LOGINAdena Sasikirana Arundati,nama cantik yang diberikan kakeknya pada saat kelahirannya. Dena merupakan cucu kesayangan kakek dari semua cucunya. Dan Dena juga yang ditulis dalam surat wasiat kakeknya untuk menikah dengan cucu sahabatnya yaitu dokter muda tampan bernama Sakti. Padahal usia Dena baru delapan belas tahun sedangkan Sakti usianya dua belas tahun lebih tua daripada Dena. oh tidakkkk.. Bagaimana kekonyolan dan juga romantisme yang tercipta diantara keduanya. Dena yang tomboy dan juga manja lalu Sakti yang sedikit cuek tapi mesum.
View MoreSetelah pulang sekolah rupanya Dena masih ada les tambahan lagi, karena gurunya beberapa hari lalu absen jadi hari ini dia pulang lebih sore.Dena segera menelepon Sakti mengabarkan kalau ia akan ke Rumah Sakit mengganti perbannya tapi sedikit terlambat.Selesai Les tambahan, Dena bersiap-siap pulang."Na ... lengan kamu kenapa ? berantem lagi ?," tanya Gavin yang tiba-tiba sudah ada di Samping Dena."Oh ... ini jatuh terus kena gores dikit aja kok," ucap Dena berbohong karena tidak ingin membuat Gavin semakin banyak bertanya."Lain kali hati-hati, kamu kadang terlalu grusa-grusu," nasehat Gavin khawatir yang membuat senyum Dena mengembang."Aku antar kamu pulang ya ? kayaknya tadi kamu naik Ojol," tawar dan tanya Gavin."Enggak usah vin ... Ojolnya udah nunggu di depan," ucap Dena dengan halus menolak ajakan Gavin, karena ia juga harus ke Rumah Sakit.
Dena tiba dirumah. Setelah membuka helmnya dirapikannya rambutnya dan mencoba bersikap biasa saat Bunda menyongsongnya. Ayah dan nenek sudah siap. Sedangkan Abangnya masih lembur jadi belum pulang."Kok lama na ?" tanya bundanya sambil mendekati Dena.Dena mundur karena tidak ingin bundanya tahu dia sedang terluka."Bun … Dena masuk kamar dulu ya siap-siap," ucap Dena lalu berlari ke kamarnya." Cepat na … jangan lama-lama !" teriak ayahnya yang hanya di balas acungan jempol oleh Dena.Saat di kamar Dena segera menguncinya karena takut tiba-tiba bundanya masuk.Segera dibersihkan badannya dan juga lukanya dengan Air hangat di kamar mandi. Dena meringis menahan sakit. Ini belum seberapa seperti yang dialami abangnya yang juga pernah terluka parah saat menyelamatkan seseorang. Saat itu abangnya kena sabetan pisau di perutnya. Dena , Kakek dan juga nenek yang mengantarnya ke rumah saki
Akhirnya Gavin mengikuti Dena untuk makan siang. Dena menelpon Bundanya sekedar mengabari kalau ia makan siang di luar karena sudah terlalu lapar. Gavin memandang semua gerak gerik Dena dengan senyum.Dena pernah menolong Gavin saat dia dikeroyok oleh anak-anak dari tim sebelah karena tidak terima dengan kekalahan mereka. Dena yang cantik kelihatan garang sekali saat menghajar para pengeroyoknya. Diam-diam Gavin mulai menyukai Dena."Kamu makan kok malah melamun sih." Tegur Dena pada Gavin yang malah memperhatikannya bukannya makan. Sebenarnya Dena salah tingkah diperhatikan begitu. Apalagi diam-diam dia menyukai Gavin, cowok tampan kapten tim Sepak Bola Sekolah yang menjadi incaran cewek-cewek di sekolah."Kamu makannya lahap sekali,benar-benar lapar ya ?" tanya Gavin basa basi karena malu ketahuan memandang Dena."Aku lapar sekali, tadi pagi buru-buru jadi cuma makan roti sama minum air putih sa
~Sakti Pov~Akhirnya aku menyetujui keinginan Kakek setelah mendengar keputusan Lana yang tidak ingin melepas karirnya dan menjadi wanita yang akan selalu menungguku pulang ke rumah.Rasanya berat melepas Lana mengingat kami berpacaran cukup lama. Empat tahun bukan waktu yang singkat,dengan gaya pacaran sembunyi sembunyi. Aku selalu mengajaknya menikah tapi selalu karir dan kontrak yang diberatkannya. Belum lagi pertemuan kami yang bisa dihitung dengan jari jika dia sedang sibuk syuting atau pemotretan. Aku memakluminya dan berusaha sabar menantinya. Tapi pada akhirnya aku kalah, aku tak bisa menunggunya lagi ditambah permintaan Kakek membuatku harus benar benar melepaskannya.Lana masih menelponku, memohon agar aku tidak meninggalkannya. Dia juga datang ke Rumah Sakit dan menunggu di ruanganku, meminta padaku agar tetap di sisinya. Ia memelukku mencoba menawar hatiku. Tapi keputusanku sudah bulat. Lana pergi dengan janji