Share

Pertemuan

Author: Amira Tantri
last update publish date: 2020-09-18 07:37:36

~Dena Pov~

Hari ini keluarga Kakek Bayu akan datang melamarku. Aku pada akhirnya menuruti pesan dalam surat Wasiat Kakek. Setelah seharian memikirkan sampai enggak mau makan dan dengan mata bengkak karena terlalu banyak menangis aku menyetujui surat Wasiat Kakek. Aku berubah pikiran setelah Abang mengajakku jalan jalan dengan motor gedenya. Aku menangis sampai puas di pinggir pantai dengan dipeluk abang yang selalu bisa menenangkan hatiku. Abang menasehatiku panjang lebar seperti halnya nenek menasehatiku. Abang meyakinkanku bahwa semua akan baik-baik saja karena Almarhum Kakek tidak mungkin membuatmu menderita dengan pesannya.

Aku hanya berpakaian dan berdandan dengan dandanan natural. Bunda memaksaku memakai rok yang selama ini tidak pernah aku pakai. Rasanya canggung sekali,Abang pun sempat tertawa tapi pada akhirnya memujiku habis habisan setelah dijitak Bunda. Mataku masih sedikit bengkak karena sembab.

"Ayo sayang..tamunya sudah datang".Bunda masuk kamar dan melihatku lalu memelukku dengan sayang.

"Bunda yakin...Nak Sakti bisa membahagiakan kamu," ucap Bunda menguatkanku dan menyebut nama seseorang yang aku yakini kalau nama itulah yang akan menjadi calon suamiku. Aku mulai menangis lagi.

"Idih..sang juara taekwondo kalau nangis ngeri ya,Bunda saja takut". Bunda menghapus air mataku dengan bercanda.

Kami segera keluar kamar menuju ruang tamu. Semua mata memandang ke arahku dan Bunda ketika kami tiba. Aku jadi salah tingkah. Seorang pria yang sudah tua menyambut dan memegang tanganku,aku yakin inilah Kakek Bayu karena Nenek pernah menunjukkan fotonya saat bersama Kakek.

"Anak cantik,apa kabarmu ? dulu kamu masih kecil sekali saat diajak Almarhum Kakekmu. Sekarang sudah menjelma menjadi gadis yang sangat cantik". Kakek Bayu menyalami tanganku dengan hangat yang aku balas dengan senyum manis. Kakek Bayu seperti Almarhum Kakek yang ramah dan hangat.

Setelah semua duduk,netraku melihat ke seorang pria yang duduk disebelah Kakek Bayu. Pria yang gagah dan tampan batinku,tapi terlihat sangat pendiam. Apakah Pria ini yang akan dijodohkan denganku ? batinku bertanya tanya.

Setelah sambutan dari Ayah,giliran Kakek Bayu yang bicara.

"Kadatangan kami disini selain untuk melamar sekaligus kami Ingin agar Nak Dena dan juga Sakti bisa tukar Cincin. Saya dulu pernah menitipkan cincin pada Almarhum Damar,yang akan diberikan pada cucu perempuan dari anak laki lakinya saat usianya sudah mencapai delapan belas tahun" Kakek Bayu Mewakili keluarganya melamarku. Aku pikir hanya pertemuan dan perkenalan saja ternyata Kakek Bayu ingin aku dan Cucunya bertunangan.

"Dena...ini Sakti cucu Kakek, kamu bisa panggil dia Mas Sakti. kalau Kakek hitung jarak usia kalian dua belas tahun," ucap Kakek Bayu melanjutkan yang membuat aku sukses melongo. Menikah dengan pak tua oh tidakk...

Nenek mengangsurkan cincin yang pernah diberikan Kakek Bayu pada Bunda agar diberikan pada Sakti untuk dipasangkan di jari manisku. Sedangkan untuk Mas Sakti, Nenek mengambil cincin milik Almarhum Kakek yang selalu disimpannya.

Tanganku gemetar saat tangan mas Sakti menggenggamnya. Cincin dimasukkan ke jari manisku lalu gantian aku yang menyematkan cincin di jari manis  Mas Sakti. Kami sudah bertunangan. Dia tersenyum sekali saja selesai aku memasangkan cincin di jarinya. Senyum yang sangat manis walau sepertinya terpaksa. Mungkin dia juga terpaksa menerima perjodohan ini.

Pernikahan kami akan dilaksanakan satu minggu lagi. Terasa sangat cepat sekali. Aku hendak protes pada Ayah karena aku masih belum tamat sekolah, tapi Bunda mencegahku karena pasti Nenek akan kecewa. Aku memandang Mas Sakti yang juga sedang menatapku. Kami tak bisa berkata apapun. Akhirnya hanya bisa mengiyakan.

Selesai semuanya, Bunda mengajak keluarga Mas Sakti untuk menyantap hidangan yang telah disiapkan di ruang makan kami yang memiliki gaya outdoor, sehingga makan sambil menikmati taman kecil yang asri kesayangan Nenek.

Kulihat Mas Sakti melangkah menuju taman dan duduk di bangku di samping kolam ikan. Aku mengikutinya karena ingin tau kenapa dia menerima perjodohan ini. Mengapa di usianya ini dia belum menikah? Banyak pertanyaan yang ingin kuajukan.

"Boleh aku duduk di samping Mas Sakti ?" tanyaku ketika sudah duduk berada di depannya

"Sini duduklah," ucapnya sambil menepuk bangku disampingnya agar aku duduk disitu.

"Mas Sakti...mengapa tidak menolak perjodohan ini ?" tanyaku ketika sudah duduk di sampingnya

Hening sesaat...

"Lalu mengapa Mas juga belum menikah di usia yang tak lagi muda ? Apa Mas Sakti enggak punya pacar ?" tanyaku beruntun karena dia tak kunjung menjawab.

Mas Sakti menyilangkan tangan di dadanya. Menarik nafas sejenak dan memandangku. Aku menjadi salah tingkah dipandang begitu. Aku segera memandang ke depan lagi menghindari tatapannya.

"Kenapa harus ditolak kaau calonnya secantik ini" Jawaban Mas Sakti membuat pipiku bersemu merah.

"Aku ingin membahagiakan Kakek dan Nenek di usia senjanya,setidaknya jika beliu pergi nanti perjanjian yang ia buat bersama Kakekmu sudah dilaksanakannya".Mas Sakti melanjutkan setelah membuat aku tersipu.

"Aku belum menikah di usiaku ini karena aku menunggumu datang". Mas Sakti menjawab satu pertanyaanku lagi dengan jawaban yang membuat aku kembali tersipu.

"Hahaha...kamu percaya?" tiba tiba saja ia tertawa pelan membuatku kesal.

"Aku belum menikah karena terlalu sibuk, sehingga tak ada wanita yang mau kuajak kencan. Karena aku selalu membatalkan janji jika ada Pasien gawat darurat yang tiba tiba harus ku operasi".Mas Sakti menjawab sambil tersenyum, sepertinya ia mengerjaiku lagi dengan kata-katanya.

"Lalu Kamu mengapa mau menerima perjodohan ini dan menikah dengan laki laki tua sepertiku?".giliran Mas Sakti yang bertanya padaku.

"Aku tidak bisa menolak, Kakek menulisnya di surat Wasiatnya. Aku tidak bisa bilang tidak," Jawabku dengan pikiran menerawang.

Mas Sakti terdiam menunggu aku kembali berbicara.

"Aku tidak tau kalau Mas Sakti dua belas tahun lebih tua dariku,aku pikir aku dijodohkan dengan pemuda seusiaku,rasanya hidupku kacau. Aku tidak bisa melirik atau pacaran dengan kapten tim Sepak Bola kalau sudah bertunangan begini dan sebentar lagi menikah " Ucapku sambil memukul pelan kepalaku tanda aku tak bisa terima semuanya.

Mas Sakti hanya tertawa pelan mendengar ocehanku dipikir aku badut ya.

"Kita masih bertunangan belum menikah,aku tidak akan mengekangmu. Aku janji kamu boleh lakukan apapun sesukamu selama itu tidak mencemarkan nama baik keluarga," ucap Mas Sakti sambil tersenyum manis sekali. Aku melongo melihatnya.

"Jangan memandangku terlalu lama nanti kamu bisa jatuh cinta dan gagal rencanamu untuk mendapatkan Kapten tim Sepak Bola sekolahmu." Canda Mas Sakti yang aku balas dengan pelototan.

"Adik kecil,kita ikuti saja apa yang menjadi keputusan keluarga. Aku akan belajar mencintaimu dan berusaha menjagamu dengan segala yang aku bisa. Dan belajarlah juga mencintaiku. Jika tidak bisa juga atau nanti engkau tak bahagia maka aku akan melepaskanmu kepada seseorang yang lebih bisa menjagamu. Setidaknya kita sudah menjalankan wasiat Kakekmu dan juga apa yang menjadi keinginan Kakekku," ucap Mas Sakti sambil mengacak acak rambutku.

"Anggap aku seperti abangmu sehingga engkapun tak akan sungkan jika ingin bicara," ucap Mas sakti lagi lalu beranjak menuju keluarganya. Aku memandang punggungnya,lelaki yang akan menjadi suamiku sesuai Wasiat Kakek.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jodoh Wasiat Kakek   Oh No !

    Setelah pulang sekolah rupanya Dena masih ada les tambahan lagi, karena gurunya beberapa hari lalu absen jadi hari ini dia pulang lebih sore.Dena segera menelepon Sakti mengabarkan kalau ia akan ke Rumah Sakit mengganti perbannya tapi sedikit terlambat.Selesai Les tambahan, Dena bersiap-siap pulang."Na ... lengan kamu kenapa ? berantem lagi ?," tanya Gavin yang tiba-tiba sudah ada di Samping Dena."Oh ... ini jatuh terus kena gores dikit aja kok," ucap Dena berbohong karena tidak ingin membuat Gavin semakin banyak bertanya."Lain kali hati-hati, kamu kadang terlalu grusa-grusu," nasehat Gavin khawatir yang membuat senyum Dena mengembang."Aku antar kamu pulang ya ? kayaknya tadi kamu naik Ojol," tawar dan tanya Gavin."Enggak usah vin ... Ojolnya udah nunggu di depan," ucap Dena dengan halus menolak ajakan Gavin, karena ia juga harus ke Rumah Sakit.

  • Jodoh Wasiat Kakek   Terluka

    Dena tiba dirumah. Setelah membuka helmnya dirapikannya rambutnya dan mencoba bersikap biasa saat Bunda menyongsongnya. Ayah dan nenek sudah siap. Sedangkan Abangnya masih lembur jadi belum pulang."Kok lama na ?" tanya bundanya sambil mendekati Dena.Dena mundur karena tidak ingin bundanya tahu dia sedang terluka."Bun … Dena masuk kamar dulu ya siap-siap," ucap Dena lalu berlari ke kamarnya." Cepat na … jangan lama-lama !" teriak ayahnya yang hanya di balas acungan jempol oleh Dena.Saat di kamar Dena segera menguncinya karena takut tiba-tiba bundanya masuk.Segera dibersihkan badannya dan juga lukanya dengan Air hangat di kamar mandi. Dena meringis menahan sakit. Ini belum seberapa seperti yang dialami abangnya yang juga pernah terluka parah saat menyelamatkan seseorang. Saat itu abangnya kena sabetan pisau di perutnya. Dena , Kakek dan juga nenek yang mengantarnya ke rumah saki

  • Jodoh Wasiat Kakek   Adena

    Akhirnya Gavin mengikuti Dena untuk makan siang. Dena menelpon Bundanya sekedar mengabari kalau ia makan siang di luar karena sudah terlalu lapar. Gavin memandang semua gerak gerik Dena dengan senyum.Dena pernah menolong Gavin saat dia dikeroyok oleh anak-anak dari tim sebelah karena tidak terima dengan kekalahan mereka. Dena yang cantik kelihatan garang sekali saat menghajar para pengeroyoknya. Diam-diam Gavin mulai menyukai Dena."Kamu makan kok malah melamun sih." Tegur Dena pada Gavin yang malah memperhatikannya bukannya makan. Sebenarnya Dena salah tingkah diperhatikan begitu. Apalagi diam-diam dia menyukai Gavin, cowok tampan kapten tim Sepak Bola Sekolah yang menjadi incaran cewek-cewek di sekolah."Kamu makannya lahap sekali,benar-benar lapar ya ?" tanya Gavin basa basi karena malu ketahuan memandang Dena."Aku lapar sekali, tadi pagi buru-buru jadi cuma makan roti sama minum air putih sa

  • Jodoh Wasiat Kakek   Si Tomboy

    ~Sakti Pov~Akhirnya aku menyetujui keinginan Kakek setelah mendengar keputusan Lana yang tidak ingin melepas karirnya dan menjadi wanita yang akan selalu menungguku pulang ke rumah.Rasanya berat melepas Lana mengingat kami berpacaran cukup lama. Empat tahun bukan waktu yang singkat,dengan gaya pacaran sembunyi sembunyi. Aku selalu mengajaknya menikah tapi selalu karir dan kontrak yang diberatkannya. Belum lagi pertemuan kami yang bisa dihitung dengan jari jika dia sedang sibuk syuting atau pemotretan. Aku memakluminya dan berusaha sabar menantinya. Tapi pada akhirnya aku kalah, aku tak bisa menunggunya lagi ditambah permintaan Kakek membuatku harus benar benar melepaskannya.Lana masih menelponku, memohon agar aku tidak meninggalkannya. Dia juga datang ke Rumah Sakit dan menunggu di ruanganku, meminta padaku agar tetap di sisinya. Ia memelukku mencoba menawar hatiku. Tapi keputusanku sudah bulat. Lana pergi dengan janji

  • Jodoh Wasiat Kakek   Pertemuan

    ~Dena Pov~Hari ini keluarga Kakek Bayu akan datang melamarku. Aku pada akhirnya menuruti pesan dalam surat Wasiat Kakek. Setelah seharian memikirkan sampai enggak mau makan dan dengan mata bengkak karena terlalu banyak menangis aku menyetujui surat Wasiat Kakek. Aku berubah pikiran setelah Abang mengajakku jalan jalan dengan motor gedenya. Aku menangis sampai puas di pinggir pantai dengan dipeluk abang yang selalu bisa menenangkan hatiku. Abang menasehatiku panjang lebar seperti halnya nenek menasehatiku. Abang meyakinkanku bahwa semua akan baik-baik saja karena Almarhum Kakek tidak mungkin membuatmu menderita dengan pesannya.Aku hanya berpakaian dan berdandan dengan dandanan natural. Bunda memaksaku memakai rok yang selama ini tidak pernah aku pakai. Rasanya canggung sekali,Abang pun sempat tertawa tapi pada akhirnya memujiku habis habisan setelah dijitak Bunda. Mataku masih sedikit bengkak karena sembab."Ayo sayang..tamunya sud

  • Jodoh Wasiat Kakek   Prolog Sakti dan Adena

    Nenek mengumpulkan kami sekeluarga. Tante Mila dan juga Suaminya. Nenek mengatakan setelah empat puluh hari kematian kekek surat wasiatnya akan dibacakan.Pengacara keluarga juga sudah hadir. Pembacaan surat Wasiat pun segera dilakukan. Dalam surat Wasiat Kakek, semua Aset kekayaan yang dimiliki kakek dibagi rata antara Ayah dan Tante Mila Kakak Ayah. Tidak ada yang protes karena bagi mereka surat Wasiat Kakek sudah cukup jelas dan adil.Sebelum selesai masih ada satu poin lagi yaitu wasiat kakek untuk Ayah. Dalam Surat Wasiatnya Kakek berpesan bahwa jika Ayah yaitu anak laki lakinya mempunyai seorang putri maka harus dinikahkan dengan cucu sahabatnya yang pernah menolongnya saat mulai merintis usaha hingga menjadi sukses. Pengacara juga menyerahkan satu kotak merah kecil yang ternyata berisi cincin. Yang menurut Nenek itu adalah cincin yang diberikan sahabat Kakek jika suatu saat Kakek sudah memiliki cucu perempuan dari anak laki lakinya maka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status