LOGINMemandangi langit malam yang indah dengan taburan bintang dari balkon kamarku merupakan salah satu hal favoritku. Aku begitu suka dengan ketinggian, karena aku bisa melihat dan menikmati keindahan yang Tuhan ciptakan. Tanpa sadar aku tersenyum tipis tiba-tiba aku teringat kejadian tadi di sekolah. Untuk pertama kalinya ada laki-laki yang berani mendekatiku, aku salut untuk keberaniannya karena selama ini tidak ada yang berani mengusikku, aku akan langsung bersikap sedingin mungkin tak tersentuh. Aku tidak berharap apapun, namun feelingku terlalu kuat dan sensitif.
‘Bagaimana aku menghadapinya besok? Semoga firasatku salah,’ batinku.
Malam ini aku tidak ingin pergi ke mana pun, entah itu untuk latihan atau apa pun, aku hanya ingin menikmati malamku dengan ketenangan yang membuatku merasa damai, bisa menjadi diri sendiri walau aku hanya seorang diri di sini, itu cukup buatku. Udara dingin semakin terasa, ku lihat jam yang bertengger di tangan kiriku ternyata sudah sangat larut. Akhirnya aku masuk ke dalam kamarku lalu pergi tidur.
‘Semoga besok menjadi hari yang baik, ya semoga.’ Batinku lalu ku pejamkan mataku dan tertidur.
***
Pagi yang selalu jadi favoritku agak berbeda karena papah harus keluar kota untuk pekerjaannya, tapi tidak masalah masih ada mamah yang selalu tersenyum dan menyambut pagi indahku. Setelah bersiap, aku turun menghapiri mamah yang sedang menyiapkan sarapan pagi lalu mengambil posisiku di meja makan untuk menikmati hidangan yang akan disajikan mamah. Mamah memang wanita karir, tapi soal masak-memasak mamah juaranya. Mamah jarang absen kalau soal memasak makanya aku suka rasa masakan mamah.
“Mah, papah berapa hari sih perginya?” Tanyaku manja.
“Kayanya udah ada yang rindu aja nih ya, padahal papah baru aja pergi.” Mamah mulai menggodaku karena sifat manjaku mulai keluar.
“Ih mah jangan godain aku, ini masih pagi.” Ucapku merajuk.
“Mamah gak godain sayang,” Ucap mamah sambil tersenyum jahil padaku, aku sangat tahu itu.
“Tapi senyum mamah beda, aku tau.” Ucapku dengan nada manja.
“Iya sayang maaf, papah pergi lima hari. Kalo kamu kangen tinggal telepon aja.” Kata mamah dengan raut wajah menyesal.
“Nggak ah mah nanti Selena ganggu papah kerja lagi, nggak papa cuma lima hari.” Ucapku sambil membenarkan duduk untuk menikmati masakan yang mamah sajikan di depanku.
“Ya sudah habisin sarapannya, nanti keburu siang.” Saran mamah setelah meletakan piring yang berisikan nasi goreng dengan telur mata sapi, ya itu salah satu makanan kesukaanku.
“Iya mah.”
Aku pun menurut lalu menyantap sarapanku yang disiapkan mamah untukku, seperti biasanya. Setelah sarapanku habis aku berniat untuk pamit berangkat sekolah, namun ucapan mamah menghentikan niatku sejenak.
“Hari ini mau dianterin mamah nggak sayang, kebetulan mamah gak terlalu sibuk pagi ini,” tawar mamah.
“Enggak usah mah, nggak papa Selena berangkat sendiri aja kan udah gede.” Aku pun menyengir menampakan deretan gigiku.
“Hmm mana nih yang udah gede, sini cium mamah.” Mamah menggodaku sambil menunjuk salah satu pipimya. Aku pun dengan senang hati menghampirinya.
“Yang ini.” Kataku yang langsung mencium kedua pipinya.
“Ya udah sayang, hati-hati ya jaga diri baik-baik. Mamah juga mau siap-siap berangkat ke kantor.” Kata mamah sambil mengelus pipiku dan tersenyum padaku. Aku suka ketika mamah tersenyum hangat padaku.
“Iya mah, bye.” Ku lambaikan tanganku sambil melangkahkan kakiku keluar rumah.
“Bye sayang.” Itu jawaban mamah yang ku dengar samar-samar suaranya yang tertinggal di belakangku, Aku pun segera berangkat ke sekolah karena takut melakukan kesalahan yang sama yaitu telat.
Akhirnya aku sampai di sekolah dan masih menunjukan 06.40 pagi. Aku ingin bergegas ke kelas dan menemui sahabatku yang cerewet itu. Sebenarnya dari tadi aku harap-harap cemas karena takut bertemu lagi dengan laki-laki yang kemarin, ya walaupun kita sudah ngobrol layaknya teman dekat tapi aku masih canggung dan bingung.
‘Apa yang harus aku lakukan jika bertemu lagi dengannya? Apa aku harus menyapanya? Ah tidak itu terasa aneh untukku,’ pikirku.
Aku tidak seperti kebanyakan orang yang selalu senang dan akrab dengan orang baru. Justru sebaliknya, aku selalu waspada dengan orang baru dan aku orangnya tertutup bagi mereka, hanya orang-orang terdekat yang tahu tentangku, mengenalku seperti apakah aku. Aku juga tidak begitu dekat dengan teman sekelasku karena aku selalu berpikir aku harus seperti apa, sampai akhirnya aku mengabaikan pikiranku tentang itu dan menjadi apa adanya aku. Apa adanya? Ya beginilah aku apa adanya, makanya banyak orang yang bilang aku ini perempuan dingin, aku tidak merasa seperti itu tapi mungkin iya, tak taulah, terserah mereka dan terserah aku.
Dalam perjalananku menuju kelas aku melihat laki-laki itu bersandar pada tiang yang menghadap ke arahku dan mengobrol dengan siswa lain mungkin itu teman-temannya, ku rasa. Aku langsung memalingkan wajahku darinya dan berpura-pura tidak melihatnya. Aku pun melangkahkan kaki menuju kelasku dengan santainya tanpa mempedulikan apapun, seolah-olah tidak ada sesuatu. Dan sampailah aku didalam kelas menemukan Riana yang duduk di kursinya sedang tersenyum sendiri sambil menatap layar ponselnya. Aku pun menghampirinya dan sepertinya Riana tidak menyadari kehadiranku di sana. Dengan diam-diam aku melihat layar ponselnya, dia sedang bertukar pesan dengan seseorang yang kuyakini seorang laki-laki.
‘Ternyata sahabatku ini sedang jatuh cinta’ batinku.
Aku pun menarik kedua sudut bibirku ke atas. Hingga akhirnya aku berdehem di dekatnya.
“Ehem, fokus ya.” Kataku sambil tersenyum penuh arti.
“Eh Na,” katanya dengan terkejut karena kehadiranku yang menurutnya tiba-tiba, “kapan datang? Ko aku nggak tahu,” ucapnya yang dibarengi dengan senyuman palsu menutupi keterkejutannya.
“Jelas nggak tahu, orang merasa dunia milik sendiri,” cibirku “Eh mungkin sekarang milik berdua,” aku terkekeh geli melihat wajah Riana yang merona karena godaanku.
“Apa sih, ngelantur.” Elak Riana sambil memalingkan wajahnya ke arah lain.
“Enggak kok, aku punya mata dan mataku sehat. Bye the way, siapa tuh?” Godaku lagi pada Riana.
“Bu…. bukan siapa-siapa dan tidak ada apa-apa.” Jawab Riana dengan terbata-bata.
“Masa? Kok bahagia.” Aku pun terus menggodanya tanpa henti.
“Ish apaan sih, biasa aja tuh.” Bantahnya dengan nada kesal.
“Emh baiklah.” Kataku seolah-olah tidak peduli dengan ceritanya namun itu hanya caraku untuk memancingnya agar bercerita padaku.
“Nanti aku cerita.” Katanya dengan senyum sumringah menghadapku. Lihatlah caraku berhasil bukan.
Bel masuk pun berbunyi, semua siswa bersiap-siap untuk mengikuti pelajaran pertama. Guru pun masuk ke kelas dan pelajaran dimulai. Hari ini terasa panjang dan melelahkan, tidak seperti biasanya hingga jam istirahat kedua.
“Kenapa rasanya hari ini melelahkan ya?” Tanyaku pada Riana.
“Entahlah, aku juga merasa seperti itu, waktu terasa begitu lambat.” Keluhnya.
“Aku pikir kamu berbeda, karena ada seseorang mungkin.” Sinisku dengan nada menggoda.
“Berhentilah menggodaku.” Rajuknya.
Aku pun tertawa karena wajahnya mulai merona lagi.
“Aku tidak tau, rasanya bahagia padahal aku baru mengenalnya.” Riana mulai bercerita dan menampilkan senyumnya yang begitu merekah, dari matanya yang berbinar aku melihat dia bahagia. Aku pun mendengarkan ceritanya, tertarik.
“Aku pernah melihatnya yang ternyata sedang memperhatikanku, apalagi kalau sedang kumpul ekskul. Dia satu ekskul denganku, kami baru beberapa hari komunikasi secara pribadi. Beberapa kali kami berinteraksi itu soal ekskul, aku tidak menyangka kalau dia menyukaiku. Makanya aku agak kaget ketika dia bilang begitu.” Kata Riana.
“Kau bahagia?” Tanyaku memastikan.
“Entahlah, mungkin iya.” Jawabnya.
“Kalian udah jadian?” Tanyaku sambil menyelidik yang langsung dijawab dengan cepat oleh Riana.
“Belum.” Singkatnya.
“Kenapa? Ada sesuatu.” Lanjutku.
“Aku hanya belum yakin.” Aku melihat dari raut wajah Riana memang dia masih ragu namun aku tidak ingin mempermasalahkannya. Biarlah hatinya yang memilih.
“Semoga berhasil.” Ucapku yang dijawab dengan anggukan dan senyuman dari Riana.
‘Semoga kau selalu bahagia di setiap harinya’ batinku.
***
Selalu di sini, tempat ternyaman menikmati kesendirian yang menghasilkan karya, rooftop. Ya sekarang aku sendiri di ketinggian ini tanpa Riana yang biasanya selalu menemaniku, entahlah dia pergi kemana yang jelas dia memiliki segudang kesibukan yang aku sendiri saja tidak tahu sibuknya itu ngapain, mungkin ketemu gebetan salah satunya.
Ku pejamkan mataku dan ku biarkan jiwa ini menyatu dengan alam, semilir angin menerpa wajah dan tubuhku. Tenang, tanpa beban. Aku terhanyut dalam damai dan kesunyian hingga merekah senyumku tanpa sadar. Ku ambil moment ini dan kumulai mengucapkan lirik yang bernada. Kuresapi setiap baitnya hingga aku menyatu dengannya.
“Indah.” Ucap seseorang di belakangku yang membuatku tersadar ada seseorang yang datang.
Aku membalikan badanku untuk mengetahui siapa orang itu.
“Kamu,” ucapku setelah mengetahui siapa orang itu yang ternyata dia Arya.
“Satu hal lagi yang aku tau tentangmu,” Arya semakin mendekat padaku membisikan sesuatu di telingaku, “suaramu indah, aku suka,” lanjutnya yang cukup membuatku tersipu dalam diamku.
Perlakuannya yang tiba-tiba membuatku merinding. Aku berusaha tetap tenang agar aku tidak melakukan kesalahan. Dia menegakan kembali tubuhnya lalu menatapku dengan senyum khasnya yang ku tatap balik dengan senyum simpul. Aku membalikan tubuhku ke posisi awal saat aku bernyanyi tadi. Memandangi dan menikmati kembali suasana yang terpampang. Tubuhku tiba-tiba hangat.
“Pakailah, aku tau kamu sangat suka dengan suasananya tapi ini terlalu dingin, nanti sakit.” Katanya setelah memakaikan jaketnya dipundakku.
Memang siang ini cukup mendung dan agak dingin. Aku mencium parfum dan aroma tubuhnya pada jaket ini. Aku menatapnya bingung ingin menolak.
“Aku harap kau tidak menolak.” Lanjutnya yang seolah mengerti apa yang aku pikirkan.
“Tapi kau juga membutuhkannya.” Ucapku seraya akan melepaskan jaketnya dari pundakku.
“Baiklah kembalikan, aku akan memakainya kembali. Mungkin kamu lebih menginginkan pelukanku.” Ucapnya dengan nada menggoda.
Seketika pergerakanku terhenti dan membenarkan kembali posisi jaket kesemula.
“Tidak perlu ini sudah cukup,” dia pun terkekeh mendengar jawabanku. Aku tau dia hanya menggodaku untuk memakai jaketnya, namun tidak menutup kemungkinan kalau dia akan benar-benar memelukku melihat kita hanya berdua di atas sini.
“Kau yakin?” dengan nada yang sama sambil menatapku seolah aku akan tergoda olehnya. Aku hanya berdehem saja mengiyakan pertanyaannya.
“Biar ku peluk saja pasti lebih hangat.” Ucapnya sambil merentangkan tangannya seolah ingin memelukku.
“Hey, bisakah kau diam.” Akupun menatapnya dengan tajam dan dingin.
Biasanya orang-orang akan takut padaku jika ekspresiku begini, bahkan laki-laki manapun akan langsung segan dan menjauh seolah aku ini kejam. Tapi lihatlah laki-laki yang sedang bersamaku saat ini, dia tertawa seolah tidak ada takutnya padaku dan berani-beraninya dia terus menggodaku.
‘Andai saat itu aku memilih di hukum Ms. Bella dan tidak membiarkannya mendekatiku. Aku tidak akan terus-terusan bertemu dengannya.’ Batinku.
“Baiklah.” Ucapnya dengan sisa tawanya yang masih terdengar begitu renyah karena terus menggodaku.
“Kenapa tadi kau tidak menyapaku?” Tanyanya memecah keheningan setelah tawanya mereda membuatku sadar dari lamunanku sejenak.
“Kapan?” Tanyaku dengan datar.
“Cih, tadi pagi, kau pikir aku tidak tau kau melihatku saat baru sampai.” Ucapnya yang membuatku kaget karena aku ketahuan.
‘Padahal aku berharap kita tidak bertemu’ batinku.
“Oh,” kataku singkat.
“Kok malah oh.” Ucapnya yang terlihat tidak terima atas jawabanku.
“Trus aku harus apa?” Ucapku datar tanpa dosa.
Ku dengar dia berdecak kesal karena ucapanku.
‘Kau kesal bukan, ha satu sama’ batinku.
Aku bersorak dalam diamku melihat wajahnya yang tadi sangat menyebalkan sekarang berubah menjadi kesal.
“Terserah kau saja.” Dengan raut menahan kesal.
Aku hanya mengedikkan bahu menanggapi perkataannya. Kami pun saling diam dengan menatap deretan gedung-gedung yang sama tingginya dengan gedung sekolah ini bahkan ada beberapa gedung yang tingginya melebihi. Keheningan menyelimuti kami dengan udara yang agak dingin, mungkin hari ini akan turun hujan namun ada pepatah mengatakan mendung belum tentu hujan.
Kami saling diam cukup lama seolah-olah sedang menikmati suasana yang ada tanpa ada rasa canggung antara kita. Aku merasa déjà vu, hanya saja dengan orang yang berbeda. Biasanya aku dan Riana dalam situasi seperti ini, tapi sekarang laki-laki ini yang bersamaku, laki-laki yang awalnya aku tak tahu siapa dia, hanya orang asing yang pernah meloloskanku dari hukuman lalu mengajakku berkenalan walau aku menghindarinya dia tetap mendekat. Ya laki-laki itu sekarang tepat di sampingku yang aku tidak tau apa yang dia inginkan karena mustahil jika dia tidak punya maksud tertentu.
“Selena,” panggilnya tiba-tiba memecah keheningan yang sedari tadi membelenggu.
“Hmm.” Jawabku tanpa menoleh kearahnya.
“Selena.” Panggilnya lagi.
“Apa?” Dengan posisi yang sama.
“Selena.” Panggilnya lagi dengan nada agak tinggi.
“Apa sih Arya, kalau mau ngomong ya ngomong aja.” Jawabku dengan nada kesal.
“Ana.” Ucapnya yang mampu membuatku langsung menoleh padanya dan ternyata dia sudah lebih dulu menatapku.
“Hah….” Dahiku mengernyit mendengarnya.
“Baguskan Ana, Arya Selena. Aku akan memanggilmu Ana.” Putusnya dengan wajah yang dihiasi senyum yang merekah.
“Tidak, panggil Selena saja.” Bantahku.
“Itu cocok untukmu. Dan aku ingin hanya aku yang memanggilmu seperti itu.” Ucapnya tak terbantahkan namun dengan nada lembutnya.
“Aku tidak mau.” Tegasku menolak permintaannya yang tidak masuk akal.
“Kau harus mau, aku memaksa.” Aura dingin begitu terasa, tiba-tiba suasananya sedikit mencekam. Raut wajahnya berubah seperti memperlihatkan sosok asli seorang Arya, dingin dan menyeramkan.
“Aku tidak menerima paksaan.” Tegasku yang menimbulkan reaksi yang membuatku sedikit terkejut.
Tiba-tiba dia mendekat, lebih dekat dari yang sebelumnya yang membuatku seketika melangkah mundur menghindarinya. Aku terus menatapnya dan membuat semua panca indraku untuk siaga. Dia terus maju selangkah demi selangkah sampai akhirnya aku terpojok, aku merasa semua ini déjà vu.
‘Mau apa sebenarnya dia? Apa aku harus melawan? Tidak, aku tidak boleh gegabah,’ pikirku.
“Apa?” Ucapku sambil mengangkat sebelah alisku membuka percakapan.
“Berhentilah untuk selalu menghindar saat aku mendekatimu. Izinkan aku mengenalmu, aku tidak ingin terus menjadi orang asing bagimu. Kumohon.” Ucapnya memohon dengan frustasi. Aku melihat tatapan mata yang awalnya begitu dingin dan tajam berubah menjadi sendu dan penuh harap. Aku terus mengamatinya mencari sebuah kebohongan namun tidak nampak.
“Jika aku tidak mengizinkanmu?” Tanyaku bernegosiasi.
“Maka akan aku buat kau mengizinkanku.” Jawabnya dengan penuh keyakinan dan penekanan.
“Kau terlalu percaya diri, Arya.” Sinisku menanggapi ucapannya.
“Tidak, kau yang membuatku percaya diri, Ana.” Ucapnya.
“Terserah kau saja, tapi bisakah kau minggir, ini terlalu dekat.” Aku mencoba mendorong tubuhnya untuk menjauhkannya dari hadapanku namun ternyata tanganku langsung ditahan oleh tangannya, aku terkejut atas tindakannya. Aku mencoba membebaskan tanganku dari genggamannya namun dia mengunci pergerakan tanganku.
“Tidak, aku tidak mau jauh darimu. Kamu yang membuatku menjadi seperti ini.” Ucapnya sambil menampilkan senyum di wajahnya, yang justru membuatku jengkel.
Aku tetap mempertahankan sikap tenang dan dinginku agar dia tidak bisa mengintimidasiku, “Maaf aku tidak merasa,” ku palingkan wajahku ke lain arah.
Dia terkekeh melihat tingkahku. Aku mencuri pandang dari sudut mataku, kulihat dia mengalihkan pandangan matanya ke arah tanganku yang sedari tadi dia tahan seolah tidak berniat melepaskan genggamannya. Dia mendekatkan wajahnya dengan tanganku seperti sedang merasakan sesuatu, namun aku bersikap tidak peduli. Sejenak kami saling diam, hingga dia bersuara kembali.
“Boleh aku mendengar suara indah itu lagi.” Pintanya dengan lirih membuatku menatapnya. Dia masih di posisi yang sama seperti sedang menyembunyikan perasaan yang sebenarnya.
‘Sebenarnya kenapa dia? Apa yang terjadi dengannya?’ Batinku.
Aku tidak langsung menjawab keinginannya, aku terus menatap menyelidiki dari seorang Arya Wilfred. Dia bisa menjadi lembut, terkadang menjadi dingin, kadang tiba-tiba ceria, kadang juga terlihat menyeramkan dengan sorot mata begitu tajam yang siapapun melihatnya akan merasa ketakutan dan menciutkan nyali lawan. Hening kembali, aku sengaja menciptakan suasana seperti ini namun ternyata dia seperti tidak ada niatan untuk merubah posisi dan mencairkan suasana. Akhirnya aku bersuara untuk melihat reaksinya.
“Tapi bisakah kita tidak sedekat ini.” Ucapanku berhasil membuat dia mengangkat kepalanya dan menatapku.
“Baiklah Ana.” Sambil tersenyum dia memberikan sedikit jarak.
“Tolong!” Sambil ku lirik tanganku yang sedang dia pegang. Bukanya di lepas dia malah menggenggam tanganku dan mengeratkannya. Seketika aku melototkan mataku melihat tingkahnya yang begitu menjengkelkan.
“Apa?” Tanyanya seolah-olah tidak mengerti.
“Lepaskan tanganku Arya, kau pikir kita akan menyebrang.” Kataku dengan nada sedikit tinggi dan dihiasi dengan kejutekanku yang keluar karena terlalu jengah dengan tingkah yang Arya tunjukan. Dia hanya tertawa menanggapi perkataanku lalu melepaskan genggamannya dari tanganku. Aku pikir aksinya akan berhenti sampai sana ternyata aku salah, dia malah mengangkat tangannya ingin mengelus kepalaku namun aku lebih cepat dari tangannya dan aku langsung melotot memperingatkan. Dia hanya tertawa lalu tersenyum kemudian.
‘Aneh,’ batinku.
Aku mulai bernyanyi, mengumpulkan rasa di dukung dengan suasana hingga terasa begitu syahdu antara perpaduan yang ada. Aku pikir hanya aku yang terhanyut, ternyata seseorang di sampingku juga menikmati. Aku senang ada orang yang menyukai hobbyku selain Riana dan orang yang aku sayang, ya orang itu adalah Arya, orang asing yang tiba-tiba muncul seolah menawarkan harapan.
Malam ini aku berencana untuk pergi berlatih. Karena beberapa malam sebelumnya tugas selalu menumpuk setiap hari dan aku butuh waktu ekstra untuk menyelesaikannya. Walaupun ini adalah salah satu yang aku suka tapi tetap sekolah dan belajar akademik itu nomor satu. Bersyukurlah orang tuaku akhirnya mengizinkan segala hal yang ingin aku pelajari walau terkadang yang aku pilih memang agak berbahaya. Tapi aku selalu pastikan bahwa semua yang aku geluti itu sesuai prosedur. Aku selalu berusaha meyakinkan orang tuaku bahwa aku akan selalu baik-baik saja.Sekarang aku berada di tempat latihanku, ya sirkuit balap mobil. Aku sudah bergabung beberapa bulan yang lalu. Aku menyukai mobil sejak usiaku 15 tahun, t
Benar saja, sepertinya sekarang aku menjadi anak rajin. Lihatlah aku sekarang, pukul 06.30 pagi aku sudah berada di sini, di sekolah. Semua mata di kelas ini tertuju padaku dengan tatapan seolah aku telah mencuri sesuatu yang berharga, namun aku bersikap seperti biasanya dingin dan tidak peduli. Aku tidak sabar melihat gadisku, itulah alasan kenapa aku bisa berada di sini di pagi hari yang cerah ini. Sekarang aku sedang di koridor berkumpul bersama beberapa teman laki-laki sekelasku membahas yang menurutku itu tidak penting dan semua ini karena Deka. Aku mulai jenuh dengan pembahasan mereka, aku mencari obje
Memandangi langit malam yang indah dengan taburan bintang dari balkon kamarku merupakan salah satu hal favoritku. Aku begitu suka dengan ketinggian, karena aku bisa melihat dan menikmati keindahan yang Tuhan ciptakan. Tanpa sadar aku tersenyum tipis tiba-tiba aku teringat kejadian tadi di sekolah. Untuk pertama kalinya ada laki-laki yang berani mendekatiku, aku salut untuk keberaniannya karena selama ini tidak ada yang berani mengusikku, aku akan langsung bersikap sedingin mungkin tak tersentuh. Aku tidak berharap apapun, namun feelingku terlalu kuat dan sensitif. ‘Bagaimana aku menghadapinya besok? Semoga firasatku salah,’ batinku.
Aku bukan salah satu murid teladan di sekolah ini, kadang aku suka membolos saat pelajaran berlangsung. Rasanya bosan berdiam diri di kelas dengan pelajaran yang jenuh. Kata siswa lain aku orangnya dingin dan mengerikan, namun aku tidak merasa, mungkin hanya jarang bicara karena buatku banyak bicara hal yang tidak penting itu hanya buang-buang waktu. Aku Arya Wilfred siswa kelas 12 IPS2, aku salah satu siswa akhir di sekolah ini. Sekarang aku sedang berjalan menyusuri koridor menuju gudang sekolah yang di sana ada beberapa orang menunggu kedatanganku. Aku pergi ke sana seorang diri, ini bukan kali pertama untukku, hingga sampailah di sana aku membuka pintu gudang tersebut dan ku temukan temanku yang mereka aniaya. Darahku semakin mendidih hingga tidak sabar untuk menghan
Entah bagaimana, hari ini aku telat masuk sekolah. Mungkin semalam aku tidur sangat nyenyak hingga pagiku berantakan tidak seperti biasanya. Ah sial gerbangnya sudah di tutup, bagaimana ini? Aku mengintip kedalam dari celah pagar, dan ku lihat Ms. Bella yang piket hari ini. Ya Tuhan cobaan apalagi sekarang, bisa habis aku dengan segudang hukumannya. Semoga belum ada guru yang masuk ke kelas juga. Aku mulai panik dengan segala kemungkinan yang akan terjadi kedepannya hingga ada seseorang yang melihatku dari dalam, dia terus menatapku. Aku tidak tau dia siapa tapi aku mengerti sebuah isyarat yang dia berikan padaku yang artinya ‘tunggu sebentar’, aku menjawab dengan mengangguk sekali. Aku perhatikan dari balik pagar dia berbincang dengan Ms. Bella yang aku tidak tau apa yang mereka bicarakan hingga Ms. Bella pergi dari tempatnya dan dia m
Aku tak pernah tahu apa yang akan aku jalani setelah hari ini, aku hanya bisa bersiap dan mempersiapkan. Aku tidak begitu suka kejutan asal kau tahu. Selena Maria, ya itu namaku. Aku suka nama itu karena itu pemberian orang tuaku. Aku bukan anak tunggal ada kedua Kakak ku juga, Axel Diego dan Braga Michael namun mereka berdua jauh dariku, dari keluarga. Mengingat mereka aku jadi merindukannya, sangat. Mereka menyayangiku dengan cara mereka yang tak terduga. Kami memiliki keluarga yang cukup harmonis, kenapa cukup? Ya namanya juga tidak ada yang sempurna, ada masalah sedikit itu cukup manusiawi kan.Aku memastikan penampilanku lagi agar terlihat lebih rapi, dan tidak lupa dengan jam tangan kesayanganku yang selalu ku pakai kem