Compartilhar

Oh No !

Autor: Amira Tantri
last update Data de publicação: 2020-09-18 16:30:21

Setelah pulang sekolah rupanya Dena masih ada les tambahan lagi, karena gurunya beberapa hari lalu absen jadi hari ini dia pulang lebih sore.

Dena segera menelepon Sakti mengabarkan kalau ia akan ke Rumah Sakit mengganti perbannya tapi sedikit terlambat.

Selesai Les tambahan, Dena bersiap-siap pulang.

"Na ... lengan kamu kenapa ? berantem lagi ?," tanya Gavin yang tiba-tiba sudah ada di Samping Dena.

"Oh ... ini jatuh terus kena gores dikit aja kok," ucap Dena berbohong karena tidak ingin membuat Gavin semakin banyak bertanya.

"Lain kali hati-hati, kamu kadang terlalu grusa-grusu," nasehat Gavin khawatir yang membuat senyum Dena mengembang.

"Aku antar kamu pulang ya ? kayaknya tadi kamu naik Ojol," tawar dan tanya Gavin.

"Enggak usah vin ... Ojolnya udah nunggu di depan," ucap Dena dengan halus menolak ajakan Gavin, karena ia juga harus ke Rumah Sakit.

"Biar cancel aja nanti aku yang bayar ongkos ojolnya," tawar Gavin lagi.

"Kapan-kapan saja vin, lagian aku juga ada urusan kok." Tolak Dena dengan halus. Gavin sebenarna masih ingin mendebat tapi pada akhirnya memilih mengalah, mungkin Dena benar-benar sedang ada urusan.

"Aku balik dulu ya," pamit Dena pada Gavin yang hanya dibalas anggukan.

"Oya ... hampir lupa, by the way selamat ya atas kemenangannya kemarin. Kamu hati-hati awas main gebuk-gebukan lagi," ucap Dena berbalik kembali sambil tertawa.

"Iya Na ... aku bakalan hati-hati," Jawab Gavin sambil tersenyum senang, setidaknya Dena mengkhawatirkannya.

Dena keluar kelas disana sudah ada Bang Ojol langganannya. Setelah memasang helm dan duduk Ojol pun melaju membelah jalanan. Tak berapa lama mereka sampai di Rumah Sakit. Setelah membayar ongkos ojol, Dena segera masuk mencari Sakti. Saat dilihatnya seorang Perawat melintas di hadapannya Dena segera bertanya.

"Maaf sus, Hmm ... Dokter Sakti ada ?," tanya Dena yang dibalas tatapan menyelidik dari perawat karena dilihatnya Dena masih dengan seragam putih abu-abunya.

"Saya adiknya, tadi sudah menelepon Dokter kok," ucap Dena berbohong mengatakan kalau ia adalah adik dari Sakti.

"Dokter ada di ruangannya, kamu sudah tahu ruangannya ?" tanya perawat kembali

"Sudah sus, makasih banyak ya," jawab Dena lalu segera ngacir.

Dena tiba di depan ruangan Sakti, tanpa mengetuk lagi Dena segera masuk.

"Pak Dok ... ter ...," ucapan Dena terhenti saat melihat seorang wanita tengah menangis sambil memeluk Sakti.

"Ups ... maaf ganggu, saya tunggu di luar saja," ucap Dena lagi karena merasa tidak enak dengan Sakti dan juga teman wanitanya.

Dena segera menutup Pintu dan menunggu di luar. "Siapa ya kakak itu kayak pernah lihat ya," gumam Dena pelan.

Tak berapa lama pintu terbuka dan wanita yang bersama Sakti tadi keluar dengan menggunakan masker dan juga kaca mata hitamnya. Berjalan dengan anggun tanpa menyapa Dena yang tersenyum padanya.

"Ih ... sombong banget sih," gumam Dena lagi dengan kesal sambil masuk ke ruangan Sakti.

"Dokter ... aku enggak ganggu kan ?" tanya Dena dengan polosnya.

"Lain kali kalau masuk ketuk pintu dulu jangan asal nyelonong begitu ya," balas Sakti dengan tatapan elangnya.

"Siap pak Dok ...," jawab Dena sambil memberi hormat.

"Pacarnya ya Dok ? kok kayak pernah lihat ya ?," tanya Dena mulai Kepo sambil berjalan ke arah Sakti yang sedang melihat buku entah buku apa.

Sakti hanya memandang Dena sebentar lalu kembali melihat bukunya. Dia pikir Dena akan pergi dan tidak masuk lagi ke ruangan begitu tahu adegan tadi, ternyata calon istri ciliknya ini seperti tidak terpengaruh dengan keadaan tadi.

"Iya sebelumnya, tapi kami sudah putus sebelum hari pertunangan kita," Jawab sakti tanpa berpaling dari bukunya tapi  sukses membuat Dena melongo antara kaget dan merasa bersalah.

"Kamu tentu pernah melihatnya, model dan juga main di beberapa sinetron dan juga Ftv." Sakti menjawab pertanyaan kedua Dena yang sukses membuat Dena lebih melongo.

"Wah ... Makanya kayak pernah lihat, oya ... perannya kalau enggak salah jadi kakak ipar yang jahat atau jadi kakak tiri yang jahat pokoknya antagonis banget deh," ucap Dena semangat sambil mengangkat dua jempolnya yang dibalas Sakti dengan menaikkan bahunya malas.

"Kenapa dilepas Sih Dok ... kakak itu cantik lo, terkenal lagi," cerocos Dena tanpa berhenti sambil memajukan wajahnya ke wajah Sakti yang cuek saja menanggapi pembicaraannya. Bukannya berhenti Dena terus saja berbicara, Sakti yang merasa terganggu refleks memalingkan wajahnya sehingga bibir mereka bersentuhan. Hening, Keduanya saling memandang dengan bibir yang masih menyatu. Sakti lalu menarik kepalanya mundur memandang Dena yang membuat gadis itu salah tingkah. Dena segera duduk di sofa lalu menutup mukanya malu. "Dokter sudah ambil First Kiss aku .... Tanpa izin lagi," Ucap Dena pelan tapi masih bisa di dengar Sakti.

Sakti mendekati Dena yang masih menutup wajahnya. Disentuhnya tangan Dena yang refleks membuat Dena kaget dan tanpa sengaja menampar pipi Sakti.

Plakkkk ...

"E ... eh ... maaf" ucap Dena

Sakti memegang pipinya yang terasa sakit, tenaga Dena kuat juga. Pipinya terasa panas. Dena hanya memandangnya dengan tatapan bersalah.

"Maaf Mas ... eh Dokter saya enggak sengaja," ucap Dena dengan kikuk.

"Ya udah Aku ganti perban kamu dulu." ucap Sakti tanpa merespon permintaan maaf Dena.

Sakti mengganti perban di lengan Dena dengan cepat tanpa ada yang berbicara.

"Nah ... sudah selesai," ucap Sakti begitu selesai.

"Makasih Dok ... aku mau pulang dulu," ucap Dena dengan suara lirih karena masih malu dengan kejadian tadi. Seumur-umur ia baru bersentuhan bibir dan itu dengan Sakti laki-laki yang tidak ada di pikirannya.

"Nanti aku yang antar kamu pulang," ucap Sakti saat Dena hendak beranjak. "Ini sudah mau maghrib tidak baik kamu pulang sendiri," ucap Sakti lagi karena dilihatnya jam sudah menunjukkan pukul 17.15 WIB.

"Enggak apa-apa Dok aku bisa pesan ojol langgananku kok," tolak Dena halus. Sakti hanya diam tapi menatap Dena dengan tajam tanda tak ingin dibantah. Tapi Dena tetap melangkah menuju pintu.

"Kalau kamu enggak mau dengerin aku, malam ini juga aku minta Ayah kamu untuk menikahkan kita," ancam sakti yang sukses membuat Dena berhenti lalu memandang Sakti kesal.

"Duduk sini." panggil Sakti lembut pada Dena agar mau duduk di sampingnya.

Dena melangkahkan kakinya dan duduk di samping Sakti. "Bibirku enggak beracun jadi tidak akan membunuhmu," ucap Sakti ketika Dena sudah duduk di sampingnya yang membuat Dena menundukkan kepalanya.

"Ya sudah, kamu tunggu disini aku akan memeriksa pasienku dulu setelah itu aku antar kamu pulang, nanti aku telepon bundamu untuk bilang kalau kamu bersamaku agar beliau tidak terlalu khawatir," ucap Sakti sambil memasang jas putihnya lalu berlalu keluar dari ruangan meninggalkan Dena yang langsung menutup mukanya. Masih teringat kejadian sekilas tadi. dipegangnya bibirnya. "Ah ... bibirku sudah enggak perawan lagi," gumam Dena sambil membanting badannya ke sofa.

*****

Love You All Readers

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Jodoh Wasiat Kakek   Oh No !

    Setelah pulang sekolah rupanya Dena masih ada les tambahan lagi, karena gurunya beberapa hari lalu absen jadi hari ini dia pulang lebih sore.Dena segera menelepon Sakti mengabarkan kalau ia akan ke Rumah Sakit mengganti perbannya tapi sedikit terlambat.Selesai Les tambahan, Dena bersiap-siap pulang."Na ... lengan kamu kenapa ? berantem lagi ?," tanya Gavin yang tiba-tiba sudah ada di Samping Dena."Oh ... ini jatuh terus kena gores dikit aja kok," ucap Dena berbohong karena tidak ingin membuat Gavin semakin banyak bertanya."Lain kali hati-hati, kamu kadang terlalu grusa-grusu," nasehat Gavin khawatir yang membuat senyum Dena mengembang."Aku antar kamu pulang ya ? kayaknya tadi kamu naik Ojol," tawar dan tanya Gavin."Enggak usah vin ... Ojolnya udah nunggu di depan," ucap Dena dengan halus menolak ajakan Gavin, karena ia juga harus ke Rumah Sakit.

  • Jodoh Wasiat Kakek   Terluka

    Dena tiba dirumah. Setelah membuka helmnya dirapikannya rambutnya dan mencoba bersikap biasa saat Bunda menyongsongnya. Ayah dan nenek sudah siap. Sedangkan Abangnya masih lembur jadi belum pulang."Kok lama na ?" tanya bundanya sambil mendekati Dena.Dena mundur karena tidak ingin bundanya tahu dia sedang terluka."Bun … Dena masuk kamar dulu ya siap-siap," ucap Dena lalu berlari ke kamarnya." Cepat na … jangan lama-lama !" teriak ayahnya yang hanya di balas acungan jempol oleh Dena.Saat di kamar Dena segera menguncinya karena takut tiba-tiba bundanya masuk.Segera dibersihkan badannya dan juga lukanya dengan Air hangat di kamar mandi. Dena meringis menahan sakit. Ini belum seberapa seperti yang dialami abangnya yang juga pernah terluka parah saat menyelamatkan seseorang. Saat itu abangnya kena sabetan pisau di perutnya. Dena , Kakek dan juga nenek yang mengantarnya ke rumah saki

  • Jodoh Wasiat Kakek   Adena

    Akhirnya Gavin mengikuti Dena untuk makan siang. Dena menelpon Bundanya sekedar mengabari kalau ia makan siang di luar karena sudah terlalu lapar. Gavin memandang semua gerak gerik Dena dengan senyum.Dena pernah menolong Gavin saat dia dikeroyok oleh anak-anak dari tim sebelah karena tidak terima dengan kekalahan mereka. Dena yang cantik kelihatan garang sekali saat menghajar para pengeroyoknya. Diam-diam Gavin mulai menyukai Dena."Kamu makan kok malah melamun sih." Tegur Dena pada Gavin yang malah memperhatikannya bukannya makan. Sebenarnya Dena salah tingkah diperhatikan begitu. Apalagi diam-diam dia menyukai Gavin, cowok tampan kapten tim Sepak Bola Sekolah yang menjadi incaran cewek-cewek di sekolah."Kamu makannya lahap sekali,benar-benar lapar ya ?" tanya Gavin basa basi karena malu ketahuan memandang Dena."Aku lapar sekali, tadi pagi buru-buru jadi cuma makan roti sama minum air putih sa

  • Jodoh Wasiat Kakek   Si Tomboy

    ~Sakti Pov~Akhirnya aku menyetujui keinginan Kakek setelah mendengar keputusan Lana yang tidak ingin melepas karirnya dan menjadi wanita yang akan selalu menungguku pulang ke rumah.Rasanya berat melepas Lana mengingat kami berpacaran cukup lama. Empat tahun bukan waktu yang singkat,dengan gaya pacaran sembunyi sembunyi. Aku selalu mengajaknya menikah tapi selalu karir dan kontrak yang diberatkannya. Belum lagi pertemuan kami yang bisa dihitung dengan jari jika dia sedang sibuk syuting atau pemotretan. Aku memakluminya dan berusaha sabar menantinya. Tapi pada akhirnya aku kalah, aku tak bisa menunggunya lagi ditambah permintaan Kakek membuatku harus benar benar melepaskannya.Lana masih menelponku, memohon agar aku tidak meninggalkannya. Dia juga datang ke Rumah Sakit dan menunggu di ruanganku, meminta padaku agar tetap di sisinya. Ia memelukku mencoba menawar hatiku. Tapi keputusanku sudah bulat. Lana pergi dengan janji

  • Jodoh Wasiat Kakek   Pertemuan

    ~Dena Pov~Hari ini keluarga Kakek Bayu akan datang melamarku. Aku pada akhirnya menuruti pesan dalam surat Wasiat Kakek. Setelah seharian memikirkan sampai enggak mau makan dan dengan mata bengkak karena terlalu banyak menangis aku menyetujui surat Wasiat Kakek. Aku berubah pikiran setelah Abang mengajakku jalan jalan dengan motor gedenya. Aku menangis sampai puas di pinggir pantai dengan dipeluk abang yang selalu bisa menenangkan hatiku. Abang menasehatiku panjang lebar seperti halnya nenek menasehatiku. Abang meyakinkanku bahwa semua akan baik-baik saja karena Almarhum Kakek tidak mungkin membuatmu menderita dengan pesannya.Aku hanya berpakaian dan berdandan dengan dandanan natural. Bunda memaksaku memakai rok yang selama ini tidak pernah aku pakai. Rasanya canggung sekali,Abang pun sempat tertawa tapi pada akhirnya memujiku habis habisan setelah dijitak Bunda. Mataku masih sedikit bengkak karena sembab."Ayo sayang..tamunya sud

  • Jodoh Wasiat Kakek   Prolog Sakti dan Adena

    Nenek mengumpulkan kami sekeluarga. Tante Mila dan juga Suaminya. Nenek mengatakan setelah empat puluh hari kematian kekek surat wasiatnya akan dibacakan.Pengacara keluarga juga sudah hadir. Pembacaan surat Wasiat pun segera dilakukan. Dalam surat Wasiat Kakek, semua Aset kekayaan yang dimiliki kakek dibagi rata antara Ayah dan Tante Mila Kakak Ayah. Tidak ada yang protes karena bagi mereka surat Wasiat Kakek sudah cukup jelas dan adil.Sebelum selesai masih ada satu poin lagi yaitu wasiat kakek untuk Ayah. Dalam Surat Wasiatnya Kakek berpesan bahwa jika Ayah yaitu anak laki lakinya mempunyai seorang putri maka harus dinikahkan dengan cucu sahabatnya yang pernah menolongnya saat mulai merintis usaha hingga menjadi sukses. Pengacara juga menyerahkan satu kotak merah kecil yang ternyata berisi cincin. Yang menurut Nenek itu adalah cincin yang diberikan sahabat Kakek jika suatu saat Kakek sudah memiliki cucu perempuan dari anak laki lakinya maka

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status