Mag-log inAkhirnya Gavin mengikuti Dena untuk makan siang. Dena menelpon Bundanya sekedar mengabari kalau ia makan siang di luar karena sudah terlalu lapar. Gavin memandang semua gerak gerik Dena dengan senyum.
Dena pernah menolong Gavin saat dia dikeroyok oleh anak-anak dari tim sebelah karena tidak terima dengan kekalahan mereka. Dena yang cantik kelihatan garang sekali saat menghajar para pengeroyoknya. Diam-diam Gavin mulai menyukai Dena.
"Kamu makan kok malah melamun sih." Tegur Dena pada Gavin yang malah memperhatikannya bukannya makan. Sebenarnya Dena salah tingkah diperhatikan begitu. Apalagi diam-diam dia menyukai Gavin, cowok tampan kapten tim Sepak Bola Sekolah yang menjadi incaran cewek-cewek di sekolah.
"Kamu makannya lahap sekali,benar-benar lapar ya ?" tanya Gavin basa basi karena malu ketahuan memandang Dena.
"Aku lapar sekali, tadi pagi buru-buru jadi cuma makan roti sama minum air putih saja, Istirahat tadi juga enggak sempat ke kantin. Aku menyalin catatan kemarin dan juga tugas-tugas kemarin yang belum aku kerjakan biar enggak menumpuk," ucap dena lalu mulai menyuapkan lagi nasi rendang ke mulutnya.
"Kamu bukan hanya kemarin enggak masuk, tapi sudah dua hari kamu enggak masuk. Memangnya kamu kemarin kemana kok enggak masuk ?" tanya Gavin yang membuat Dena tersedak. Gavin sampai tahu berapa hari dia gak masuk dan mengingat lamaran membuat Dena tersedak. Dia baru ingat kalau sudah bertunangan.
" I...itu...Aku ada acara keluarga, makanya dirumah sibuk". Bohong Dena, padahal satu harian dia menangis dan satu hari lagi adalah pertunangannya.
"Kamu makannya cepat, kan entar sore ada pertandingan biar bisa istirahat dan juga mempersiapkan tenaga," ucap Dena mengalihkan pembicaraan mereka.
Tiba-tiba saja tangan Gavin terulur hendak memegang bibir Dena. diperlakukan begitu Dena tentu saja kaget dan refleks menarik kepalanya. Gavin hanya tersenyum.
"Ada nasi tu disamping bibir kamu, idih...kamu makannya lahap sekali sampai belepotan begitu". canda Gavin pada Dena yang dibalas tawa renyah Dena sambil membersihkan bibirnya.
Gavin menikmati tawa Dena.
"Kamu jangan mmemandangku terlalu lama entar naksir lo," ucap Dena bercanda
"Kalau aku naksir sama kamu emang boleh ?" tanya Gavin tiba-tiba yang membuat Dena kaget, tapi berusaha tetap bersikap biasa.
"Wkwkwk...Kalau kamu naksir sama aku yang ada aku bakalan dimusuhi sama cewek-cewek cantik yang ngejar-ngejar kamu," ucap Dena bercanda walau hatinya senang mendengar pengakuan Gavin.
" Ayo cepat makannya aku mau balik nih...nanti Bunda ngomel kalau kelamaan," ucap Dena pada akhirnya.
Selesai makan dan membayar Dena dan Gavin berjalan keluar dari restoran.
"Vin..aku naik ojol aja, kamu balik aja deh," ucap Dena pada akhirnya karena dia merasa Gavin akan kesorean kalau mengantarnya lagi.
"Enggak apa-apa biar aku antar dulu," ucap Gavin bersikeras.
"Beneran enggak usah,aku balik sama ojol aja. Lain waktu kita jalan-jalan deh," ucap Adena memberi penawaran agar Gavin tak terlalu memaksa.
"Oke deh, tap kamu kamu janji ya,?". Gavin mencari kepastian dari ucapan Dena yang dijawab mengangkat dua jarinya.
Akhirnya Gavin pergi.
Dena segera membuka aplikasi untuk memesan ojol. tapi belum sempat memesan bundanya kembali menelpon.
"Iya Bunda," ucap Dena begitu panggilannya tersambung.
"kamu dimana sayang, sudah selesai belum makannya ? kok belum sampai rumah juga ?" Tanya Bunda di seberang.
"Ini mau mesen ojol, eh Bunda nelpon," Jawab Adena atas pertanyaan Bundanya lewat benda pipih dalam genggamannya.
"Ya sudah hati-hati, jangan kemana mana lagi. Nanti sore kamu ada latihan terus entar malam kita dapat undangan makan malam dirumah Tante Nina mamanya Sakti." Bunda Dena mulai berbicara panjang tanpa jeda.
"Iya Bunda sayang Dena ngerti. Tepelonnya Dena tutup dulu ya, gimana mau cepat pulang kalau Bunda ngobrol terus." Dena membalas ucapan Bundanya yang langsung tertawa di seberang.
Telpon dimatikan setelah Dena mengucapkan salam. Makan malam dengan calon mertuanya. Ketemu pak tua tampan lagi dong,batin Dena.
Segera dipesannya ojol. Setelah menunggu beberapa saat akhirnya ojol pesanannya datang. Dena segera naik dan pulang kerumah. Pasti Bunda sudah menunggunya. Ayah dan Abangnya masih di kantor.
****************
Sore harinya Dena sudah ada di tempat latihan. Latihan rutin yang harus selalu dilakukannya. Awalnya Dena kecil hanya mengikuti Abangnya, tapi pada akhirnya dia juga tertarik dan merengek pada Bundanya untuk di daftarkan. Tentu saja Bundanya tidak setuju karena tidak ingin anak gadis satu-satunya Berlatih keras begitu. Tapi dasarnya Dena keras kepala. Maka secara diam-diam ia ikut latihan Apalagi saat itu ia di dukung almarhum Kakeknya. Sang Kakek yang selalu mengantar Dena latihan dan membiayai latihannya. Saat keluar rumah alasan kakeknya adalah mau mengajaknya jalan-jalan. Jika teringat itu semua Dena selalu menangis. Terkenang kakeknya yang begitu menyayanginya kadang membuat Dena tak bisa membendung air matanya."Woi … kok melamun sih". Nathan teman latihan Dena tiba - tiba saja sudah mengagetkannya.
"Gak apa-apa bro, ingat Kakek," ucap Dena karena ia tau Nathan pun mengenal kakeknya.
"Kakek baik ya na, kita dulu sering ditraktir makan kalau habis latihan," ucap Nathan kembali mengingat kenangan bersama kakek Damar.
"Udah ah … kamu malah buat aku tambah sedih," ucap Dena sambil menarik tangan Nathan agar segera memasuki ruang latihan.
Selesai latihan Dena segera menuju parkiran mengambil motornya dan segara memacunya dengan lumayan kencang karena Bunda sudah menelponnya agar cepat. Malam ini mereka ada janjian makan malam.
Saat di jalan yang agak sepi motornya dipepet. Sepertinya orang itu berniat jahat.
Dena tetap memacu motornya tapi sekonyong -konyongnya motornya ditendang dengan kuat dari samping membuatnya terjatuh dengan keras.
Sepertinya tangannya terluka karena mencoba menahan tubuhnya. Tapi Dena segera berdiri.
"Serahin barang-barang berharga yang kamu punya !" bentak pria bertopeng. Dena hanya diam tak menanggapi.
Karena tak ada respon si pria maju hendak mengambil tas Dena, karena dipikirnya Dena pasti takut.
Saat tangan penjahat itu hendak memegangnya segera dipelintirnya dan dengan gerakan cepat Dena menendangnya. Dena menghajar penjahat itu tanpa ampun, tapi tiba-tiba saja penjahat itu mengeluarkan pisau dan menyerang Dena dengan membabi buta. Dan pada akhirnya mengenai lengan Dena yang saat itu memang tidak mengenakan jaket hanya kaos saja. lengannya terkena sabetan, darah segar mengalir.
Secepat kilat Dena berusaha melumpuhkan dan membuat pisau lawannya jatuh. Setelah itu ia kembali menghajar lawannya tanpa mempedulikan sakit pada lengannya. Karena sadar lawannya tangguh, akhirnya penjahat itu segera buru-buru mengambil motornya dan kabur. Tinggallah Dena sendiri yang juga segera mengambil motornya yang berada dalam posisi jatuh sambil menahan sakit di lengannya.
Dena mengambil jaketnya dan memakainya, jaket kulitnya cukup tebal. Setidaknya Bundanya tidak melihat lengannya yang berdarah. Jika sampai Bunda tahu maka jangan harap Dena bisa pergi latihan atau keluar sendiri seenaknya. Dena juga takut Bundanya pingsan melihatnya terluka. Dengan menahan rasa sakit pada lengannya dena mengendarai motornya pulang.
********
Makasih dah mampir baca,LOVE YOU ALL READERS
Setelah pulang sekolah rupanya Dena masih ada les tambahan lagi, karena gurunya beberapa hari lalu absen jadi hari ini dia pulang lebih sore.Dena segera menelepon Sakti mengabarkan kalau ia akan ke Rumah Sakit mengganti perbannya tapi sedikit terlambat.Selesai Les tambahan, Dena bersiap-siap pulang."Na ... lengan kamu kenapa ? berantem lagi ?," tanya Gavin yang tiba-tiba sudah ada di Samping Dena."Oh ... ini jatuh terus kena gores dikit aja kok," ucap Dena berbohong karena tidak ingin membuat Gavin semakin banyak bertanya."Lain kali hati-hati, kamu kadang terlalu grusa-grusu," nasehat Gavin khawatir yang membuat senyum Dena mengembang."Aku antar kamu pulang ya ? kayaknya tadi kamu naik Ojol," tawar dan tanya Gavin."Enggak usah vin ... Ojolnya udah nunggu di depan," ucap Dena dengan halus menolak ajakan Gavin, karena ia juga harus ke Rumah Sakit.
Dena tiba dirumah. Setelah membuka helmnya dirapikannya rambutnya dan mencoba bersikap biasa saat Bunda menyongsongnya. Ayah dan nenek sudah siap. Sedangkan Abangnya masih lembur jadi belum pulang."Kok lama na ?" tanya bundanya sambil mendekati Dena.Dena mundur karena tidak ingin bundanya tahu dia sedang terluka."Bun … Dena masuk kamar dulu ya siap-siap," ucap Dena lalu berlari ke kamarnya." Cepat na … jangan lama-lama !" teriak ayahnya yang hanya di balas acungan jempol oleh Dena.Saat di kamar Dena segera menguncinya karena takut tiba-tiba bundanya masuk.Segera dibersihkan badannya dan juga lukanya dengan Air hangat di kamar mandi. Dena meringis menahan sakit. Ini belum seberapa seperti yang dialami abangnya yang juga pernah terluka parah saat menyelamatkan seseorang. Saat itu abangnya kena sabetan pisau di perutnya. Dena , Kakek dan juga nenek yang mengantarnya ke rumah saki
Akhirnya Gavin mengikuti Dena untuk makan siang. Dena menelpon Bundanya sekedar mengabari kalau ia makan siang di luar karena sudah terlalu lapar. Gavin memandang semua gerak gerik Dena dengan senyum.Dena pernah menolong Gavin saat dia dikeroyok oleh anak-anak dari tim sebelah karena tidak terima dengan kekalahan mereka. Dena yang cantik kelihatan garang sekali saat menghajar para pengeroyoknya. Diam-diam Gavin mulai menyukai Dena."Kamu makan kok malah melamun sih." Tegur Dena pada Gavin yang malah memperhatikannya bukannya makan. Sebenarnya Dena salah tingkah diperhatikan begitu. Apalagi diam-diam dia menyukai Gavin, cowok tampan kapten tim Sepak Bola Sekolah yang menjadi incaran cewek-cewek di sekolah."Kamu makannya lahap sekali,benar-benar lapar ya ?" tanya Gavin basa basi karena malu ketahuan memandang Dena."Aku lapar sekali, tadi pagi buru-buru jadi cuma makan roti sama minum air putih sa
~Sakti Pov~Akhirnya aku menyetujui keinginan Kakek setelah mendengar keputusan Lana yang tidak ingin melepas karirnya dan menjadi wanita yang akan selalu menungguku pulang ke rumah.Rasanya berat melepas Lana mengingat kami berpacaran cukup lama. Empat tahun bukan waktu yang singkat,dengan gaya pacaran sembunyi sembunyi. Aku selalu mengajaknya menikah tapi selalu karir dan kontrak yang diberatkannya. Belum lagi pertemuan kami yang bisa dihitung dengan jari jika dia sedang sibuk syuting atau pemotretan. Aku memakluminya dan berusaha sabar menantinya. Tapi pada akhirnya aku kalah, aku tak bisa menunggunya lagi ditambah permintaan Kakek membuatku harus benar benar melepaskannya.Lana masih menelponku, memohon agar aku tidak meninggalkannya. Dia juga datang ke Rumah Sakit dan menunggu di ruanganku, meminta padaku agar tetap di sisinya. Ia memelukku mencoba menawar hatiku. Tapi keputusanku sudah bulat. Lana pergi dengan janji
~Dena Pov~Hari ini keluarga Kakek Bayu akan datang melamarku. Aku pada akhirnya menuruti pesan dalam surat Wasiat Kakek. Setelah seharian memikirkan sampai enggak mau makan dan dengan mata bengkak karena terlalu banyak menangis aku menyetujui surat Wasiat Kakek. Aku berubah pikiran setelah Abang mengajakku jalan jalan dengan motor gedenya. Aku menangis sampai puas di pinggir pantai dengan dipeluk abang yang selalu bisa menenangkan hatiku. Abang menasehatiku panjang lebar seperti halnya nenek menasehatiku. Abang meyakinkanku bahwa semua akan baik-baik saja karena Almarhum Kakek tidak mungkin membuatmu menderita dengan pesannya.Aku hanya berpakaian dan berdandan dengan dandanan natural. Bunda memaksaku memakai rok yang selama ini tidak pernah aku pakai. Rasanya canggung sekali,Abang pun sempat tertawa tapi pada akhirnya memujiku habis habisan setelah dijitak Bunda. Mataku masih sedikit bengkak karena sembab."Ayo sayang..tamunya sud
Nenek mengumpulkan kami sekeluarga. Tante Mila dan juga Suaminya. Nenek mengatakan setelah empat puluh hari kematian kekek surat wasiatnya akan dibacakan.Pengacara keluarga juga sudah hadir. Pembacaan surat Wasiat pun segera dilakukan. Dalam surat Wasiat Kakek, semua Aset kekayaan yang dimiliki kakek dibagi rata antara Ayah dan Tante Mila Kakak Ayah. Tidak ada yang protes karena bagi mereka surat Wasiat Kakek sudah cukup jelas dan adil.Sebelum selesai masih ada satu poin lagi yaitu wasiat kakek untuk Ayah. Dalam Surat Wasiatnya Kakek berpesan bahwa jika Ayah yaitu anak laki lakinya mempunyai seorang putri maka harus dinikahkan dengan cucu sahabatnya yang pernah menolongnya saat mulai merintis usaha hingga menjadi sukses. Pengacara juga menyerahkan satu kotak merah kecil yang ternyata berisi cincin. Yang menurut Nenek itu adalah cincin yang diberikan sahabat Kakek jika suatu saat Kakek sudah memiliki cucu perempuan dari anak laki lakinya maka