Share

10.

Author: Deeta Pratiwi
last update publish date: 2020-10-10 04:37:47

Tidak semua orang bersenang hati menerima kebaikan orang lain. Entah karena ego, malu, tersinggung, gengsi dan berbagai macam alasan lain. Termasuk Neira yang enggan menerima bantuan Prayoga.

Butuh tenaga ekstra bagi Amanda meyakinkan Neira untuk bersedia tinggal bersamanya. Ini salah satu bentuk tukar guling dirinya dan Prayoga. Dan untungnya, setelah diskusi yang alot, gadis itu menyetujuinya. Dan Amanda sangat bersyukur akan hal itu.

Tak dapat dipungkiri. Amanda, selalu gagal membujuk Prayoga untuk melanjutkan kuliahnya di Inggris, kelak saat ia lulus. Yoga selalu beralasan tidak ingin meninggalkan ibunya sendirian, tapi Amanda yakin bukan itu alasan sesungguhnya. Dan semua tebakan Amanda itu terjawab, saat malam tragedi bunuh diri Neira.

Amanda masih sangat jelas mengingat peristiwa malam itu, saat Prayoga sendiri yang menawarkan diri untuk berangkat ke Inggris.

"Mah, boleh Yoga minta tolong?"

"Boleh, kalau Mamah bisa bantu kenapa enggak."

"Yoga bersedia kuliah di almamater Mamah, asal Mamah berhasil bujuk Neira buat tinggal sama kita. Dia sendirian, Mah. Sebentar lagi ujian, enggak mungkin dia masih kerja. Uangnya engga akan cukup untuk makan dan sewa kontrakan."

"Deal!"

Malam itu, Amanda mengiyakan tanpa berpikir dua kali.

Sekarang, di sinilah tempat gadis itu tinggal. Di rumah Amanda bersama Prayoga.

"Jadi, kapan jadwal ikut tes kedokterannya?" tanya Prayoga di sela belajar mereka di ruang makan.

"Dua minggu lagi, sehari sebelum kita ujian."

"Oooo. Semangat ya."

"Kamu ... Jadinya, kuliah di mana?" gadis itu menggigit pensilnya, sedikit ragu untuk bertanya. Yoga sudah pernah bercerita tentang penolakannya ke Inggris. Tapi hingga saat ini, lelaki itu belum bercerita apapun tentang kampus incarannya.

"Kalau enggak diterima di UI, kamu mau ambil kuliah di mana?" alih-alih menjawab, Yoga justru melempar pertanyaan lain.

Neira mengedikkan bahu. Dia hanya bisa kuliah lewat jalur beasiswa, tak banyak pilihan untuknya menentukan kuliah di mana sesuai kata hati.

"Belum kepikiran mau coba tes di mana lagi. Kok kamu enggak jawab pertanyaanku?"

"Ke Inggris. Minggu depan aku test di sana. Karena itu Mamah besok berangkat ke sana untuk mengurus semua keperluan aku." Ucap Prayoga menutup pembicaraan antara mereka. Pemuda itu langsung menutup bukunya, dan pergi begitu saja meninggalkan Neira.

Neira hanya mengangguk perlahan. Gadis itu menggigit bibir bawahnya, ada kekecewaan saat mendengar jawaban Prayoga. Tapi sedari awal bukankah dia sudah berjanji untuk mendukung keputusan Prayoga? Bahkan sudut hatinya membenarkan keputusan Prayoga, pria itu layak mendapat pendidikan yang terbaik demi masa depannya.

***

Waktu berlalu dengan cepat. Tanpa terasa mereka telah melalui ujian akhir sekolah. Neira juga berhasil menyelesaikan test kedokterannya di Universitas Indonesia dengan sangat baik.

Dan hari ini, adalah waktu keberangkatan Prayoga ke Inggris. Hari yang dinanti oleh Amanda, tapi tak diharapkan oleh Neira.

Prayoga memeluk Amanda erat.

"Mamah bangga sama kamu,"

"Makasih, Mah. Yoga enggak akan ngecewain Mamah."

"Enggak boleh main sembarangan, pilih teman yang baik, makan tepat waktu, jangan____"

Prayoga hanya mendengung dalam pelukan Amanda, dan tersenyum.

"Jangan bergadang, tepat waktu minum vitamin, kamu______," ucapan Amanda terpotong oleh Prayoga yang meraup pipi Amanda dan mencium kening wanita itu.

"Mah, Yoga udah gede. Yoga bisa jaga diri. Yang penting Mamah harus terus sehat selama Yoga kuliah." Yoga tersenyum dan Amanda hanya mengangguk. Ia lupa, anaknya sudah dewasa.

Yoga melirik pada Neira yang sedikit jauh di belakang Amanda.

"Yoga, pamit sama Neira dulu ya, Mah?"

Sekali lagi ia mencium kening ibunya, lagi dengan senyum lebar melangkah ke arah Neira. Ia bisa melihat, di balik wajahnya yang menunduk, gadis itu sedang menahan tangis dan pura-pura tegar. Yoga langsung memeluknya. Menyembunyikan wajah Neira yang sudah memerah ke dada bidangnya.

"Aku pasti bakal kangeeeeen banget sama kamu," ucap Yoga.

Pria muda itu mengecupi puncak kepala Neira berulang kali.

"Nitip mamah, ya. Kalau bawel maklumin aja, namanya juga ibu-ibu. Tapi kalau mamah sen kanan, beloknya kiri, cubit aja ginjalnya."

Tawa kecil Neira teredam di dada bidang Yoga.

"Kamu jangan nakal." Gumam Neira, membuat Yoga terkikik geli dan mengangkat dagu gadis itu.

"Kamu tuh otaknya, overthinking mulu." Yoga mencubit gemas hidung mungil Neira, andai dia boleh memilih, pasti dia akan memilih untuk bisa kuliah di sini saja. Bersama gadisnya. "Aku usahakan sering kirim kabar, dan tiap liburan pulang. Kamu harus fokus ya kuliahnya, harus serius, jangan mikir yang aneh-aneh."

Yoga menatap dua bola mata cantik nan polos itu, bibir tipis, hidung mungil. Entah datang dari mana, tapi perasaan takut kehilangan itu tiba-tiba menghantam telak hati Prayoga. Semoga, ini bukan pertemuan terakhir dirinya dengan gadis yang sangat dicintainya ini.

Gadis manis itu tersenyum dan mengangguk. Berusaha terlihat seceria mungkin. Ia, tak ingin menjadi beban kepergian Prayoga.

Perpisahan itu akhirnya tiba. Prayoga melambaikan tangan, meninggalkan dua wanita yang paling berharga dalam hidupnya. Amanda merangkul bahu Neira, mengajak gadis itu untuk melangkah meninggalkan tempat itu. Toh, Prayoga pun sudah tak terlihat. Walau dengan berat hati, Neira mengikuti langkah Amanda. Pulang.

***

Matahari terik menyinari Jakarta siang ini. Harusnya, tadi dirinya menyetujui saat Amanda ingin mengantarnya ke UI, toh sejalan dengan tujuan Amanda. Tapi rasa sungkan yang selalu mengungkung dirinya, membuat Neira menolak secara halus tawaran Amanda. Ia lebih memilih menaiki angkot, berlanjut KRL, dan berakhir dengan menaiki ojol.

Neira menatap map di tangannya, bibirnya tersenyum lebar sampai-sampai pipinya memerah cherry. Map di tangannya itu adalah berkas terakhir yang harus dia setorkan ke fakultas kedokteran. Setelah ini, dia resmi menjadi mahasiswa FK UI.

Akhirnya, apa yang ia impikan selama ini terwujud. Harapannya untuk menjadi dokter dan membantu pengobatan orang tidak mampu, selangkah lagi akan menjadi kenyataan.

Setelah penyerahan berkas usai, ia memilih ke kantin yang tak jauh dari tempatnya berada. Sejak tiga hari lalu, ia memang merasa tidak sehat, terlebih pagi ini. Riuh mahasiswa yang sedang makan siang sedikit mengganggunya, seolah terasa sangat bising di telinga Neira. Matanya mulai berbayang.

Masuk angin, hanya itu yang ada di tebakannya saat ini. Agak sempoyongan, gadis itu memesan siomay dan juga air mineral. Semuanya tidak menjadi lebih baik,  napasnya terasa pendek dan suhu di sekitar tubuhnya terasa lebih panas dari biasanya. Neira merasa pengap.

Ia mencoba duduk tenang dan mengatur napasnya. Tapi saat siomay yang ia pesan datang, justru mual yang tidak bisa ditahan itu datang kembali seperti tadi pagi. Neira berlari ke arah toilet, dan memuntahkan semua isi perutnya di sana.

Wajahnya pasi, tubuhnya sudah lemas tidak mempunyai lagi tenaga. Bulir-bulir keringat dingin mengalir di dahi Neira. Ia menatap telapak tangannya yang bergetar.

Dengan sisa tenaga yang ia punya, Neira bergegas keluar dari toilet wanita. Namun sayang, baru saja ia membuka pintu, tubuhnya luruh. Neira, tak sadarkan diri.

Apa yang sebenarnya terjadi pada tubuhnya?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Infinity Love (Bahasa Indonesia)    12.

    [Flashback sudah selesai. Part ini kembali di masa Neira sekarang *lihat kembali part 03*]Panas terik menyinari Jakarta siang ini, berkombinasi dengan macet dan polusi, membuat orang-orang menjadi cepat emosi dan tidak sabaran.Neira mengusap dahinya yang berkeringat dingin. Sebenarnya, tubuhnya sudah agak limbung, tapi wanita itu masih berusaha untuk bisa mengerjakan tugasnya."Lagi ramai, Nei. Tolong kerjanya lebih cepat ya!" seru salah satu rekan kerjanya yang lebih senior."Iya, Mbak." Hanya dua patah kata itu yang sanggup terlontar dari bibir tipisnya.Warung padang ini adalah tempat kerjanya yang ke sepuluh. Mulai dari menjadi jaga toko sepatu, penjaga warteg, dan bermacam-macam jenis pekerjaan yang lain, tak ada yang bertahan lebih dari satu hari. Kondisinya yang morning

  • Infinity Love (Bahasa Indonesia)    11.

    Perlahan mata cantik itu mengerjap-ngerjap,menyesuaikan dengan cahaya yang masuk ke retina. Meski masih sedikit buram dan berbayang, tapi Neira mampu melihat ke sekitarnya. Hanya ada tirai-tirai putih yang mengelilingi tempat tidurnya, serta bau obat yang menyeruak masuk ke penciuman gadis itu.Kepalanya masih terasa sangat berat, tapi ia mencoba untuk bangun. Ranjang itu berderit karena tubuh Neira bergerak. Tak lama berselang, seorang perempuan berjas putih datang menyibak tirai di hadapannya."Sudah sadar?" tanya wanita itu lembut. Lalu mendekat ke arah Neira. "Masih pusing? Rebahan dulu ya, biar saya periksa lagi."Neira hanya menuruti apa yang dikatakan dokter perempuan itu."Saya di mana ya, Dok?""Di unit kesehatan kampus. Tadi kamu pingsan, jadi mahasiswa bawa kamu ke sini," ja

  • Infinity Love (Bahasa Indonesia)    10.

    Tidak semua orang bersenang hati menerima kebaikan orang lain. Entah karena ego, malu, tersinggung, gengsi dan berbagai macam alasan lain. Termasuk Neira yang enggan menerima bantuan Prayoga.Butuh tenaga ekstra bagi Amanda meyakinkan Neira untuk bersedia tinggal bersamanya. Ini salah satu bentuk tukar guling dirinya dan Prayoga. Dan untungnya, setelah diskusi yang alot, gadis itu menyetujuinya. Dan Amanda sangat bersyukur akan hal itu.Tak dapat dipungkiri. Amanda, selalu gagal membujuk Prayoga untuk melanjutkan kuliahnya di Inggris, kelak saat ia lulus. Yoga selalu beralasan tidak ingin meninggalkan ibunya sendirian, tapi Amanda yakin bukan itu alasan sesungguhnya. Dan semua tebakan Amanda itu terjawab, saat malam tragedi bunuh diri Neira.Amanda masih sangat jelas mengingat peristiwa malam itu, saat Prayoga sendiri yang menawarkan diri untuk berangkat ke Inggri

  • Infinity Love (Bahasa Indonesia)    09.

    Tangan Yoga bergetar hebat saat mengangkat tubuh kekasihnya. Dia linglung,melihat wajah Neira yang sudah memucat seperti mayat, bibir gadis itu sudah membiru.Terseok Prayoga membopong Neira ke mobil, meletakkan gadis itu di kursi belakang bersama Sulastri."Saya ... Saya, tidak sanggup menyetir." Ucapnya terbata, matanya nanar melihat tangannya yang bergetar hebat. Berkali-kali ia mengusap air mata. Ini pertama kali dalam hidupnya melihat langsung korban bunuh diri, apalagi orang tersebut adalah orang yang ia cintai."Biar saya aja yang menyetir, Mas. Saya supir taksi kok." Ucap salah seorang lelaki yang merupakan tetangga Neira. Prayoga hanya mengangguk pasrah, bergegas duduk di kursi depan.Awalnya, mereka membawa Neira ke klinik terdekat, tapi karena kondisi Neira yang kritis membuat Prayoga harus membawanya ke rumah

  • Infinity Love (Bahasa Indonesia)    08.

    Hujan deras mengguyur Jakarta sejak subuh tadi. Hingga saat sore menjelang, hujan itu tak kunjung reda.Prayoga duduk gelisah di ruang keluarga, ada rasa tidak nyaman di hatinya. Pikirannya tertuju pada Neira, entah firasat buruk atau hanya khawatir karena pertengkaran mereka kemarin malam."Kamu kenapa?" tanya Amanda, ibunya. Wanita itu sedang menonton televisi di sebelah Yoga."Kenapa memangnya, Mah?""Gelisah begitu." Ucap Amanda cuek, sembari memasukkan keripik kentang ke mulutnya."Enggak, Yoga biasa aja." Elaknya, tapi yang terlihat justru sebaliknya. Jari tangan kirinya sedari tadi mengetuk acak gagang sofa, sedangkan tangan kanannya sibuk memutar-mutar handphone. Matanya memang mengarah ke televisi, tapi Amanda tahu persis bahwa pikiran anaknya sedang tidak di sini.

  • Infinity Love (Bahasa Indonesia)    07.

    Satu suara salam memaksa tubuh lemahnya untuk bangkit dan menggapai pintu. Suara itu, milik seseorang yang dijadikan Neira sebagai alasan membatalkan aksi bunuh dirinya.Tergesa, gadis itu membuka pintu dan langsung menghambur dalam pelukan."Hai ... Kamu kenapa?"Gadis itu tidak menjawab, justru mempererat pelukannya pada pemuda yang berdiri kaku di depan pintu. Suara tangisnya teredam di dada itu.Agak ragu, pemuda itu melihat ke sekitar. Setelah memastikan tidak ada yang melihat mereka berdua, pemuda itu membalas pelukan Neira dan membelai kepala gadis itu agar tenang."Aku engga bisa hubungi kamu beberapa hari ini, jadi aku hubungi Dera._____teman sebangku Neira_____ Kata Dera, kamu udah engga sekolah empat hari. Makanya aku datang ke sini." Kata pemuda itu dengan lembut. Gadis

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status