LOGINMalam ini aku berencana untuk pergi berlatih. Karena beberapa malam sebelumnya tugas selalu menumpuk setiap hari dan aku butuh waktu ekstra untuk menyelesaikannya. Walaupun ini adalah salah satu yang aku suka tapi tetap sekolah dan belajar akademik itu nomor satu. Bersyukurlah orang tuaku akhirnya mengizinkan segala hal yang ingin aku pelajari walau terkadang yang aku pilih memang agak berbahaya. Tapi aku selalu pastikan bahwa semua yang aku geluti itu sesuai prosedur. Aku selalu berusaha meyakinkan orang tuaku bahwa aku akan selalu baik-baik saja.
Sekarang aku berada di tempat latihanku, ya sirkuit balap mobil. Aku sudah bergabung beberapa bulan yang lalu. Aku menyukai mobil sejak usiaku 15 tahun, tiba-tiba aku tertarik dengan balapan ketika aku melihat acara di televisi. Awalnya memang itu sangat di tentang oleh kedua orang tuaku apalagi mamah. Mungkin hobi papah menurun padaku, karena seingatku dulu papah pernah cerita kalau beliau sering balapan bersama teman gengnya hanya saja itu illegal dan setelah papah tau aku suka dengan mobil dan tertarik untuk balapan juga akhirnya beliau mengizinkanku untuk balapan hanya saja tidak boleh sembarangan karena bahayanya akan berlipat. Maka di sinilah aku.
“Kemana saja? Sudah beberapa hari kau tidak datang untuk latihan? Apa kau baik-baik saja?” Dia adalah Kak Zein seniorku di sini, dia begitu baik dan selalu perhatian padaku. Usianya di atasku empat tahun. Bisa dibilang dia pembalap profesional, karena dia pernah mengikuti beberapa balapan internasional dan dia memenangkannya. Hebat bukan, dia mengagumkan. Jujur aku mengaguminya karena prestasi yang didapatnya, aku ingin seperti Kak Zein suatu hari nanti.
“Aku baik-baik saja, tugasku terlalu banyak jadi waktuku agak berkurang.” Jawabku dengan santai.
“Baguslah kalau begitu, lain kali aku akan ke rumahmu kalau tiba-tiba kau tidak ada kabar seperti kemarin-kemarin.” Ucapnya sambil memandangku yang kulihat dia begitu khawatir.
“Tidak usah, aku tidak ingin merepotkanmu Kak. Lain kali aku akan mengabari kalau tidak datang.” Aku menolak sehalus mungkin agar tidak menyinggung perasaannya. Karena rumor yang ku dengar Kak Zein menyukaiku. Aku memang mengaguminya tapi bukan secara pribadi. Aku tidak ingin membuat Kak Zein kecewa, dia laki-laki yang baik.
“Baiklah, tapi kalau ada apa-apa bilang pada Kakak oke.” Ucapnya diiringi dengan senyum khasnya yang manis serta lesung pipit yang menghiasi wajahnya.
“Oke. Ya sudah Kak aku mau ke sana dulu ini giliranku. Aku rindu bermain dengan mobilku di jalanan ini.” Ucapku sambil membalas senyumnya walau aku tidak yakin kalau wajahku ini tersenyum atau tidak.
“Sana, hati-hati ya awas fokus.” Ucapnya sedikit teriak karena aku sudah lebih dulu berjalan meninggalkannya. Aku hanya mengangkat jempolku sebagai jawaban tanpa menoleh kebelakang.
Putaran demi putaran aku lalui dan berakhir dengan posisi ke tiga yang ku raih. Ini cukup sulit, karena yang berada di sini semuanya pembalap pro.
“Kau hebat Selena.” Kak Zein dengan begitu semangat menyambutku yang datang menghampirinya.
“Apanya yang hebat, aku kalah Kak.” Ucapku lirih.
“Kau mendapat posisi ke tiga dan kemajuan menyetirmu di arena semakin membaik bahkan selalu ada kemajuan di setiap latihannya.” Kata Kak Zein menyemangati.
“Kakak terlalu berlebihan, ini baru posisi ke tiga.” Ucapku mencoba baik-baik saja.
Bagiku ini cukup sulit, aku selalu berusaha untuk mendapatkan posisi pertama di arena namun selalu gagal. Mungkin aku harus belajar lebih keras lagi agar bisa mencapai posisi teratas dan bisa mewakili tim untuk meraih kejuaraan, semoga suatu saat.
“Jangan sedih begitu, semangat dong. Habis ini kamu mau kemana?” Kata Kak Zein dengan nada menghibur.
“Pulang, sudah malam juga. Besok aku sekolah.” Ucapku sambil bersiap-siap untuk pergi.
“Kalau begitu Kakak antar ya.” Tawarnya sambil menampilkan senyuman seolah berharap aku mengatakan ‘ya’.
“Tidak usah Kak, aku bisa sendiri. Aku juga bawa mobil kalau Kakak lupa.” Aku menolak sambil memperlihatkan kunci mobilku yang ku pegang.
“Tapi Kakak khawatir kau kenapa-kenapa, sudah Kakak antar saja kita pake mobil kamu. Nanti Kakak bisa pulang sendiri setelah antar kamu. Yang penting Kakak bisa memastikan kamu pulang dengan selamat, ya.” Ucap Kak Zein yang memperlihatkan kekhawatiran di raut wajahnya.
“Beneran Kak gak usah, udah ah Selena pamit ya. Selena pulang sendiri, bye Kak Zein.” Aku langsung berlari meninggalkan Kak Zein agar dia tidak terus memaksaku untuk mau diantarkannya. Aku tidak enak hati dan tidak mau merepotkannya.
“Selena.…” Teriaknya yang masih ku dengar dengan samar sebelum aku memasuki mobilku dan membawanya pulang ke rumah.
Selama perjalanan aku menikmati alunan musik dari radio mobilku. Aku memfokuskan ke arah jalanan yang mulai sepi. Ya memang ini sudah sangat larut. Aku sudah terbiasa dengan malam yang sepi dan setiap kali pulang latihan selalu larut. Aku sudah mengabari rumah kalau aku sedang dalam perjalanan ke rumah. Papah dan mamah selalu menawariku supir pribadi atau semacam asisten pribadi untuk selalu menemaniku kemanapun aku pergi namun aku selalu menolak untuk itu karena aku rasa itu tidak perlu. Aku memang seorang perempuan dan tidak baik jika keluar malam sendirian, tapi aku tidak seperti perempuan kebanyakan. Ya katakanlah kalau aku ini keras kepala, tapi aku tidaklah sembarang. Aku tau kekhawatiran orang tuaku namun aku selalu berkata kalau aku akan selalu baik-baik saja, hanya saja aku harus selalu memberi mereka kabar agar mereka tau anak perempuan yang keras kepalanya ini selalu aman dan selamat.
Ketika aku memalingkan wajahku sebentar untuk mengecek ponselku tiba-tiba ada beberapa orang yang menghalangi jalanku, dengan terpaksa aku harus memberhentikan laju mobilku. Aku tidak tahu siapa mereka dan aku rasa aku sedang tidak memiliki masalah dengan siapapun. Aku memakai penutup wajah, topi, dan sarung tanganku. Aku tidak boleh dikenali siapapun, dan aku selalu menutup rapat identitasku pada orang asing. Kaca mobilku gelap dan ku pastikan mereka tidak melihat wajahku tadi. Aku memfokuskan semua indra dalam tubuhku dan membuat semuanya menjadi sensitif. Aku tidak bergerak sampai aku terkesiap saat salah satu dari mereka menghampiriku.
“Keluar atau ku hancurkan mobil ini.” Teriaknya sambil menendang ban mobilku. Aku tak menggubrisnya, aku tetap diam dan berusaha tetap tenang. Aku mengamati situasiku sekarang, aku kalah jumlah dan ku rasa orang yang menghalangiku adalah laki-laki. Aku mengamati satu persatu dari mereka dan menganalisis semuanya, tidak masalah jika aku melawan mereka karena aku memperkirakan kalau aku yang akan memenangkannya.
“Kau tuli? Aku bilang keluar!” Teriaknya lagi lebih keras seolah ingin segera menghancurkanku. Aku pun keluar dari mobilku lalu berdiri disampingnya. Ku tatap mereka dengan lekat, dingin dan juga tajam, mengintimidasi mereka bahwa aku tidak bisa mereka ganggu.
“Berikan kunci mobilmu dan keluarkan semua barang berhargamu.” Teriaknya yang membuat telingaku pengang. Aku tetap diam tak bergeming.
‘Apa dia sedang dalam masa PMS? Tidak bisakah dia bicara secara perlahan? Suaranya membuat gendang telingaku rusak,’ batinku menggerutu.
“Kenapa kau diam saja? B******k.” Teriaknya dengan tidak sabaran. Dia menyerangku diikuti oleh temannya, kamipun beradu fisik namun tidak terlalu lama aku bisa mengalahkan mereka.
‘Sesuai dugaan, amatiran’ batinku setelah mereka tergeletak tak sadarkan diri. Namun saat aku pikir sudah selesai, ternyata masih ada yang lain yang ku duga satu geng dengan dua orang tadi.
‘Ternyata mereka bersembunyi, harusnya aku tau itu.’ Batinku lagi.
Aku langsung membuat pertahanan karena lawanku bertambah empat orang. Aku begitu fokus menghalau pergerakan mereka sampai aku baru menyadari ada orang lain dibelakangku ketika suara pekikan orang menghampiri pendengaranku. Dan satu hal lagi yang baru aku sadari, aku hampir di tikam dari belakang. Aku melirik sekilas memastikan orang asing itu di kubu yang mana dan ternyata dia membantuku. Kami mengalahkan semuanya tak tersisa. Aku mengatur nafasku lebih tenang namun detik kemudian jantungku berdegub lebih kencang saat aku menatap orang asing di sampingku.
‘Ya Tuhan, Arya,’ batinku. Aku tertegun sesaat ketika mengetahui orang yang menolongku ternyata Arya.
“Kau tidak apa-apa?” Tanyanya dan aku hanya mengangguk sebagai jawaban. Aku tidak berniat mengeluarkan suaraku karena aku masih bingung apa yang harus aku lakukan.
‘Bagaimana ini? Aku tidak ingin sampai Arya tau siapa aku,’ batinku. Aku sempat memperhatikannya, dia berpakaian rapih cukup formal berbeda dengan Arya yang akhir-akhir ini selalu menemuiku. Dia bertanya lagi dan lagi dengan raut wajah menyelidik dan terkesan hati-hati, aku hanya menganggukan kepalaku lagi sebagai jawaban. Nada bicaranya datar dan dingin tidak seperti biasa aku dengar saat kita berbicara. Dan aku sekarang tahu, dia hampir sama sepertiku memiliki dua karakter yang berbeda dengan orang yang berbeda. Tak kunjung mendapat jawabanku, Arya pergi begitu saja dari hadapanku. Aku membaca bahasa tubuhnya mungkin dia kesal karena aku tidak mengeluarkan suaraku bahkan untuk berterima kasih padanya atas bantuannya, memang aku tidak memintanya tapi aku bisa menilai kalau dia laki-laki yang baik dan juga tangguh.
Secepat kilat aku menghampiri mobilku dan mengambil secarik kertas dan sebuah pena. Kutuliskan ucapan terima kasih di sana lalu dengan segera aku menghampirinya yang hendak mencapai pintu mobilnya. Jarak mobilku dengan posisi mobil Arya memang agak jauh. Entah keberanian dari mana aku meraih tangannya mencoba memberhentikan langkahnya agar jangan dulu pergi. Dari raut wajahnya seolah bertanya maka aku segera memberikan secarik kertas tadi kepada Arya. Setelahnya aku berbalik untuk pergi namun langkahku terhenti dan kami saling tatap dalam diam cukup lama.
‘Selena ada apa denganmu? Berpikirlah, kenapa rasanya begitu enggan melepaskan tanganku dari genggamannya.’ Batinku.
Aku mengumpulkan kesadaranku kembali yang sejenak menghilang. Aku mencoba melepaskan tanganku perlahan lalu menganggukan kepalaku tanda ‘aku pamit’. Akupun pergi dari hadapannya dengan segera sebelum dia mengejarku dan mengetahui siapa aku. Tanpa menoleh aku langsung memasuki mobilku dan meninggalkan tempat itu.
‘Kenapa Arya selalu ada di mana-mana? Apa dia menyadari kalau dia mengenalku? Hah semoga saja tidak.’ Batinku.
“Terima kasih Arya,” ucapku lirih tanpa sadar aku tersenyum tipis dibalik masker yang masih ku pakai.
***
Aku baru menyadari saat aku pergi ke kamar mandi di dalam kamarku, ketika aku berkaca ada sedikit luka lebam di bagian pelipisku, tidak terlalu terlihat jika hanya sepintas namun itu cukup bisa membuat gaduh orang-orang terdekatku. Aku segera menutup lukanya agar tidak ada orang yang bertanya ‘kenapa’ karena aku tidak ingin membuat mereka khawatir.
Tiba di sekolah aku berusaha bersembunyi untuk menghindar dari Arya agar dia tidak bisa menemukanku. Tempat yang biasa ku kunjungi pun aku absen hari ini atau mungkin beberapa hari kedepan. Aku tidak ingin dia menyadari luka di wajahku atau mungkin aku belum siap bertemu dengannya lagi setelah kejadian semalam. Aku lupa ada tugas yang belum ku selesaikan maka aku putuskan pergi ke perpustakaan. Setibanya disana aku mengambil buku yang aku butuhkan dan memilih posisi duduk agak tersembunyi, aku tidak suka diganggu saat aku sedang mengerjakan sesuatu. Saat aku selesai mengerjakan tugasku aku melihat Arya masuk ke perpustakaan, aku segera membereskan barang dan bersembunyi agar dia tidak menyadari kalau ada orang lain di ruangan ini. Aku memperhatikannya diam-diam, dia mengambil buku dan memilih duduk dekat jendela yang cukup tersembunyi dan posisinya berseberangan dengan posisiku. Cukup lama aku bersembunyi, memastikan kalau keadaan sudah aman. Aku langkahkan kakiku untuk pergi dari sana, namun entah kenapa langkahku berbelok menuju posisi dimana Arya berada. Ku pejamkan mataku dan melangkah dengan hati-hati menghampirinya. Dia tertidur begitu lelap, tanpa sadar aku tersenyum melihatnya tertidur seperti bayi. Ku usap kepalanya perlahan agar dia tidak terbangun. Aku tersadar dari tindakanku yang tidak biasa. Aku menarik kembali tanganku dan segera pergi dari tempat itu.
‘Apa yang aku lakukan? Ada apa denganku?’ Batinku.
Sepanjang hari aku bersembunyi menghindar dari Arya, bahkan hampir berpapasan dengannya pun aku langsung bersembunyi dengan gesitnya. Sampai aku menolak ajakan Riana saat dia mengajakku naik ke rooftop sampai dia terheran-heran melihat tindakanku yang menurutnya misterius.
“Na kamu kenapa hari ini? Aku ajakin ke rooftop gak mau.” Kata Riana yang kebingungan.
“Gak papa lagi males aja.” Jawabku santai. Riana belum tahu tentang Arya, aku belum ingin memberi tahunya.
“Kau ini, tumben sekali.” Ucap Riana sambil memicingkan matanya padaku.
“Selama di sekolah kau jangan kemana-kemana tanpa aku.” Ucapku santai.
“Dih posesif.” Ucapnya sarkas, aku hanya menanggapinya dengan mengedikkan bahu tanda tidak peduli.
“Oh iya bagaimana latihan kemarin, lancar?” Tanya Riana begitu antusias. Riana salah satu orang yang tahu tentang aku yang suka berlatih balapan selain keluargaku. Awalnya dia juga meragukan keinginanku namun pada akhirnya dia mendukungku, dia yang selalu menyemangatiku saat aku sedang berlatih. Aku juga pernah mengajaknya ke tempat latihan karena dia sangat ingin tahu bagaimana aku mengendarai mobil favoritku.
“Seperti biasa dan sepertinya aku harus berlatih dengan ekstra agar aku bisa mencapai posisi teratas. Aku juga ingin seperti senior-seniorku bisa membawa pulang trofi dengan gagahnya.” Ucapku penuh harap.
“Suatu hari kau bisa mencapai itu bahkan kau bisa menjadi racing queen, aku percaya padamu.” Kata Riana dengan senyum hangatnya sambil menggenggam tanganku meyakinkanku.
***
Beberapa hari berlalu.
Menunggu adalah hal yang cukup menyebalkan, ya sekarang aku sedang di halte yang jaraknya tidak jauh dari sekolah walaupun aku tidak terburu-buru untuk pulang tapi ini cukup membuatku kesal. Mungkin nanti aku akan berangkat dengan kendaraanku sendiri agar aku tidak selalu menunggu. Suasana jalanan tidak begitu ramai, semua nampak normal mungkin ini belum masuk jam ‘sibuknya jalanan’. Aku melihat sebuah motor tiba-tiba berhenti di depanku, namun kalian pun tahu aku tidak peduli. Aku mengalihkan pandangku kearah angkutan kota yang belum juga datang. Hingga suara seseorang yang begitu familiar yang akhir-akhir ini ku dengar memanggil.
“Ana” ya siapa lagi kalau bukan Arya yang sekarang selalu memanggilku seperti itu. Aku tidak merespon panggilannya. Hingga ku lihat dari sudut mataku dia melepas helmnya dan turun dari motornya menghampiriku yang sedang duduk di bangku halte. Aku sedikit terkejut akan kehadirannya, karena sudah beberapa hari ini aku selalu menghindarinya.
“Ana” ucapnya datar namun lembut sambil menarik daguku dengan telunjuknya untuk menatapnya yang sedang menatapku dengan posisi agak membungkuk. Aku mengernyitkan dahiku sambil menatapnya ‘maksudnya apa ini? Singkirkan tanganmu’ batinku.
“Kau tidak mendengarku? Kau sedang menunggu siapa disini? Dan kemana saja kamu beberapa hari ini? aku tidak pernah melihatmu di rooftop.” Arya melontarkan begitu banyak pertanyaan padaku dan aku tebak dia sangat khawatir karena terlihat dari sorot matanya.
“Tanganmu.” Kataku dingin memberikan isyarat dengan melirik telunjuknya yang masih setia di daguku.
“Maaf.” Katanya sambil menarik tangannya lalu dia duduk di sampingku. “Jawab aku” lanjutnya menuntut.
“Aku sedang menunggu angkutan.” Jawabku singkat.
“Lalu….” Ucapnya melanjutkan perkataanku dengan nada bertanya.
“Apa?” Kataku sambil menatap Arya yang sedang menunggu penjelasanku. Arya menghembuskan nafasnya pelan.
“Kau kemana saja, aku mencarimu beberapa hari ini.” Ucapnya yang terlihat frustasi.
“Aku ada urusan, dan kenapa kau mencariku?” Aku balik bertanya. ‘Aku sengaja menghindarimu namun sayang kau menemukanku sekarang,’ batinku.
“Tak apa, aku hanya ingin melihatmu saja mungkin aku rindu.” Ucapnya yang membuatku agak terkejut atas kata terakhirnya.
‘Arya merindukanku? Kenapa?’ Pikirku.
Aku hanya terdiam tidak berniat menanggapi kata-katanya. Aku mengalihkan pandangan mataku untuk melihat-lihat apa angkutannya sudah tiba dan ternyata aku tidak melihatnya sama sekali. Aku ingin segera pergi dari sana namun sepertinya Tuhan lebih senang aku berlama-lama dengan Arya.
“Oh iya apa kau akan pulang? Kalau begitu kau tak perlu menunggu, biar aku mengantarmu?” Tawarnya.
“Tidak usah, aku akan naik angkutan saja.” Aku menolak sehalus mungkin.
“Ya sudah aku akan menemanimu kalau begitu.” Putusnya.
“Tidak perlu, pulanglah. Sebentar lagi juga ada.” Aku berusaha membujuknya agar dia segera pergi.
“Kalau begitu aku antar.” Ucapnya yang tidak mau mengalah.
“Satu hal yang aku sadari tentangmu, pemaksa.” Ucapku sambil menatapnya tajam dengan nada penekan di kata terakhir. Dia hanya mengedikan bahunya tanda tidak peduli. Akupun memalingkan kembali wajahku ke arah lain untuk memastikan kembali, dan entah kenapa angkutan yang ku tunggu sejak tadi tidak juga muncul sampai aku bosan dan kesal menunggunya dan Arya benar-benar menemaniku disini, ya di halte yang membosankan ini.
“Ayo aku antar, sepertinya supir angkutan tidak berniat membawamu pulang hari ini.” Kata Arya seperti menyadari kejenuhanku.
“Tunggu sebentar lagi.” Pintaku sambil mendengus lelah.
“Mau sampai kapan menunggu? Kau tidak lelah? Ayolah, aku hanya ingin mengantarmu.” Bujuknya dengan begitu halus.
“Baiklah, aku ikut denganmu.” Ucapku pasrah.
“Ayo!” Ajaknya dengan senyum tipis namun terlihat begitu lega.
Arya pun mengulurkan sebelah tangannya padaku entah dia sadar atau tidak tindakan itu cukup asing untukku. Aku melirik tangannya yang menjulur padaku lalu menatap Arya bingung. Dia menyadari tindakannya lalu mengucapkan “maaf” sambil salah tingkah dan menarik lagi tangannya. Aku hanya bisa menahan senyumku kuat-kuat ‘menggemaskan’ batinku.
Kami pun segera menaiki motor milik Arya yang terparkir sejak tadi di depan halte. Arya menjalankan motornya dengan hati-hati sampai dia menyadari kalau dia belum mengetahui di mana tempat tinggalku.
“Apakah rumahmu masih jauh dari sini?” Tanyanya dari balik helm fullfacenya.
“Nanti di depan ada perempatan belok ke kanan lurus aja terus, nanti ketemu belokan ambil kiri, rumahku tidak jauh dari situ.” Akupun menjelaskan letak rumahku pada Arya.
“Baiklah Anaku.” Ucapnya santai yang mengundang teriakanku tidak suka.
“Hey.…” dia hanya terkekeh di balik helmnya, aku mendengarnya. Tidak lama kami pun sampai di depan perumahan orang tuaku lalu aku mengintruksikan Arya untuk masuk ke perumahan itu.
“Masuk kesana, rumahku di blok C No. 09.” Ucapku pada Arya. Kami pun menyusuri satu per satu rumah yang ada hingga sampailah kami di pelataran rumah orang tuaku.
“Sepi, pada kemana?” Tanya Arya sambil memperhatikan suasana rumah yang memang sepi.
Sambil melihat jam tanganku, aku menjawab “jam segini memang selalu sepi, orang tuaku masih dikantor.” Dia hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
“Kau punya kakak atau adik?” Lanjutnya.
“Kalau mau mengobrol bisa kita duduk di teras atau taman belakang? Rasanya aneh kalau kita mengobrol seperti ini.”
“Boleh.” Arya turun dari motornya mengikutiku masuk ke dalam rumah menuju taman belakang.
“Tunggu sebentar, aku buatkan minum dulu. Kau mau minum apa?” Tawarku.
“Apa saja yang penting dingin.” Jawabnya sambil tersenyum.
“Baiklah,” setelah mengucapkannya aku pun pergi ke dapur untuk menyiapkan minuman dan makanan. Setelah dari dapur sambil membawa nampan aku menghampiri Arya yang sedang duduk di bangku taman sambil mengamati bunga-bunga mawar yang telah mekar. Aku meletakkan nampan di bangku taman antara aku dan Arya.
“Setelah pulang sekolah keadaan rumah memang selalu kosong, karena kedua orang tuaku bekerja. Mereka akan pulang ketika petang atau malam.” Arya menyadari aku telah kembali lalu membalikan badannya menghadapku. “Aku juga punya dua orang kakak, dua-dua nya laki-laki. Tapi mereka tidak di sini yang satu di luar kota dan satu lagi di luar negeri. Jadi ya aku sendiri sekarang.”
“Kau kesepian?” Tanyanya dengan raut wajah iba.
“Apa aku terlihat seperti itu?” Ucapku pada Arya.
“Tidak, tapi jika kau mau aku menawarkan diri untuk selalu menemanimu.” Senyumnya begitu hangat dan tulus.
“Terimakasih” Singkatku.
“Anything for you.” Lanjutnya “bye the way, bunga mawarnya banyak sekali, apa kau menyukai bunga mawar?” Tanya Arya.
“Aku menyukainya.” Jawabku seadanya.
“Apa kau juga yang merawat mereka?” Tanya Arya penasaran.
“Kadang, jika aku punya waktu luang. Tapi akan ada tukang kebun yang mengurusi mereka untukku tapi dia tidak tinggal di sini.” Lanjutku “minumlah, dan ini ada sedikit cemilan.”
“Terimakasih, maaf merepotkan.” Ucapnya sambil mengambil minum yang tadi aku bawa dari dapur.
“Tidak masalah, anggap saja ini ucapan terima kasihku karena kamu sudah mengantarku pulang tadi.” Ucapku, ‘dan telah menolongku malam itu’ lanjutku dalam batin.
“Kalau begitu aku akan mengantarmu pulang setiap hari atau menjemputmu juga jika perlu.” Katanya yang membuatku sedikit terkejut, namun aku tetap dalam posisi tenang. Itulah keahlianku.
“Tidak perlu Arya.” Ucapku langsung menolaknya. Dia hanya mengedikkan bahunya.
“Kuenya enak, aku baru makan kue seenak ini. Kau beli?” Ucapnya sambil mencicipi kue yang ku sajikan dengan minuman tadi.
“Kau menyukainya? Aku membuatnya sendiri.” Dia memandangku dengan lekat lalu tersenyum begitu manis. Aku baru melihatnya senyum semanis ini dan semua itu cukup membuatku hampir salah tingkah yang dengan susah payah aku tahan.
“Aku sangat menyukainya.” Katanya dengan matanya yang masih menatapku seolah-olah takut aku menghilang dari pandangannya. Begitu lama kami saling menatap yang cukup membuatku sesak di tatap seperti itu. Aku langsung memutus kontak mata dengannya, kulihat dari sudut mataku senyumnya semakin merekah. “Aku rasa aku akan sering ke sini untuk melihatmu dan mencicipi semua kue dan masakan buatanmu.” Ucapnya yang ku dengar sangat bersemangat.
“Hah” aku terperangah atas penuturannya, ‘yang benar saja dia akan ke sini setiap hari, bagaimana ini?’ batinku. Dia terkekeh melihat reaksiku.
“Aku pulang, terima kasih untuk minuman dan kuenya, baik-baik di rumah kalau ada apa-apa telpon aku.” Lanjutnya saat menyadari sesuatu “eh aku tidak punya nomor ponselmu.” Dahinya mengernyit seketika, tidak sengaja aku menyentil dahinya yang berkerut. Dia terlihat kaget atas tindakanku, begitu pun aku.
“Ah maaf.” Kataku menyadari tindakanku barusan.
“Tidak masalah, tapi berikan aku nomor penselmu.” Ucapnya sambil mengulurkan ponselnya ke hadapanku diiringi sebuah senyuman yang aku tahu dia sedang mencoba menggodaku.
“Jika aku tidak mau.” Ucapku sedikit datar.
“Aku tidak akan memaafkanmu.” Ucapnya yang tak mau kalah denganku.
“Ko gitu.” Tanyaku, dia hanya mengedikkan bahunya sebagai jawaban. “Baiklah, kemarikan.” Lanjutku. Aku pun mengetikkan nomorku pada ponselnya setelahnya ku kembalikan lagi ponselnya.
“Ponselmu mana?” Tanyanya setelah menerima ponselnya yang aku berikan.
“Itu.” Aku tunjuk ponselku yang ku simpan di bangku. Dia hanya mengangguk lalu ku dengar ponselku berdering dengan nomor baru tak dikenal.
“Itu nomor ponselku, kalau ada apa-apa jangan sungkan menelponku atau jika kau butuh ditemani cari aku. Kalau begitu aku pulang.” Ucapnya sambil bersiap-siap hendak pergi.
“Aku akan mengantarmu sampai depan rumah.” Ucapku menanggapi.
“Baiklah” Ucapnya. Akupun pergi mengantarkannya sampai depan rumah hingga dia bersiap-siap untuk pergi dengan menaiki motornya.
“Bye Anaku.” Ucapnya.
“Hey.…” Jawabku teriak karena Arya langsung menjalankan motornya karena tau akan aku teriaki. ‘Hati-hati Arya,’ gumamku.
Malam tiba, akupun mengecek semua tugas dan menyelesaikannya. Setelah semuanya selesai, akupun mengambil biola kesayanganku dan memainkannya di balik pintu balkon yang terbuka. My heart will go on lagu favorite yang selalu ku mainkan. Aku hanyut dalam alunan nada yang dihasilkan biolaku, setelah selesai aku melihat keluar balkon seperti ada bayangan seseorang yang memperhatikanku, namun ketika aku melangkahkan kakiku ke balkon bayangan itu menghilang, aku melihat kesegala arah namun tidak menemukan apapun, ‘mungkin aku salah lihat’ batinku, lalu kembali ke dalam kamar dan menutup pintu balkon.
Malam ini aku berencana untuk pergi berlatih. Karena beberapa malam sebelumnya tugas selalu menumpuk setiap hari dan aku butuh waktu ekstra untuk menyelesaikannya. Walaupun ini adalah salah satu yang aku suka tapi tetap sekolah dan belajar akademik itu nomor satu. Bersyukurlah orang tuaku akhirnya mengizinkan segala hal yang ingin aku pelajari walau terkadang yang aku pilih memang agak berbahaya. Tapi aku selalu pastikan bahwa semua yang aku geluti itu sesuai prosedur. Aku selalu berusaha meyakinkan orang tuaku bahwa aku akan selalu baik-baik saja.Sekarang aku berada di tempat latihanku, ya sirkuit balap mobil. Aku sudah bergabung beberapa bulan yang lalu. Aku menyukai mobil sejak usiaku 15 tahun, t
Benar saja, sepertinya sekarang aku menjadi anak rajin. Lihatlah aku sekarang, pukul 06.30 pagi aku sudah berada di sini, di sekolah. Semua mata di kelas ini tertuju padaku dengan tatapan seolah aku telah mencuri sesuatu yang berharga, namun aku bersikap seperti biasanya dingin dan tidak peduli. Aku tidak sabar melihat gadisku, itulah alasan kenapa aku bisa berada di sini di pagi hari yang cerah ini. Sekarang aku sedang di koridor berkumpul bersama beberapa teman laki-laki sekelasku membahas yang menurutku itu tidak penting dan semua ini karena Deka. Aku mulai jenuh dengan pembahasan mereka, aku mencari obje
Memandangi langit malam yang indah dengan taburan bintang dari balkon kamarku merupakan salah satu hal favoritku. Aku begitu suka dengan ketinggian, karena aku bisa melihat dan menikmati keindahan yang Tuhan ciptakan. Tanpa sadar aku tersenyum tipis tiba-tiba aku teringat kejadian tadi di sekolah. Untuk pertama kalinya ada laki-laki yang berani mendekatiku, aku salut untuk keberaniannya karena selama ini tidak ada yang berani mengusikku, aku akan langsung bersikap sedingin mungkin tak tersentuh. Aku tidak berharap apapun, namun feelingku terlalu kuat dan sensitif. ‘Bagaimana aku menghadapinya besok? Semoga firasatku salah,’ batinku.
Aku bukan salah satu murid teladan di sekolah ini, kadang aku suka membolos saat pelajaran berlangsung. Rasanya bosan berdiam diri di kelas dengan pelajaran yang jenuh. Kata siswa lain aku orangnya dingin dan mengerikan, namun aku tidak merasa, mungkin hanya jarang bicara karena buatku banyak bicara hal yang tidak penting itu hanya buang-buang waktu. Aku Arya Wilfred siswa kelas 12 IPS2, aku salah satu siswa akhir di sekolah ini. Sekarang aku sedang berjalan menyusuri koridor menuju gudang sekolah yang di sana ada beberapa orang menunggu kedatanganku. Aku pergi ke sana seorang diri, ini bukan kali pertama untukku, hingga sampailah di sana aku membuka pintu gudang tersebut dan ku temukan temanku yang mereka aniaya. Darahku semakin mendidih hingga tidak sabar untuk menghan
Entah bagaimana, hari ini aku telat masuk sekolah. Mungkin semalam aku tidur sangat nyenyak hingga pagiku berantakan tidak seperti biasanya. Ah sial gerbangnya sudah di tutup, bagaimana ini? Aku mengintip kedalam dari celah pagar, dan ku lihat Ms. Bella yang piket hari ini. Ya Tuhan cobaan apalagi sekarang, bisa habis aku dengan segudang hukumannya. Semoga belum ada guru yang masuk ke kelas juga. Aku mulai panik dengan segala kemungkinan yang akan terjadi kedepannya hingga ada seseorang yang melihatku dari dalam, dia terus menatapku. Aku tidak tau dia siapa tapi aku mengerti sebuah isyarat yang dia berikan padaku yang artinya ‘tunggu sebentar’, aku menjawab dengan mengangguk sekali. Aku perhatikan dari balik pagar dia berbincang dengan Ms. Bella yang aku tidak tau apa yang mereka bicarakan hingga Ms. Bella pergi dari tempatnya dan dia m
Aku tak pernah tahu apa yang akan aku jalani setelah hari ini, aku hanya bisa bersiap dan mempersiapkan. Aku tidak begitu suka kejutan asal kau tahu. Selena Maria, ya itu namaku. Aku suka nama itu karena itu pemberian orang tuaku. Aku bukan anak tunggal ada kedua Kakak ku juga, Axel Diego dan Braga Michael namun mereka berdua jauh dariku, dari keluarga. Mengingat mereka aku jadi merindukannya, sangat. Mereka menyayangiku dengan cara mereka yang tak terduga. Kami memiliki keluarga yang cukup harmonis, kenapa cukup? Ya namanya juga tidak ada yang sempurna, ada masalah sedikit itu cukup manusiawi kan.Aku memastikan penampilanku lagi agar terlihat lebih rapi, dan tidak lupa dengan jam tangan kesayanganku yang selalu ku pakai kem