LOGINBenar saja, sepertinya sekarang aku menjadi anak rajin. Lihatlah aku sekarang, pukul 06.30 pagi aku sudah berada di sini, di sekolah. Semua mata di kelas ini tertuju padaku dengan tatapan seolah aku telah mencuri sesuatu yang berharga, namun aku bersikap seperti biasanya dingin dan tidak peduli. Aku tidak sabar melihat gadisku, itulah alasan kenapa aku bisa berada di sini di pagi hari yang cerah ini.
Sekarang aku sedang di koridor berkumpul bersama beberapa teman laki-laki sekelasku membahas yang menurutku itu tidak penting dan semua ini karena Deka. Aku mulai jenuh dengan pembahasan mereka, aku mencari objek yang dapat membuatku tertarik dan aku menangkap sosok yang selalu aku rindukan sedang berjalan di koridor yang lain. Sekilas aku melihat dia menatapku menyadari keberadaanku, namun dia hanya pergi begitu saja. Lagi, kecewa, aku pikir dia akan menyapaku atau hanya sekedar tersenyum padaku menganggap bahwa kita sudah jadi teman. Tadinya aku ingin mengejarnya namun salah satu temanku membuatku kesal malah menarikku tanpa aba-aba ke arah kantin yang jelas berlawanan dengan arah gadisku.
“Apa sih main tarik-tarik aja?” Kataku kesal pada orang yang menarikku.
“Kenapa jadi kaya orang kesel, perasaan tadi santai-santai aja. Kita semua mau ke kantin mau sarapan, dari tadi di tanya bengong aja.” Katanya yang bingung mendapatkan reaksi yang tiba-tiba berubah.
“Oh nggak papa.” Ucapku yang baru menyadari situasi.
‘Gadisku itu membawa pengaruh besar untukku ternyata, bahkan karenanya moodku bisa berubah begitu cepat yang biasanya aku selalu dalam kondisi stabil,’ batinku.
Sekarang aku sedang menuju rooftop di mana aku selalu bisa menemukannya di sana. Tadi pagi aku tidak mencarinya ke kelas karena aku memang tidak tahu dia tinggal di kelas mana. Aku selalu lupa untuk menanyakannya, mungkin aku memang selalu melupakan segalanya saat bersamanya, terlalu menikmati momen. Ketika aku sampai di sana, aku mendengar suara indah membelai pendengaranku yang seketika membuat wajahku tiba-tiba berseri. Wajah yang selalu datar dan dingin pada siapapun. Aku menikmati setiap nadanya sampai aku tidak tahan ingin langsung menghampirinya.
“Indah,” kata itu berhasil keluar dari mulutku yang membuatnya tersadar akan kehadiranku.
Seperti biasa, raut wajahnya tidak terbaca. Aku terus berjalan mendekatinya, ingin sedekat nadi yang terus bersamanya. Ku bisikan bahwa aku suka dengan suara indahnya yang ku harap aku bisa tahu bagaimana perasaannya padaku. Aku ingin melihat bagaimana reaksinya atas ulahku dan ternyata aku menjadi orang yang tidak tahu apa-apa. Dia bergeming dengan ekspresi seperti biasa. Kecewa tidak menemukan jawaban apapun.
Hari ini mendung dan agak sedikit dingin. Aku membuka jaketku dan ku tanggalkan di bahunya, awalnya dia menolak namun dengan sedikit menggodanya akhirnya dia mau menerimanya. Aku memang seorang pemaksa dan tidak menerima penolakan. Aku tidak begitu tahu kapan aku memiliki hobi baru yaitu menggoda gadisku. Aku menjadi begitu bahagia dengan apa yang ku lakukan padanya, buatku dia begitu menggemaskan. Aku memiliki panggilan baru untuknya ‘Ana’ aku tidak tahu tiba-tiba saja terlintas dipikiranku dan aku rasa itu cocok untuknya. Ya seperti biasa dia selalu menolak dan aku selalu memaksa.
‘Tidak bisakah kau langsung berkata ya tanpa harus ku paksa,’ pikirku.
Aku mendekatinya menghapus jarak antara aku dan gadisku yang otomatis dia selalu mundur. Jarak sedekat ini membuatku serba salah. Aku begitu frustrasi saat hatiku semakin hari semakin menginginkannya, semakin hari rasa ini semakin penuh sampai ingin meledak, namun yang kulihat dia tidak seperti aku bahkan seolah bertolak belakang dengan apa yang aku rasakan. Dia mencoba mendorongku untuk menjauh darinya, tapi aku langsung memegang tangannya agar dia memberhentikan aksinya. Dia berusaha melepaskan tangannya dari tanganku namun aku menguncinya tanpa menyakitinya agar tidak lepas.
Keadaan seperti ini membuatku tenang dan nyaman walau kerap kali dia menolak, aku tidak peduli, katakanlah aku ini egois. Namun aku harus memberikan jarak lagi hanya untuk mendengarkan suara indahnya mengalun di pendengaranku.
‘Aku tidak akan menyerah Ana, aku sudah terlanjur mencintaimu walau kau tidak pernah memperlihatkan bagaimana perasaanmu padaku. Dengan kau tidak pernah menolak keberadaanku aku yakin suatu hari nanti aku bisa bersamamu karena saling menginginkan.’ Batinku.
***
Saat tiba di apartemen aku segera membersihkan diri dan berganti pakaian dengan kemeja hitam dan celana hitam. Aku memastikan lagi kalau pakaianku sudah cukup rapih, namun saat aku melihat cermin aku mengingat Selena, ya Anaku. Tingkahnya yang menurutku menggemaskan itu mampu membuatku selalu tersenyum. Hatiku nyaman jika berada di dekatnya. Setelah aku cek ulang dan tidak ada yang ketinggalan, aku bergegas meninggalkan apartemen dengan mengendarai mobilku.
Sampailah di sini tempat aku bekerja dan menyambung hidup. Gedung ini memang tidak terlalu besar tapi suatu hari nanti akan ku buat lebih besar dari ini, ya setidaknya gedung ini akan tetap berdiri sampai kapanpun. Semua ini peninggalan ibu, aku meneruskan bisnisnya. Orang kepercayaan ibu yang mengurus semua ini setelah ibu meninggal sampai aku resmi memimpin perusahaan ini saat usiaku 17 tahun. Melangkahkan kakiku memasuki gedung ini, hanya tinggal beberapa pegawai yang mungkin pekerjaannya belum selesai. Ini memang sudah jam pulang kantor. Aku memasuki ruanganku yang terletak di lantai 5, tempat tertinggi di gedung ini sebelum rooftop.
“Selamat sore Pak Arya.” Kata sekertarisku yang bernama Meera. Usianya lebih tua dariku, dia adalah sekertarisnya mamah.
“Selamat sore Kak Meera, bisakah jangan panggil aku dengan sebutan Pak. Sudah berapa kali aku bilang padamu. Apakah aku terlihat tua dari usiaku sekarang?” Kataku lalu berhenti depan mejanya sambil menatapnya tajam.
“Tidak, anda masih muda dan terlihat sesuai usia anda, hanya saja anda bos saya, jadi saya harus menghormati Bapak layaknya bos dan karyawannya.” Katanya dengan sopan sambil memperlihatkan senyumnya.
“Kalau begitu aku akan meminta Om Frans menggantimu besok.” Kataku dengan datar.
“Baiklah Arya, bagaimana?” Ucapnya mengalah dengan senyum yang masih setia menghiasi wajahnya.
Aku hanya berdehem menanggapi ucapannya. Lalu kulangkahkan kakiku untuk memasuki ruangan yang dulu ibu tempati sekarang ruangan ini milikku. Saat aku akan menutup pintu ruanganku aku menoleh sebentar ke arah sekertarisku.
“Kak Meera pulanglah jika semua pekerjaannya sudah selesai, jangan menungguku.” Kataku pada sekertarisku.
“Mungkin sebentar lagi sudah selesai, kau tidak apa-apa jika aku tinggal.” Katanya memastikan.
“Hmm.…” Lalu ku anggukkan kepalaku sebagai jawaban.
Setelahnya ku tutup pintu ruanganku lalu menghampiri meja dengan tumpukan berkas yang harus ku periksa hari ini. Tidak terlalu banyak namun tetap harus diperiksa dengan teliti belum lagi email yang masuk yang harus ku cek juga.
Beginilah masa remaja yang ku jalani, ketika semua anak remaja menikmati masa pubernya, aku menjalani hidupku layaknya orang dewasa. Dulu aku merasa iri dengan mereka bisa bermain sesuka hati dan memiliki banyak teman, namun sekarang aku sadar takdirku seperti ini mungkin ini memang yang terbaik yang Tuhan berikan untukku. Dulu rasanya begitu berat menjalani hari, mungkin karena egoku terlalu tinggi sampai aku tidak bisa mengontrolnya. Namun seiring berjalannya waktu aku mulai bisa beradaptasi dengan kehidupanku saat ini.
Waktu demi waktu terus berjalan sampai aku tidak sadar kalau ini sudah pukul 10.30 malam. Ku selesaikan dengan segera pekerjaanku lalu setelah dirasa semua sudah selesai aku pergi meninggalkan ruanganku. Aku memasuki mobilku dan kukendarai menuju apartemen dengan menempuh jarak sekitar dua puluh menit. Saat aku sedang fokus menyetir, aku menoleh ke samping kananku dan melihat ada perkelahian di sana. Aku seseorang yang tidak peduli dengan urusan orang lain, tidak suka ikut campur masalah orang lain terlebih orang tidak kukenal. Aku selalu memilih pergi seolah tidak tahu apa-apa, namun lihat sekarang aku membawa mobilku sedikit mendekat ke arah perkelahian. Seolah penasaran siapa yang berkelahi di sana, aku sudah bersiap untuk keluar dari mobilku namun aku segera tersadar.
‘Ada apa denganku? Kenapa aku merasa harus membantunya? Untuk apa aku repot-repot mengurusi masalah orang lain dan aku tidak tahu dia siapa,’ pikirku.
Aku berhenti dari aksiku dan memilih duduk di dalam mobil sambil memperhatikan mereka. Dari pengamatanku sepertinya lawannya tidak seimbang yang awalnya hanya satu lawan dua dan dua orang itu dikalahkan dengan cepat tanpa terlihat akan menyerang lagi, kalah dengan poin K.O.
‘Dia cukup hebat, rasanya aku tidak perlu membantunya,’ pikirku.
Saat aku menyalakan mobilku lagi untuk segera pergi dari tempat itu tiba-tiba saja lawannya bertambah dua, tidak, sekarang empat, satu lawan empat yang benar saja. Tanpa pikir panjang aku mematikan mesin mobilku lalu keluar untuk menghampiri orang itu. Aku tidak melihat dia kewalahan melawan musuhnya namun tanpa diduga ada yang mencoba menikamnya dari belakang, aku segera mengahalau aksinya dengan mencekal tangan yang memegang senjata tajam lalu membanting tubuhnya ke tahan, ku dengar suaranya terpekik merasakan tubuhnya yang sakit, ku buat dia tidak bisa menyerang lagi. Aku beralih melawan yang lain tanpa perlu waktu lama semuanya tergeletak tak sadarkan diri. Ku atur nafasku lalu menatap orang yang kubantu, aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena tertutup masker, dia pun memakai topi ditambah lampu yang temaram membuat mataku tidak bisa mengenalinya sedikit pun. Ku lihat dari atas sampai bawah dia memakai hoodie hitam, celana jeans hitam, dan memakai sneakers, bahkan tangannya pun memakai sarung tangan. Dia benar-benar tertutup, sepertinya dia tidak ingin dikenali siapapun, atau mungkin dia penjahat yang sesungguhnya di sini.
Aku melihat dia tertegun saat kami saling menatap satu sama lain. Sekilas aku melihat matanya dan itu tidak asing bagiku, ‘Aku seperti pernah melihatnya tapi di mana?’ Pikirku.
“Kau tidak apa-apa?” Tanyaku memecah keheningan antara kami, namun bukan jawaban yang aku dapat hanya sebuah anggukan yang dia berikan tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Aku berinisiatif lagi untuk mengajaknya berbicara, “Siapa namamu? Ada masalah apa? Kenapa mereka semua menyerangmu?” Tanyaku lagi yang lagi-lagi tidak mendapatkan jawaban dan dia hanya menggelengkan kepalanya.
‘Kenapa aku merasa déjà vu?’ Batinku.
“Kenapa kau hanya menggerakan kepalamu saja? Maaf, apa kau tidak bisa bicara?” Tanyaku lagi namun kali ini dengan hati-hati.
Dan lagi dia hanya menggerakan kepalanya saja, sungguh percakapan ini membuatku menjadi kesal. Aku pun membalikan badanku untuk segera pergi dari sana, ‘sudah cukup aku merasa semakin kesal sekarang’ batinku.
Namun saat aku akan mencapai pintu mobilku ada seseorang yang mencekal tanganku, aku pun terpaksa membalikan lagi tubuhku untuk melihat siapa yang membuatku harus menghentikan langkahku. Saat aku tahu ternyata orang yang sama, aku hanya mengangkat sebelah alisku tanda ‘ada apa’ padanya. Dia hanya memberikanku secarik kertas setelah itu dia berpaling hendak pergi namun aku menggenggam tangannya mencegahnya untuk pergi. Ada rasa yang sama yang kurasakan saat menggenggam tangannya, rasa yang sama seperti rasaku pada gadisku.
‘Yang benar saja,’ pikirku.
Kami saling menatap dalam diam, hingga perlahan dia melepaskan tangannya dari genggamanku sambil menganggukan kepalanya lalu pergi menjauh dari tempatku berdiri. Ada rasa kehilangan saat tangan itu tak lagi ku genggam.
“Kenapa aku tiba-tiba menjadi orang bodoh seperti ini?” Gumamku.
Tersadar ada secarik kertas ditanganku aku langsung membacanya dan disana bertuliskan ‘terima kasih sudah membantu, maaf merepotkan’.
Entah mengapa seolah kesadaranku hilang, aku melangkahkan kakiku untuk mengejarnya yang aku yakini bahwa dia perempuan. Aku mencari-cari sampai ku fokuskan mataku untuk menemukannya. Mataku menangkap sesosok yang menghampiri sebuah mobil dan dia masuk kedalamnya yang aku yakini itu orang yang sama. Aku mencoba mendekatinya namun sayang mobil itu sudah melaju lebih dulu sebelum aku sampai. Aku hanya bisa memandangi kepergiannya tanpa tahu apapun.
“Suatu hari nanti aku akan tahu siapa kamu, kita akan bertemu lagi.” Ucapku bermonolog.
Setelahnya aku kembali ke mobilku dan mengendarainya menuju apartemen. Selama perjalanan aku terus memikirkan orang misterius itu sampai aku tidak menyadari bahwa aku sudah sampai di gedung apartemenku. Aku menghela nafas meringankan beban pikiran dan hatiku lalu keluar dari mobil menuju lift dan ku tekan nomor 7, itu adalah lantai di mana apartemenku berada.
Setelah membersihkan diri dan hendak pergi tidur tiba-tiba aku teringat lagi kejadian tadi, aku merasa tidak asing pada orang misterius itu tapi siapa orang itu kenapa aku menjadi sepenasaran ini dengannya.
‘Ah sudahlah pergi tidur saja,’ batinku.
***
Hari ini aku malas untuk masuk kelas, jadi aku memilih ke perpustakaan. Mungkin bagi sebagian orang yang tidak mengenalku aku akan di sebut siswa yang rajin, hanya saja mereka tidak tahu bahwa tujuanku datang ke perpustakaan itu sepuluh persen aku membaca buku dan sisanya untuk tidur. Dan aku tidak peduli dengan anggapan mereka. Aku memasuki perpustakaan yang cukup luas dengan rak-rak buku yang menjulang tinggi dan buku yang begitu banyak. Aku mengambil salah satu buku untuk aku baca dan mencari tempat ternyaman untuk aku tempati. Aku suka di sini karena sepi dan tenang, tidak ada kegaduhan yang membuat kepalaku sakit. Aku memilih untuk duduk di dekat jendela yang tertutup rak buku di pojokan, di sana sudah ada dua buah kursi yang biasa aku tempati. Aku membaca buku yang tadi aku bawa sampai aku tidak ingat kapan aku mulai tertidur.
Aku merasakan ada tangan terulur mengusap lembut kepalaku. Begitu nyaman aku rasakan sampai aku tidak mengerti ini sungguhan atau hanya sekedar mimpi indah di pagi hari. Tidak ada niatan aku untuk bangun dari tidurku karena otakku masih lelah dan membutuhkan istirahat lebih banyak karena semalam aku terbangun, ada data susulan yang harus aku segera selesaikan. Aku terbangun dari tidurku karena ada getaran di saku celanaku, ya itu notifikasi email masuk tentang pekerjaanku. Saat aku mengecek ponselku aku teringat kalau aku belum melihat gadisku. Aku memutuskan untuk menemuinya di tempat di mana aku selalu menemukannya, rooftop. Aku keluar dari perpustakaan itu dan menuju rooftop dengan suasana hati yang bahagia. Aku sudah membayangkan bagaimana wajah gadisku yang cantik itu dan juga sikapnya yang kadang membuatku gemas. Setibanya di rooftop yang aku dapati adalah tempat yang kosong, tidak ada tanda-tanda bahwa gadisku di sini.
‘Dia tidak ada di sini? Kemana dia? Apa hari ini dia tidak masuk?’ pikirku.
Aku mengeluarkan ponselku dari kantung celanaku dan hendak akan meneleponnya, menanyakan dia sedang berada di mana. Namun aku tersadar, aku tidak punya nomor ponselnya. Aku memutuskan untuk mencarinya ke kelas, dan lagi aku baru teringat aku juga tidak tahu di mana kelasnya.
“Ah sial,” aku mengumpat cukup keras menyadari kebodohanku menyukai seorang gadis namun aku menjadi laki-laki yang tidak tahu apa-apa tentang gadisnya.
Aku memutuskan untuk melihat-lihat kesetiap kelas siapa tahu aku bisa menemukannya di salah satu kelas tersebut. Atau mungkin saja aku menemukan temannya yang waktu itu dan menanyakan keberadaan gadisku padanya. Aku turun dari rooftop dan mulai mencarinya dengan melewati koridor demi koridor dari lantai atas hingga lantai bawah. Aku tidak mempedulikan tatapan-tatapan yang kebingungan atas tindakanku ini. Sekarang aku seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Aku mencari ke setiap sudut gedung ini dengan harapan segera menemukan keberadaannya. Namun ternyata aku tidak menemukannya sama sekali, bahkan temannya pun aku tidak menemukannya. Aku sengaja tidak bertanya pada siswa lain, karena itu membuatku gengsi setengah mati. Karena jika itu aku lakukan maka aku akan jadi bahan tertawaan siswa lain, aku dikenal tidak pernah dekat dengan perempuan manapun dan aku selalu tidak peduli dengan perempuan yang kerap kali mendekatiku. Karena bagiku dulu perempuan bukanlah apa-apa dan aku belum membutuhkan mereka, aku belum membutuhkan cinta, aku masih fokus pada diriku sendiri. Sampai akhirnya aku melihat gadisku yang mampu menggerakan hati dan membuka diriku. Cukup sudah, aku tidak menemukannya di mana-mana. Aku memilih kembali ke kelasku untuk pelajaran terakhir.
“Ada apa? Kenapa raut wajahmu semakin mengerikan? Ada yang buat masalah lagi denganmu?” Itu Deka yang waktu itu aku selamatkan, dia salah satu temanku dan yang lebih sering bertegur sapa denganku.
“Tidak ada, aku tidak apa-apa.” Kataku dengan datar.
“Kau tidak mau cerita padaku? Ya aku tau aku memang selalu menyulitkanmu, tapi setidaknya aku bisa menjadi pendengar untukmu. Tawaranku tidak berlaku kelipatan.” Katanya yang aku liat dia sedang menghiburku.
‘Apa sebegitu kelihatan ya kalau aku sedang tidak bersemangat hari ini, padahal aku merasa ekspresi wajahku tetap sama seperti biasa, ya begini-begini saja,’ pikirku.
Deka menjentikan jarinya di depan wajahku yang membuatku sadar dari pikiranku sendiri, “Apa?” Kataku dengan tidak berdosanya.
“Kok apa? Ada masalah apa? Kau akhir-akhir ini jadi sering tidak fokus kalau diperhatikan.” Ucapnya mengutarakan kebingungannya terhadapku.
“Pengertian sekali kamu.” Ucapku yang mengundang decakan kesal Deka padaku.
“Terserah kau saja. Oh iya kapan kau akan mengajariku?” Tanyanya dengan antusias.
“Memang kau sudah tidak apa-apa?” Tanyaku sambil memperhatikan Deka dari ujung rambut sampai ujung kakinya.
“Kau bisa lihat aku sudah tidak apa-apa. Aku kan hebat.” Ucapnya begitu bangga sambil menepuk-nepuk dadanya.
“Cih, belagu.” Ucapku sinis yang hanya di tanggapi Deka dengan cengirannya.
Dia termasuk orang yang cukup ceria dan mudah mengekspresikan suasana hatinya dan terkadang juga dia bisa bertingkah konyol yang membuatku terheran-heran.
“Arya, tadi kau ngapain melihat-lihat kelas lain? Seingatku kau bukan ketua OSIS yang harus memeriksa setiap kelas.” Katanya sambil menatapku bingung.
Aku terkejut dengan perkataan Deka yang ternyata dia melihatku sedang mencari gadisku ke semua kelas.
‘Mampus kau Arya, aku harus bilang apa. Atau aku jujur saja sedang mencari orang, ah tidak-tidak, dia akan terus mengoreknya sampai dia mendapat jawabannya. Tapi kalau aku bohong, aku harus bohong apa?’ pikirku menimbang-nimbang jawaban yang akan aku berikan.
“Tidak ada, aku hanya sedang lewat saja.” Kataku beralasan mencoba tenang seperti biasa.
“Kok aku tidak percaya?” Katanya sambil melihatku bingung seperti mencari kebohongan. Ya aku memang bohong.
“Terserah kau saja.” Ucapku tidak peduli. Aku memposisikan diri untuk duduk dikursiku dan lagi-lagi pertanyaan yang di lontarkan temanku ini membuatku terkejut.
“Kau sedang mencari seseorang? Siapa?” Ucapnya penuh selidik dengan nada begitu pelan agar tidak ada yang bisa mendengarkan pertanyaannya.
Dan entah kenapa aku menjadi grogi. Lihatlah seorang Arya Wilfred yang biasanya begitu cuek, dingin, dan memiliki aura menyeramkan tiba-tiba menjadi grogi karena masalah perempuan. Rasanya seperti aku habis mencuri lalu ketahuan, astaga.
“Tidak, aku tidak mencari siapa pun. Aku hanya sekedar lewat. Kenapa rasanya aku sedang di curigai.” Kataku menatap Deka dengan tajam seolah tidak terima.
“Ya baiklah, setidaknya aku tahu ada seseorang yang membuatmu akhir-akhir ini jadi agak berbeda walau aku belum tahu siapa dia tapi semoga dia bisa membuatmu bahagia.” Katanya dengan tulus dan aku tahu itu dari raut wajahnya yang memancarkan, setelah mengucapkan itu Deka menepuk pelan pundakku sambil tersenyum hangat padaku lalu duduk di kursinya yang bersebelahan denganku karena guru sudah memasuki kelas kami untuk memulai pelajaran yang baru.
Aku merasa bersyukur memiliki teman seperti Deka. Kami memang tidak sedekat sahabat-sahabat kebanyakan, kami juga jarang nongkrong bareng seperti remaja-remaja lainnya, tapi dia bisa mengerti aku tanpa diminta. Fisiknya memang tidak terlalu kuat tidak seperti kebanyakan remaja laki-laki pada umumnya, maka dari itu aku selalu berdiri untuknya karena dia juga kerap kali dijadikan sandera oleh musuhku karena tahu kedekatanku dengannya. Buatku Deka ini istimewa walau ada beberapa orang yang memandangnya sebelah mata.
Malam ini aku berencana untuk pergi berlatih. Karena beberapa malam sebelumnya tugas selalu menumpuk setiap hari dan aku butuh waktu ekstra untuk menyelesaikannya. Walaupun ini adalah salah satu yang aku suka tapi tetap sekolah dan belajar akademik itu nomor satu. Bersyukurlah orang tuaku akhirnya mengizinkan segala hal yang ingin aku pelajari walau terkadang yang aku pilih memang agak berbahaya. Tapi aku selalu pastikan bahwa semua yang aku geluti itu sesuai prosedur. Aku selalu berusaha meyakinkan orang tuaku bahwa aku akan selalu baik-baik saja.Sekarang aku berada di tempat latihanku, ya sirkuit balap mobil. Aku sudah bergabung beberapa bulan yang lalu. Aku menyukai mobil sejak usiaku 15 tahun, t
Benar saja, sepertinya sekarang aku menjadi anak rajin. Lihatlah aku sekarang, pukul 06.30 pagi aku sudah berada di sini, di sekolah. Semua mata di kelas ini tertuju padaku dengan tatapan seolah aku telah mencuri sesuatu yang berharga, namun aku bersikap seperti biasanya dingin dan tidak peduli. Aku tidak sabar melihat gadisku, itulah alasan kenapa aku bisa berada di sini di pagi hari yang cerah ini. Sekarang aku sedang di koridor berkumpul bersama beberapa teman laki-laki sekelasku membahas yang menurutku itu tidak penting dan semua ini karena Deka. Aku mulai jenuh dengan pembahasan mereka, aku mencari obje
Memandangi langit malam yang indah dengan taburan bintang dari balkon kamarku merupakan salah satu hal favoritku. Aku begitu suka dengan ketinggian, karena aku bisa melihat dan menikmati keindahan yang Tuhan ciptakan. Tanpa sadar aku tersenyum tipis tiba-tiba aku teringat kejadian tadi di sekolah. Untuk pertama kalinya ada laki-laki yang berani mendekatiku, aku salut untuk keberaniannya karena selama ini tidak ada yang berani mengusikku, aku akan langsung bersikap sedingin mungkin tak tersentuh. Aku tidak berharap apapun, namun feelingku terlalu kuat dan sensitif. ‘Bagaimana aku menghadapinya besok? Semoga firasatku salah,’ batinku.
Aku bukan salah satu murid teladan di sekolah ini, kadang aku suka membolos saat pelajaran berlangsung. Rasanya bosan berdiam diri di kelas dengan pelajaran yang jenuh. Kata siswa lain aku orangnya dingin dan mengerikan, namun aku tidak merasa, mungkin hanya jarang bicara karena buatku banyak bicara hal yang tidak penting itu hanya buang-buang waktu. Aku Arya Wilfred siswa kelas 12 IPS2, aku salah satu siswa akhir di sekolah ini. Sekarang aku sedang berjalan menyusuri koridor menuju gudang sekolah yang di sana ada beberapa orang menunggu kedatanganku. Aku pergi ke sana seorang diri, ini bukan kali pertama untukku, hingga sampailah di sana aku membuka pintu gudang tersebut dan ku temukan temanku yang mereka aniaya. Darahku semakin mendidih hingga tidak sabar untuk menghan
Entah bagaimana, hari ini aku telat masuk sekolah. Mungkin semalam aku tidur sangat nyenyak hingga pagiku berantakan tidak seperti biasanya. Ah sial gerbangnya sudah di tutup, bagaimana ini? Aku mengintip kedalam dari celah pagar, dan ku lihat Ms. Bella yang piket hari ini. Ya Tuhan cobaan apalagi sekarang, bisa habis aku dengan segudang hukumannya. Semoga belum ada guru yang masuk ke kelas juga. Aku mulai panik dengan segala kemungkinan yang akan terjadi kedepannya hingga ada seseorang yang melihatku dari dalam, dia terus menatapku. Aku tidak tau dia siapa tapi aku mengerti sebuah isyarat yang dia berikan padaku yang artinya ‘tunggu sebentar’, aku menjawab dengan mengangguk sekali. Aku perhatikan dari balik pagar dia berbincang dengan Ms. Bella yang aku tidak tau apa yang mereka bicarakan hingga Ms. Bella pergi dari tempatnya dan dia m
Aku tak pernah tahu apa yang akan aku jalani setelah hari ini, aku hanya bisa bersiap dan mempersiapkan. Aku tidak begitu suka kejutan asal kau tahu. Selena Maria, ya itu namaku. Aku suka nama itu karena itu pemberian orang tuaku. Aku bukan anak tunggal ada kedua Kakak ku juga, Axel Diego dan Braga Michael namun mereka berdua jauh dariku, dari keluarga. Mengingat mereka aku jadi merindukannya, sangat. Mereka menyayangiku dengan cara mereka yang tak terduga. Kami memiliki keluarga yang cukup harmonis, kenapa cukup? Ya namanya juga tidak ada yang sempurna, ada masalah sedikit itu cukup manusiawi kan.Aku memastikan penampilanku lagi agar terlihat lebih rapi, dan tidak lupa dengan jam tangan kesayanganku yang selalu ku pakai kem