Share

Converse high

Author: nhra writer
last update Petsa ng paglalathala: 2020-11-10 01:14:01

29, juli 2016

"Kau benar-benar akan pergi?" tanya Yuna untuk ketiga kalinya. 

Sama seperti Yuna, Ara mengangguk untuk ketiga kalinya pula. "Tentu saja."

"Ah, kau tidak seru lagi. Lagi pula apa hebatnya sekolah di Jepang." 

Yuna berbalik menghadap Ara lalu memperbaiki posisi duduknya. "Kau juga payah dalam mengusai bahasa asing, bukan? Aku tidak tahu kalau kau bisa Bahasa Jepang." lanjutnya. 

"Ya, jangan mencoba mengubah keputusanku lagi." 

Yuna memasang wajah cemberut. Sebanyak apapun temannya diluar sana, kehilangan sahabat adalah hal yang terburuk. Tetapi ia tidak bisa memaksakan keegoisannya untuk memaksa Ara. 

Perlu beberapa bulan untuk Ara memutuskan kepindahanannya. Dengan bujukan bertubi-tubi dari kedua orang tuanya serta fakta bahwa pekerjaan orang tuanya sangat berharga ia berlapang dada menyetujui. 

Mungkin Yuna adalah salah satu alasan terbesar untuk Ara tetap tinggal.

"Berjanjilah padaku untuk kembali."

Ara menyeringai. "Aku tidak tahu kalau kau juga bisa merindukanku," katanya dengan tersenyum mengejek. 

"Tidak. Aku hanya akan menagihmu untuk menraktirku tiket konser tahun depan," ujar Yuna beralasan. 

"Oh, ya? Jadi kau tidak merindukan Ara yang cantik ini?" 

Seketika Yuna memasang wajah jijik. Ia menutup wajah Ara dengan bantal. 

Setalah menyingkirkan bantal Yuna, Ara merebahkan tubuhnya. Jari-jarinya aktif mengetik sambil sesekali melihat Yuna dari belakang ponsel. 

"Aku akan kembali."

"Tidak usah kembali kalau kau akan benar-benar pergi. "

"Kalau begitu aku tidak akan kembali," lanjut Aera menimpali.

Yuna memukul kaki Ara gemas berulang kali sampai Ara meringis lalu memprotes.

"Ya! Itu sakit."

Yuna merebut paksa ponsel Ara lalu menjauhkan benda itu dari jangkauan pemiliknya sejauh yang ia bisa. 

Ara bangkit lalu berusaha merebut ponselnya kembali tetapi tangan Yuna lebih cepat menyembunyikannya dibalik kaos yang gadis itu kenakan. Tempat persembunyian yang aman yang dimiliki para perempuan. 

Perebutan sengit itu berlangsung tidak lama dan tentu saja berakhir dimenangkan oleh Yuna seperti biasa. 

"Aku punya sesuatu yang baru. Mau lihat?" ujar Yuna. 

"Kenapa?" tanya Ara dengan nada kesal. 

Yuna menahan bibirnya supaya tidak tersenyum menatap Ara. Kedua tangannya tetap bertahan dibalik punggungnya. 

Bukan ponsel Ara yang muncul dibalik punggung Yuna melainkan sebuah kotak berwarna putih yang tidak asing. 

Mata Ara melotot seakan hampir keluar dari tempatnya, sanggup menggambarkan bagaimana terkejutnya ia melihat kotak itu. 

"Wah, kamera!" seru Ara ketika Yuna membuka kotaknya. 

Dengan bangga Yuna memperlihatkan kameranya pada Ara. 

"Apa kau mencurinya?" 

Satu tepukan dari Yuna berakhir dikening keras Ara. Yuna mendengus sebelum mengeluarkan kamera barunya dari kotak. Lalu ketika Ara merebut kameranya, Yuna melotot. 

"Ayo mengambil gambar dengan kamera baru," ajak Ara dengan semangat. Ia bergeser merapatkan tubuhnya dengan Yuna. 

Yuna mendekat, mengalungkan lengannya pada Ara kemudian mengankat dua jarinya membentuk huruf v. 

"Satu, dua, tiga."

Cekrek.

Dan seperti itulah hari terakhir mereka bersama. 

***

Ara tahu kalau sangat terlambat untuk datang menjenguk Yuna saat ini. Terlebih lagi ia juga tidak bisa menepati janjinya pada Yuna bahwa ia akan kembali mengunjunginya. Sekarang Ara sangat menyesali itu. 

Dengan langkah berat Ara berhenti didepan rumah pemakaman. Sebuah bangunan putih dengan latar langit malam itu terlihat sangat tenang. 

Satu-satunya yang bisa Ara lakukan saat ini hanya mengunjungi abu dari Yuna dan Ara akan melakukannya. 

Kalau saja ia datang lebih awal atau andai saja ia tidak pergi ke Jepang, semua pasti tidak akan menjadi seperti ini. Yuna tidak akan meninggalkannya. 

Angin malam meniup rambut panjang terurainya. Ara menggenggam erat buket bunga ditangan kanannya kemudian melangkah memasuki bangunan itu dengan perasaan berat. 

Nenek menolak untuk menemaninya karena beliau baru saja kemari. Nenek juga mengatakan bahwa kedua orang tua Yuna sedang diluar kota untuk urusan pekerjaaan. Jadi, untuk itu Ara menghentikan langkahnya ketika menemukan punggung seseorang tepat di depan lemari abu Yuna. 

Ara membulatkan mata hampir sempurna ketika menyadari pakaian yang pemuda itu kenakan sama seperti seragam miliknya. Artinya mereka satu sekolah. 

Ara menghilangkan niatnya untuk menyapa ketika pemuda itu menunduk setelah menempelkan sepuntung mawar putih di lemari kaca abu Yuna. Dan ketika punggung lebar itu berbalik, Ara membulatkan mata. 

" Dowon?" 

Tidak jauh beda dengan Ara, pemuda itu mematung karena rasa terkejutnya.

Namun Dowon pandai dalam mengatasi keterkejutannya, tubuh tegangnya kembali normal sebelum menyapa Ara dengan senyuman seperti biasa. 

"Selamat malam"

"Kau, disini?" tanya Ara tidak percaya. 

Dowon mengangguk samar. 

"Sedang mengunjungi siapa kau ada disini?"

Ara tidak menjawab. Matanya hanya melihat ke arah deretan lemari kaca dimana abu Yuna berada. Tepat dibelakang Dowon. 

Satu alisnya terangkat. Dowon memutar tubuhnya mengikuti arah pandang Ara, kemudian kembali terkejut dengan apa yang dilihatnya . 

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Let me know (Indonesia)     Wonder

    Ara pikir Dowon sudah pulang setelah membiarkannya mengunjungi Yuna. Nyatanya sosok tinggi itu berdiri diluar sana menunggunya.Kalau saja Ara tidak mengenalinya, gadis itu mungkin akan mengira bahwa Dowon adalah model yang tersesat didepan rumah pemakaman.Ah, benar. Bukankah Dowon memang seperti model. Terlebih pemuda itu bersandar ditembok putih dengan wajah tenang berlatar cahaya rembulan.Sempurna.Mungkin kata itu yang dapat mendefisikannya. Kalau begini bagaimana Ara tidak gugup?"Dowon."Dowon menoleh. Pemuda tampan itu mengeluarkan tangannya dari saku celana lalu tersenyum seperti biasa.Ah, senyum itu. Bisakah tuhan mengurangi efek dari senyumannya sedikit saja?Aera menggeleng-geleng. Ini bukan waktunya untuk memikirkan hal konyol seperti itu. Ingatlah pada Jeka."Sudah selesai?" tanya Dowon

  • Let me know (Indonesia)    Converse high

    29, juli 2016"Kau benar-benar akan pergi?" tanya Yuna untuk ketiga kalinya.Sama seperti Yuna, Ara mengangguk untuk ketiga kalinya pula. "Tentu saja.""Ah, kau tidak seru lagi. Lagi pula apa hebatnya sekolah di Jepang."Yuna berbalik menghadap Ara lalu memperbaiki posisi duduknya. "Kau juga payah dalam mengusai bahasa asing, bukan? Aku tidak tahu kalau kau bisa Bahasa Jepang." lanjutnya."Ya, jangan mencoba mengubah keputusanku lagi."Yuna memasang wajah cemberut. Sebanyak apapun temannya diluar sana, kehilangan sahabat adalah hal yang terburuk. Tetapi ia tidak bisa memaksakan keegoisannya untuk memaksa Ara.Perlu beberapa bulan untuk Ara memutuskan kepindahanannya. Dengan bujukan bertubi-tubi dari kedua orang tuanya serta fakta bahwa pekerjaan orang tuanya sangat berharga ia berlapang dada menyetujui.Mungkin Yuna adalah salah satu alasan terbesar untuk Ara tetap

  • Let me know (Indonesia)    Purpose

    Berita itu mungkin adalah sebuah kesalahan yang tidaklah benar. Sahabatnya-Yuna juga mungkin baik-baik saja. Tapi seberapa keras pun ia menyakini itu, faktanya adalah sebaliknya.Ara mengetuk pintu untuk ketiga kalinya, seorang nenek dengan rambut yang mulai memutih membuka pintu.Nenek itu sempat terkejut. Sesaat kemudian matanya mulai menghangat lalu merengkuh tubuh Ara ke dalam pelukannya.Ara membalas pelukan nenek itu."Apa kabar nenek.""Oh, astaga. Ara?" ucap nenek Yuna setelah melepaskan pelukannya dengan semangat seorang ibu yang baru bertemu anaknya setelah sekian lama."Maafkan aku karena datang terlambat."Nenek itu menggeleng. Mengusap pucuk kepala Ara dengan sayang."Ayo masuk."Ara tetap berada diposisinya ketika nenek Yuna menariknya masuk ke dalam rumah. Seperti tujuan awal ia datang kemari, Ara memutuskan untuk me

  • Let me know (Indonesia)    Begin

    Kalau saja ada pilihan kedua, Ara akan memilih pilihan yang kedua dari pada berakhir diantara rak-rak buku yang memuakkan.Selama menjadi anak sekolah, bisa dihitung berapa kali Ara mengunjungi tempat itu. Ruangan sepi dengan bau buku-buku, Ara tidak menyukainya. Kalau saja bukan guru menyebalkan itu yang memerintahkannya Ara pasti menolak."Ara, apa kau mau lihat orang yang kuceritakan," kata Mina yang muncul diantara dua rak dengan menunjukan sebuah surat kabar ditangan kanannya."Ya! Cari dulu buku yang diminta," ujar Ara sembari mengobrak-abrik deretan buku di rak itu.Ini tidak bisa dibiarkan lagi. Ara mulai bosan dengan benda persegi panjang ini."Ah menyebalkan. Mengapa harus kita yang dipilih oleh guru sialan itu."Bukannya menyemangatinya, perkataan Mina justru membuatnya ingin segera mengakhiri semua ini. Bukannya mencari, Ara beralih kegiatan menjadi me

  • Let me know (Indonesia)    Cafe

    Dentuman musik pop mengiringi kesibukan di dalam kafe. Ara berjalan mengendap-endap lalu menarik salah satu earphone yang menyumpali telinga Jeka.Pemuda itu terkejut reflek mendongak ke arahnya.Satu tarikan bibir membentuk senyum membuat Jeka semakin tampan yang sialnya Ara suka."Kau sudah datang?" ujar Jeka."Jangan menyindir. Aku tahu aku terlambat," kata Ara membuat senyum Jeka semakin lebar.Jeka menggeser tubuhnya untuk memberi tempat duduk pada Ara. Menutup buku yang tadi ia baca lalu menyingkirkannya."Aku selalu heran mengapa kau bisa belajar dengan mendengarkan musik seperti itu, tapi aku lebih heran mengapa kau mendengarkan musik diruangan yang ada musiknya.""Karena aku suka," jawab Jeka.Ara mencibir. Memasang earphone Jungkook yang ia ambil tadi ditelinganya."Ngomong-ngomong aku juga hera

  • Let me know (Indonesia)    Her

    "Bukankah ini sepatu milikmu?"Mata Ara mengerjap. Ia mengulurkan tangan menerima sepatunya sambil berkata, "Ah iya. terimakasih. 'Ara malu bukan main, ia sampai menutupi sisi kiri wajahnya dengan tangan bak orang bodoh ketika pemuda itu ikut duduk di sampingnya.Kemudian Ara sangat berterima kasih pada bis yang datang tepat waktu. Ia segera beranjak dari duduknya untuk menaiki bis dengan terburu-buru. Sayangnya Ara tidak pernah menduga kalau pemuda itu juga sedang menunggu bis yang sama."Ah iya, apa lagi yang dia tunggu di halte kalau bukan bis. Dasar Ara bodoh," ujarnya dalam hati.Kursi kedua dari belakang dekat dengan jendela adalah kursi yang selalu menjadi pilihannya. Seakan kursi itu sudah menja

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status