LOGINPerlahan mata cantik itu mengerjap-ngerjap, menyesuaikan dengan cahaya yang masuk ke retina. Meski masih sedikit buram dan berbayang, tapi Neira mampu melihat ke sekitarnya. Hanya ada tirai-tirai putih yang mengelilingi tempat tidurnya, serta bau obat yang menyeruak masuk ke penciuman gadis itu.
Kepalanya masih terasa sangat berat, tapi ia mencoba untuk bangun. Ranjang itu berderit karena tubuh Neira bergerak. Tak lama berselang, seorang perempuan berjas putih datang menyibak tirai di hadapannya.
"Sudah sadar?" tanya wanita itu lembut. Lalu mendekat ke arah Neira. "Masih pusing? Rebahan dulu ya, biar saya periksa lagi."
Neira hanya menuruti apa yang dikatakan dokter perempuan itu.
"Saya di mana ya, Dok?"
"Di unit kesehatan kampus. Tadi kamu pingsan, jadi mahasiswa bawa kamu ke sini," jawab dokter yang bernama Belinda itu, terlihat dari tanda pengenal yang menggantung di lehernya. Neira meliriknya sepintas.
"Terimakasih, Dok Belinda."
"Sama-sama. Boleh, saya tanya sesuatu?" Belinda mengambil kursi, lalu duduk di sisi ranjang Neira.
Gadis itu mengangguk perlahan sebagai jawaban. Entah mengapa, tiba-tiba Neira didera rasa ketakutan. Apalagi saat Belinda menggenggam tangan kanannya.
"Kamu ... Sudah menikah?" suara Belinda tampak ragu untuk bertanya. Sedangkan Neira hanya menggeleng, disambut hembusan napas berat dari Belinda.
Belinda menggigit bibir bawahnya. Dia diam sejenak, seolah berpikir dengan cara bagaimana dia harus menyampaikan berita ini kepada gadis di hadapannya.
"Saya ... Tidak tahu, apakah ini berita baik atau justru berita buruk buat kamu. Saya hanya menyampaikan, bahwa dari hasil pemeriksaan sementara, kamu sepertinya hamil."
Shock! Neira membulatkan matanya, bibirnya terbuka, tapi tak ada sepatah katapun yang terucap dari mulutnya. Lidahnya kelu, tidak tahu harus merespon bagaimana.
Neira memalingkan wajahnya dari Belinda, ia menyembunyikan air mata yang perlahan menetes.
Belinda sudah sering menangani kasus seperti ini, mahasiswa hamil di luar nikah. "Saya bisa saja salah diagnosa. Jadi, saya buat rujukan saja ya ke rumah sakit, langsung ke poli kebidanan." Belinda mengusap sejenak bahu Neira yang memunggunginya, lalu beranjak dari tempat itu.
Gadis itu memaki dirinya sendiri. Bagaimana bisa dia lupa akan risiko ini? Bagaimana bisa dia tidak ingat kalau jadwal menstruasinya telah lewat? Benar-benar teledor.
Belinda kembali dengan selembar amplop yang ia serahkan pada Neira. Sekali lagi, Belinda mengelus bahu gadis itu dan memberikan senyum iba. "Apapun keadaannya, bayinya tidak bersalah. Jadi, tolong jangan disakiti ya."
Setelah mengucapkan itu, Belinda pergi meninggalkan Neira sendiri dalam kebisuan.
***
Malam semakin larut, hanya denting jam yang terus berbunyi menemani sunyi. Neira masih terjaga walau kini sudah pukul tiga pagi. Gadis itu mengurung diri di kamar sejak pulang dari rumah sakit sore tadi.
Lembaran kertas itu masih ia genggam, puluhan kali ia baca ulang isi kertas itu, seolah dengan begitu apa yang tertulis di kertas itu akan berubah. Sebuah hasil lab dari rumah sakit yang menyatakan bahwa dirinya positif hamil.
Puluhan testpack tergeletak di kamar mandi menunjukan hasil yang serupa, dua garis biru.
Gadis itu tidak bisa lagi menangis. Entah terlalu bingung atau justru terlalu sedih, hingga membuat air matanya mengering.
Bagaimana dengan rencana kuliahnya? Bagaimana dia harus menjelaskan kepada Prayoga dan Amanda? Bagaimana dia harus bertahan hidup di luar sana bersama bayi di perutnya?
Segala pertanyaan tentang hari esok menumpuk di benak Neira. Tak ada satupun solusi yang ia temukan.
Prayoga dan Amanda sudah terlalu baik kepadanya. Rasanya, ia tidak mampu lagi menambah beban ini kepada mereka berdua.
Apa yang harus ia lakukan?
Bunyi alarm dari ponselnya mengagetkan Neira, sudah pukul lima pagi. Ia tidak tidur sama sekali malam ini.
Gadis itu membawa tubuhnya beranjak dari ranjang. Rasa mual itu kembali menderanya. Terburu-buru Neira berlari ke arah kamar mandi, memuntahkan cairan yang tersisa di dalam perut. Saat pandangannya bertabrakan kembali dengan puluhan testpack di lantai, rasa amarah dan putus asa itu meledak dalam hatinya.
***
Dear Tante Amanda.
Sebelumnya, Neira minta maaf jika surat ini nantinya menyakiti Tante dan juga Yoga. Terpaksa Neira harus menulis surat ini, karena Nei tidak punya nyali untuk berbicara langsung kepada Tante ataupun Yoga.
Nei sangat berterimakasih atas kebaikan dan kasih sayang yang Tante berikan kepada Nei. Kalian berdua orang baik, dan tidak sepantasnya Nei tetap di sini untuk menjadi beban bagi Tante Amanda.
Neira pamit, Tante. Ada hal di luar sana yang harus Neira selesaikan, dan tidak mungkin bagi neira melibatkan Yoga dan Tante dalam masalah ini.
Neira tahu, ini akan berat untuk Prayoga. Neira juga sadar, ini mungkin akan mengganggu kuliah Yoga yang baru saja dimulai. Maafkan Neira harus mengambil keputusan ini disaat yang tidak tepat.
Sejujurnya, Neira juga ingin tetap tinggal di sini. Neira juga tidak pernah membayangkan harus mengakhiri hubungan dengan Prayoga. Tapi tolong Tante percaya, bahwa Neira melakukan semua ini demi kebaikan Tante dan Prayoga.
Ini handphone Neira hadiah dari Prayoga. Jika Tante belum siap memberitahu Prayoga atas kepergian Neira, tante bisa berpura-pura menjadi saya.
Sekali lagi, Neira berterimakasih kepada Tante dan Prayoga. Maaf beribu maaf Neira telah mengecewakan kalian berdua yang sudah begitu baik kepada Neira.
Salam sayang,
Nei_***
Neira berderai air mata saat meletakkan sepucuk surat dan sebuah handphone di atas tempat tidurnya. Semalaman gadis itu memikirkan keputusannya kali ini, ia yakin ini terbaik.
Semesta sepertinya mendukung niat kabur Neira, matahari terik tanpa hujan dan Amanda terlambat pulang karena mobilnya tiba-tiba mogok di daerah Sudirman.
Hanya dengan membawa sebuah koper, gadis itu meninggalkan rumah Amanda. Sejenak, saat berada di pintu gerbang, Neira menoleh kembali ke belakang, pada rumah yang telah menampungnya beberapa bulan lamanya. Dalam hati, Neira terus melafalkan kata maaf untuk Amanda dan Prayoga.
Taksi telah menjemputnya. Walau enggan, tapi Neira tidak punya pilihan lain, ia harus ke tempat itu. Tempat di mana semua kisah ini dimulai.
"Tidak apa-apa. Tuhan tahu aku kuat dan bisa melewati semua ini."
________________________________________Funfact : Aku lagi nungguin bintang lima dan juga komen dari kamu, rasanya kayak nungguin mantan berantem sama gebetan barunya. Hikksss galau dan lama :(
[Flashback sudah selesai. Part ini kembali di masa Neira sekarang *lihat kembali part 03*]Panas terik menyinari Jakarta siang ini, berkombinasi dengan macet dan polusi, membuat orang-orang menjadi cepat emosi dan tidak sabaran.Neira mengusap dahinya yang berkeringat dingin. Sebenarnya, tubuhnya sudah agak limbung, tapi wanita itu masih berusaha untuk bisa mengerjakan tugasnya."Lagi ramai, Nei. Tolong kerjanya lebih cepat ya!" seru salah satu rekan kerjanya yang lebih senior."Iya, Mbak." Hanya dua patah kata itu yang sanggup terlontar dari bibir tipisnya.Warung padang ini adalah tempat kerjanya yang ke sepuluh. Mulai dari menjadi jaga toko sepatu, penjaga warteg, dan bermacam-macam jenis pekerjaan yang lain, tak ada yang bertahan lebih dari satu hari. Kondisinya yang morning
Perlahan mata cantik itu mengerjap-ngerjap,menyesuaikan dengan cahaya yang masuk ke retina. Meski masih sedikit buram dan berbayang, tapi Neira mampu melihat ke sekitarnya. Hanya ada tirai-tirai putih yang mengelilingi tempat tidurnya, serta bau obat yang menyeruak masuk ke penciuman gadis itu.Kepalanya masih terasa sangat berat, tapi ia mencoba untuk bangun. Ranjang itu berderit karena tubuh Neira bergerak. Tak lama berselang, seorang perempuan berjas putih datang menyibak tirai di hadapannya."Sudah sadar?" tanya wanita itu lembut. Lalu mendekat ke arah Neira. "Masih pusing? Rebahan dulu ya, biar saya periksa lagi."Neira hanya menuruti apa yang dikatakan dokter perempuan itu."Saya di mana ya, Dok?""Di unit kesehatan kampus. Tadi kamu pingsan, jadi mahasiswa bawa kamu ke sini," ja
Tidak semua orang bersenang hati menerima kebaikan orang lain. Entah karena ego, malu, tersinggung, gengsi dan berbagai macam alasan lain. Termasuk Neira yang enggan menerima bantuan Prayoga.Butuh tenaga ekstra bagi Amanda meyakinkan Neira untuk bersedia tinggal bersamanya. Ini salah satu bentuk tukar guling dirinya dan Prayoga. Dan untungnya, setelah diskusi yang alot, gadis itu menyetujuinya. Dan Amanda sangat bersyukur akan hal itu.Tak dapat dipungkiri. Amanda, selalu gagal membujuk Prayoga untuk melanjutkan kuliahnya di Inggris, kelak saat ia lulus. Yoga selalu beralasan tidak ingin meninggalkan ibunya sendirian, tapi Amanda yakin bukan itu alasan sesungguhnya. Dan semua tebakan Amanda itu terjawab, saat malam tragedi bunuh diri Neira.Amanda masih sangat jelas mengingat peristiwa malam itu, saat Prayoga sendiri yang menawarkan diri untuk berangkat ke Inggri
Tangan Yoga bergetar hebat saat mengangkat tubuh kekasihnya. Dia linglung,melihat wajah Neira yang sudah memucat seperti mayat, bibir gadis itu sudah membiru.Terseok Prayoga membopong Neira ke mobil, meletakkan gadis itu di kursi belakang bersama Sulastri."Saya ... Saya, tidak sanggup menyetir." Ucapnya terbata, matanya nanar melihat tangannya yang bergetar hebat. Berkali-kali ia mengusap air mata. Ini pertama kali dalam hidupnya melihat langsung korban bunuh diri, apalagi orang tersebut adalah orang yang ia cintai."Biar saya aja yang menyetir, Mas. Saya supir taksi kok." Ucap salah seorang lelaki yang merupakan tetangga Neira. Prayoga hanya mengangguk pasrah, bergegas duduk di kursi depan.Awalnya, mereka membawa Neira ke klinik terdekat, tapi karena kondisi Neira yang kritis membuat Prayoga harus membawanya ke rumah
Hujan deras mengguyur Jakarta sejak subuh tadi. Hingga saat sore menjelang, hujan itu tak kunjung reda.Prayoga duduk gelisah di ruang keluarga, ada rasa tidak nyaman di hatinya. Pikirannya tertuju pada Neira, entah firasat buruk atau hanya khawatir karena pertengkaran mereka kemarin malam."Kamu kenapa?" tanya Amanda, ibunya. Wanita itu sedang menonton televisi di sebelah Yoga."Kenapa memangnya, Mah?""Gelisah begitu." Ucap Amanda cuek, sembari memasukkan keripik kentang ke mulutnya."Enggak, Yoga biasa aja." Elaknya, tapi yang terlihat justru sebaliknya. Jari tangan kirinya sedari tadi mengetuk acak gagang sofa, sedangkan tangan kanannya sibuk memutar-mutar handphone. Matanya memang mengarah ke televisi, tapi Amanda tahu persis bahwa pikiran anaknya sedang tidak di sini.
Satu suara salam memaksa tubuh lemahnya untuk bangkit dan menggapai pintu. Suara itu, milik seseorang yang dijadikan Neira sebagai alasan membatalkan aksi bunuh dirinya.Tergesa, gadis itu membuka pintu dan langsung menghambur dalam pelukan."Hai ... Kamu kenapa?"Gadis itu tidak menjawab, justru mempererat pelukannya pada pemuda yang berdiri kaku di depan pintu. Suara tangisnya teredam di dada itu.Agak ragu, pemuda itu melihat ke sekitar. Setelah memastikan tidak ada yang melihat mereka berdua, pemuda itu membalas pelukan Neira dan membelai kepala gadis itu agar tenang."Aku engga bisa hubungi kamu beberapa hari ini, jadi aku hubungi Dera._____teman sebangku Neira_____ Kata Dera, kamu udah engga sekolah empat hari. Makanya aku datang ke sini." Kata pemuda itu dengan lembut. Gadis