LOGINEntah bagaimana, hari ini aku telat masuk sekolah. Mungkin semalam aku tidur sangat nyenyak hingga pagiku berantakan tidak seperti biasanya. Ah sial gerbangnya sudah di tutup, bagaimana ini? Aku mengintip kedalam dari celah pagar, dan ku lihat Ms. Bella yang piket hari ini. Ya Tuhan cobaan apalagi sekarang, bisa habis aku dengan segudang hukumannya. Semoga belum ada guru yang masuk ke kelas juga. Aku mulai panik dengan segala kemungkinan yang akan terjadi kedepannya hingga ada seseorang yang melihatku dari dalam, dia terus menatapku. Aku tidak tau dia siapa tapi aku mengerti sebuah isyarat yang dia berikan padaku yang artinya ‘tunggu sebentar’, aku menjawab dengan mengangguk sekali. Aku perhatikan dari balik pagar dia berbincang dengan Ms. Bella yang aku tidak tau apa yang mereka bicarakan hingga Ms. Bella pergi dari tempatnya dan dia menghampiriku lalu membukakan gerbang untukku. Lalu aku masuk dan dia mengunci lagi gerbangnya. Dia menatapku kembali tanpa ekspresi hingga dia berkata “Ikut aku”. Tanpa banyak bertanya aku langsung mengikutinya. Kami berhenti di lorong yang sepi. Aku baru menyadari orang yang di depanku saat ini ternyata orang yang sama yang menatapku di rooftop tempo hari.
“Terima kasih,” kataku singkat.
“Hmm it’s ok,” jawabnya sambil tersenyum tipis padaku. Hah tersenyum?
“Ya sudah aku ke kelas dulu, permisi,” kataku langsung berbalik meninggalkannya. Namun langkahku terhenti karena dia bertanya.
“Siapa namamu?” Aku berbalik dan menatapnya kembali. Aku selalu waspada untuk berkenalan dengan orang asing. Aku tidak biasa menyebutkan namaku dengan sembarangan.
“Namamu?” Aku mengembalikan pertanyaannya, dia terlihat berpikir namun dia langsung menjawabnya.
“Arya Wilfred.” Jawabnya singkat.
Aku hanya menganggukkan kepala mendengar namanya tidak berniat menjawab pertanyaannya yang tadi. Tapi sepertinya dia menunggu jawabanku tapi aku tidak peduli.
“Hmm baiklah, sampai jumpa.” Aku berbalik dan bergegas pergi meninggalkannya berdiri sendiri disana dengan wajah herannya. Setibanya di depan kelasku yang ternyata belum ada guru, aku bisa bernafas lega. Aku langsung masuk dan duduk dikursiku.
“Tumben banget telat, ada angin apa,” kata Riana dengan wajah herannya. Aku tertawa melihat wajah herannya, karena menurutku itu lucu.
“Ko malah ketawa bukannya jawab, ah elah gimana sih.” Kata Riana sambil mencubit lenganku namun tidak sakit. Aku hanya terkekeh menanggapi perlakuannya.
“Aku juga gak tau, mungkin mimpiku terlalu indah makanya aku jadi betah tidur dan lupa kalo hari ini bukan hari libur,” jawabku mengarang.
“Gak usah bangun aja biar jadi putri tidur sekalian” kata Riana lalu memutar bota matanya menanggapi jawabanku.
“Boleh juga, siapa tau dapet pangeran tampan.” Ucapku sambil menaikan sebelah alisku.
“Pangeran tampan kakek moyang lho, ngarep,” kata Riana sambil memalingkan wajahnya yang kesal, seketika tawaku pecah. Terkadang aku suka menggodanya sesekali karena ekspresinya yang selalu lucu kalo aku berhasil menggodanya. Apalagi pagi-pagi begini.
“Tumben jam segini belum ada guru yang datang,” tanyaku pada Riana.
“Biasanya jam kosong.” Jawab Riana sambil menghadap ke arahku.
“Sampai jam ke berapa?” Tanyaku lagi.
“Sampai istirahat, nih dikasih tugas doang tapi lumayan sih banyak dan nanti istirahat harus di kumpulin. Mending gurunya masuk aja, ribet banyak tugas.” Sambil cemberut Riana memberiku selembar kertas yang isinya tugas hari ini.
“Kalo enggak dua-duanya gimana?” Godaku pada Riana.
“Gak usah sekolah aja kalo gitu,” sewot Riana. Aku pun tertawa kembali melihat reaksinya, ‘ternyata kesalnya belum hilang’ batinku. Dengan susah payah aku memberhentikan tawaku yang cukup renyah. Setelah tawaku hilang, aku berkata kembali dengan tenang.
“Ya udah kita kerjain, abis itu kita ke rooftop” tawarku pada Riana agar dia tidak terlalu kesal padaku.
“Oke” kata Riana dengan semangat, suasana hatinya langsung kembali cerah secerah pagi ini.
Suasana di rooftop begitu nyaman, semilir angin yang membuatku begitu betah berlama-lama disini walau panas matahari mulai menyengat tapi ini sehat untuk tubuh. Dari tadi aku hanya menyimak dan menanggapi sedikit cerita-cerita gosip yang ia dapat dari yang tidak penting sampai yang sangat tidak penting untuk di dengar namun aku menikmatinya. Hingga tanpa aku sadar ada sepasang mata yang pernah ku lihat sedang memandangiku. Ku fokuskan kembali pada Riana yang sekarang sedang bercerita tentang kucing tetangganya.
“Kucingnya udah ngelahirin kemaren Na, ya ampun lucu-lucu tapi aku geli megangnya masa,” begitulah salah satu celotehannya yang aku tanggapi dengan kekehan.
“Hai!” Tiba-tiba ada suara menyapa yang cukup familiar.
‘Kayanya aku pernah dengar suaranya’, batinku. Akupun menoleh ke sumber suara.
“Oh hai.” Jawab Riana yang ternyata sudah menoleh duluan. Aku dan Riana pun saling pandang heran. Karena kita tidak terbiasa di sapa di tempat ini. Aku masih terdiam dengan muka datarku dan ku angkat sebelah alisku tanda ‘ada apa’.
“Aku hanya ingin bertanya siapa nama teman di sebelahmu itu?” Tanyanya pada Riana sambil menunjukku dengan jarinya. Rianapun menoleh padaku meminta persetujuanku. Aku pun membalas tatapan Riana dengan artian ‘tidak’. Luar biasa sekali bukan, saking dekatnya kita, kita hanya berkomunikasi dengan isyarat dan telepati.
“Untuk apa? Aku rasa aku belum pernah melihatmu sebelumnya. Dan bisakah kamu meninggalkan kami berdua.” Riana memang yang terbaik. Aku harap dia segera pergi dari sini, ini cukup mengganggu. Setidaknya dia jaga jarak dariku. Feelingku terlalu kuat, entah kenapa aku merasa dia mencoba mengenalku. Tapi aku tidak berminat untuk berkenalan.
“Baiklah, aku minta maaf, aku pergi.” Bagus, akhirnya dia pergi. Aku melihat raut wajahnya kenapa aku tidak yakin kalau dia akan benar-benar pergi. Setelah memastikan dia pergi aku pun melanjutkan santaiku yang tersita karena orang tadi.
“Ko tumben banget ya Na, selama ini baru kali ini ada yang sengaja nyamperin kita sampe nanya nama kamu segala, heran”
“Gak tau,” jawabku cuek. Aku tidak menceritakan kejadian tadi pagi pada Riana, karena aku pikir ini tidak akan berlanjut.
‘Apa mungkin dia mau meminta imbalan karena telah meloloskanku dari hukuman? Tapi rasanya tadi udah bilang makasih langsung deh, apa gara-gara aku belum jawab pertanyaannya kali ya, tapi masa iya segitu penasarannya sampai nyamperin kesini, ah terserahlah’ batinku.
“Biasanya juga kalo emang ada orang lain disini kita masing-masing aja tuh gak ada masalah.” Kata Riana yang terlihat heran dengan kedatangan laki-laki tadi.
“Yaudahlah biarin Ri, orangnya juga udah gak ada,” sambil melirik memastikan kalau dia memang sudah tidak ada di sini. Tiba-tiba smartphone milik Riana berbunyi adanya notifikasi chat masuk. Kulihat Riana langsung membuka dan membaca isi pesannya, setelah membacanya dia menoleh kearahku.
“Na mau ikut turun gak, aku mau ada kumpulan ekskul nih tiba-tiba gak tau apa deh yang dibahas” Kata Riana tiba-tiba.
“Sekarang nih, lama gak?” Tanyaku sambil agak cemberut. Lagi nyaman-nyamannya di suruh turun, kaya lagi sayang-sayangnya malah ditinggal. Hahaha… Ups.
“Gak tau juga sih, gimana? Atau mau disini aja?” Tanyanya lagi memastikan.
“Yaudah deh disini aja dulu masih betah, nanti aku turun sendiri.” Ucapku setelah menimang-nimang tawaran Riana.
“Yaudah hati-hati ya disini, jangan loncat, awas.” Kata Riana diselingi candanya sambil mengangkat telunjuknya kedepan wajahku seolah-olah aku akan benar-benar loncat dari rooftop ini.
“Ya enggak lah, masih sayang nyawa ini. Udah ah gih sana, telat nanti.” Kataku yang dibalas dengan cengiran Riana.
“Yaudah aku turun, bye.” Ucapnya lalu berdiri dan berlalu dari rooftop meninggalkanku sendiri di sana.
“Bye.” Begitulah Riana yang selalu perhatian dan rasa khawatirnya yang terkadang agak berlebihan. Sepeninggal Riana aku kembali menatap lurus kedepan memandangi deretan gedung-gedung yang entah kenapa begitu indah di pandanganku hingga tanpa sadar aku tersenyum menikmatinya.
“Senyummu manis ternyata.” Aku terkejut akan suara yang tiba-tiba saja menghampiri pendengaranku. Aku menoleh ke sumber suara, Aku tidak menyadari ada orang lain yang datang, mungkin karena aku terlalu menikmati kesendirianku di atas sini.
“Arya,” gumamku terkejut atas kehadirannya namun aku sembunyikan keterkejutanku dibalik wajah datarku.
“Aku tadi lihat temanmu turun sendiri tanpa kamu, jadi ku pikir kamu masih ada disini dan ternyata benar.” Aku masih terdiam sambil memperhatikannya. Hingga dia berbicara lagi padaku.
“Kau suka berada di sini?” Dengan masih menatapku begitu lekat.
“Ya, aku menyukainya.” Aku memutuskan pandanganku dan beralih menatap deretan gedung-gedung itu lagi. Dia mendekat dan mengambil posisi disampingku. Dari sudut mataku aku melihat dia masih menatapku dan mulai tersenyum lebih lebar dari yang tadi pagi.
“Aku pikir kau tidak suka tersenyum, karena seingatku pertama kali kita bertemu disini sepertinya kau bukan orang yang ramah” Ucapnya.
“Bukannya sebaliknya ya.” Jawabku seadanya dan dia terkekeh karena jawabanku. ‘Apakah ada yang lucu’ batinku.
“Boleh aku minta sesuatu?” Tanyaku dengan posisi masih sama.
“Wah kau langsung ingin meminta sesuatu dariku, luar biasa.” Dengan nada menggoda sambil tersenyum jahil padaku. Aku langsung menoleh tidak suka dengan wajah datarku. Menyadari atas ekspresi yang aku berikan, Arya pun melanjutkan perkataannya.
“Oke mau minta apa? Tapi aku juga ingin meminta sesuatu darimu, gimana?” Tanyanya dengan santai.
“Kenapa rasanya jadi bernegosiasi.” Ucapku sarkas. Dia tertawa tiba-tiba, aku mengernyit seketika tanda bingung dengan situasi yang ada.
“Satu hal lagi yang ku tahu darimu yaitu kau menggemaskan.” Dia mengulurkan tangannya seperti ingin mencubit pipiku tapi aku menghindar dengan cepat karena aku tidak terbiasa disentuh laki-laki apalagi orang asing. Tawanya berhenti tapi masih dengan senyumnya yang merekah. Aku menyadari ternyata senyumnya indah. ‘Manis’ batinku.
“Kenapa kau selalu menatapku? Berhentilah menatapku.” Kataku dengan ketus.
“Karena aku suka menatapmu.” Dia kembali menatapku dengan lekat seperti tidak ada lagi yang menarik untuk mengalihkan pandangannya kearah lain.
“Sudah ku bilang berhentilah menatapku seperti itu.” Dengan santai namun terkesan tegas.
“Baiklah, lalu siapa namamu?” Dengan lembut dia bertanya. Lembut?
“Kenapa kau begitu ingin tau namaku?” Tanyaku dengan nada terkesan dingin yang tidak ingin di usik oleh siapapun.
“Aku hanya ingin tau, tapi ya siapa tau gitu.” Katanya yang sulit aku mengerti.
“Siapa tau apa?” Tanyaku sambil mengernyitkan kedua alisku.
“Gak papa.” Singkatnya.
“Hmm baiklah.” Balasku yang sama singkatnya dengan jawabannya.
“Hey jawab aku namamu siapa, kenapa begitu sulit menyebutkan nama saja, apa aku harus memaksamu untuk menjawab pertanyaanku.” Kata Arya dengan gemas karena aku tidak memperdulikan pertanyaannya. Aku tak kunjung menjawab namun tiba-tiba dia mendekat ke arahku sampai hampir menghapus jarak antara aku dengannya. Aku mencoba mundur tapi sayangnya tubuhku sudah mencapai dinding pembatas.
“Berhenti! tetap disitu.” Tegasku padanya dengan tetap tenang. Aku pasang wajah dinginku dan menatapnya dengan tajam. Tapi sepertinya itu sia-sia, dia terus saja mendekat hingga akhirnya dia menghapus jarak antara aku dengan dia. Nafasku tercekat dia terlalu dekat, aku tetap tenang dan mencoba untuk berpikir bagaimana caranya meloloskan diri dari situasi saat ini.
“Aku ingin tau namamu siapa. Aku tidak pernah seperti ini terhadap perempuan kecuali tempo hari tepat disini ketika aku melihatmu.” Dia menghela nafas dan aku merasakan hembusan nafasnya yang menerpa wajahku karena dia lebih tinggi dariku. Aku terus menatapnya sembari terkesiap.
“Aku berpikir sepertinya sulit untuk mendekatimu dan ternyata dugaanku benar. Hanya ingin tau namamu saja begitu sulit, tapi tak masalah aku akan terus berusaha untukmu. Maaf sudah membuatmu takut seperti ini, tapi aku tidak berniat menyakitimu, sungguh” Aku melihat dari matanya dia mengucapkannya begitu tulus, dan hatiku nyaman dia didekatku. Mungkin dia memang orang baik. Dia mundur memberi sedikit jarak dan tersenyum seperti sebelumnya walaupun masih terlihat dia agak frustasi. Aku membalas senyumnya dan senyuman dia semakin merekah ketika aku mengatakan.
“Selena Maria, namaku Selena Maria” Diapun mengulurkan tangan dan berkata “Arya Wilfred, walaupun kau sudah tau.” Kamipun akhirnya tertawa bersama, berbincang-bincang walau aku belum terbiasa dengan kehadiran orang asing ini hingga waktu pun tidak terasa telah berlalu begitu cepat.
Malam ini aku berencana untuk pergi berlatih. Karena beberapa malam sebelumnya tugas selalu menumpuk setiap hari dan aku butuh waktu ekstra untuk menyelesaikannya. Walaupun ini adalah salah satu yang aku suka tapi tetap sekolah dan belajar akademik itu nomor satu. Bersyukurlah orang tuaku akhirnya mengizinkan segala hal yang ingin aku pelajari walau terkadang yang aku pilih memang agak berbahaya. Tapi aku selalu pastikan bahwa semua yang aku geluti itu sesuai prosedur. Aku selalu berusaha meyakinkan orang tuaku bahwa aku akan selalu baik-baik saja.Sekarang aku berada di tempat latihanku, ya sirkuit balap mobil. Aku sudah bergabung beberapa bulan yang lalu. Aku menyukai mobil sejak usiaku 15 tahun, t
Benar saja, sepertinya sekarang aku menjadi anak rajin. Lihatlah aku sekarang, pukul 06.30 pagi aku sudah berada di sini, di sekolah. Semua mata di kelas ini tertuju padaku dengan tatapan seolah aku telah mencuri sesuatu yang berharga, namun aku bersikap seperti biasanya dingin dan tidak peduli. Aku tidak sabar melihat gadisku, itulah alasan kenapa aku bisa berada di sini di pagi hari yang cerah ini. Sekarang aku sedang di koridor berkumpul bersama beberapa teman laki-laki sekelasku membahas yang menurutku itu tidak penting dan semua ini karena Deka. Aku mulai jenuh dengan pembahasan mereka, aku mencari obje
Memandangi langit malam yang indah dengan taburan bintang dari balkon kamarku merupakan salah satu hal favoritku. Aku begitu suka dengan ketinggian, karena aku bisa melihat dan menikmati keindahan yang Tuhan ciptakan. Tanpa sadar aku tersenyum tipis tiba-tiba aku teringat kejadian tadi di sekolah. Untuk pertama kalinya ada laki-laki yang berani mendekatiku, aku salut untuk keberaniannya karena selama ini tidak ada yang berani mengusikku, aku akan langsung bersikap sedingin mungkin tak tersentuh. Aku tidak berharap apapun, namun feelingku terlalu kuat dan sensitif. ‘Bagaimana aku menghadapinya besok? Semoga firasatku salah,’ batinku.
Aku bukan salah satu murid teladan di sekolah ini, kadang aku suka membolos saat pelajaran berlangsung. Rasanya bosan berdiam diri di kelas dengan pelajaran yang jenuh. Kata siswa lain aku orangnya dingin dan mengerikan, namun aku tidak merasa, mungkin hanya jarang bicara karena buatku banyak bicara hal yang tidak penting itu hanya buang-buang waktu. Aku Arya Wilfred siswa kelas 12 IPS2, aku salah satu siswa akhir di sekolah ini. Sekarang aku sedang berjalan menyusuri koridor menuju gudang sekolah yang di sana ada beberapa orang menunggu kedatanganku. Aku pergi ke sana seorang diri, ini bukan kali pertama untukku, hingga sampailah di sana aku membuka pintu gudang tersebut dan ku temukan temanku yang mereka aniaya. Darahku semakin mendidih hingga tidak sabar untuk menghan
Entah bagaimana, hari ini aku telat masuk sekolah. Mungkin semalam aku tidur sangat nyenyak hingga pagiku berantakan tidak seperti biasanya. Ah sial gerbangnya sudah di tutup, bagaimana ini? Aku mengintip kedalam dari celah pagar, dan ku lihat Ms. Bella yang piket hari ini. Ya Tuhan cobaan apalagi sekarang, bisa habis aku dengan segudang hukumannya. Semoga belum ada guru yang masuk ke kelas juga. Aku mulai panik dengan segala kemungkinan yang akan terjadi kedepannya hingga ada seseorang yang melihatku dari dalam, dia terus menatapku. Aku tidak tau dia siapa tapi aku mengerti sebuah isyarat yang dia berikan padaku yang artinya ‘tunggu sebentar’, aku menjawab dengan mengangguk sekali. Aku perhatikan dari balik pagar dia berbincang dengan Ms. Bella yang aku tidak tau apa yang mereka bicarakan hingga Ms. Bella pergi dari tempatnya dan dia m
Aku tak pernah tahu apa yang akan aku jalani setelah hari ini, aku hanya bisa bersiap dan mempersiapkan. Aku tidak begitu suka kejutan asal kau tahu. Selena Maria, ya itu namaku. Aku suka nama itu karena itu pemberian orang tuaku. Aku bukan anak tunggal ada kedua Kakak ku juga, Axel Diego dan Braga Michael namun mereka berdua jauh dariku, dari keluarga. Mengingat mereka aku jadi merindukannya, sangat. Mereka menyayangiku dengan cara mereka yang tak terduga. Kami memiliki keluarga yang cukup harmonis, kenapa cukup? Ya namanya juga tidak ada yang sempurna, ada masalah sedikit itu cukup manusiawi kan.Aku memastikan penampilanku lagi agar terlihat lebih rapi, dan tidak lupa dengan jam tangan kesayanganku yang selalu ku pakai kem