LOGINKuteguk segelas air hingga tersisa seperempatnya. Akhirnya setelah melewati pertemuan dengan dramstis tadi, kami bisa makan dengan tenang hasil kerja keras seseorang yang masih saja menyunggingkan senyum cerah khas seorang ibu. Usahanya tidak sia-sia karena masakannya terasa sangat lezat.
"Ini sudah terlalu malam. Bagaimana jika kau menginap saja di sini, Leta?" usul wanita yang sebaya dengan ibuku itu.
"Itu benar, sabaiknya kau menginap saja." Sahut suaminya setuju.
Aku tersenyum tidak enak. "Ah, sepertinya lain kali saja. Besok aku harus bekerja," ujarku mencoba menolak.
"Bagaimana jika kau berangkat dari sini saja? Aku akan menelepon orang tuamu, tidak baik jika kau pulang jam segini, bukan?"
Aku tidak tahu harus menolak seperti apa lagi. Mataku sempat melirik Raga yang menghentikan gerakan sendoknya untuk menunggu jawabanku. Sebenarnya aku ingin tetap tinggal, aku juga belum puas melihat pria yang kini melihatku itu. Tetapi menginap di sini hanya akan merepotkan banyak orang.
"Tapi.. "
"Aku setuju, lebih baik menginap saja." sahut pria berambut hitam legam itu.
Ibunya kini tersenyum lebar merasa mendapatkan dukungan besar yang tidak akan terbantahkan. Dan sayangnya itu memang benar. Kali ini aku tidak tahu alasan untuk menolaknya, aku kalah telak.
"Baiklah. Kalau begitu Raga, kau antarkan ia ke kamarnya. Ia pasti lelah setelah bekerja seharian."
Raga menganguk, lantas ia berdiri dari kursinya dan mendekatiku untuk mengajakku pergi ke ruang tamu yang sebenarnya sudah kuketahui di luar kepala letaknya.
Ia membuka skop pintu dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya menggandengku dengan erat. Aku terdiam. Mataku terus mengamati gengaman tangannya padaku dengan hati yang berdesir.
Ia masuk ke dalam kamar tersebut setelah membuka pintu. Lantas menghempaskan tubuhnya dengan helaan napas lelah.
"Ah ini nyaman."
Aku berdecak pinggang di sampingnya. Melihat tubuhnya yang terlentang hampir memenuhi ranjang.
"Bukankah ini kamar untukku?" protesku.
Bukannya beranjak dan mendengar protesku, ia malah memejamkan mata sambil menggumam. " benarkah?"
Aku masih berdecak pinggang di sebelahnya. Menunggunya untuk beranjak pergi dari sana dengan wajah kesal.
"Kemarilah," ucapnya dengan tangannya yang menginstruksiku untuk mendekat. Sementara itu matanya masih terpejam.
Aku sempat bepikir untuk mendekat, tetapi tidak semudah itu. "Tidak," tolakku.
Setelah ia menghela napas ia beranjak menjadi duduk untuk beberapa saat, kemudian berdiri. Aku sempat terkejut hingga membenturkan tubuhku saat melihatnya berdiri tiba-tiba. Ia seperti zombi dengan rambut yang berantakan sekarang.
Aku hampir dibuat kecewa ketika ia mulai berjalan pergi melewatiku begitu saja dan tanpa mengatakan apapun. Tapi itu hanya hampir, hampir karena sebelum ia sampai di ambang pintu, ia berbalik dan menarikku ke dalam pelukannya.
"Tidak kah kau merindukan kekasihmu?" ujarnya dengan gemas.
Aku terkejut. Tentu saja. Tetapi itu hanya sementara karena setelah itu aku membalas pelukannya sama eratnya.
Bisakah aku bilang tidak setelah ia tega membuatku menunggu hampir setahun penuh untuk sekedar melihatnya tanpa lewat layar ponsel? Aku sungguh merindukannya.
"Apa kabar? Maaf membuatmu menunggu," katanya, lagi.
Aku melepaskan pelukannya secara paksa. Lalu kutatap wajahnya dengan bibir mengerucut. Enak saja ia mendapatkan maaf dengan semudah itu.
"Aku hampir mencari pria lain asal kau tahu. "
"Itu tidak mungkin," sahutnya percaya diri.
"Tentu saja mungkin," jawabku tak mau kalah.
"Aku tidak yakin kau bisa menemukan pengganti yang lebih tampan dari aku, " jawabnya telak dengan penuh penegasan.
Ah, kata narsis itu. Hidup memang terkadang terasa lucu, entah mengapa aku selalu tersenyum mendengar ucapan itu keluar dari mulutnya. Aku bahkan tidak pernah merasa bosan meski harus mendengar tiga kata terakhir yang ia ucapkan ribuan kali. Cinta kadang menang semengerikan itu.
"Coba kulihat sini aku tidak yakin wajah tampannya masih ada," kataku sambil memegang kedua pipinya dengan agresif yang kusengaja. Sontak ia mengangkat wajahnya menjauh dan memegang pergelangan tanganku.
Ia menahan kedua tanganku hingga aku tidak bisa menggerakkannya. "Tidak perlu. Tenang saja, aku masih tampan."
Pria bernama Raga itu mendekatkan wajahnya padaku dan membuatku sontak terdiam hingga pandanganku jatuh pada raut wajahnya yang terlihat jelas sedekat ini. Nyatanya tidak ada yang benar-benar berbeda. Ia masih sama dengan Raga yang terakhir kali kutemui.
Hal selanjutnya yang ia lakukan adalah mendekatkan hidungnya hingga menyentuh hidungku. Membuatku bisa merasakan deru napasnya menyapu wajahku. Mata teduhnya menatapku dalam. Segera kualihkan wajahku darinya ketika kurasa pipiku memanas.
Ia melepaskan kedua lenganku dan beralih menggenggam tanganku. Jari panjangnya terpasang pas di sela-sela jariku.
Raga mencoba menatapku lagi."Wajahmu memerah."
Aku membalas tatapannya. Mendongak untuk menunjukan bahwa itu tidak benar. "Tidak," bantahku meski aku tidak yakin wajahku tidak merona.
Salah satu tangannya menekan kedua pipiku gemas."Kau bilang ini tidak?"
Aku meronta dari cekalan tangannya di pipiku hingga membuat bibirku mengerucut.
"Istirahat lah," ujarnya setelah puas tertawa. Lalu tangannya terangkat untuk mengusap puncak kepalaku sebelum ia membalikkan tubuhnya ke arah pintu.
"Selamat malam," ujarnya dengan nada yang sangat manis sebelum kemudian pergi menghilang di balik pintu setelah mengucapkan selamat malam.
Senyumku merekah, kuamati pintu itu dengan bahagia. Kupegang daerah jantungku ketika merasakan desiran kebahagian yang begitu luar biasa. Aku sangat bahagia hanya dengan hal sekecil itu.
***
"Tidak bisakah kau temani aku saja?" rengeknya untuk kesekian kalinya.
Aku menggeleng. Sebenarnya aku mau saja seharian di rumah bersamanya, namun setelah itu aku akan dipecat dari pekerjaan yang baru berumur genap tiga bulan ini dan berakhir menjadi pengangguran lagi.
Ia menghela napas. "Kau akan menyesal karena menyia-nyiakanku, tahu."
"Aku benar-benar tidak bisa mengambil cuti hari ini. Tetapi akan kuusahakan untuk pulang lebih awal."
"Aku ingin makan malam bersama."
Aku tersenyum lebar. Membayangkan makan malam dengan tenang bersamanya hal yang tidak bisa ditolak.
"Tentu," jawabku.
Ia tidak berbicara lagi. Matanya fokus melihat ke arah depan dan kedua tangannya sibuk menyetir mobil yang kami tumpangi.
Hari ini setelah ia berceloteh sepanjang pagi untuk menahanku, ia memutuskan untuk menyerah dan menawarkan diri mengantarku pergi ke kantor. Kapan lagi ia bisa mengantarku, jadi aku tidak akan menolak soal itu.
"Pastikan kau pulang dengan cepat begitu selesai, hm?"
"Kalau ingat," ledekku kemudian membuka pintu berniat untuk meloloskan diri sebelum ia membalas.
Sebelum aku berbalik pergi, kusempatkan untuk melihatnya sekali lagi. Raga mencondongkan wajahnya dari kursi pengemudi untuk melihatku juga.
"Sampai jumpa nanti malam," katanya, menjelaskan bahwa ia akan mematikan makan malam itu akan terjadi.
"Sampai jumpa," kataku lalu berjalan cepat pergi menjauh.
Jika boleh jujur, aku akan sangat merindukan momen ini bila ia meninggalkanku selama itu lagi.
"Jadi dia pulang?"Aku berhenti menyedot jus buahku. Kusilakan kedua tanganku di atas meja dan mendongak."Kau pikir dia tidak akan kembali?" tanyaku balik.Jihan mengangguk. "Mungkin hanya kau yang bisa bertahan ditinggal satu tahun penuh."Aku tersenyum kecut padanya. "Terimakasih untuk pujiannya."Menanggapi ucapannya hanya akan membawa ledekan-ledekan lain tentang hubunganku dengan Raga. Sebenarnya itu tidak masalah untukku. Apa yang ia katakan memang benar. Toh hanya Jihan yang bisa meledekku seperti itu karena memang ialah satu-satunya temanku yang mengetahuinya."Jika dipikirkan lagi, kau tidak salah menunggunya. Ia cukup tampan dan mapan."Aku kembali meminum jusku, sementara itu gadis cerewet yang berada depanku mengeluarkan kotak bekal dietnya. Aku juga tidak habis pikir mengapa ia seperduli itu dengan penilaian orang hingga sanggup memakan dedaunan hampir seminggu penuh ini. Lagi pula mengikuti standa
Kuteguk segelas air hingga tersisa seperempatnya. Akhirnya setelah melewati pertemuan dengan dramstis tadi, kami bisa makan dengan tenang hasil kerja keras seseorang yang masih saja menyunggingkan senyum cerah khas seorang ibu. Usahanya tidak sia-sia karena masakannya terasa sangat lezat."Ini sudah terlalu malam. Bagaimana jika kau menginap saja di sini, Leta?" usul wanita yang sebaya dengan ibuku itu."Itu benar, sabaiknya kau menginap saja." Sahut suaminya setuju.Aku tersenyum tidak enak. "Ah, sepertinya lain kali saja. Besok aku harus bekerja," ujarku mencoba menolak."Bagaimana jika kau berangkat dari sini saja? Aku akan menelepon orang tuamu, tidak baik jika kau pulang jam segini, bukan?"Aku tidak tahu harus menolak seperti apa lagi. Mataku sempat melirik Raga yang menghentikan gerakan sendoknya untuk menunggu jawabanku. Sebenarnya aku ingin tetap tinggal, aku juga belum puas melihat pria yang kini melihatku itu. Tet
Aku mengabil tempat duduk di dekat dapur sembari mengamati seorang wanita yang kini sibuk dengan alat penggorengnya. Aku sudah mendesak menawarkan sedikit bantuan padanya, namun tugas yang aku terima hanya lah mengupas buah."Istirahat lah jika kau lelah," kata wanita itu dengan wajah cerah. Sepertinya memasakan makanan spesial untuk anaknya adalah hal yang menyenangkan.Aku menggeleng. "Tidak, aku baik-baik saja."Aku kembali mengupas apel. Itu adalah buah terakhir sebelum kemudian aku membersihkan tangan dengan tisu.Mataku tiba-tiba terjatuh pada bingkai foto yang berada di dapur itu. Sebuah senyum cerah terpasang indah di wajah seorang pemuda dengan celemek merah muda, serta wajah bahagia seorang wanita yang tak lain adalah ibunya membuat foto selca itu tampak menyenangkan.Sudut bibirku terangkat. Mataku tidak mau berhenti menatap bingkai foto itu."Tidak aka