author-banner
nhra writer
Author

Novels by nhra writer

Let me know (Indonesia)

Let me know (Indonesia)

Ara melakukan kesalahan dengan mengabaikan hilangnya komunikasi jarak jauh dengan Yeso. Hingga sebuah berita kematian sahabatnya itu mengejutkannya. Atas rasa bersalahnya, Ara mencari tahu penyebab Yeso bunuh diri hingga menyebabkannya bertemu lima pemuda tampan dengan masalahnya masing-masing yang mengubah alur hidupnya.
Read
Chapter: Wonder
Ara pikir Dowon sudah pulang setelah membiarkannya mengunjungi Yuna. Nyatanya sosok tinggi itu berdiri diluar sana menunggunya.Kalau saja Ara tidak mengenalinya, gadis itu mungkin akan mengira bahwa Dowon adalah model yang tersesat didepan rumah pemakaman.Ah, benar. Bukankah Dowon memang seperti model. Terlebih pemuda itu bersandar ditembok putih dengan wajah tenang berlatar cahaya rembulan.Sempurna.Mungkin kata itu yang dapat mendefisikannya. Kalau begini bagaimana Ara tidak gugup?"Dowon."Dowon menoleh. Pemuda tampan itu mengeluarkan tangannya dari saku celana lalu tersenyum seperti biasa.Ah, senyum itu. Bisakah tuhan mengurangi efek dari senyumannya sedikit saja?Aera menggeleng-geleng. Ini bukan waktunya untuk memikirkan hal konyol seperti itu. Ingatlah pada Jeka."Sudah selesai?" tanya Dowon
Last Updated: 2020-11-10
Chapter: Converse high
29, juli 2016"Kau benar-benar akan pergi?" tanya Yuna untuk ketiga kalinya.Sama seperti Yuna, Ara mengangguk untuk ketiga kalinya pula. "Tentu saja.""Ah, kau tidak seru lagi. Lagi pula apa hebatnya sekolah di Jepang."Yuna berbalik menghadap Ara lalu memperbaiki posisi duduknya. "Kau juga payah dalam mengusai bahasa asing, bukan? Aku tidak tahu kalau kau bisa Bahasa Jepang." lanjutnya."Ya, jangan mencoba mengubah keputusanku lagi."Yuna memasang wajah cemberut. Sebanyak apapun temannya diluar sana, kehilangan sahabat adalah hal yang terburuk. Tetapi ia tidak bisa memaksakan keegoisannya untuk memaksa Ara.Perlu beberapa bulan untuk Ara memutuskan kepindahanannya. Dengan bujukan bertubi-tubi dari kedua orang tuanya serta fakta bahwa pekerjaan orang tuanya sangat berharga ia berlapang dada menyetujui.Mungkin Yuna adalah salah satu alasan terbesar untuk Ara tetap
Last Updated: 2020-11-10
Chapter: Purpose
Berita itu mungkin adalah sebuah kesalahan yang tidaklah benar. Sahabatnya-Yuna juga mungkin baik-baik saja. Tapi seberapa keras pun ia menyakini itu, faktanya adalah sebaliknya.Ara mengetuk pintu untuk ketiga kalinya, seorang nenek dengan rambut yang mulai memutih membuka pintu.Nenek itu sempat terkejut. Sesaat kemudian matanya mulai menghangat lalu merengkuh tubuh Ara ke dalam pelukannya.Ara membalas pelukan nenek itu."Apa kabar nenek.""Oh, astaga. Ara?" ucap nenek Yuna setelah melepaskan pelukannya dengan semangat seorang ibu yang baru bertemu anaknya setelah sekian lama."Maafkan aku karena datang terlambat."Nenek itu menggeleng. Mengusap pucuk kepala Ara dengan sayang."Ayo masuk."Ara tetap berada diposisinya ketika nenek Yuna menariknya masuk ke dalam rumah. Seperti tujuan awal ia datang kemari, Ara memutuskan untuk me
Last Updated: 2020-11-10
Chapter: Begin
Kalau saja ada pilihan kedua, Ara akan memilih pilihan yang kedua dari pada berakhir diantara rak-rak buku yang memuakkan.Selama menjadi anak sekolah, bisa dihitung berapa kali Ara mengunjungi tempat itu. Ruangan sepi dengan bau buku-buku, Ara tidak menyukainya. Kalau saja bukan guru menyebalkan itu yang memerintahkannya Ara pasti menolak."Ara, apa kau mau lihat orang yang kuceritakan," kata Mina yang muncul diantara dua rak dengan menunjukan sebuah surat kabar ditangan kanannya."Ya! Cari dulu buku yang diminta," ujar Ara sembari mengobrak-abrik deretan buku di rak itu.Ini tidak bisa dibiarkan lagi. Ara mulai bosan dengan benda persegi panjang ini."Ah menyebalkan. Mengapa harus kita yang dipilih oleh guru sialan itu."Bukannya menyemangatinya, perkataan Mina justru membuatnya ingin segera mengakhiri semua ini. Bukannya mencari, Ara beralih kegiatan menjadi me
Last Updated: 2020-11-07
Chapter: Cafe
Dentuman musik pop mengiringi kesibukan di dalam kafe. Ara berjalan mengendap-endap lalu menarik salah satu earphone yang menyumpali telinga Jeka.Pemuda itu terkejut reflek mendongak ke arahnya.Satu tarikan bibir membentuk senyum membuat Jeka semakin tampan yang sialnya Ara suka."Kau sudah datang?" ujar Jeka."Jangan menyindir. Aku tahu aku terlambat," kata Ara membuat senyum Jeka semakin lebar.Jeka menggeser tubuhnya untuk memberi tempat duduk pada Ara. Menutup buku yang tadi ia baca lalu menyingkirkannya."Aku selalu heran mengapa kau bisa belajar dengan mendengarkan musik seperti itu, tapi aku lebih heran mengapa kau mendengarkan musik diruangan yang ada musiknya.""Karena aku suka," jawab Jeka.Ara mencibir. Memasang earphone Jungkook yang ia ambil tadi ditelinganya."Ngomong-ngomong aku juga hera
Last Updated: 2020-11-07
Chapter: Her
"Bukankah ini sepatu milikmu?"Mata Ara mengerjap. Ia mengulurkan tangan menerima sepatunya sambil berkata, "Ah iya. terimakasih. 'Ara malu bukan main, ia sampai menutupi sisi kiri wajahnya dengan tangan bak orang bodoh ketika pemuda itu ikut duduk di sampingnya.Kemudian Ara sangat berterima kasih pada bis yang datang tepat waktu. Ia segera beranjak dari duduknya untuk menaiki bis dengan terburu-buru. Sayangnya Ara tidak pernah menduga kalau pemuda itu juga sedang menunggu bis yang sama."Ah iya, apa lagi yang dia tunggu di halte kalau bukan bis. Dasar Ara bodoh," ujarnya dalam hati.Kursi kedua dari belakang dekat dengan jendela adalah kursi yang selalu menjadi pilihannya. Seakan kursi itu sudah menja
Last Updated: 2020-11-07
MISTAKE (Indonesia)

MISTAKE (Indonesia)

10
Tentang keputusan yang tidak terduga menjerat keadaan, Leta tidak mengira sebuah impian hidup bersama kekasihnya akan menjadi serumit ini hanya dalam sekejab. Tetapi ini bukan cerita untuk Leta, melainkan kami bertiga.
Read
Chapter: Kembali
"Jadi dia pulang?"Aku berhenti menyedot jus buahku. Kusilakan kedua tanganku di atas meja dan mendongak."Kau pikir dia tidak akan kembali?" tanyaku balik.Jihan mengangguk. "Mungkin hanya kau yang bisa bertahan ditinggal satu tahun penuh."Aku tersenyum kecut padanya. "Terimakasih untuk pujiannya."Menanggapi ucapannya hanya akan membawa ledekan-ledekan lain tentang hubunganku dengan Raga. Sebenarnya itu tidak masalah untukku. Apa yang ia katakan memang benar. Toh hanya Jihan yang bisa meledekku seperti itu karena memang ialah satu-satunya temanku yang mengetahuinya."Jika dipikirkan lagi, kau tidak salah menunggunya. Ia cukup tampan dan mapan."Aku kembali meminum jusku, sementara itu gadis cerewet yang berada depanku mengeluarkan kotak bekal dietnya. Aku juga tidak habis pikir mengapa ia seperduli itu dengan penilaian orang hingga sanggup memakan dedaunan hampir seminggu penuh ini. Lagi pula mengikuti standa
Last Updated: 2020-11-13
Chapter: Menginap
Kuteguk segelas air hingga tersisa seperempatnya. Akhirnya setelah melewati pertemuan dengan dramstis tadi, kami bisa makan dengan tenang hasil kerja keras seseorang yang masih saja menyunggingkan senyum cerah khas seorang ibu. Usahanya tidak sia-sia karena masakannya terasa sangat lezat."Ini sudah terlalu malam. Bagaimana jika kau menginap saja di sini, Leta?" usul wanita yang sebaya dengan ibuku itu."Itu benar, sabaiknya kau menginap saja." Sahut suaminya setuju.Aku tersenyum tidak enak. "Ah, sepertinya lain kali saja. Besok aku harus bekerja," ujarku mencoba menolak."Bagaimana jika kau berangkat dari sini saja? Aku akan menelepon orang tuamu, tidak baik jika kau pulang jam segini, bukan?"Aku tidak tahu harus menolak seperti apa lagi. Mataku sempat melirik Raga yang menghentikan gerakan sendoknya untuk menunggu jawabanku. Sebenarnya aku ingin tetap tinggal, aku juga belum puas melihat pria yang kini melihatku itu. Tet
Last Updated: 2020-11-06
Chapter: Prolog
Aku mengabil tempat duduk di dekat dapur sembari mengamati seorang wanita yang kini sibuk dengan alat penggorengnya. Aku sudah mendesak menawarkan sedikit bantuan padanya, namun tugas yang aku terima hanya lah mengupas buah."Istirahat lah jika kau lelah," kata wanita itu dengan wajah cerah. Sepertinya memasakan makanan spesial untuk anaknya adalah hal yang menyenangkan.Aku menggeleng. "Tidak, aku baik-baik saja."Aku kembali mengupas apel. Itu adalah buah terakhir sebelum kemudian aku membersihkan tangan dengan tisu.Mataku tiba-tiba terjatuh pada bingkai foto yang berada di dapur itu. Sebuah senyum cerah terpasang indah di wajah seorang pemuda dengan celemek merah muda, serta wajah bahagia seorang wanita yang tak lain adalah ibunya membuat foto selca itu tampak menyenangkan.Sudut bibirku terangkat. Mataku tidak mau berhenti menatap bingkai foto itu."Tidak aka
Last Updated: 2020-11-05
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status