LOGINAku bukan salah satu murid teladan di sekolah ini, kadang aku suka membolos saat pelajaran berlangsung. Rasanya bosan berdiam diri di kelas dengan pelajaran yang jenuh. Kata siswa lain aku orangnya dingin dan mengerikan, namun aku tidak merasa, mungkin hanya jarang bicara karena buatku banyak bicara hal yang tidak penting itu hanya buang-buang waktu. Aku Arya Wilfred siswa kelas 12 IPS2, aku salah satu siswa akhir di sekolah ini. Sekarang aku sedang berjalan menyusuri koridor menuju gudang sekolah yang di sana ada beberapa orang menunggu kedatanganku. Aku pergi ke sana seorang diri, ini bukan kali pertama untukku, hingga sampailah di sana aku membuka pintu gudang tersebut dan ku temukan temanku yang mereka aniaya. Darahku semakin mendidih hingga tidak sabar untuk menghancurkan mereka semua. Bersikap setenang mungkin, memfokuskan semua indera dalam tubuhku agar bisa mengidentifikasi jebakan tak terduga. Aku melihat dua orang memegangi temanku yang sudah tidak berdaya, yang satunya memukuli dan satunya lagi duduk sambil bersedekap mengeluarkan aura angkuhnya.
“Akhirnya kau datang juga, aku tidak sabar bermain-main denganmu.” Ucap seseorang yang sedari tadi duduk dengan angkuhnya menyadari kedatanganku di gudang tersebut.
“Lepaskan, kembalikan dia padaku.” Ucapku dengan dingin. Mereka semua menatapku dengan senyum yang menyebalkan.
“Santailah bro, kita senang-senang dulu.” Ucapnya lagi yang aku tidak peduli siapa dia dengan pandangan meremehkan.
“Aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni pecundang, tapi jika kau memaksa baiklah.” Ucapku dengan tatapan dingin dan tajam.
“Cih, kau membuatku kesal.”Ucapnya lagi yang langsung menyerangku diikuti dengan ketiga temannya, aku pun langsung bersiap mengambil kuda-kuda untuk melawan mereka. Jika dilihat aku kalah jumlah karena mereka bermain keroyokan, aku yang datang sendirian dan mereka berempat namun aku tidak akan mundur karena aku Arya Wilfred. Aku melumpuhkan satu persatu dari mereka hingga mereka tidak bisa menyerangku lagi. Tak butuh waktu lama akhirnya mereka tumbang dengan cepat.
‘Tidak sulit’ batinku.
“Segitu ternyata.” Ucapku sinis sambil menghampiri temanku yang sudah babak belur dihajar mereka.
“Kau masih bisa jalan?” Tanyaku pada Deka.
“Ya, terima kasih.” Katanya sambil terengah-engah menahan sakit yang ada di tubuhnya.
“It’s oke, kita pergi.” Ucapku sambil memapahnya keluar.
Akupun berucap kembali tanpa melihat mereka yang masih sadar atau tidak, “Untuk kalian jangan coba-coba cari masalah denganku, aku tidak akan segan-segan jika ada yang berani mengusikku dan orang-orang terdekatku.” Selesai aku mengucapkannya aku keluar dengan membanting pintu dengan keras.
Kami berjalan menuju ruang UKS untuk mengobati luka Deka sementara. Ya teman yang aku tolong bernama Deka, dia dekat denganku. Aku tidak tahu motif apa yang mereka gunakan sampai ingin mengusikku, karena seingatku aku tidak punya urusan dengan mereka.
“Sekali lagi makasih.” Kata Deka disela ringisannya.
“Tak masalah, kita teman bukan. Jadi santailah,” ucapku enteng, “Aku akan membawamu ke rumah sakit setelah ini,” lanjutku.
“Tidak perlu, tidak masalah. Aku cukup mengobatinya di sini lalu beristirahat sebentar, itu cukup.” Ucapnya meyakinkanku.
“Kau yakin?” Ucapku menyakinkannya.
“Iya.” Ucapnya sambil menganggukan kepalanya meyakinkanku.
“Arya, bisa ajari aku berkelahi? Setidaknya aku tidak sepayah ini.” Lanjutnya dengan sendu sambil menundukan kepalanya.
“Angkat kepalamu!” Perintahku.
Dia pun langsung mengangkat kepalanya dan menegakkan tubuhnya setelah mendengar perintahku.
“Kita latihan setelah kau pulih.” Ucapku sukses membuat senyum harapannya terbit.
“Baik bos.” Katanya dengan semangat.
“Kalau begitu aku pergi.” Setelah mengucapkannya aku pun pergi ke rooftop untuk menenangkan pikiranku sejenak.
‘Aku harap dia disana’batinku.
Dan tepat, untuk kesekian kalinya aku melihatnya bersama seseorang yang kuyakini adalah temannya. Aku tidak tau sejak kapan aku selalu berharap bisa melihatnya setiap hari. Ada sesuatu yang mengganggu hati dan pikiranku jika dia tidak ada di depan mataku. Aku selalu mengamatinya diam-diam seperti seorang pecundang. Sampai akhirnya mataku bertemu dengan matanya, mata yang aku sukai namun sayang aku harus menelan kekecewaan untuk pertama kalinya karena dia memutus kontak mata kami seolah bukan apa-apa. Aku terus mengamatinya, menikmati setiap gerak tubuhnya yang cukup membuat hatiku nyaman untuk pertama kalinya. Dia perempuan pertama yang bisa menyita perhatianku. Aku melihat dia beranjak dari duduknya dan mata kamipun bertemu kembali namun sayang kecewa terasa lagi dia pun pergi seolah tidak peduli.
‘Rasanya akan sulit, aku tidak boleh mundur. Aku Arya Wilfred. Tidak ada kata menyerah dalam kamusku,’ batinku.
Aku selalu melihatnya duduk di halte seorang diri memperhatikannya hingga pergi, dan aku akan pulang kemudian setelah dia pergi meninggalkan halte itu. Tubuhku begitu lelah, dan aku menyambar handuk lalu pergi ke kamar mandi. Rasanya menyegarkan setelah membersihkan diri. Aku pun duduk di sofa lalu menyalakan televisi. Aku tinggal di apartemen seorang diri, ibuku meninggal empat tahun lalu karena penyakit yang mengerikan yang di deritanya cukup lama. Terkadang aku rindu dengan sosok beliau, aku menjadi manusia melankolis jika itu menyangkut ibuku, ‘Hah dan sekarang aku merindukannya seorang diri’ batinku.
***
Ada angin apa tiba-tiba aku menjadi anak rajin, pagi-pagi buta aku sudah berada di sini di sekolah tercinta, terima kasih. Aku hanya duduk di taman belakang sekolah, tidak terasa bel masuk pun berbunyi. Niat awal aku ingin bolos lagi, namun aku sadar diri mungkin terlalu banyak absen dan itu cukup membuat nilaiku semakin hilang ditelan bumi, ‘Oh tidak yang benar saja, I can get high score soon,maybe’ batinku.
Aku pun menyusuri koridor untuk pergi ke kelasku namun tanpa disangka ketika aku akan melewati tempat guru piket aku melihatnya di luar gerbang dengan gelisah mungkin karena jam masuk sekolah yang sudah lewat beberapa menit.
‘Dia disana’ batinku.
Aku melihat ternyata Ms. Bella bagian piket hari ini. Aku menatap perempuan itu lalu mengisyaratkannya untuk menunggu sebentar dan dia menyetujuinya. Aku menghampiri Ms. Bella yang sedang duduk di meja piket.
“Pagi Ms. Bella, maaf mengganggu. Saya hanya ingin menyampaikan ada siswa yang memanjat di belakang sekolah siapa tau Ms. Bella ingin mengeceknya.” Kataku dengan datar namun tetap sopan.
“Pagi Arya, tumben sekali biasanya kamu yang begitu. Apa kamu menjadi anak rajin hari ini?” Ucap Ms. Bella dengan senyum herannya.
“Mungkin begitu, siapa tau nantinya saya benar-benar menjadi anak yang rajin.” Ucapku.
“Harus, kamu sudah jadi siswa akhir. Hmm baiklah saya akan mengeceknya, dan kamu masuklah ke kelas karena pelajaran mungkin akan segera di mulai.” Aku hanya mengangguk sebagai jawaban.
Setelahnya Ms. Bella beranjak dari tempatnya lalu pergi meninggalkan meja piketnya dan aku. Setelah memastikan Ms. Bella menjauh aku pun menghampiri perempuan itu dengan santai dan membuka gerbang untuknya.
“Ikut aku!” Ucapku dengan datar.
Awalnya aku mengira dia akan menolak karena dia hanya diam saja tetapi tanpa diduga dia mengikutiku hingga ke lorong yang sepi. Dan yang membuatku terkejut dia mengucapkan ‘ terima kasih’ walau dengan ekspresi yang sulit ku baca.
‘Kenapa aku merasa sedang bercermin?’ batinku.
“Hmm it’s oke.” Jawabku dengan mencoba tersenyum walau aku tidak yakin kalau aku terlihat tersenyum.
Hingga dia pamit lalu berbalik, aku memberanikan diri untuk bertanya, “Siapa namamu?” tanyaku dengan ragu.
‘Kuharap dia tidak melihat kegugupanku,’ batinku.
“Namamu?” Ucapnya yang membuatku heran kenapa malah balik bertanya.
Aku berpikir sejenak hingga detik berikutnya aku menyebutkan namaku ‘Arya Wilfred,’ dan dia hanya menganggukan kepalanya lalu pergi dengan mengucapkan ‘Hmm baiklah, sampai jumpa.’
‘hanya itu?’ batinku bertanya. Padahal aku menunggu dia mengatakan namanya. Dia meninggalkanku yang kebingungan akan sikap dinginnya.
‘Tuhan, yang benar saja. Ini sulit, rasanya aku ingin menariknya lalu menculiknya. Apa aku harus menggertaknya agar dia tidak dingin padaku. Ah tidak, jangan Arya yang ada dia malah lepas dan lari darimu. Aku bisa menaklukan musuhku, berarti aku bisa mendapatkannya.’ Batinku.
Pelajaran sudah berlangsung lama namun aku tidak bisa fokus. Pikiranku di penuhi oleh gadis itu. Aku tak pernah memikirkan gadis manapun karena menurutku itu tidaklah penting, atau mungkin belum tertarik saja.
‘Kenapa waktu terasa lama? Aku sudah bosan hanya duduk manis di sini. Atau pergi saja ya, mungkin tak apa, sudah biasa’ batinku.
Namun tiba-tiba saja suara menyadarkanku dari lamunan.
“Arya!” Teriak seseorang dengan tegas yang membuatku tersadar dari lamunanku, guru geografi. Beliau seseorang yang sangat tegas, dan ini bukan pertama kalinya aku diteriaki karena terpergok tidak memperhatikan penuturan materinya.
“Ya, Sir.” Kataku langsung melihat ke sumber suara.
“Biosfer dibagi berapa jenis lapisan? Tolong sebutkan Arya!” Ucapnya dengan tegas.
‘Mampus, mana lupa lagi. Kenapa mesti ketahuan ngelamun coba? Giliran mau rajin malah kena serangan, padahal tadi bolos aja. Huft.’ batinku.
“Emh.… Biosfer dibagi tiga jenis lapisan yaitu litosfer, hidrosfer dan….” Ucapku terjeda, aku melirik sekitar sepertinya tidak ada yang ingin membantuku.
“Dan….” Kata beliau melanjutkan ucapanku yang masih memperhatikanku.
“Lupa Sir.” Hanya itu yang akhirnya keluar dari mulutku.
“Kebiasaan kamu, kamu sudah jadi siswa akhir kalau belajar serius. Perhatikan, jangan melamun lagi, mengerti!” Tegasnya.
“Baik Sir.” Jawabku singkat.
‘Menjadi siswa rajin sungguh melelahkan. Hey waktu cepatlah aku ingin segera keluar dari sini.’ Menggerutu dalam hati.
Setelah pelajaran itu selesai aku memutuskan untuk tinggal kelas. Aku tidak peduli setelah itu pelajaran apa, aku kesal berada di sana dengan segala materi yang membuatku pusing. Ku langkahkan kakiku menuju tempat yang bisa membuatku tenang, rooftop. Ketika aku sampai di atas tanpa di duga aku melihatnya lagi, kesekian kalinya. Rasa penatku tiba-tiba menguap begitu saja.
‘Ternyata kau di sini. Aku harus bagaimana? Samperin? Tapi tadi pagi saja gagal.’ Batinku.
Mengingat kejadian tadi pagi rasa kecewa kembali hadir. Ragu untuk menemuinya lagi, namun tekadku terlalu kuat untuk mendekatinya. Aku mengumpulkan seluruh keyakinanku lagi dan kulangkahkan kakiku mendatanginya yang jaraknya tepat di ujung kanan rooftop ini, tempat yang sama seperti sebelum-sebelumnya, ‘Mungkin sebelah sana memang tempat favoritenya,’ pikirku.
Aku menghampiri mereka dan yang kudapat kekecewaan lagi. Dia seolah tidak mengenalku padahal tadi pagi aku sudah menolongnya dari hukuman. Dari tatapannya aku melihat peringatan untuk tidak mengusiknya, dia tidak seperti kebanyakan perempuan, dia terlampau dingin dan cuek dan itu membuatku harus ekstra bersabar dalam usaha untuk mendekatinya. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi meninggalkan mereka dengan kekecewaan yang bersarang di hati.
‘Apa aku menyerah saja? Tidak, tidak, kau tidak sepengecut itu Arya. Mungkin lain waktu kau bisa mendapatkannya’ batinku penuh keyakinan.
Ketika aku memutuskan kembali ke kelas, tidak sengaja aku melihat teman gadisku pergi seorang diri tanpanya, ‘Gadisku? Aku harus berjuang lebih keras sepertinya’ pikirku.
Aku memutuskan kembali ke rooftop dan saat aku sampai di sana aku melihat keindahan yang mengusik hatiku. Untuk pertama kalinya aku melihat senyum semanis itu yang terukir di wajah gadisku. Keputusanku tidak salah untuk kembali ke sini. Aku mendekatinya, sepertinya dia tidak menyadari kedatanganku hingga aku bersuara.
“Senyummu manis ternyata.” Kata itu yang keluar dari mulutku.
Senyumnya tiba-tiba menghilang dari wajahnya, aku sedikit kecewa karena dia menjadi dingin kembali. Namun aku berusaha tersenyum seperti tidak ada yang perlu di permasalahkan. Aku berbasa-basi agar kami bisa mengobrol layaknya teman dekat, walaupun ini bukanlah gayaku tapi demi gadisku apapun akan aku lakukan. Namun sayang, dia tetap diam dan terus memperhatikanku tanpa ekspresi seperti tidak berniat menanggapiku atau mungkin dia menganggap bahwa aku tidak ada di sini.
‘Apa dia tidak suka kehadiranku? Apa aku mengganggunya?’ pikirku.
Aku menatapnya begitu lekat menebak apa yang sebenarnya dia pikirkan, namun lagi kesekian kalinya dia memutuskan kontak mata kami seolah menyadari aku yang sedang menerka-nerka pikirannya yang terpancar di matanya. Mata yang indah, mata yang aku sukai namun menyimpan banyak rahasia yang sulit terungkap. Aku bisa membaca gerakan musuh yang selalu menyerangku, aku bisa membaca sorot mata musuhku, namun gadisku sulit ditebak hingga pikiranku buntu menyisakan tekad dalam hati, keyakinan yang selalu ku pupuk setiap kali aku ingin menyerah untuk mendekatinya.
“Aku pikir kau tidak suka tersenyum, karena seingatku pertama kali kita bertemu di sini sepertinya kau bukan orang yang ramah.” Aku mencoba mengajaknya lagi berbicara. menunggu tanggapannya. Rasanya ini sungguh menakutkan dari pada melawan musuh, padahal gadisku hanya diam tidak melakukan apapun.
“Bukannya sebaliknya ya.” Ucapnya, akupun terkekeh mendengarnya.
Entahlah rasanya menyenangkan bisa ditanggapi walaupun singkat. Aku mencoba menggodanya walau kecil harapanku apakah akan berhasil atau malah terkesan garing. Tawaku pecah, di balik sikap dingin dan ketusnya ternyata dia begitu menggemaskan. Setelah sekian lama hingga aku lupa kapan terakhir aku tertawa seperti ini, tepat hari ini aku bisa tertawa serenyah ini. Aku tidak tahan menahan hasrat ingin menyentuhnya, mencubit pipinya yang membuatku gemas sampai aku tidak sadar tanganku terulur ingin menyentuh pipinya, namun dengan sigap dia menghindar dari sentuhanku. Ada rasa kecewa tiba-tiba menghampiri relung hatiku, namun aku sadar saat ini aku bukan siapa-siapa hanya orang asing yang tiba-tiba datang padanya dan menginginkan lebih dari sekedar teman. Aku berusaha tetap tersenyum menikmati wajah yang entah sejak kapan selalu aku pikirkan.
Aku suka menatapnya, namun dia melarangku untuk menatapnya tapi aku tidak peduli karena aku suka. Untuk kesekian kalinya aku bertanya siapa nama gadisku ini. Dia tetap pada pendiriannya dan tidak mengatakan namanya.
‘Ya Tuhan, aku harus apa lagi?’ Batinku.
Sampai akhirnya aku lepas kontrol, aku menggertaknya. Aku melangkah mendekatinya semakin mendekat hingga dia terpojok. Aku mencoba menghapus jarak antara aku dan dia. Kupandangin wajahnya dari dekat, dia begitu cantik dan aku menyukai aroma tubuhnya. Dia bergeming seolah tidak takut padaku, tidak takut apa yang akan aku lakukan padanya dengan jarak sedekat ini. Dia begitu berani, aku mengetahui satu hal lagi dari gadisku. Diam-diam hatiku semakin mengaguminya. Aku sengaja tidak mendengar perkataannya. Aku ingin meluapkan apa yang aku rasakan hingga aku beranikan diri dengan bersikap seperti itu.
‘Aku harap kau mengerti’ batinku.
Aku merasa begitu frustrasi dengan situasi saat ini. Ini terlalu dekat tapi aku enggan untuk menjauh darinya,bahkan aku hendak berpikir untuk menciumnya namun aku segera sadar itu bukanlah tindakan yang benar aku ingin mendapatkannya tanpa ada paksaan. Setelah aku luapkan semua yang mengganjal hatiku sekian lama, aku menarik tubuhku untuk memberi jarak di antara kita. Aku berusaha untuk tetap tersenyum menutupi rasa keinginanku untuk menariknya ke dalam pelukanku. Namun siapa sangka, dia tersenyum padaku begitu manis dan saat itu aku tahu nama gadisku.
“Selena Marria, namaku Selena Marria,” aku pun mengulurkan tanganku dan berkata “Arya Wilfred, walaupun kau sudah tau.” Kamipun tertawa bersama.
Aku begitu bahagia, akhirnya usahaku tidak sia-sia walau memang ini adalah awal tapi aku yakin suatu hari nanti. Setibanya di apartemen aku menjadi laki-laki gila, senyum sendirian mengingat bagaimana kejadian demi kejadian yang menurutku berarti.
“Begini rasanya jatuh cinta, cih ini membuatku gila,” ucapku.
***
Malam tiba, seperti biasa aku pergi ke tempat balapan. Aku tidak selalu ikut balapannya, kadang aku hanya menjadi penonton saja. Aku akan ikut jika ingin saja atau mungkin ada tawaran dari lawan. Aku tidak terlalu berambisi, hanya saja aku menyukai balapan. Aku datang ke sini hanya sekedar menghabiskan waktu luang karena sisanya aku harus mengurus pekerjaanku, jadi aku harus tetap hati-hati. Soal pekerjaan, tidak ada yang tau tentang itu. Aku tidak suka orang lain mengurusi masalah pribadiku. Aku membolos bukan hanya sekedar membolos, biarkan orang lain tau aku seburuk itu karena aku tidak peduli.
Hidup seorang diri di dunia yang begitu keras mengajarkanku arti kehidupan sesungguhnya. Berawal dari tempat ini aku mendapat pengakuan. Bagaimana aku harus menjadi orang yang sulit di kalahkan, bagaimana aku harus menjadi seseorang yang keras dan jahat dan juga bagaimana aku harus tetap menjadi orang yang baik dan lembut. Dalam pergaulan ini aku selalu berusaha untuk tidak menjadi br*****k, ibuku selalu bilang “Jadilah laki-laki yang kuat, tangguh, bertanggung jawab dan mencintai wanitanya sepenuh hati, karena semakin kamu dewasa maka cobaan dan godaan akan semakin terasa dan terlihat di mana-mana. Maka dari itu hatimu harus kuat, kamu tidak boleh lengah Nak.” Kata-kata itu selalu aku ingat sampai saat ini di mana ketika aku merindukannya hanya bisa memeluk kekosongan, hatiku terasa hampa.
‘Sepertinya aku butuh balapan satu putaran malam ini,’ pikirku.
“Bengong aja bro.” Sapa seseorang yang membuyarkan lamunanku.
“Hmm… Siapa yang akan turun balapan malam ini?” Tanyaku pada Robin, dia salah satu dari sekian banyak orang yang ada di sini yang benar-benar ku kenal. Dia satu tahun lebih tua dariku.
“Faldo, kenapa? Mau turun?” Tanyanya.
“Boleh.” Singkatku.
“Oke” Ucapnya sambil menepuk bahuku.
“Faldo, nih lawan lho.” Teriaknya sambil menunjukku.
“Hey dude, let’s race.” Kata Faldo sambil memperlihatkan senyumnya.
Ini hanya sebuah balapan, yang kebanyakan hanya sekedar senang-senang dan hobi. Aku memasuki mobilku dan mengendarainya untuk mensejajarkan mobilku dengan mobil Faldo. Kami pun bersiap-siap di garis start. Seorang lady memegang syal mengangkatnya ke atas dan berdiri di tengah-tengah antara mobilku dan mobil Faldo. Lady itu pun bersuara.
“Ready,” katanya sambil melirik kiri dan kanan.
“Go!” Teriaknya sambil menjatuhkan syal yang tadi dipegangnya.
Aku pun langsung meluncur dengan kecepatan tinggi di jalanan sepi. Aku melihat Faldo tepat di belakangku. Selama balapan berlangsung aku terus memimpin balapan sampai aku melihat garis finish sudah di depan mata, dan malam ini untuk kesekian kalinya aku memenangkan kembali balapannya.
“Kau yang terbaik dude!” Teriak Robin menghampiriku yang baru keluar dari mobil. Semua orang bersorak seolah sedang merayakan kemenangan piala dunia. Aku hanya bersikap biasa saja dan seperti biasa dingin dan datar.
“Cik, kau selalu menang.” Faldo berdecak karena kesal. Ya memang dia selalu kalah jika bertanding denganku.
“Kau yang harus banyak berlatih.” Kataku sambil melangkahkan kakiku ingin memasuki mobil lagi.
“Hey, kau mau kemana?” Tanya Robin saat aku hendak memasuki mobilku lagi.
“Balik.” Kataku singkat dan datar.
“Kita harus merayakannya dulu, kau tak pernah ikut.”Ucap Faldo yang telah berdiri di sampingku.
“Kalian saja, nikmatilah pestanya.” Ucapku langsung memasuki mobilku.
“Kami selalu menikmati pesta, tidak seperti kau!” Teriak Faldo yang terlihat kesal melihatku pergi dari sana.
Aku hanya terkekeh menanggapinya. Ya beginilah kebiasaanku, mendapat balapanku lalu pergi. Pesta? Aku tidak begitu tertarik dengan pesta, karena pernah ada wanita yang datang padaku dan merayuku, menyentuhku seenaknya, mengingatnya saja membuatku muak. Wanita, tiba-tiba aku teringat gadisku.
‘Selena,’ gumamku.
Bibirku terangkat mengukir senyuman mengingat bagaimana aku kehilangan kendaliku. Dengan mengingat nama dan wajahnya saja aku bisa melupakan semua kekesalanku tadi.
‘Aku tidak sabar melihatnya lagi.’ Batinku.
Malam ini aku berencana untuk pergi berlatih. Karena beberapa malam sebelumnya tugas selalu menumpuk setiap hari dan aku butuh waktu ekstra untuk menyelesaikannya. Walaupun ini adalah salah satu yang aku suka tapi tetap sekolah dan belajar akademik itu nomor satu. Bersyukurlah orang tuaku akhirnya mengizinkan segala hal yang ingin aku pelajari walau terkadang yang aku pilih memang agak berbahaya. Tapi aku selalu pastikan bahwa semua yang aku geluti itu sesuai prosedur. Aku selalu berusaha meyakinkan orang tuaku bahwa aku akan selalu baik-baik saja.Sekarang aku berada di tempat latihanku, ya sirkuit balap mobil. Aku sudah bergabung beberapa bulan yang lalu. Aku menyukai mobil sejak usiaku 15 tahun, t
Benar saja, sepertinya sekarang aku menjadi anak rajin. Lihatlah aku sekarang, pukul 06.30 pagi aku sudah berada di sini, di sekolah. Semua mata di kelas ini tertuju padaku dengan tatapan seolah aku telah mencuri sesuatu yang berharga, namun aku bersikap seperti biasanya dingin dan tidak peduli. Aku tidak sabar melihat gadisku, itulah alasan kenapa aku bisa berada di sini di pagi hari yang cerah ini. Sekarang aku sedang di koridor berkumpul bersama beberapa teman laki-laki sekelasku membahas yang menurutku itu tidak penting dan semua ini karena Deka. Aku mulai jenuh dengan pembahasan mereka, aku mencari obje
Memandangi langit malam yang indah dengan taburan bintang dari balkon kamarku merupakan salah satu hal favoritku. Aku begitu suka dengan ketinggian, karena aku bisa melihat dan menikmati keindahan yang Tuhan ciptakan. Tanpa sadar aku tersenyum tipis tiba-tiba aku teringat kejadian tadi di sekolah. Untuk pertama kalinya ada laki-laki yang berani mendekatiku, aku salut untuk keberaniannya karena selama ini tidak ada yang berani mengusikku, aku akan langsung bersikap sedingin mungkin tak tersentuh. Aku tidak berharap apapun, namun feelingku terlalu kuat dan sensitif. ‘Bagaimana aku menghadapinya besok? Semoga firasatku salah,’ batinku.
Aku bukan salah satu murid teladan di sekolah ini, kadang aku suka membolos saat pelajaran berlangsung. Rasanya bosan berdiam diri di kelas dengan pelajaran yang jenuh. Kata siswa lain aku orangnya dingin dan mengerikan, namun aku tidak merasa, mungkin hanya jarang bicara karena buatku banyak bicara hal yang tidak penting itu hanya buang-buang waktu. Aku Arya Wilfred siswa kelas 12 IPS2, aku salah satu siswa akhir di sekolah ini. Sekarang aku sedang berjalan menyusuri koridor menuju gudang sekolah yang di sana ada beberapa orang menunggu kedatanganku. Aku pergi ke sana seorang diri, ini bukan kali pertama untukku, hingga sampailah di sana aku membuka pintu gudang tersebut dan ku temukan temanku yang mereka aniaya. Darahku semakin mendidih hingga tidak sabar untuk menghan
Entah bagaimana, hari ini aku telat masuk sekolah. Mungkin semalam aku tidur sangat nyenyak hingga pagiku berantakan tidak seperti biasanya. Ah sial gerbangnya sudah di tutup, bagaimana ini? Aku mengintip kedalam dari celah pagar, dan ku lihat Ms. Bella yang piket hari ini. Ya Tuhan cobaan apalagi sekarang, bisa habis aku dengan segudang hukumannya. Semoga belum ada guru yang masuk ke kelas juga. Aku mulai panik dengan segala kemungkinan yang akan terjadi kedepannya hingga ada seseorang yang melihatku dari dalam, dia terus menatapku. Aku tidak tau dia siapa tapi aku mengerti sebuah isyarat yang dia berikan padaku yang artinya ‘tunggu sebentar’, aku menjawab dengan mengangguk sekali. Aku perhatikan dari balik pagar dia berbincang dengan Ms. Bella yang aku tidak tau apa yang mereka bicarakan hingga Ms. Bella pergi dari tempatnya dan dia m
Aku tak pernah tahu apa yang akan aku jalani setelah hari ini, aku hanya bisa bersiap dan mempersiapkan. Aku tidak begitu suka kejutan asal kau tahu. Selena Maria, ya itu namaku. Aku suka nama itu karena itu pemberian orang tuaku. Aku bukan anak tunggal ada kedua Kakak ku juga, Axel Diego dan Braga Michael namun mereka berdua jauh dariku, dari keluarga. Mengingat mereka aku jadi merindukannya, sangat. Mereka menyayangiku dengan cara mereka yang tak terduga. Kami memiliki keluarga yang cukup harmonis, kenapa cukup? Ya namanya juga tidak ada yang sempurna, ada masalah sedikit itu cukup manusiawi kan.Aku memastikan penampilanku lagi agar terlihat lebih rapi, dan tidak lupa dengan jam tangan kesayanganku yang selalu ku pakai kem