Share

Terluka

Author: Amira Tantri
last update publish date: 2020-09-18 16:29:34

Dena tiba dirumah. Setelah membuka helmnya dirapikannya rambutnya dan mencoba bersikap biasa saat Bunda menyongsongnya. Ayah dan nenek sudah siap. Sedangkan Abangnya masih lembur jadi belum pulang.

"Kok lama na ?" tanya bundanya sambil mendekati Dena.

Dena mundur karena tidak ingin bundanya tahu dia sedang terluka.

"Bun … Dena masuk kamar dulu ya siap-siap," ucap Dena lalu berlari ke kamarnya.

" Cepat na … jangan lama-lama !" teriak ayahnya yang hanya di balas acungan jempol oleh Dena.

Saat di kamar Dena segera menguncinya karena takut tiba-tiba bundanya masuk.

Segera dibersihkan badannya dan juga lukanya dengan Air hangat di kamar mandi. Dena meringis menahan sakit. Ini belum seberapa seperti yang dialami abangnya yang juga pernah terluka parah saat menyelamatkan seseorang. Saat itu abangnya kena sabetan pisau di perutnya. Dena , Kakek dan juga nenek yang mengantarnya ke rumah sakit tanpa memberitahu Bunda, walaupun pada akhirnya Bunda tahu. Dirinya juga pernah terluka sebelumnya. Bunda yang mengetahui anak-anaknya terluka pingsan dan pada akhirnya melarang semua kegiatan Dena di luar jam sekolah. Bahkan Bunda mengikuti kemanapaun ia pergi. Tiap malam terkadang Bunda mengigau ketakutan anak-anaknya terluka. Hal inilah yang membuat Dena memilih menyembunyikan sakitnya.

Selesai mandi Dena mengambil perban. Rencananya ia akan ke Dokter tapi menunggu waktu yang tepat di sela-sela makan malam keluarga. Dena tidak ingin hadir tapi pasti bunda akan bertanya panjang lebar.

Selesai membalut lukanya seadanya dan berpakaian, dena memakai jaket kulitnya yang berbentuk seperti cardigan untuk menutupi lengannya.

Dena berjalan keluar kamar. Bundanya tersenyum melihatnya. Walau gaya pakaian Dena sangat tidak feminim tapi tetap saja cantik digunakan oleh Dena.

Ayah dan nenek sudah menunggu di mobil. Segera setelah Dena dan Bundanya naik, mobil pun bergerak menuju rumah Kakek Bayu.

Keluarga Sakti menyambut bahagia kedatangan keluarga Dena. Kakek Bayu seperti biasa menyapa dan menyalami Dena dengan hangat. Dena memutar bola matanya mencari sosok Sakti yang sedari tadi tidak dilihatnya.

"Maaf Sakti sedang dalam perjalanan dari Rumah Sakit, maklum tadi ada jadwal operasi," ucap Tante Nina yang dibalas anggukan Bunda.

Dena duduk diam tak banyak bicara, sepertinya ia harus segera  Ke Rumah Sakit.

"Assalamualaikum," satu suara menginterupsi obrolan seru para orang tua.

"Waalaikumsalam … udah pulang nak," ujar tante Nina menyambut putranya.

Dena memandang Sakti, walau terlihat lelah dengan kemeja yang digulung dan rambut yang sedikit berantakan tapi Sakti terlihat tampan. Batin dena dengan beraninya mengoreksi penampilan Sakti.

Sakti berjalan menghampiri Mamanya. Mencium tangannya lalu menyalami keluarga Dena.

"Maaf, saya permisi ke kamar dulu, silahkan makan malam dulu nanti saya menyusul" ucap sakti meminta izin untuk sekedar mandi atau berganti pakaian. Sakti berlalu ke kamar yang diikuti ekor mata Dena.

"Bunda … Dena mau bicara sama Mas Sakti, boleh Dena nyusul Mas sakti ? ucap Dena pada bundanya karena dia memerlukan Sakti saat ini.

"Gak baik bicara berduaan, kan belum nikah," ucap bunda Dena keberatan.

"Sebentar aja bunda, penting sekali," ucap Dena menawar

"Sudahlah jeng gak apa-apa,mungkin Dena mau bicara penting," ucap tante Nina pada bunda Dena yang akhirnya mengijinkan.

"Kamar sakti di lantai dua,sebelah kanan ujung," ucap tante Nina.

"Ayo jeng kita makan malam dulu, nanti kalau nunggu Sakti pasti lama apalagi Dena juga mau bicara dengannya," ucap tante Nina mengajak Bunda Dena ke ruang makan yang diikuti yang lain.

Dena segera naik ke lantai dua karena kamar sakti di atas. setelah menemukannya Dena mengetuknya tapi tidak ada jawaban. Karena lama akhirnya Dena memberanikan diri masuk. Dan kosong, tapi terdengar suara air di kamar mandi, menandakan Sakti sedang mandi. Dena menunggu dengan menahan sakit pada lengannya.

Sakti keluar kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk. Melihat siapa yang duduk di ranjang sambil memandangnya membuatnya kaget. Tapi Dena lebih kaget lagi melihat Sakti yang hanya menggunakan handuk dan menampilkan tubuhnya yang atletis idaman para wanita -wanita dewasa, ditambah lagi rambutnya yang basah dan titik-titik air yang masih ada di tubuhnya membuat Dena menelan ludahnya melupakan sejenak rasa sakitnya.

"Siapa yang suruh kamu masuk kamar !, enggak pakai permisi lagi".Sakti menegur Dena yang seenaknya masuk kamarnya.

Dena masih melongo.

"Ditanya kok gak dijawab," tahu-tahu Sakti sudah berada di depan Dena, wajah mereka sangat dekat sekali Sampai-sampai Dena bisa merasakan nafas Sakti. Dena segera menarik kepalanya.

"mm...maaf mas, aku tadi sudah mengetuk pintu tapi mas Sakti enggak dengar," ujar Dena memberi alasan.

"Mas pakai baju dulu sana," ucap Dena lalu menutup wajahnya karena malu yang hanya ditanggapi senyum oleh Sakti yang segera mengambil pakaiannya dan berlalu menuju kamar mandi lagi.

"Nah … kamu bisa buka tanganmu aku sudah berpakaian," ucap Sakti yang sudah selesai berpakaian dan duduk di samping Dena.

Dena segera membuka tangannya yang menutupi wajahnya. Dilihatnya Sakti sudah berpakaian, celana pendek selutut dipadukan dengan kaos putih dengan membuatnya terlihat makin tampan. Ditambah wangi parfumnya yang lembut membuat Dena seperti terhionotis.

Sakti tersenyum manis pada Dena memperlihatkan lesung pipinya. Tampan batin dena menilai.

"Jadi, ada apa kamu mencariku adik kecil ?" tanya sakti karena heran tiba-tiba saja gadis cantik calon istrinya ini muncul di kamarnya.

"Mhmm … begini, Mas Sakti kan Dokter," ucap Dena ragu-ragu. Sakti menunggu.

"Pak Dokter bisa obatin lukaku ?" tanya Dena pada akhirnya yang membuat sakti mengernyitkan keningnya tanda bingung dengan permintaan Dena.

"Memangnya kamu terluka ? kenapa ?" tanya sakti beruntun. Bukannya menjawab Dena malah membuka cardigannya menunjukkan lengannya yang ia perban dengan darah yang membasahinya. Sakti kaget melihatnya.

"Kamu kenapa bisa begini ? enggak mencoba bunuh diri kan gara-gara perjodohan ? sakti bertanya dengan nada kaget bercampur khawatir.

"Idih ... Pak Dokter apa-apan sih, siapa juga mau bunuh diri, dosa tau ...." cetus Dena. "Nanti saja aku ceritakan sambil Pak Dokter obatin ya, aku udah kesakitan ini ," ucap Dena sambil meringis.

Sakti segera mengambil peralatannya. Sambil sakti mengobatinya, Dena menceritakan kejadian yang menyebabkan ia terluka. Karena tidak dalam lukanya jadi sakti hanya menghentikan pendarahannya, membersihkannya lagi walaupun Dena sudah membersihkannya, setalah itu ia mengoleskan antibiotik kemudian membalutnya. Sakti juga memberikan obat untuk Dena.

"Besok kamu ke Rumah Sakit biar aku ganti perbannya," ucap Sakti sambil membelai pelan rambut Dena dan ia menyukai apa yang dilakukan Sakti.

"Makasih Pak Dokter," ucap Dena memberi hormat.

"Tapi jangan bilang Bunda ya,nanti Bunda khawatir," ucap Dena meminta tolong pada Sakti.

"Baiklah ... tapi lain kali kalau pulang malam telpon saja biar aku jemput ya," tawar Sakti pada Dena karena dia juga mengkhawatirkan calon istri kecilnya yang cantik.

"Hmmm ... kalau dijemput gitu entar jangan bilang ya kalau Pak Dokter calon suamiku," ucap Dena dengan mimik lucu.

"Emang kenapa ? takut si kapten Sepak Bola itu tahu ya ?". canda Sakti yang dibalas pelototan Dena.

"Ayo turun nanti Bunda kamu nyariin," ujar Sakti sambil melangkah keluar dan diikuti Dena dibelakangnya.

Rupanya para Orang Tua sudah selesai makan, Sakti dan Dena menghampiri mereka di ruang keluarga.

"Ngobrolnya lama banget sih, emangnya apa yang dibicarakan ?" tanya tante Nina Mama Sakti mulai Kepo.

"Ada yang lagi curhat ma," ucap Sakti yang langsung dibalas pelototan kesal Adena. Semua yang melihat interaksi keduanya tertawa senang, setidaknya mereka berdua tidak canggung.

"Hmmm ....boleh enggak Dena bicara". Tiba - tiba Adena mengutarakan ingin mengatakan sesuatu.

"Kamu mau bicara apa sayang....?" tanya mama Sakti pada Dena.

"Gini .... pernikahan ini terlalu cepat buat Dena, kalau boleh setelah menikah Dena masih ingin tinggal di rumah Ayah sama Bunda, apalagi Dena masih sekolah". Dena menarik nafasnya sejenak sebelum melanjutkan. " Maafkan Dena kakek dan juga semua kalau permintaan Dena membuat kalian Enggak suka," ucap Dena lega setelah mengungkapkan keinginannya yang sudah dipikirkannya.

"Iya sayang Kakek paham, kamu boleh tetap tinggal dirumah Ayah sama bundamu, tapi nafkah kamu Sakti yang tanggung. Dan juga kalau bisa sesekali kamu juga harus menginap disini," ucap Kakek Sakti bijak yang langsung dibalas senyum lega Dena.

"Tapi setelah kamu tamat sekolah maka kita bicarakan lagi," Lanjut Kakek kembali yang dibalas anggukan Dena.

Baik papa maupun Mama dari Sakti tidak keberatan dengan permintaan Dena.

Dena meliril sekilas pada Sakti yang menatapnya sambil tersenyum. Senyum yang membuat kaum perempuan pasti langsung jatuh cinta. Tapi saat ini di pikiran Dena masih ada Gavin.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jodoh Wasiat Kakek   Oh No !

    Setelah pulang sekolah rupanya Dena masih ada les tambahan lagi, karena gurunya beberapa hari lalu absen jadi hari ini dia pulang lebih sore.Dena segera menelepon Sakti mengabarkan kalau ia akan ke Rumah Sakit mengganti perbannya tapi sedikit terlambat.Selesai Les tambahan, Dena bersiap-siap pulang."Na ... lengan kamu kenapa ? berantem lagi ?," tanya Gavin yang tiba-tiba sudah ada di Samping Dena."Oh ... ini jatuh terus kena gores dikit aja kok," ucap Dena berbohong karena tidak ingin membuat Gavin semakin banyak bertanya."Lain kali hati-hati, kamu kadang terlalu grusa-grusu," nasehat Gavin khawatir yang membuat senyum Dena mengembang."Aku antar kamu pulang ya ? kayaknya tadi kamu naik Ojol," tawar dan tanya Gavin."Enggak usah vin ... Ojolnya udah nunggu di depan," ucap Dena dengan halus menolak ajakan Gavin, karena ia juga harus ke Rumah Sakit.

  • Jodoh Wasiat Kakek   Terluka

    Dena tiba dirumah. Setelah membuka helmnya dirapikannya rambutnya dan mencoba bersikap biasa saat Bunda menyongsongnya. Ayah dan nenek sudah siap. Sedangkan Abangnya masih lembur jadi belum pulang."Kok lama na ?" tanya bundanya sambil mendekati Dena.Dena mundur karena tidak ingin bundanya tahu dia sedang terluka."Bun … Dena masuk kamar dulu ya siap-siap," ucap Dena lalu berlari ke kamarnya." Cepat na … jangan lama-lama !" teriak ayahnya yang hanya di balas acungan jempol oleh Dena.Saat di kamar Dena segera menguncinya karena takut tiba-tiba bundanya masuk.Segera dibersihkan badannya dan juga lukanya dengan Air hangat di kamar mandi. Dena meringis menahan sakit. Ini belum seberapa seperti yang dialami abangnya yang juga pernah terluka parah saat menyelamatkan seseorang. Saat itu abangnya kena sabetan pisau di perutnya. Dena , Kakek dan juga nenek yang mengantarnya ke rumah saki

  • Jodoh Wasiat Kakek   Adena

    Akhirnya Gavin mengikuti Dena untuk makan siang. Dena menelpon Bundanya sekedar mengabari kalau ia makan siang di luar karena sudah terlalu lapar. Gavin memandang semua gerak gerik Dena dengan senyum.Dena pernah menolong Gavin saat dia dikeroyok oleh anak-anak dari tim sebelah karena tidak terima dengan kekalahan mereka. Dena yang cantik kelihatan garang sekali saat menghajar para pengeroyoknya. Diam-diam Gavin mulai menyukai Dena."Kamu makan kok malah melamun sih." Tegur Dena pada Gavin yang malah memperhatikannya bukannya makan. Sebenarnya Dena salah tingkah diperhatikan begitu. Apalagi diam-diam dia menyukai Gavin, cowok tampan kapten tim Sepak Bola Sekolah yang menjadi incaran cewek-cewek di sekolah."Kamu makannya lahap sekali,benar-benar lapar ya ?" tanya Gavin basa basi karena malu ketahuan memandang Dena."Aku lapar sekali, tadi pagi buru-buru jadi cuma makan roti sama minum air putih sa

  • Jodoh Wasiat Kakek   Si Tomboy

    ~Sakti Pov~Akhirnya aku menyetujui keinginan Kakek setelah mendengar keputusan Lana yang tidak ingin melepas karirnya dan menjadi wanita yang akan selalu menungguku pulang ke rumah.Rasanya berat melepas Lana mengingat kami berpacaran cukup lama. Empat tahun bukan waktu yang singkat,dengan gaya pacaran sembunyi sembunyi. Aku selalu mengajaknya menikah tapi selalu karir dan kontrak yang diberatkannya. Belum lagi pertemuan kami yang bisa dihitung dengan jari jika dia sedang sibuk syuting atau pemotretan. Aku memakluminya dan berusaha sabar menantinya. Tapi pada akhirnya aku kalah, aku tak bisa menunggunya lagi ditambah permintaan Kakek membuatku harus benar benar melepaskannya.Lana masih menelponku, memohon agar aku tidak meninggalkannya. Dia juga datang ke Rumah Sakit dan menunggu di ruanganku, meminta padaku agar tetap di sisinya. Ia memelukku mencoba menawar hatiku. Tapi keputusanku sudah bulat. Lana pergi dengan janji

  • Jodoh Wasiat Kakek   Pertemuan

    ~Dena Pov~Hari ini keluarga Kakek Bayu akan datang melamarku. Aku pada akhirnya menuruti pesan dalam surat Wasiat Kakek. Setelah seharian memikirkan sampai enggak mau makan dan dengan mata bengkak karena terlalu banyak menangis aku menyetujui surat Wasiat Kakek. Aku berubah pikiran setelah Abang mengajakku jalan jalan dengan motor gedenya. Aku menangis sampai puas di pinggir pantai dengan dipeluk abang yang selalu bisa menenangkan hatiku. Abang menasehatiku panjang lebar seperti halnya nenek menasehatiku. Abang meyakinkanku bahwa semua akan baik-baik saja karena Almarhum Kakek tidak mungkin membuatmu menderita dengan pesannya.Aku hanya berpakaian dan berdandan dengan dandanan natural. Bunda memaksaku memakai rok yang selama ini tidak pernah aku pakai. Rasanya canggung sekali,Abang pun sempat tertawa tapi pada akhirnya memujiku habis habisan setelah dijitak Bunda. Mataku masih sedikit bengkak karena sembab."Ayo sayang..tamunya sud

  • Jodoh Wasiat Kakek   Prolog Sakti dan Adena

    Nenek mengumpulkan kami sekeluarga. Tante Mila dan juga Suaminya. Nenek mengatakan setelah empat puluh hari kematian kekek surat wasiatnya akan dibacakan.Pengacara keluarga juga sudah hadir. Pembacaan surat Wasiat pun segera dilakukan. Dalam surat Wasiat Kakek, semua Aset kekayaan yang dimiliki kakek dibagi rata antara Ayah dan Tante Mila Kakak Ayah. Tidak ada yang protes karena bagi mereka surat Wasiat Kakek sudah cukup jelas dan adil.Sebelum selesai masih ada satu poin lagi yaitu wasiat kakek untuk Ayah. Dalam Surat Wasiatnya Kakek berpesan bahwa jika Ayah yaitu anak laki lakinya mempunyai seorang putri maka harus dinikahkan dengan cucu sahabatnya yang pernah menolongnya saat mulai merintis usaha hingga menjadi sukses. Pengacara juga menyerahkan satu kotak merah kecil yang ternyata berisi cincin. Yang menurut Nenek itu adalah cincin yang diberikan sahabat Kakek jika suatu saat Kakek sudah memiliki cucu perempuan dari anak laki lakinya maka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status