Share

09.

Penulis: Deeta Pratiwi
last update Tanggal publikasi: 2020-09-28 17:43:37

Tangan Yoga bergetar hebat saat mengangkat tubuh kekasihnya. Dia linglung, melihat wajah Neira yang sudah memucat seperti mayat, bibir gadis itu sudah membiru.

Terseok Prayoga membopong Neira ke mobil, meletakkan gadis itu di kursi belakang bersama Sulastri.

"Saya ... Saya, tidak sanggup menyetir." Ucapnya terbata, matanya nanar melihat tangannya yang bergetar hebat. Berkali-kali ia mengusap air mata. Ini pertama kali dalam hidupnya melihat langsung korban bunuh diri, apalagi orang tersebut adalah orang yang ia cintai.

"Biar saya aja yang menyetir, Mas. Saya supir taksi kok." Ucap salah seorang lelaki yang merupakan tetangga Neira. Prayoga hanya mengangguk pasrah, bergegas duduk di kursi depan.

Awalnya, mereka membawa Neira ke klinik terdekat, tapi karena kondisi Neira yang kritis membuat Prayoga harus membawanya ke rumah sakit.

Waktu berlalu menjadi malam, Prayoga masih setia menunggu di depan ruangan ICU.

Ia membuka handphone-nya dan sedikit bisa tersenyum saat melihat rentetan pesan dan telepon tak terjawab dari Amanda.

"Assalamualaikum, Mah."

Prayoga berdiri bersandar pada dinding, satu tangannya ia sembunyikan di saku celana untuk menahan dingin. Mata pemuda itu tak lepas mengamati Neira dari jendela kaca.

"Wa'alaikum salam, kamu di mana? Kok baru kasih kabar?"

Yoga melirik jam tangannya, sudah pukul 22.00 wib. Pantas saja ibunya mengomel.

"Maaf Mah baru kasih kabar. Yoga di Siloam."

"Hah? Siloam rumah sakit maksud kamu?"

"Iya."

"Kamu kenapa? Kecelakaan? Nabrak orang?" terdengar nada panik dari Amanda.

"Yoga baik-baik aja, Mah. Enggak usah khawatir."

"Kalau baik-baik saja, ngapain di sana malam-malam begini?"

Yoga menghembuskan napas lelah, matanya nanar melihat gadis di dalam sana. Tanpa sadar jemarinya mengukir nama Neira di jendela kaca.

"Yoga jagain Neira. Mamah tidur aja, besok pagi Yoga pulang kok."

Lama tak ada jawaban dari Amanda.

"Ma ...?"

"Tunggu di situ."

"Enggak usah ke sini, Mah. Semua baik, Yoga juga enggak akan macam-macam."

"TUNGGU-DI-SITU!" kata Amanda penuh penekanan.

Yoga menggeleng perlahan, memangnya selama ini siapa yang bisa membantah keinginan nyonya besar?

"Baiklah yang Mulia Ratu." Jawab Prayoga pasrah, dan Amanda mematikan panggilannya.

Prayoga kembali terduduk di kursinya. Memikirkan kembali apa yang terjadi kemarin antara dirinya dan Neira. Harusnya hari itu dia menghilangkan egonya dan tidak berdebat dengan gadisnya. Harusnya ia lebih paham bahwa Neira saat itu sedang terpuruk dan tidak stabil. Prayoga menyesali semuanya. Tapi semua sudah terlambat.

Satu setengah jam berlalu, Prayoga dikagetkan oleh sentuhan lembut di kelapanya. Ia tertidur rupanya.

"Mah ..." Prayoga mengucek matanya. Melihat ibunya yang sudah duduk di sampingnya.

"Yoga ketiduran ya?" tanya Prayoga dengan suara serak. Amanda hanya menganggukkan  kepala, lalu menyodorkan bungkusan makanan siap saji ke hadapan putranya.

"Yoga enggak lapar, Mah." Baru saja ia berucap, tapi perut Yoga berbunyi mengkhianati pemiliknya. Prayoga hanya bisa menggaruk kepalanya. "Hehehe ..."

"Kalau kamu enggak lapar, ya sudah. Tapi cacing piaraan kamu kelaparan tuh, Mamah sih lebih kasian ke cacing kamu. Iya enggak Mang Ujang?" Amanda meletakkan bungkusan itu di atas pangkuan Prayoga. Dan melihat ke arah mang Ujang penuh intimidasi.

Mang Ujang menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan serba salah. "Iya Mas, kasian nanti cacingnya demo."

Kalau sudah mang Ujang yang dibawa-bawa, Yoga menyerah. Kasian kalau sampai supirnya itu kena imbas padahal tidak tahu apa-apa.

Yoga mulai memakan burger-nya.

"Neira-nya mana?" tanya Amanda, melongok ke kanan dan ke kiri.

Yoga mengarahkan dagunya ke depan, ke arah ruang ICU. "Di dalam."

"Ayahnya yang sakit?"

Yoga menggeleng lemah.

"Jadi, Neira yang sakit?"

Yoga mengangguk.

"Terus, ayahnya mana? Pulang?"

Yoga menggeleng lagi. Amanda jadi gemas sendiri melihat tingkah Prayoga.

"Kamu itu, Ga ... Mulut kamu kan enggak penuh. Bisa dong jawab Mamah. Udah kayak boneka lampu merah aja kamu, geleng-angguk-geleng-angguk." Sewot Amanda, ibu Prayoga itu cemberut, mengibaskan kipasnya dengan kesal.

"Ayahnya udah meninggal, Mah. Beberapa hari yang lalu."

"Innalillahi." Amanda reflek membekap mulutnya sendiri.

"Yoga di sini, karena Neira sore tadi bunuh diri."

"Astagfirullah, padahal Mamah lihat Neira anak yang tangguh ya, Ga." Amanda mengelus lembut punggung anaknya, ia paham Prayoga pasti juga terpukul atas kejadian ini. Enam tahun anaknya bersama gadis itu, rasa takut akan ditinggal mati pasti menghantui Prayoga.

"Iya, Mah. Yoga juga enggak pernah menyangka Neira bakal nekat kayak gini. Yoga tadi takut banget dia bakal mati, Mah." Prayoga merebahkan kepalanya di pangkuan ibunya. Meletakkan bebannya sejenak di sana. Dia juga butuh ditenangkan.

"Sabar, Sayang. Kamu harus kuat biar bisa kasih semangat ke Neira, ya," Amanda membelai rambut putra semata wayangnya. "sekarang bagaimana keadaan Neira?"

Prayoga mendesah sedih. Ia bangkit lalu berjalan mendekat ke kaca jendela ruang ICU. Amanda mengikuti anaknya, dan mengikuti arah pandangan Prayoga pada sosok di dalam sana.

"Udah lewat masa kritisnya, Mah. Neira kehilangan banyak darah. Kata dokter, telat sedikit saja mungkin____ dia udah enggak tertolong." Yoga tertunduk sedih.

Amanda menepuk-nepuk bahu putranya. "Yang penting saat ini Neira sudah aman, kan."

Prayoga mengangguk.

"Mah ... Yoga boleh minta sesuatu ke Mamah?"

"Apa?"

Yoga mulai menceritakan pertengkaran dirinya dengan Neira kemarin malam. Tentang gadis itu yang sudah tidak memiliki tempat tinggal, tentang bagaimana Neira menolak segala bantuan Prayoga.

Malam bergulir semakin larut dan hujan kian deras. Amanda memutuskan untuk pulang bersama mang Ujang, dan meninggalkan Prayoga sendirian di rumah sakit.

Ia masih berdiri di sana, di balik jendela kaca menatap gadisnya. "Kamu harus bertahan. Aku tahu kamu gadis kuat. Kamu enggak sendirian di dunia ini, ada aku yang akan selalu di sisi kamu."

Ditemani bising suara hujan dan desiran angin malam yang dingin, Prayoga larut dalam do'a-do'anya untuk Neira. Semoga semua duka ini bisa terlewati.

_________________________________________

FUNFACT : Amanda yang tak lain adalah ibu Prayoga itu dulunya seorang model lh

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Infinity Love (Bahasa Indonesia)    12.

    [Flashback sudah selesai. Part ini kembali di masa Neira sekarang *lihat kembali part 03*]Panas terik menyinari Jakarta siang ini, berkombinasi dengan macet dan polusi, membuat orang-orang menjadi cepat emosi dan tidak sabaran.Neira mengusap dahinya yang berkeringat dingin. Sebenarnya, tubuhnya sudah agak limbung, tapi wanita itu masih berusaha untuk bisa mengerjakan tugasnya."Lagi ramai, Nei. Tolong kerjanya lebih cepat ya!" seru salah satu rekan kerjanya yang lebih senior."Iya, Mbak." Hanya dua patah kata itu yang sanggup terlontar dari bibir tipisnya.Warung padang ini adalah tempat kerjanya yang ke sepuluh. Mulai dari menjadi jaga toko sepatu, penjaga warteg, dan bermacam-macam jenis pekerjaan yang lain, tak ada yang bertahan lebih dari satu hari. Kondisinya yang morning

  • Infinity Love (Bahasa Indonesia)    11.

    Perlahan mata cantik itu mengerjap-ngerjap,menyesuaikan dengan cahaya yang masuk ke retina. Meski masih sedikit buram dan berbayang, tapi Neira mampu melihat ke sekitarnya. Hanya ada tirai-tirai putih yang mengelilingi tempat tidurnya, serta bau obat yang menyeruak masuk ke penciuman gadis itu.Kepalanya masih terasa sangat berat, tapi ia mencoba untuk bangun. Ranjang itu berderit karena tubuh Neira bergerak. Tak lama berselang, seorang perempuan berjas putih datang menyibak tirai di hadapannya."Sudah sadar?" tanya wanita itu lembut. Lalu mendekat ke arah Neira. "Masih pusing? Rebahan dulu ya, biar saya periksa lagi."Neira hanya menuruti apa yang dikatakan dokter perempuan itu."Saya di mana ya, Dok?""Di unit kesehatan kampus. Tadi kamu pingsan, jadi mahasiswa bawa kamu ke sini," ja

  • Infinity Love (Bahasa Indonesia)    10.

    Tidak semua orang bersenang hati menerima kebaikan orang lain. Entah karena ego, malu, tersinggung, gengsi dan berbagai macam alasan lain. Termasuk Neira yang enggan menerima bantuan Prayoga.Butuh tenaga ekstra bagi Amanda meyakinkan Neira untuk bersedia tinggal bersamanya. Ini salah satu bentuk tukar guling dirinya dan Prayoga. Dan untungnya, setelah diskusi yang alot, gadis itu menyetujuinya. Dan Amanda sangat bersyukur akan hal itu.Tak dapat dipungkiri. Amanda, selalu gagal membujuk Prayoga untuk melanjutkan kuliahnya di Inggris, kelak saat ia lulus. Yoga selalu beralasan tidak ingin meninggalkan ibunya sendirian, tapi Amanda yakin bukan itu alasan sesungguhnya. Dan semua tebakan Amanda itu terjawab, saat malam tragedi bunuh diri Neira.Amanda masih sangat jelas mengingat peristiwa malam itu, saat Prayoga sendiri yang menawarkan diri untuk berangkat ke Inggri

  • Infinity Love (Bahasa Indonesia)    09.

    Tangan Yoga bergetar hebat saat mengangkat tubuh kekasihnya. Dia linglung,melihat wajah Neira yang sudah memucat seperti mayat, bibir gadis itu sudah membiru.Terseok Prayoga membopong Neira ke mobil, meletakkan gadis itu di kursi belakang bersama Sulastri."Saya ... Saya, tidak sanggup menyetir." Ucapnya terbata, matanya nanar melihat tangannya yang bergetar hebat. Berkali-kali ia mengusap air mata. Ini pertama kali dalam hidupnya melihat langsung korban bunuh diri, apalagi orang tersebut adalah orang yang ia cintai."Biar saya aja yang menyetir, Mas. Saya supir taksi kok." Ucap salah seorang lelaki yang merupakan tetangga Neira. Prayoga hanya mengangguk pasrah, bergegas duduk di kursi depan.Awalnya, mereka membawa Neira ke klinik terdekat, tapi karena kondisi Neira yang kritis membuat Prayoga harus membawanya ke rumah

  • Infinity Love (Bahasa Indonesia)    08.

    Hujan deras mengguyur Jakarta sejak subuh tadi. Hingga saat sore menjelang, hujan itu tak kunjung reda.Prayoga duduk gelisah di ruang keluarga, ada rasa tidak nyaman di hatinya. Pikirannya tertuju pada Neira, entah firasat buruk atau hanya khawatir karena pertengkaran mereka kemarin malam."Kamu kenapa?" tanya Amanda, ibunya. Wanita itu sedang menonton televisi di sebelah Yoga."Kenapa memangnya, Mah?""Gelisah begitu." Ucap Amanda cuek, sembari memasukkan keripik kentang ke mulutnya."Enggak, Yoga biasa aja." Elaknya, tapi yang terlihat justru sebaliknya. Jari tangan kirinya sedari tadi mengetuk acak gagang sofa, sedangkan tangan kanannya sibuk memutar-mutar handphone. Matanya memang mengarah ke televisi, tapi Amanda tahu persis bahwa pikiran anaknya sedang tidak di sini.

  • Infinity Love (Bahasa Indonesia)    07.

    Satu suara salam memaksa tubuh lemahnya untuk bangkit dan menggapai pintu. Suara itu, milik seseorang yang dijadikan Neira sebagai alasan membatalkan aksi bunuh dirinya.Tergesa, gadis itu membuka pintu dan langsung menghambur dalam pelukan."Hai ... Kamu kenapa?"Gadis itu tidak menjawab, justru mempererat pelukannya pada pemuda yang berdiri kaku di depan pintu. Suara tangisnya teredam di dada itu.Agak ragu, pemuda itu melihat ke sekitar. Setelah memastikan tidak ada yang melihat mereka berdua, pemuda itu membalas pelukan Neira dan membelai kepala gadis itu agar tenang."Aku engga bisa hubungi kamu beberapa hari ini, jadi aku hubungi Dera._____teman sebangku Neira_____ Kata Dera, kamu udah engga sekolah empat hari. Makanya aku datang ke sini." Kata pemuda itu dengan lembut. Gadis

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status