusan sepihak Dante, tapi gadis itu paham betul dengan sikap keras kepala Dante dan egoisnya cowok itu. Maka, dirinya lebih memilih diam, dab berangsur pergi masuk ke dalam kamar mandi.

Di dalam kamar mandi Anya, menatap dirinya di balik pantulan cermin wastafel. Sedikit demi sedikit airmata mulai jatuh, membasahi pelupuk pipinya. Segera Anya mengelapnya airmata sialan itu, dengan kasar. Di putarnya keran wastafel, kemudian dia membersihkan wajahnya dengan air yang keluar dari keran wastafel tersebut.

"Jadi kalian benaran mau langsung pulang ke Jakarta?" tanya seorang wanita parubaya berpakaian kebaya dan rambut di sanggul, serta berkaca mata tebal.

"Ia ma." Dante menyeruput kopi di tangannya, sementara Anya hanya diam duduk disebelah Dante dengan mengetuk-ngetuk gelas di genggamannya.

"Kenapa?" Kali ini seorang wanita parubaya bergaun merah sexy bertanya.

"Euhm..." Anya melirik Dante sesaat, laki-laki itu bergeming tanpa ekspresi, "i-itu ma, euhm..."

"Saya ada kerjaan mendadak, yang harus saya selesaikan besok pagi."

"Eh..." Reflek Anya menatap ke arah Dante. Mengedipkan matanya cepat, tidak percaya dengan alasan yang baru saja di ucapkan Dante.

Hanya karena menghidari malam pertama dengannya, Dante bahkan berbohong kepada ibu dan mertuanya itu. Miris, bukan?

Dante menolehkan kepalanya menatap Anya, sedetik lelaki itu menyinggungkan senyum keterpaksaan, yang di ikuti juga oleh Anya.

"I-ia. Gapapa kan kalau kami pulang?" Anya menatap kedua wanita parubaya dengan hati bergetar. Takut-takut takut, jika alasan bohong Dante itu ketahuan.

Keempat orang yang saat ini sedang duduk di kafe hotel, termenung sesaat saling lempar pandangan menerka-nerka. Khusunya, wanita parubaya yang mengenakan kebaya, yang tidak lain ada ibunda Dante Lilian. Wanita berusia 49 tahun itu, nampak menyadari jika sang anak sedang berbohong. Maka dari itu, wanita berwajah khas orang jawa itu, menyoroti wajah Dante dengan sorotan tajam penuh pertanyaan.

"Kamu tidak sedang berbohong kan, Dante?"

Dante berkesiap, menenggakan tubuhnya dan menatap ibunya itu, "bohong? Maksudnya mama?" Mengeryitkan alis, pura-pura tidak mengerti pertanyaan ibunya itu.

Lilian mendesis, kini pandangannya ia alihkan menatap menantunya itu, "Anya, Dante ga ngomong macem-macem kan sama kamu."

"Eh..." Anya melirik Dante, binggung dirinya mau menjawab apa, "uhm... Gak kok, Dante beneran ada kerjaan, tadi Anya denger sendiri kok."

"Jeng..." Liliana menoleh ketika bahunya di tepuk oleh wanita parubaya bergaun merah, yang tidak lain adalah ibunda Anya, Rita itu, "biarkan saja mereka pulang, sekarang ini kita tidak terlalu berhak ikut campur masalah mereka. Percayakan semua kepada Dante, bukan begitu Dante? Rita menatap Dante dan tersenyum.

"Ia, ma. Tentu."

"Awas ya, kalau kamu macem-macem sama Anya, mama pecat kamu jadi anak." Hardik Lilian dengan mata yang membulat menakutkan menatap Dante.

Akhirnya dengan perundingan yang begitu sulit, bagi kedua orangtua mereka. Dante dan Anya akhirnya di perbolehkan pulang, senang tentu saja bagi Dante, tetapi hal itu tidak berlaku untuk Anya.

Di dalam perjalanan menujuh ibukota, baik Anya maupun Dante sama-sama diam dalam kebungkaman mereka masing-masing. Saat di dalam pesawat pun, Anya lebih memilih menyibukkan diri dengan membaca novel kesukaannya, sementara Dante laki-laki itu terus berkutat dengan berkas-berkas pekerjaan.

"Masuklah." Dante menurunkan koper kopernya dari dalam taksi online, menyeret dua koper berukuran dua puluh empat inci itu menaiki satu demi satu anak tangga rumahnya.

Anya terdiam, ketika kakinya masuk ke dalam rumah milik Dante, pandangan gadis itu, langsung menyapu menelusuri setiap inci rumah panggung milik Dante. Tidak terlalu besar seperti rumahnya di Yogyakarta, tapi terlihat cukup nyaman dengan hanya mereka berdua saja tinggal di dalamnya.

"mandilah, aku sudah merapihkan semua barang-barangmu, make-up, skincare, peralatan mandi semua sudah tersedia disana." Terang Dante, dan menunjuk tangannya ke sebuah kamar yang berada di lantai dua. Hanya ada satu kamar yang berada dilantai tersebut, sisanya hanya ruang keluarga yang langsung terhubung dengan teras yang menghadap kearah kolam renang.

"Kamar kamu?"

"Disana..." Menunjuk sebuah ruangan yang berada tepat dibawah tangga. Ruangan yang tertutup rapat dengan pintu kayu berwarna putih tanpa cela sedikit pun.

Jadi mereka akan tidur berpisah?

Tentu, Anya sudah menduga hal itu. Dante bahkan meninggalkan Yogyakarta hanya karena menghindari malam pertama dengannya, Jadi sangat mustahil, jika tiba di Jakarta Dante mau tidur satu ranjang dengan Anya.

Anya menganggukan kepalanya mengerti.

"Cepat mandi, ada sesuatu hal yang ingin aku bicarakan kepadamu."

"Besok kan bisa. Ini udah malam tau. Aku lelah," Kata Anya terus menyapu setiap sudut rumah bergaya modern minimalis itu.

Dante yang tidak suka di bantah, terlihat kesal dengan jawaban yang keluar dari mulut Anya. Di cengkramnya kedua bahu Anya, hingga membuat gadis itu menundukkan kepala takut, dan ditatapnya Anya dengan tatapan begitu menakutkan.

"Saya bilang mandi. Kamu istri saya, sudah sepatutnya kamu, mendengarkan dan melaksanakan titah apapun saya katakan."

Tubuh Anya bergetar, ia memundurkan tubuhnya beberapa langkah menjauh dari Dante, ketika tangan kekar itu sudah terlepas dari bahunya. Ucapan yang baru saja dikatakan oleh suaminya itu, berhasil membuat Anya nyali Anya ciut. Dengan langkah secepat kilat, Anya berjalan begitu saja meninggalkan Dante, menapaki satu persatu anak tangga dan menghilang dibalik pintu kamarnya.

"Apa ini?" Anya mengeryitkan dahi ketika Dante memberikan secarik kertas kepadanya.

"Surat perjanjian Pernikahan."

"Perjanjian Pernikahan? Maksudnya?"

Dante mendesis, menatap Anya dengan tatapan khasnya, tajam, mengintimidasi, tentunya mematikan.

"Surat perjanjian pernikahan, yang isinya kalau kamu setuju aku menikah lagi dengan wanita lain."

TO BE COUNTINUE...

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters
No Comments
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status