LOGIN"Jadi dia pulang?"
Aku berhenti menyedot jus buahku. Kusilakan kedua tanganku di atas meja dan mendongak.
"Kau pikir dia tidak akan kembali?" tanyaku balik.
Jihan mengangguk. "Mungkin hanya kau yang bisa bertahan ditinggal satu tahun penuh."
Aku tersenyum kecut padanya. "Terimakasih untuk pujiannya."
Menanggapi ucapannya hanya akan membawa ledekan-ledekan lain tentang hubunganku dengan Raga. Sebenarnya itu tidak masalah untukku. Apa yang ia katakan memang benar. Toh hanya Jihan yang bisa meledekku seperti itu karena memang ialah satu-satunya temanku yang mengetahuinya.
"Jika dipikirkan lagi, kau tidak salah menunggunya. Ia cukup tampan dan mapan."
Aku kembali meminum jusku, sementara itu gadis cerewet yang berada depanku mengeluarkan kotak bekal dietnya. Aku juga tidak habis pikir mengapa ia seperduli itu dengan penilaian orang hingga sanggup memakan dedaunan hampir seminggu penuh ini. Lagi pula mengikuti standar kecantikan seseorang hanya akan membuatmu menderita.
Ia menutup kotak bekalnya lagi. Wajahnya yang antusias semakin maju mendekat ke arahku agar tidak ada yang mendengar pembicaraan kami.
"Sebenarnya aku tidak mau mengatakan ini. Tapi Leta, apa kau akan tetap percaya Raga masih bertahan denganmu setelah tidak bertemu atau berkomunikasi selama satu tahun penuh?"
"Maksudnya?"
"Begini, apakah kau tidak berpikir dia mempunyai wanita lain di sana?"
Aku terdiam sejenak, menerawang langit langit kantin seakan tengah berandai-andai. "Mungkin?" ucapku tidak membawa serius perkataan Jihan.
Jihan malah memutar bola matanya malas. "Ck, aku serius mengkhawatirkanmu."
"Aku juga. Mungkin dia akan mencari wanita lain di sana, tetapi nyatanya tidak, kan?"
"Dari mana kau bisa memastikan itu?"
"Jihan, aku mengenalnya. Kalau pun dia memiliki wanita lain, untuk apa dia menemuiku?"
"Kau tahu, beberapa laki laki mapan tidak akan cukup dengan satu wanita saja. Apalagi kau tidak bertemu dengannya cukup lama."
Aku menghela napas. "Baiklah, sekarang kau berhasil mempengaruhiku."
Jihan menggeleng kuat, kupikir ia akan puas kalau aku mulai ikut memikirkan kemungkinan itu. Tetapi Jihan malah makin menghebohkan.
"Maksudku bukan begitu," ucapnya panik karena aku memasang wajahnya masam.
Cukup lama aku menataonya sebelum kemudian mengulas senyum dan mengejeknya. "Baiklah baiklah aku mengerti maksudmu. Tapi kau tidak usah khawatir kan itu karena dia tidak akan melakukannya."
Aku mnggeser gelas monumanku. Mencondongkan wajahku ke arah Jihan untuk berbisik. "Dan ia berencana melamarku."
Jihan terkesiap. Menggeser sedikit tubuhnya untuk menatapku dengan ekspresi kaget. "Benarkah?"
Aku mengangguk sambil tersenyum bahagia.
"Kapan? Dan kau baru menceritakanya padaku?"
"Akan kujawab pertanyaanmu nanti. Sekarang makanlah dulu, Ji. Aku hampir muak melihat sayuranmu."
Jihan berdecak, menolak perintahku dan bertanya dengan antusias.
Aku mengagguk-angguk mengiyakan." Makanlah cepat," kataku karena sejak tadi ia terus-terusan membatalkan niatnya untuk makan.
Baru saja satu suap sayur-sayuran memuakkan itu masuk ke dalam mulut Jihan, gadis itu menjeda makannya untuk kesekian kali ketika meja kami kedatangan seseorang yang tidak biasanya berada di tempat ini.
Pria berambut hitam lebat dengan balutan kemeja terpasang rapi di tubuhnya dan dengan sekotak makananan menyapa kami dengan sangat ramah kemudian meminta ijin untuk bergabung. Katanya tidak ada meja kosong tersisa.
"Benar tidak apa-apa jika aku duduk di sini?" kata Hwan memastikan. Kurasa ia merasa tidak enak bergabung dengan kami tiba-tiba.
"Tentu saja. Kami senang Anda bergabung," jawab Jihan dengan ramah. Ah, jangan lupakan senyum yang terlihat terpaksa dikeluarkannya itu.
"Baiklah, kalau begitu selamat makan. "
Hwan segera menyantap makan siangnya dengan sangat tenang. Matanya hanya terfokus pada senampan makanan itu hingga kupikir ia sangat kelaparan.
Aku tidak pernah melihat pria itu berkeliaran di kantin sebelumnya. Entah karena kami memang tidak pernah kebetulan memiliki waktu makan bersamaan atau karena aku tidak pernah menghiraukan keberadaannya di sini.
Seingatku pria berwajah putih pucat itu di tempatkan di gedung atas, posisi yang kuidam-idamkan sejak masuk ke perusahaan ini. Aku tidak tahu banyak tentangnya selain namanya yang kuketahui saat pengenalannya sebagai pemimpin projek majalah baru bulan lalu karena kami memang tidak pernah berbicara meski untuk sekedar menyapa. Mana berani bawahan sepertiku menyapanya.
Aku tersentak karena gerakan di bawah meja menyentuh kakiku. Kupikir itu adalah ulah hewan namun jika dipikirkan lagi tidak mungkin ada hewan masuk ke dalam kantor.
Pukulan di kakiku untuk kedua kalinya tentu tidak bisa dikatakan wajar. Jadi aku menoleh ke arah Jihan lalu aku mengetahui fakta bahwa ia pelakunya.
Ia menggerakan bibir dan matanya tanpa suara, membuatku bingung dan reflek berbicara.
"Hah? Apa yang kau katakan?" tanyaku sepolos bayi.
Jihan eraup wajahnya frustasi dan saat itulah aku menyadari bahwa pembicaraannya tadi adalah rahasia yang harus disembuyikan dari Hwan. Sayangnya pria itu lebih dulu mendongak sebelum aku menyimpulkan itu.
Jihan segera memasang senyum lagi seakan tidak terjadi apa-apa. Kemudian diam-diam matanya melotot ke arahku.
Gerakan sendok di tangan Hwan berhenti. Ia meletakkan kedua sumpitnya.
"Ah, maaf jika menganggu kalian."
"Ah tidak. Bukan begitu, sungguh kami sama sekali tidak terganggu." ucapku karena aku merasa bersalah.
"Itu benar. Kami hanya terkejut karena tidak pernah Anda di sini," sahut Jihan, sopan.
"Oh...Sebenarnya aku memang biasanya makan di ruangan," jelasnya. "Ngomong-ngomong kurasa akan lebih baik jika kita berbicara dengan santai, bukan?"
Jihan tersenyum tipis. Mata sipitnya menunjukan bahwa ia masih segan untuk bertatap muka dengan Hwan.
"Itu ide yang tidak buruk."
"Hmm, ngomong-ngomong kau makan siang di ruangan setiap hari?" tanyaku basa-basi. Sebenarnya itu bukan pertanyaan yang penting. Bahkan aku tidak menyadari telah menanyakan hal seperti itu.
Hwan menggaruk kepalanya. "Ah, sebenarnya ini tidak baik. Aku harap kalian tidak melaporkanku."
"Tenang saja. Kami adalah ahlinya rahasia," jawab Jihan.
Hwan tersenyum, mata lebarnya yang terlihat lelah menyipit. "Kurasa aku bisa percaya itu."
"Apa pekerjaan di gedung sebelah berat?" tanyaku iseng, lagi. Ah, sepertinya tidak bisa dikatakan iseng. Sebenarnya aku memang ingin mengetahuinya. Siapa tau aku akan diterima di sana tahun depan.
"Tidak seburuk itu, tetapi cukup menghabiskan waktu."
Hwan menatap jam yang melingkar di tangan kekarnya. Aku baru menyadari bahwa ia pria sehat yang berotot. Bukan, sebenarnya ia adalah pria sehat berotot yang cukup tampan. Mungkin itulah yang menyebabkan hampir semua gadis berkumpul untuk membicarakannya dan bersaing mendekatinya.
"Sepertinya aku harus segera pergi." ia mengemasi nampan makanannya. "Terimakasih telah memberi tumpangan," lanjutnya.
"Tentu," jawab kami.
Hwan berdiri membawa nampannya. Lalu berjalan keluar membuat mata gadis-gadis di kantin ikut bergerak karena mengikuti kepergiannya. Aku menyerngitkan dahi tidak percaya bahwa ia sepopuler itu.
"Jadi dia pulang?"Aku berhenti menyedot jus buahku. Kusilakan kedua tanganku di atas meja dan mendongak."Kau pikir dia tidak akan kembali?" tanyaku balik.Jihan mengangguk. "Mungkin hanya kau yang bisa bertahan ditinggal satu tahun penuh."Aku tersenyum kecut padanya. "Terimakasih untuk pujiannya."Menanggapi ucapannya hanya akan membawa ledekan-ledekan lain tentang hubunganku dengan Raga. Sebenarnya itu tidak masalah untukku. Apa yang ia katakan memang benar. Toh hanya Jihan yang bisa meledekku seperti itu karena memang ialah satu-satunya temanku yang mengetahuinya."Jika dipikirkan lagi, kau tidak salah menunggunya. Ia cukup tampan dan mapan."Aku kembali meminum jusku, sementara itu gadis cerewet yang berada depanku mengeluarkan kotak bekal dietnya. Aku juga tidak habis pikir mengapa ia seperduli itu dengan penilaian orang hingga sanggup memakan dedaunan hampir seminggu penuh ini. Lagi pula mengikuti standa
Kuteguk segelas air hingga tersisa seperempatnya. Akhirnya setelah melewati pertemuan dengan dramstis tadi, kami bisa makan dengan tenang hasil kerja keras seseorang yang masih saja menyunggingkan senyum cerah khas seorang ibu. Usahanya tidak sia-sia karena masakannya terasa sangat lezat."Ini sudah terlalu malam. Bagaimana jika kau menginap saja di sini, Leta?" usul wanita yang sebaya dengan ibuku itu."Itu benar, sabaiknya kau menginap saja." Sahut suaminya setuju.Aku tersenyum tidak enak. "Ah, sepertinya lain kali saja. Besok aku harus bekerja," ujarku mencoba menolak."Bagaimana jika kau berangkat dari sini saja? Aku akan menelepon orang tuamu, tidak baik jika kau pulang jam segini, bukan?"Aku tidak tahu harus menolak seperti apa lagi. Mataku sempat melirik Raga yang menghentikan gerakan sendoknya untuk menunggu jawabanku. Sebenarnya aku ingin tetap tinggal, aku juga belum puas melihat pria yang kini melihatku itu. Tet
Aku mengabil tempat duduk di dekat dapur sembari mengamati seorang wanita yang kini sibuk dengan alat penggorengnya. Aku sudah mendesak menawarkan sedikit bantuan padanya, namun tugas yang aku terima hanya lah mengupas buah."Istirahat lah jika kau lelah," kata wanita itu dengan wajah cerah. Sepertinya memasakan makanan spesial untuk anaknya adalah hal yang menyenangkan.Aku menggeleng. "Tidak, aku baik-baik saja."Aku kembali mengupas apel. Itu adalah buah terakhir sebelum kemudian aku membersihkan tangan dengan tisu.Mataku tiba-tiba terjatuh pada bingkai foto yang berada di dapur itu. Sebuah senyum cerah terpasang indah di wajah seorang pemuda dengan celemek merah muda, serta wajah bahagia seorang wanita yang tak lain adalah ibunya membuat foto selca itu tampak menyenangkan.Sudut bibirku terangkat. Mataku tidak mau berhenti menatap bingkai foto itu."Tidak aka