Share

Cafe

Author: nhra writer
last update publish date: 2020-11-07 00:45:10

Dentuman musik pop mengiringi kesibukan di dalam kafe. Ara berjalan mengendap-endap lalu menarik salah satu earphone yang menyumpali telinga Jeka.

Pemuda itu terkejut reflek mendongak ke arahnya.

Satu tarikan bibir membentuk senyum membuat Jeka semakin tampan yang sialnya Ara suka.

"Kau sudah datang?" ujar Jeka.

"Jangan menyindir. Aku tahu aku terlambat," kata Ara membuat senyum Jeka semakin lebar.

Jeka menggeser tubuhnya untuk memberi tempat duduk pada Ara. Menutup buku yang tadi ia baca lalu menyingkirkannya.

"Aku selalu heran mengapa kau bisa belajar dengan mendengarkan musik seperti itu, tapi aku lebih heran mengapa kau mendengarkan musik diruangan yang ada musiknya."

"Karena aku suka," jawab Jeka.

Ara mencibir. Memasang earphone Jungkook yang ia ambil tadi ditelinganya.

"Ngomong-ngomong aku juga heran padamu," kata Jeka menggantung.

"Apa?"

"Mengapa aku selalu menyukaimu."

"Mungkin karena aku cantik."

Kali ini Jeka yang mencibir. "Kata siapa kau cantik?"

"Kata Jeka." Ara memasang wajah mengejek mengingat Jeka memang pernah berkata seperti itu. "Jangan mengelak."

"Mengapa aku bilang kau cantik?"

Memasang wajah mulai kesal, Ara menjawab tak acuh. "Tanya saja sendiri."

Jeka tersenyum puas telah membuat Ara cemberut dengan lucu. Wajah kekanak-anakan yang menjadi favoritnya.

Jeka melepas earphonenya dari telinga Ara. Mendekatkan wajahnya lalu berbisik.

"Aku berpikir mungkin karena kau memang cantik."

Kalau saja Ara tidak bisa mengendalikan diri, sudah pasti ia akan menjerit sembari salto sekarang juga. Jeka terlalu manis dan sayangnya Ara hampir diabetas karena itu.

"Pipimu memerah."

Tangan Ara reflek memegangi kedua pipinya dan Jeka tertawa meledek.

"Ya!! Berhenti menggodaku," sahut Ara. Jeka meraih tangan Ara, mengekspos pipi yang bersemu merah itu lalu menggenggam tangan Ara .

"Biarkan seperti itu. Kau terlihat lucu seperti badut," ledek Jeka.

Ara mendengus tidak suka. "Kau bilang apa?!"

Jeka tertawa renyah. "Kau cantik."

Dari pada belajar, sebenarnya Ara lebih menginginkan percakapan mereka berlanjut. Tapi pada akhirnya tangan Ara tetap mengeluarkan buku-bukunya dari dalam tas yang ia bawa. Jeka juga telah membuka buku yang sempat ia abaikan.

Suasana kafe perlahan mulai bertambah ramai. Musik yang telah berganti bertarung sengit dengan suara obrolan banyak orang.

Jeka tiba-tiba berdiri lalu berpindah duduk di depan Ara.

"Kenapa?"

Ara menemukan sendiri jawaban mengapa Jeka seperti itu ketika matanya menemukan sekelompok pemuda di belakang tengah melihat mereka.

"Mereka melihatmu seperti itu dari tadi," jelas Jeka dengan wajah kesal.

Entah terbuat dari apa mata teliti Jeka yang pasti Ara mengaguminya.

"Mereka melihat kita."

Jeka segera mengoreksi. "Tidak, mereka hanya melihatmu."

Benar, mereka hanya melihat Ara lalu cekikikan dengan aneh bersama sambil berbisik-bisik yang Jeka duga pasti tentang kekasihnya.

"Benarkah?" Ara tersenyum jahil. Ia mendongak karena bahu lebar Jeka menghalagi penglihatannya tapi dengan cepat Jeka menahan kepalanya untuk menunduk kembali.

"Jangan dilihat." Ara tersenyum karena Jeka terlihat kesal. "Dan jangan terseyum."

"Kenapa? Kau takut aku berpaling darimu karena ada yang lebih tampan? Kau tenang saja, aku orang yang setia."

Ketika Ara mendongak untuk melihat mereka lagi, Jeka kembali menahan kepalanya.

"Tidak ada yang tampan dan mereka bukan anak baik-baik."

Ara memutar bola mata. "Kau berlebihan," kata Ara sambil menyomot kentang goreng milik Jeka.

Ketika suasana kembali semula, segerombolan pemuda itu mencuri perhatian Jeka dengan berpindah duduk dibelakang Ara. Walau itu bisa dikatakan tidak masalah tapi tidak bagi Jungkook. Jelas mereka ingin mencari masalah dengannya.

Tatapan tajam setajam pisau terpancar dari tatapan Jeka. Ara segera bertindak ketika Jeka akan bangkit.

"Berhentilah. Kau terlihat menyeramkan seperti itu."

"Aku tidak menyukai tatapan mereka padamu."

"Biarkan saja. "

"Aku tidak mau." Jeka keras kepala."Apa perlu aku mencongkel matanya?" tanya Jeka yang sebenarnya bukan sebuah pertanyaan.

"Kau tahu, kau benar-benar seperti psikopat."

Jeka mendengus seperti anak kecil lalu berkata, "Susah sekali ya kalau punya pacar cantik."

Ara terkekeh lalu beranjak berdiri dan Jeka secepat kilat menahan tangannya.

"Mau kemana?"

"Memesan. Tunggu disini sebentar. "

Jeka ikut berdiri."Akan aku antar."

"Tidak perlu, aku bukan anak kecil."

Jeka tidak akan mudah menyerah."Aku tidak pernah bilang kau anak kecil, aku hanya ingin mengantarmu."

Ara menghela nafas. "Jaraknya hanya beberapa meter, bahkan kau bisa melihatku dari sini."

Kalau Jeka manja dan kekanak-anakan, Aera lebih dari itu. Dengan memasang wajah memelas Ara menggelayuti lengan Jeka. "Kumohon..."

Setelah Ara memasang wajah sangat memelas, pada akhirnya Jeka mengagguk pasrah lalu duduk kembali.

Melewati sekumpulan pemuda itu yang mencoba menggodanya, Ara menoleh pada Jeka yang menatap tajam pemuda-pemuda itu sebelum memesan.

Lalu Ara menggumam,"Dia selalu saja seperti itu. "

"Ada yang bisa saya bantu?" kata suara yang mengejutkan Ara.

Ara spontan menoleh. Sekali lagi terkejut karena apa yang ia temui. Dowon-pemuda yang ia temui di halte bis beberapa hari yang lalau tengah tersenyum ramah dengan memakai seragam yang sama seperti kafe ini miliki.

"Dowon?"

"Ah, Ara. Kau kemari?" ucap Dowon dengan wajah ramah.

Ara memperhatikan Dowon atas sampai bawah untuk memastikan kalau prasangkanya tidak salah.

"Kau bekerja disini?" tanya Ara.

"Ya. Aku bekerja disini. Apa kau ingin memesan?"

Dowon mengambil catatan beserta bolpoinnya lalu bersiap untuk mencatat pesanan Ara.

"Aku pesan milkshake satu."

Jari-jari Dowon bergerak menulis pesanan Ara dengan profesional. Disisi lain Ara memperhatikan kegiatan Dowon. Bukan. Ara memperhatikan Dowon.

Wajah tampan milik Dowon dan keramahannya. Dowon yang tahu namanya, dan bagaimana bisa anak SMA bekerja di kafe? Semua itu mengalir begitu saja dalam pikiran Ara.

"Apa kau datang bersama Jeka? tanya Dowon yang tiba-tiba mendongak dari catatannya.

"Ah...iya. Kau kenal Jeka?"

"Tentu saja." Dowon meletakkan catatannya di atas meja. Beralih menatap Aera penuh perhatian. "Dia temanku."

"Benarkah? Apa kalian berteman dekat?"

Ah, tentu saja akan jadi sempurna kalau melihat dua pemuda tampan berteman.

"Mungkin begitu."

Hening.

Dowon mengukir senyum tipisnya. "Sepertinya kau harus cepat kembali ke mejamu atau pacarmu itu tidak akan berhenti melotot."

Ara menoleh mengikuti arah lirikan mata Dowon yang tertuju pada Jeka ditengah ruangan.

"Biarkan saja dia seperti itu."

"Jangan. Ia terlihat menyeramkan jika seperti itu."

"Seperti orang kerasukan," sahut Ae

ra cepat.

"Kau benar." Dowon tertawa begitu pula Ara.

Ketika seseorang mulai mengantre, Ara menghentikan percakapan mereka karena merasa tidak enak.

"Kalau begitu aku pergi dulu," pamit Ae

ra.

"Sampai jumpa kembali." Setelah mengucapkan kalimat itu, Dowon mulai melanjutkan pekerjaannya.

Mata Jeka tidak melepaskan Ara sampai Ara duduk kembali. Disaat duduk pun Jeka masih menatapnya dengan tatapan heran.

"Dengan siapa kau tadi berbicara?"

Ara tahu Jeka tidak akan marah kalau ia berbicara dengan temannya. Walau begitu, Ara tidak mau mengambil risiko sifat posesif Jeka akan keluar dan merusak malamnya bersama Jeka .

"Tidak ada."

Ara menoleh ke arah Dowon lalu berterima kasih pada tembok yang menghalangi Dowon.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Let me know (Indonesia)     Wonder

    Ara pikir Dowon sudah pulang setelah membiarkannya mengunjungi Yuna. Nyatanya sosok tinggi itu berdiri diluar sana menunggunya.Kalau saja Ara tidak mengenalinya, gadis itu mungkin akan mengira bahwa Dowon adalah model yang tersesat didepan rumah pemakaman.Ah, benar. Bukankah Dowon memang seperti model. Terlebih pemuda itu bersandar ditembok putih dengan wajah tenang berlatar cahaya rembulan.Sempurna.Mungkin kata itu yang dapat mendefisikannya. Kalau begini bagaimana Ara tidak gugup?"Dowon."Dowon menoleh. Pemuda tampan itu mengeluarkan tangannya dari saku celana lalu tersenyum seperti biasa.Ah, senyum itu. Bisakah tuhan mengurangi efek dari senyumannya sedikit saja?Aera menggeleng-geleng. Ini bukan waktunya untuk memikirkan hal konyol seperti itu. Ingatlah pada Jeka."Sudah selesai?" tanya Dowon

  • Let me know (Indonesia)    Converse high

    29, juli 2016"Kau benar-benar akan pergi?" tanya Yuna untuk ketiga kalinya.Sama seperti Yuna, Ara mengangguk untuk ketiga kalinya pula. "Tentu saja.""Ah, kau tidak seru lagi. Lagi pula apa hebatnya sekolah di Jepang."Yuna berbalik menghadap Ara lalu memperbaiki posisi duduknya. "Kau juga payah dalam mengusai bahasa asing, bukan? Aku tidak tahu kalau kau bisa Bahasa Jepang." lanjutnya."Ya, jangan mencoba mengubah keputusanku lagi."Yuna memasang wajah cemberut. Sebanyak apapun temannya diluar sana, kehilangan sahabat adalah hal yang terburuk. Tetapi ia tidak bisa memaksakan keegoisannya untuk memaksa Ara.Perlu beberapa bulan untuk Ara memutuskan kepindahanannya. Dengan bujukan bertubi-tubi dari kedua orang tuanya serta fakta bahwa pekerjaan orang tuanya sangat berharga ia berlapang dada menyetujui.Mungkin Yuna adalah salah satu alasan terbesar untuk Ara tetap

  • Let me know (Indonesia)    Purpose

    Berita itu mungkin adalah sebuah kesalahan yang tidaklah benar. Sahabatnya-Yuna juga mungkin baik-baik saja. Tapi seberapa keras pun ia menyakini itu, faktanya adalah sebaliknya.Ara mengetuk pintu untuk ketiga kalinya, seorang nenek dengan rambut yang mulai memutih membuka pintu.Nenek itu sempat terkejut. Sesaat kemudian matanya mulai menghangat lalu merengkuh tubuh Ara ke dalam pelukannya.Ara membalas pelukan nenek itu."Apa kabar nenek.""Oh, astaga. Ara?" ucap nenek Yuna setelah melepaskan pelukannya dengan semangat seorang ibu yang baru bertemu anaknya setelah sekian lama."Maafkan aku karena datang terlambat."Nenek itu menggeleng. Mengusap pucuk kepala Ara dengan sayang."Ayo masuk."Ara tetap berada diposisinya ketika nenek Yuna menariknya masuk ke dalam rumah. Seperti tujuan awal ia datang kemari, Ara memutuskan untuk me

  • Let me know (Indonesia)    Begin

    Kalau saja ada pilihan kedua, Ara akan memilih pilihan yang kedua dari pada berakhir diantara rak-rak buku yang memuakkan.Selama menjadi anak sekolah, bisa dihitung berapa kali Ara mengunjungi tempat itu. Ruangan sepi dengan bau buku-buku, Ara tidak menyukainya. Kalau saja bukan guru menyebalkan itu yang memerintahkannya Ara pasti menolak."Ara, apa kau mau lihat orang yang kuceritakan," kata Mina yang muncul diantara dua rak dengan menunjukan sebuah surat kabar ditangan kanannya."Ya! Cari dulu buku yang diminta," ujar Ara sembari mengobrak-abrik deretan buku di rak itu.Ini tidak bisa dibiarkan lagi. Ara mulai bosan dengan benda persegi panjang ini."Ah menyebalkan. Mengapa harus kita yang dipilih oleh guru sialan itu."Bukannya menyemangatinya, perkataan Mina justru membuatnya ingin segera mengakhiri semua ini. Bukannya mencari, Ara beralih kegiatan menjadi me

  • Let me know (Indonesia)    Cafe

    Dentuman musik pop mengiringi kesibukan di dalam kafe. Ara berjalan mengendap-endap lalu menarik salah satu earphone yang menyumpali telinga Jeka.Pemuda itu terkejut reflek mendongak ke arahnya.Satu tarikan bibir membentuk senyum membuat Jeka semakin tampan yang sialnya Ara suka."Kau sudah datang?" ujar Jeka."Jangan menyindir. Aku tahu aku terlambat," kata Ara membuat senyum Jeka semakin lebar.Jeka menggeser tubuhnya untuk memberi tempat duduk pada Ara. Menutup buku yang tadi ia baca lalu menyingkirkannya."Aku selalu heran mengapa kau bisa belajar dengan mendengarkan musik seperti itu, tapi aku lebih heran mengapa kau mendengarkan musik diruangan yang ada musiknya.""Karena aku suka," jawab Jeka.Ara mencibir. Memasang earphone Jungkook yang ia ambil tadi ditelinganya."Ngomong-ngomong aku juga hera

  • Let me know (Indonesia)    Her

    "Bukankah ini sepatu milikmu?"Mata Ara mengerjap. Ia mengulurkan tangan menerima sepatunya sambil berkata, "Ah iya. terimakasih. 'Ara malu bukan main, ia sampai menutupi sisi kiri wajahnya dengan tangan bak orang bodoh ketika pemuda itu ikut duduk di sampingnya.Kemudian Ara sangat berterima kasih pada bis yang datang tepat waktu. Ia segera beranjak dari duduknya untuk menaiki bis dengan terburu-buru. Sayangnya Ara tidak pernah menduga kalau pemuda itu juga sedang menunggu bis yang sama."Ah iya, apa lagi yang dia tunggu di halte kalau bukan bis. Dasar Ara bodoh," ujarnya dalam hati.Kursi kedua dari belakang dekat dengan jendela adalah kursi yang selalu menjadi pilihannya. Seakan kursi itu sudah menja

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status