LOGINAku Selena Maria, banyak orang yang bilang kalau aku sulit didekati, dingin, cuek, tapi aku tidak peduli hingga suatu waktu ada yang mulai mengusikku. Arya Wilfred itu namaku, selama ini belum pernah tertarik dengan perempuan manapun sampai ku menemukannya yang membuatku menjadi pribadi yang hangat, hanya untuknya.
View MoreAku tak pernah tahu apa yang akan aku jalani setelah hari ini, aku hanya bisa bersiap dan mempersiapkan. Aku tidak begitu suka kejutan asal kau tahu. Selena Maria, ya itu namaku. Aku suka nama itu karena itu pemberian orang tuaku. Aku bukan anak tunggal ada kedua Kakak ku juga, Axel Diego dan Braga Michael namun mereka berdua jauh dariku, dari keluarga. Mengingat mereka aku jadi merindukannya, sangat. Mereka menyayangiku dengan cara mereka yang tak terduga. Kami memiliki keluarga yang cukup harmonis, kenapa cukup? Ya namanya juga tidak ada yang sempurna, ada masalah sedikit itu cukup manusiawi kan.
Aku memastikan penampilanku lagi agar terlihat lebih rapi, dan tidak lupa dengan jam tangan kesayanganku yang selalu ku pakai kemana pun aku pergi. Setelah yakin semuanya rapih dan tidak ada yang tertinggal aku pun melangkahkan kakiku keluar kamar dan menuruni tangga untuk berpamitan kepada kedua orang tuaku untuk pergi ke sekolah.
“Mah, pah aku berangkat dulu ya.” Aku menghampiri mereka setelah sarapanku selesai sambil mencium pipi mereka masing-masing.
“Iya sayang, hati-hati Nak.” Kata mamah tercantikku dan papahku tersenyum.
“Iya Selena akan hati-hati, bye.” Setelah mengucapkannya aku bergegas pergi ke sekolah.
Aku selalu suka suasana pagiku, begitu dekat dan hangat. Aku bersyukur, aku dilahirkan di keluarga ini yang menyayangiku dengan amat sangat. Akhirnya aku tiba disekolah dengan bantuan bus. Aku sudah terbiasa dengan itu, maka aku harus lebih pagi untuk mengejar jam keberangkatannya.
By the way, aku sekarang duduk di kelas 3 SMA, 12 MIPA1 tepatnya. Aku tidak populer atau mungkin aku tidak menyadarinya, entahlah aku tidak peduli karena aku tidak suka menjadi populer seperti beberapa teman satu sekolahku. Aku ingin menjadi anak biasa, tanpa harus disorot publik, menjadi pusat perhatian orang atau apapun itu aku tidak suka, itu sungguh mengganggu. Cukup memiliki seorang teman terbaik namun tulus seperti sahabatku Riana Joseph, dia satu kelas denganku. Dia yang paling mengerti aku, oh aku menyayanginya.
“Hai Ri baru sampai?” Kataku sambil melambaikan tanganku pada Riana di koridor sekolah.
“Kau lihat sendiri, aku baru sampai. Ayo kita ke kelas sekarang sebentar lagi bel masuk.” Jawab Riana sambil menarik tanganku.
“Ayo.”
Kami pun berjalan beriringan menuju kelas dimana kita belajar. Tepat sekali bel masuk pun langsung berbunyi. Aku langsung duduk di kursi yang bersebelahan dengan Riana, aku duduk di dekat jendela tempat favoritku. Pelajaran pun dimulai dengan begitu khidmat. Tanpa terasa jam istirahat pun tiba. Ah aku begitu suka dengan waktu istirahat, itu cukup membuatku tersenyum lega setelah sekian jam mengikuti jam pelajaran walau nanti harus ikut pelajaran lagi hingga waktu pulang tiba.
“Kantin dulu?” Tanya Riana.
“Oke,” Jawabku.
Kami pun ke kantin untuk membeli beberapa makanan dan minuman. Sebenarnya aku kurang suka dengan suasana kantin yang gaduh, makanya setelah membeli beberapa makanan dan minuman untukku dan Riana kami pergi ke taman belakang. Di sini sangat asri, teduh dan sejuk dengan beberapa pohon yang cukup rindang. Ada tanaman bunga juga salah satunya mawar yang mempercantiknya. By the way aku suka dengan bunga mawar, apalagi mawar merah. Entahlah rasanya aku bisa tersenyum seketika jika dihadapkan dengan mawar merah, tiba-tiba bahagia saja gitu. Aku dan Riana duduk di bawah salah satu pohon rindang tersebut.
“Na tau gak gosip tentang kelas sebelah? Katanya kemarin fira di tembak sama kelas sebelah ganteng banget, mana romantis lagi nembaknya,” kata Riana yang mulai cuap-cuap seperti burung beo.
“Gosip gerak cepat ya,” kataku datar.
“Ish kamu gak tau sih betapa romantisnya kakak kelas itu.” Kata Riana sambil mencebikkan bibirnya.
“Penting?” kataku singkat sambil memakan makananku yang kami bawa dari kantin.
“Ish bukan gitu, aku kepengen kaya gitu diromantisin juga. Siapa sih yang gak mau punya cowok yang selalu bikin kita melting tiap hari.” Ucapnya sambil menatapku dengan puppy eyesnya, aku hanya bisa terkekeh melihatnya sambil menggelengkan kepalaku perlahan.
“Kalo bikin meltingnya kesemua cewek kan repot.” Ucapku menanggapi Riana.
“Tapi kayanya kakak kelas itu baik deh.” Kata Riana.
“Mungkin.”
Dan mulailah gosipnya mampir ke sana kemari, itulah seorang Riana yang berbanding terbalik denganku. Aku tidak begitu suka bergosip, cukup menyimak itulah tugasku.
Akhirnya bel pun berbunyi menandakan waktu istirahat berakhir. Kami kembali ke kelas dan yang didapat adalah kegaduhan, ada apa? Aku dan Riana saling memandang sejenak sebelum bertanya kepada ketua kelas yang super duper cerewet melebihi cerewetnya perempuan pada umumnya, oh iya ketua kelasnya laki-laki namanya Radi tapi tenang dia gak belok. Ups maaf paketu.
“Di, ada apa? Rame banget.” Tanya Riana kepada Radi si ketua kelas.
“Sekarang jam kosong hingga istirahat kedua.” Kata Radi yang langsung ikut bergabung menonton film kartun sirambut kuning. Aku dan Riana pun bertatapan kembali dengan senyum yang penuh arti.
“Rooftop Na!” Ajak Riana padaku.
“Ayo Ri, butuh ketenangan kayanya.” Ucapku santai.
Aku dan Riana pergi ke rooftop untuk mengisi jam kosong. Terkadang kami pun suka bolos kalau terlalu jenuh dengan pelajaran, tapi tidak setiap hari loh, yah sekali-kali lah biar ada variasinya aja gitu. Setelah tiba di rooftop tak disangka ternyata ada orang lain disana, namun kita tidak peduli dengan sekitar, kita hanya berjalan santai dan langsung mengambil posisi. Tidak sengaja aku menoleh ke samping kiri dan kulihat mata itu sejenak yang ternyata dia sedang memandangku dengan intens, entah itu sengaja atau tidak aku tidak peduli. Aku kembali menatap lurus kedepan, aku dan Riana hanya diam, memang itu yang selalu dilakukan kalau dalam sedang menikmati ketenangan, hanya saja saat ini tidak begitu nyaman seperti biasanya karena keberadaan orang lain.
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat hampir istirahat kedua. Riana pun mengajakku untuk turun dari sana padahal aku masih betah duduk santai di ketinggian. Kami mulai meninggalkan tempat itu, hingga aku melihat mata yang sama yang sedang menatapku dalam keheningannya. Aku tak berpikir apapun, aku langsung memutuskan pandanganku ke arah lain.
Bel pulang pun berbunyi, akhirnya yang di tunggu-tunggu seantero sekolah pun tiba. Hanya saja sebagian siswa ada yang masih harus di sekolah karena ekstra kurikuler yang mereka ikuti. Ngomong-ngomong ekstra kurikuler, aku dan Riana tidak bersama dalam hal ini, aku masuk ekstra kurikuler seni dan Riana masuk ekstra kurikuler bola voli. Aku suka dengan seni, aku suka sebuah karya apalagi dengan rasa yang kuat hingga aku pun bisa merasakan sebuah kisah atau pesan yang terkandung di dalam sebuah karya.
Setibanya di rumah, seperti biasanya yang selalu aku dapati rumah yang kosong tak berpenghuni. Memang ini baru pukul 3 sore, papah dan mamah pasti masih di kantor, kadang juga mereka lembur hingga malam tiba. Kadang aku sedih melihat keadaan rumah yang setiap hari seperti ini ketika aku pulang, namun aku mulai terbiasa dengan keadaan, aku harus dewasa walau aku masih remaja umur 18 tahun. Ya setidaknya kedua orang tuaku menyayangiku, dan pagiku selalu diisi dengan kasih sayang mereka. Makanya aku baik-baik saja. Kakak? Mereka apalagi tak pernah di rumah, Kak Axel bekerja di luar negeri. Dia hebat mendapat tawaran yang bagus setelah lulus S2 nya. Kak Braga di luar kota, dia sedang menjalani masa perkuliahannya. Dia hanya akan pulang jika libur semester atau ada hal mendesak.
Rasanya gerah sekali, badanku sudah lengket, aku mau mandi biar badan dan pikiranku segar kembali. Masih banyak tugas yang harus aku kerjakan.
***
Malam ini begitu sunyi, setelah makan malam aku lebih senang menghabiskan waktuku di dalam kamar ini, tempat ternyaman yang paling ku suka dan satu lagi yang ku suka yaitu ketinggian. Karena dari sana aku bisa melihat ciptaan Tuhan yang begitu luar biasa, sangat indah dan juga menakjubkan, sungguh aku kagum akan hal itu. Apalagi bermain alat musik di tempat tinggi, itu adalah hal yang luar biasa seolah jiwa, nada dan alam menyatu menjadi kesatuan yang sempurna.
Kupandangi langit dari balkon kamarku, ‘cukup indah, oh tidak, ini indah’ batinku
Tanpa terasa aku tersenyum bersama hatiku penuh dengan kelegaan hingga ku teteskan air mata yang penuh dengan harapan. Tiba-tiba aku ingin kue di salah satu kafe yang terkenal dengan kuenya yang sangat enak dan juga minumannya yang memanjakan lidah para konsumennya. Kulirik jam tangan di pergelangan tangan kiriku, jam 8.30 malam. Aku masuk ke kamar lalu menyambar sweeter dan juga kunci mobil. Soal mobil, aku memang memilikinya hasil dari tabunganku yang di bantu juga oleh papah namun aku belum berniat memakainya ke sekolah. Akupun menuruni tangga dan ternyata mamah sama papah sudah pulang dari kantornya lalu aku menghampiri keduanya.
“Mamah sama papah udah pulang.” Ucapku lalu duduk di samping salah satunya.
“Iya sayang, baru saja papah sama mamah sampai.” Kata papah sambil mengelus kepalaku sayang.
“Ko rapih, mau kemana?” Tanya mamah sambil memperhatikan pakaianku.
“Selena mau ke kafe sebentar, tiba-tiba pengen kue. Mamah kan tahu kalau aku gak bisa absen dari kata makan.” Kataku senyum sambil memperlihatkan sederet gigiku.
“Dasar, hati-hati ya. Pulangnya jangan terlalu larut. Jaga diri.” Kata mamah sambil mengingatkan.
“Yaudah kalau gitu, Selena pergi ya. Bye mah pah.” Kataku sambil mencium satu-satu pipi mamah dan papah.
“Bye sayang.” Setelah itu aku mengambil mobil di garasi lalu menjalankannya keluar halaman rumah.
Selama menyetir aku sudah tidak sabar mencicipi kue yang sudah terbayang-bayang sejak dari rumah. Sampai tibalah di kafe yang jaraknya memakan waktu sekitar 17 menit. Aku begitu menikmati kue yang tersaji di depanku ini, hingga tidak terasa kue pesananku telah aku habiskan semuanya tanpa tersisa sedikitpun.
‘Akhirnya bisa makan kue ini lagi’ batinku dengan perasaan senang.
Malam ini aku berencana untuk pergi berlatih. Karena beberapa malam sebelumnya tugas selalu menumpuk setiap hari dan aku butuh waktu ekstra untuk menyelesaikannya. Walaupun ini adalah salah satu yang aku suka tapi tetap sekolah dan belajar akademik itu nomor satu. Bersyukurlah orang tuaku akhirnya mengizinkan segala hal yang ingin aku pelajari walau terkadang yang aku pilih memang agak berbahaya. Tapi aku selalu pastikan bahwa semua yang aku geluti itu sesuai prosedur. Aku selalu berusaha meyakinkan orang tuaku bahwa aku akan selalu baik-baik saja.Sekarang aku berada di tempat latihanku, ya sirkuit balap mobil. Aku sudah bergabung beberapa bulan yang lalu. Aku menyukai mobil sejak usiaku 15 tahun, t
Benar saja, sepertinya sekarang aku menjadi anak rajin. Lihatlah aku sekarang, pukul 06.30 pagi aku sudah berada di sini, di sekolah. Semua mata di kelas ini tertuju padaku dengan tatapan seolah aku telah mencuri sesuatu yang berharga, namun aku bersikap seperti biasanya dingin dan tidak peduli. Aku tidak sabar melihat gadisku, itulah alasan kenapa aku bisa berada di sini di pagi hari yang cerah ini. Sekarang aku sedang di koridor berkumpul bersama beberapa teman laki-laki sekelasku membahas yang menurutku itu tidak penting dan semua ini karena Deka. Aku mulai jenuh dengan pembahasan mereka, aku mencari obje
Memandangi langit malam yang indah dengan taburan bintang dari balkon kamarku merupakan salah satu hal favoritku. Aku begitu suka dengan ketinggian, karena aku bisa melihat dan menikmati keindahan yang Tuhan ciptakan. Tanpa sadar aku tersenyum tipis tiba-tiba aku teringat kejadian tadi di sekolah. Untuk pertama kalinya ada laki-laki yang berani mendekatiku, aku salut untuk keberaniannya karena selama ini tidak ada yang berani mengusikku, aku akan langsung bersikap sedingin mungkin tak tersentuh. Aku tidak berharap apapun, namun feelingku terlalu kuat dan sensitif. ‘Bagaimana aku menghadapinya besok? Semoga firasatku salah,’ batinku.
Aku bukan salah satu murid teladan di sekolah ini, kadang aku suka membolos saat pelajaran berlangsung. Rasanya bosan berdiam diri di kelas dengan pelajaran yang jenuh. Kata siswa lain aku orangnya dingin dan mengerikan, namun aku tidak merasa, mungkin hanya jarang bicara karena buatku banyak bicara hal yang tidak penting itu hanya buang-buang waktu. Aku Arya Wilfred siswa kelas 12 IPS2, aku salah satu siswa akhir di sekolah ini. Sekarang aku sedang berjalan menyusuri koridor menuju gudang sekolah yang di sana ada beberapa orang menunggu kedatanganku. Aku pergi ke sana seorang diri, ini bukan kali pertama untukku, hingga sampailah di sana aku membuka pintu gudang tersebut dan ku temukan temanku yang mereka aniaya. Darahku semakin mendidih hingga tidak sabar untuk menghan