Masuk[Flashback sudah selesai. Part ini kembali di masa Neira sekarang *lihat kembali part 03*]
Panas terik menyinari Jakarta siang ini, berkombinasi dengan macet dan polusi, membuat orang-orang menjadi cepat emosi dan tidak sabaran.
Neira mengusap dahinya yang berkeringat dingin. Sebenarnya, tubuhnya sudah agak limbung, tapi wanita itu masih berusaha untuk bisa mengerjakan tugasnya.
"Lagi ramai, Nei. Tolong kerjanya lebih cepat ya!" seru salah satu rekan kerjanya yang lebih senior.
"Iya, Mbak." Hanya dua patah kata itu yang sanggup terlontar dari bibir tipisnya.
Warung padang ini adalah tempat kerjanya yang ke sepuluh. Mulai dari menjadi jaga toko sepatu, penjaga warteg, dan bermacam-macam jenis pekerjaan yang lain, tak ada yang bertahan lebih dari satu hari. Kondisinya yang morning sickness parah dan juga tubuhnya yang lemah membuat orang tidak berani memperkerjakan dirinya.
Padahal tidak berat pekerjaan yang harus dia kerjakan di warung ini. Hanya membersihkan meja dan peralatan makan yang telah ditinggalkan pengunjung, Memindahkannya dari meja makan ke tempat cucian piring di dapur. Tapi apa mau dikata, saat ini dirinya tidaklah setangguh Neira yang dulu.
Neira berusaha menopang tubuhnya yang kian melayang, tangan yang bertumpu pada pinggiran meja itu nyatanya tidak sekuat yang ia harapkan. Lututnya kian lemas, dan rasa dingin menjalar ke seluruh tubuh. Kepalanya seperti berputar-putar, diikuti pandangan mata yang kian memudar.
Tak sampai satu menit ia berdiri di tempatnya. Neira roboh. Wanita itu pingsan.
***
Hal pertama yang Neira lihat setelah membuka mata, bukanlah rekan kerja ataupun bos tempatnya bekerja. Melainkan seorang wanita cantik berwajah oriental. Mungkin usianya sedikit lebih tua dari Amanda.
Neira yakin, dirinya masih di warung tempatnya bekerja, lebih tepatnya di ruang tempat istirahat karyawan. Terlihat jelas dari deretan jaket para karyawan yang menggantung di dinding depan tempatnya terbaring. Perlahan, Neira bergerak untuk bangun dan duduk.
"Kalau masih pusing, tidak apa-apa tidur saja," kata wanita itu dengan lembut. Sejenak, Neira terpesona oleh suaranya yang sangat merdu dan keibuan.
"Maaf, Ibu ... Dokter?"
Wanita itu sedikit menunduk, menyembunyikan tawa kecilnya, yang justru membuat Neira semakin bingung.
"Maunya sih begitu, jadi seorang Dokter. Tapi ternyata levelnya cuma sampai di perawat."
Neira menganggukkan kepala, tidak tahu lagi harus berkata apa. Dia segan bertanya untuk apa wanita ini ada di hadapannya.
"Kenalkan, saya Ratih." Wanita itu mengulurkan tangannya, masih dengan senyum yang membuat Neira terpesona.
"Neira," balas Neira dengan sedikit kikuk menyambut uluran tangan wanita bernama Ratih itu.
"Iya, Burhan____Boss Neira____sudah kasih tahu saya. Saya ada di meja belakang kamu, saat tadi kamu pingsan. Kata Burhan kamu sedang hamil muda?"
Neira menunduk, mengangguk kecil. Harus meng-iya-kan sesuatu yang selama ini dirinya sendiri pun masih menyangkalnya.
"Kebetulan, istri Burhan itu teman arisan saya.____Ratih menggeser tubuhnya mendekat, lalu menggenggam tangan Neira dengan lembut. Membuat wanita hamil itu tersentuh tepat di hatinya.____ Kamu enggak cocok kerja di sini. Bagaimana kalau di rumah saya saja? Asisten saya di rumah sudah sepuh, butuh ada yang bantuin. Lagi pula, rumah saya itu sepiiiiiiii banget isinya manula semua." Ratih menjelaskan panjang lebar, senyum dan tawa kecil selalu menyertai wanita itu di sepanjang perbincangan.
"Tapi ... Kondisi saya____"
"Ck ... Pekerjaan di rumah saya itu tidak berat. Kamu pasti sanggup. Lagi pula saya enggak punya anak cewek, kalau baby kamu lahir, di rumah pasti nanti bakal ramai enggak sepi lagi."
"Maksudnya, Ibu mau adopsi anak saya?"
"Bukan, jangan salah paham. Burhan sedikit banyak tadi sempat cerita tentang latar belakang kamu saat ini, kebetulan saya merasa sanggup membantu. Jadi, kenapa tidak, saya menawarkan bantuan yang bisa saya berikan itu ke kamu."
Neira menatap Ratih dengan perasaan campur aduk. Sedih, karena harus menerima belas kasihan orang lain; namun, di sisi lain hatinya senang, karena mungkin setelah ini nasibnya bisa lebih baik. Di kaca mata Neira, senyum dan sorot mata wanita itu terlihat begitu tulus. Inikah bantuan yang diberikan Tuhan untuknya saat ini?
"Percaya pada saya. Saya bukan orang jahat. Mungkin ini pertolongan Tuhan untuk kamu. Saya ada tepat saat kamu pingsan, itu bukan sebuah kebetulan. Karena tidak ada yang kebetulan di dunia ini, iya, kan?"
***
Mata Neira terpaku dari balik kaca jendela, mobil yang membawanya telah sampai pada tujuan. Saat pintu gerbang itu dibuka, halaman hijau yang luas menyambutnya. Pohon beringin besar di tengah halaman, deretan anggrek cantik yang berjajar rapi membatasi seluruh halaman taman depan.
Bukan rumah modern yang sekarang Neira lihat, melainkan rumah dengan arsitektur jaman Belanda kuno. Bercat putih bersih, selaras dengan deretan anggrek yang tadi Neira lihat.
"Ayo turun, kita sudah sampai."
Neira dikagetkan oleh suara Ratih. Ia baru sadar, bahwa Ratih sudah mematikan mesin mobilnya.
Neira tersenyum penuh kekaguman pada bangunan di hadapannya ini, mengingatkan dia pada tempat tinggal masa kecilnya.
"Maaf ya, rumahnya sederhana. Turun temurun dari keluarga." Ratih merangkul bahu Neira, membawa wanita itu untuk masuk ke dalam rumah.
"Bagus, Bu." Hanya kata singkat itu yang mampu keluar dari bibir Neira.
Neira melangkahkan kakinya ke dalam. Selayaknya rumah peninggalan Belanda lainnya, rumah ini memiliki jendela-jendela kayu yang cukup tinggi dan besar. Tidak ada foto ataupun lukisan, seperti rumah orang kaya lain yang pernah Neira kunjungi. Dinding rumah ini justru dipenuhi oleh deretan piring keramik klasik berbagai macam ukiran. Lalu, beberapa kaktus cantik tersusun rapi pada rak-rak kayu di sudut ruangan.
Ratih berdiri di belakang Neira, membiarkan wanita hamil itu menilik seluruh isi ruang tamunya. Sampai kemudian Bagaskara muncul dari arah ruang makan.
Ratih menyambutnya dengan senyum, menghampiri pria yang lebih tua sepuluh tahun darinya itu. Mencium tangannya, lalu beralih ke belakang mendorong kursi roda Bagaskara.
"Ini yang tadi Mami ceritakan, Pih," bisik Ratih kepada Bagaskara, pria itu mengangguk dan tersenyum pada Neira yang berdiri kikuk di hadapannya.
"Kenalin, Neira. Ini suami saya, namanya Bagaskara."
Bagaskara tersenyum menyambut anggukan kecil Neira sebagai tegur sapa. Sebagai orang yang sudah kenyang makan asam garam, hanya dengan sekali melihat, ia sudah bisa menebak apa yang dirasakan wanita hamil di hadapannya saat ini.
"Semoga betah ya, Neira. Jangan sungkan-sungkan."
Suara yang lembut dan berwibawa itu hampir membuat Neira berkaca-kaca. Hanya dengan mendengar suaranya saja, seolah ia menemukan sosok ayahnya yang telah meninggal.
"Ayok ... Kita ke belakang. Saya tunjukan kamar kamu, sekalian kenalan sama Mak Oni. Pasti Emak senang banget sekarang punya teman bergosip," Ratih tertawa kecil, mengusap lembut lengan Neira, menggiring wanita itu untuk mengikuti langkahnya ke belakang rumah.
"Mami, apa mak Oni?" celetuk Bagaskara, membuat Ratih mencebik. Bagaskara hanya melihat semua dari tempatnya. Membiarkan istrinya melanjutkan langkahnya dengan menggerutu.
Semua terasa hangat bagi Neira. Orang-orang ini memperlakukan dirinya dengan begitu baik, seolah dirinya adalah keluarga yang sesungguhnya.
Apakah ini akan menjadi awal yang baik untuknya?
[Flashback sudah selesai. Part ini kembali di masa Neira sekarang *lihat kembali part 03*]Panas terik menyinari Jakarta siang ini, berkombinasi dengan macet dan polusi, membuat orang-orang menjadi cepat emosi dan tidak sabaran.Neira mengusap dahinya yang berkeringat dingin. Sebenarnya, tubuhnya sudah agak limbung, tapi wanita itu masih berusaha untuk bisa mengerjakan tugasnya."Lagi ramai, Nei. Tolong kerjanya lebih cepat ya!" seru salah satu rekan kerjanya yang lebih senior."Iya, Mbak." Hanya dua patah kata itu yang sanggup terlontar dari bibir tipisnya.Warung padang ini adalah tempat kerjanya yang ke sepuluh. Mulai dari menjadi jaga toko sepatu, penjaga warteg, dan bermacam-macam jenis pekerjaan yang lain, tak ada yang bertahan lebih dari satu hari. Kondisinya yang morning
Perlahan mata cantik itu mengerjap-ngerjap,menyesuaikan dengan cahaya yang masuk ke retina. Meski masih sedikit buram dan berbayang, tapi Neira mampu melihat ke sekitarnya. Hanya ada tirai-tirai putih yang mengelilingi tempat tidurnya, serta bau obat yang menyeruak masuk ke penciuman gadis itu.Kepalanya masih terasa sangat berat, tapi ia mencoba untuk bangun. Ranjang itu berderit karena tubuh Neira bergerak. Tak lama berselang, seorang perempuan berjas putih datang menyibak tirai di hadapannya."Sudah sadar?" tanya wanita itu lembut. Lalu mendekat ke arah Neira. "Masih pusing? Rebahan dulu ya, biar saya periksa lagi."Neira hanya menuruti apa yang dikatakan dokter perempuan itu."Saya di mana ya, Dok?""Di unit kesehatan kampus. Tadi kamu pingsan, jadi mahasiswa bawa kamu ke sini," ja
Tidak semua orang bersenang hati menerima kebaikan orang lain. Entah karena ego, malu, tersinggung, gengsi dan berbagai macam alasan lain. Termasuk Neira yang enggan menerima bantuan Prayoga.Butuh tenaga ekstra bagi Amanda meyakinkan Neira untuk bersedia tinggal bersamanya. Ini salah satu bentuk tukar guling dirinya dan Prayoga. Dan untungnya, setelah diskusi yang alot, gadis itu menyetujuinya. Dan Amanda sangat bersyukur akan hal itu.Tak dapat dipungkiri. Amanda, selalu gagal membujuk Prayoga untuk melanjutkan kuliahnya di Inggris, kelak saat ia lulus. Yoga selalu beralasan tidak ingin meninggalkan ibunya sendirian, tapi Amanda yakin bukan itu alasan sesungguhnya. Dan semua tebakan Amanda itu terjawab, saat malam tragedi bunuh diri Neira.Amanda masih sangat jelas mengingat peristiwa malam itu, saat Prayoga sendiri yang menawarkan diri untuk berangkat ke Inggri
Tangan Yoga bergetar hebat saat mengangkat tubuh kekasihnya. Dia linglung,melihat wajah Neira yang sudah memucat seperti mayat, bibir gadis itu sudah membiru.Terseok Prayoga membopong Neira ke mobil, meletakkan gadis itu di kursi belakang bersama Sulastri."Saya ... Saya, tidak sanggup menyetir." Ucapnya terbata, matanya nanar melihat tangannya yang bergetar hebat. Berkali-kali ia mengusap air mata. Ini pertama kali dalam hidupnya melihat langsung korban bunuh diri, apalagi orang tersebut adalah orang yang ia cintai."Biar saya aja yang menyetir, Mas. Saya supir taksi kok." Ucap salah seorang lelaki yang merupakan tetangga Neira. Prayoga hanya mengangguk pasrah, bergegas duduk di kursi depan.Awalnya, mereka membawa Neira ke klinik terdekat, tapi karena kondisi Neira yang kritis membuat Prayoga harus membawanya ke rumah
Hujan deras mengguyur Jakarta sejak subuh tadi. Hingga saat sore menjelang, hujan itu tak kunjung reda.Prayoga duduk gelisah di ruang keluarga, ada rasa tidak nyaman di hatinya. Pikirannya tertuju pada Neira, entah firasat buruk atau hanya khawatir karena pertengkaran mereka kemarin malam."Kamu kenapa?" tanya Amanda, ibunya. Wanita itu sedang menonton televisi di sebelah Yoga."Kenapa memangnya, Mah?""Gelisah begitu." Ucap Amanda cuek, sembari memasukkan keripik kentang ke mulutnya."Enggak, Yoga biasa aja." Elaknya, tapi yang terlihat justru sebaliknya. Jari tangan kirinya sedari tadi mengetuk acak gagang sofa, sedangkan tangan kanannya sibuk memutar-mutar handphone. Matanya memang mengarah ke televisi, tapi Amanda tahu persis bahwa pikiran anaknya sedang tidak di sini.
Satu suara salam memaksa tubuh lemahnya untuk bangkit dan menggapai pintu. Suara itu, milik seseorang yang dijadikan Neira sebagai alasan membatalkan aksi bunuh dirinya.Tergesa, gadis itu membuka pintu dan langsung menghambur dalam pelukan."Hai ... Kamu kenapa?"Gadis itu tidak menjawab, justru mempererat pelukannya pada pemuda yang berdiri kaku di depan pintu. Suara tangisnya teredam di dada itu.Agak ragu, pemuda itu melihat ke sekitar. Setelah memastikan tidak ada yang melihat mereka berdua, pemuda itu membalas pelukan Neira dan membelai kepala gadis itu agar tenang."Aku engga bisa hubungi kamu beberapa hari ini, jadi aku hubungi Dera._____teman sebangku Neira_____ Kata Dera, kamu udah engga sekolah empat hari. Makanya aku datang ke sini." Kata pemuda itu dengan lembut. Gadis