LOGINHujan deras mengguyur Jakarta sejak subuh tadi. Hingga saat sore menjelang, hujan itu tak kunjung reda.
Prayoga duduk gelisah di ruang keluarga, ada rasa tidak nyaman di hatinya. Pikirannya tertuju pada Neira, entah firasat buruk atau hanya khawatir karena pertengkaran mereka kemarin malam.
"Kamu kenapa?" tanya Amanda, ibunya. Wanita itu sedang menonton televisi di sebelah Yoga.
"Kenapa memangnya, Mah?"
"Gelisah begitu." Ucap Amanda cuek, sembari memasukkan keripik kentang ke mulutnya.
"Enggak, Yoga biasa aja." Elaknya, tapi yang terlihat justru sebaliknya. Jari tangan kirinya sedari tadi mengetuk acak gagang sofa, sedangkan tangan kanannya sibuk memutar-mutar handphone. Matanya memang mengarah ke televisi, tapi Amanda tahu persis bahwa pikiran anaknya sedang tidak di sini.
Amanda meletakkan bungkus keripik kentangnya. Menyandarkan tangan pada bahu sofa sebagai topangan kepala, lalu memandang fokus ke arah Prayoga yang berada di sampingnya. Amanda memicingkan mata penuh curiga.
Ditatap seperti itu, Prayoga risih. "Apa sih, Mah?" pemuda itu salah tingkah.
"Kalau mau bohong, les privat dulu tuh sama Mang Ujang,____ supir keluarga Prayoga______dia ahlinya." Cibir Amanda.
Prayoga menggeleng. "Isshhh ... Mamah."
Ia menyerah jika harus berbohong pada Amanda. Bukan perkara dia yang memang jarang berbohong dan amatir, tapi ibunya itu memang seperti cenayang jika menyangkut hati anaknya. Sulit dibohongi.
Prayoga bangkit meninggalkan Amanda. Dalam situasi seperti ini, lebih baik dia menjaga jarak dari ibunya. Dia yang tidak pandai berbohong pasti akan dibantai telak oleh ke-kepoan Amanda yang tiada tanding.
"Mau ke mana? Katanya mau nemenin Mamah nonton."
"Tidur." Jawabnya tanpa menoleh ke Amanda.
"Tidur apa 'tidur'?"
Prayoga tidak menjawab, ia memutar matanya jengah lalu setengah berlari menaiki anak tangga menuju lantai dua. Namun, saat langkahnya sudah tepat berada di depan pintu kamar, Prayoga justru berbalik. Ia, tidak bisa mengabaikan instingnya untuk kali ini. Dia yakin ada yang tidak beres dengan gadisnya.
Prayoga berlari dengan cepat menuruni anak tangga, lalu meraih kunci mobilnya di atas kulkas.
"Lho, katanya tidur? Mau ke mana lagi?" tanya Amanda ikut panik. Tergopoh mengikuti langkah cepat Prayoga.
"Ke rumah teman, sebentar aja kok Mah."
"Banjir lho di mana-mana, Ga."
Prayoga berbalik. Tersenyum manis ke Amanda lalu mencium pipi perempuan itu. Amanda mencebik, satu ini jurus andalan anaknya untuk meluluhkan hatinya. "Yoga cepat pulang kok, Mah. Janji." Bisiknya, lalu bergegas meninggalkan Amanda yang masih kebingungan.
Dan benar kata Amanda, banjir di mana-mana. Prayoga menatap ke arah langit yang menggelap dari balik kaca jendela mobil. Guntur dan kilat terlihat menyambar-nyambar di depan, hujan semakin deras dan sepertinya akan bertahan lama. Prayoga yang sejatinya orang sabar, tapi kali ini ia menjadi tidak sabaran. Berkali-kali Yoga membunyikan klakson di tengah banjir dan macet, walau sebenarnya itu percuma saja tidak akan memperlancar laju mobilnya.
Dalam keterdiamannya menunggu, hati Prayoga semakin kalut. Bodohnya dia, yang seharusnya semalam meninggalkan handphone-nya untuk gadis itu, atau kenapa tidak sekalian saja kemarin membelikan handphone baru untuk Neira? Ia merutuki kebodohannya.
Tiga jam berlalu, dan dirinya belum sampai pada tujuan. Seharusnya hanya butuh waktu dua jam bagi Prayoga untuk sampai ke kontrakan Neira.
Waktu terasa begitu lambat berjalan bagi prayoga, macet sepanjang jalan ini tak kunjung usai. Ia menenggak air minumnya, berharap sedikit mendapat ketenangan. Prayoga terus melirik ke arah jam tangannya, semoga kegelisahannya ini bukanlah pertanda buruk untuk kekasihnya.
"Ada apa dengan kamu, Nei?" gumamnya pelan, ia menyandarkan kepalanya pada setir.
***
Prayoga setengah berlari menyusuri gang masuk ke kontrakan Neira. Tidak peduli pada bajunya yang basah terkena hujan; tak peduli pada makian ibu-ibu yang tertabrak tubuhnya hingga terjatuh, ia hanya bisa berteriak minta maaf sambil terus berlalu.
Dengan napas yang masih ngos-ngosan, ia mengetuk pintu coklat itu berulang kali dengan tidak sabaran.
"Assalamualaikum."
Tak ada jawaban yang Prayoga dapatkan.
"Nei, kamu di dalam, kan?" lagi-lagi sunyi yang menjawab.
Yoga menempelkan telinganya pada pintu, samar-samar terdengar suara radio dari dalam sana. Tapi itu sama sekali tak membuat hatinya lega.
Sampai akhirnya, Prayoga melihat Sulastri datang dari arah gerbang. Sekonyong-konyong Prayoga menghampiri Sulastri yang sedang menutup gerbang.
"Permisi, Tante."
"Iya?" Sulastri berbalik menghadap Prayoga. Dan mengernyit saat melihat pemuda itu basah kuyup. Secara reflek Sulastri menggeser payungnya agar Prayoga tidak kehujanan.
"Maaf Tante, mau tanya. Itu kamar nomor empat masih tinggal di situ, Kan? Belum pindah?"
Sulastri melongok ke belakang Prayoga, ke arah kamar nomor empat milik Neira.
"Tadi pagi saya antar sarapan, masih ada kok Mbak Neiranya, lagi berkemas. Tapi tadi pukul dua saya ketok enggak nyaut, kayaknya sih tidur,Mas."
Prayoga melihat jam tangannya.
"Sekarang sudah pukul lima, Tante. Apa mungkin masih tidur ya? Soalnya masih ada suara radio di dalam, berarti belum pindah, kan?"
Sulastri mengerutkan alisnya, dia terdiam sejenak. Menatap bergantian antara Prayoga dan kamar Neira.
"Saya sudah gedor berkali-kali, sudah teriak-teriak juga dari tadi, Tante."
Wanita paruh baya itu menatap wajah Prayoga yang putus asa dengan iba.
"Kok perasaan saya jadi enggak enak ya." Gumam Sulastri, yang sedikit banyak terdengar oleh Yoga. Wanita itu langsung menarik tangan Yoga agar bergegas kembali ke tempat Neira.
Sesampainya di depan kamar Neira, Sulastri mengintip sedikit dari celah kaca jendela. Tak ada tanda-tanda ada seseorang di dalamnya.
"Dobrak aja, Mas!" putus Sulastri.
Tanpa bertanya apa-apa lagi, Prayoga langsung melakukan permintaan Sulastri. Karena sedari tadi sebenarnya ia ingin sudah ingin mendobrak pintu ini.
Dalam hitungan ketiga, pintu itu sudah terbuka.
Saat Sulastri dan Prayoga masuk, sudah ada tiga koper di bawah jendela. Alunan musik lagu lawas dari Chrisye itu terdengar dari arah dapur. Suara kran air terbuka juga terdengar dari arah kamar mandi. Yoga, segera ke sana.
"Nei ... " Yoga memanggil gadis itu dan mengetuk pintu kamar mandi berkali-kali, tapi tidak ada sahutan. Sulastri mencoba membuka, tapi pintu itu terkunci.
Yoga dan Sulastri saling bertatap, satu anggukan perlahan dari Sulastri menandai Prayoga untuk kembali menggunakan tubuhnya sebagai pendobrak pintu.
Yoga terhuyung ke depan saat pintu itu berhasil dia buka. Namun, lutut pemuda itu langsung lemas, mulutnya terbuka tapi tak mampu berucap apapun. Sedangkan Sulastri sudah berteriak histeris, membuat tetangga langsung berkerumun menghampiri mereka berdua.
Di sana; di kamar mandi itu, Neira terduduk lemas bersandar pada bak mandi yang airnya telah meluber. Gadis itu basah kuyup, pingsan, dengan tangan yang sudah bersimbah darah.
Ia, bunuh diri.
[Flashback sudah selesai. Part ini kembali di masa Neira sekarang *lihat kembali part 03*]Panas terik menyinari Jakarta siang ini, berkombinasi dengan macet dan polusi, membuat orang-orang menjadi cepat emosi dan tidak sabaran.Neira mengusap dahinya yang berkeringat dingin. Sebenarnya, tubuhnya sudah agak limbung, tapi wanita itu masih berusaha untuk bisa mengerjakan tugasnya."Lagi ramai, Nei. Tolong kerjanya lebih cepat ya!" seru salah satu rekan kerjanya yang lebih senior."Iya, Mbak." Hanya dua patah kata itu yang sanggup terlontar dari bibir tipisnya.Warung padang ini adalah tempat kerjanya yang ke sepuluh. Mulai dari menjadi jaga toko sepatu, penjaga warteg, dan bermacam-macam jenis pekerjaan yang lain, tak ada yang bertahan lebih dari satu hari. Kondisinya yang morning
Perlahan mata cantik itu mengerjap-ngerjap,menyesuaikan dengan cahaya yang masuk ke retina. Meski masih sedikit buram dan berbayang, tapi Neira mampu melihat ke sekitarnya. Hanya ada tirai-tirai putih yang mengelilingi tempat tidurnya, serta bau obat yang menyeruak masuk ke penciuman gadis itu.Kepalanya masih terasa sangat berat, tapi ia mencoba untuk bangun. Ranjang itu berderit karena tubuh Neira bergerak. Tak lama berselang, seorang perempuan berjas putih datang menyibak tirai di hadapannya."Sudah sadar?" tanya wanita itu lembut. Lalu mendekat ke arah Neira. "Masih pusing? Rebahan dulu ya, biar saya periksa lagi."Neira hanya menuruti apa yang dikatakan dokter perempuan itu."Saya di mana ya, Dok?""Di unit kesehatan kampus. Tadi kamu pingsan, jadi mahasiswa bawa kamu ke sini," ja
Tidak semua orang bersenang hati menerima kebaikan orang lain. Entah karena ego, malu, tersinggung, gengsi dan berbagai macam alasan lain. Termasuk Neira yang enggan menerima bantuan Prayoga.Butuh tenaga ekstra bagi Amanda meyakinkan Neira untuk bersedia tinggal bersamanya. Ini salah satu bentuk tukar guling dirinya dan Prayoga. Dan untungnya, setelah diskusi yang alot, gadis itu menyetujuinya. Dan Amanda sangat bersyukur akan hal itu.Tak dapat dipungkiri. Amanda, selalu gagal membujuk Prayoga untuk melanjutkan kuliahnya di Inggris, kelak saat ia lulus. Yoga selalu beralasan tidak ingin meninggalkan ibunya sendirian, tapi Amanda yakin bukan itu alasan sesungguhnya. Dan semua tebakan Amanda itu terjawab, saat malam tragedi bunuh diri Neira.Amanda masih sangat jelas mengingat peristiwa malam itu, saat Prayoga sendiri yang menawarkan diri untuk berangkat ke Inggri
Tangan Yoga bergetar hebat saat mengangkat tubuh kekasihnya. Dia linglung,melihat wajah Neira yang sudah memucat seperti mayat, bibir gadis itu sudah membiru.Terseok Prayoga membopong Neira ke mobil, meletakkan gadis itu di kursi belakang bersama Sulastri."Saya ... Saya, tidak sanggup menyetir." Ucapnya terbata, matanya nanar melihat tangannya yang bergetar hebat. Berkali-kali ia mengusap air mata. Ini pertama kali dalam hidupnya melihat langsung korban bunuh diri, apalagi orang tersebut adalah orang yang ia cintai."Biar saya aja yang menyetir, Mas. Saya supir taksi kok." Ucap salah seorang lelaki yang merupakan tetangga Neira. Prayoga hanya mengangguk pasrah, bergegas duduk di kursi depan.Awalnya, mereka membawa Neira ke klinik terdekat, tapi karena kondisi Neira yang kritis membuat Prayoga harus membawanya ke rumah
Hujan deras mengguyur Jakarta sejak subuh tadi. Hingga saat sore menjelang, hujan itu tak kunjung reda.Prayoga duduk gelisah di ruang keluarga, ada rasa tidak nyaman di hatinya. Pikirannya tertuju pada Neira, entah firasat buruk atau hanya khawatir karena pertengkaran mereka kemarin malam."Kamu kenapa?" tanya Amanda, ibunya. Wanita itu sedang menonton televisi di sebelah Yoga."Kenapa memangnya, Mah?""Gelisah begitu." Ucap Amanda cuek, sembari memasukkan keripik kentang ke mulutnya."Enggak, Yoga biasa aja." Elaknya, tapi yang terlihat justru sebaliknya. Jari tangan kirinya sedari tadi mengetuk acak gagang sofa, sedangkan tangan kanannya sibuk memutar-mutar handphone. Matanya memang mengarah ke televisi, tapi Amanda tahu persis bahwa pikiran anaknya sedang tidak di sini.
Satu suara salam memaksa tubuh lemahnya untuk bangkit dan menggapai pintu. Suara itu, milik seseorang yang dijadikan Neira sebagai alasan membatalkan aksi bunuh dirinya.Tergesa, gadis itu membuka pintu dan langsung menghambur dalam pelukan."Hai ... Kamu kenapa?"Gadis itu tidak menjawab, justru mempererat pelukannya pada pemuda yang berdiri kaku di depan pintu. Suara tangisnya teredam di dada itu.Agak ragu, pemuda itu melihat ke sekitar. Setelah memastikan tidak ada yang melihat mereka berdua, pemuda itu membalas pelukan Neira dan membelai kepala gadis itu agar tenang."Aku engga bisa hubungi kamu beberapa hari ini, jadi aku hubungi Dera._____teman sebangku Neira_____ Kata Dera, kamu udah engga sekolah empat hari. Makanya aku datang ke sini." Kata pemuda itu dengan lembut. Gadis