LOGINKalau saja ada pilihan kedua, Ara akan memilih pilihan yang kedua dari pada berakhir diantara rak-rak buku yang memuakkan.
Selama menjadi anak sekolah, bisa dihitung berapa kali Ara mengunjungi tempat itu. Ruangan sepi dengan bau buku-buku, Ara tidak menyukainya. Kalau saja bukan guru menyebalkan itu yang memerintahkannya Ara pasti menolak.
"Ara, apa kau mau lihat orang yang kuceritakan," kata Mina yang muncul diantara dua rak dengan menunjukan sebuah surat kabar ditangan kanannya.
"Ya! Cari dulu buku yang diminta," ujar Ara sembari mengobrak-abrik deretan buku di rak itu.
Ini tidak bisa dibiarkan lagi. Ara mulai bosan dengan benda persegi panjang ini.
"Ah menyebalkan. Mengapa harus kita yang dipilih oleh guru sialan itu."
Bukannya menyemangatinya, perkataan Mina justru membuatnya ingin segera mengakhiri semua ini. Bukannya mencari, Ara beralih kegiatan menjadi merusak buku dengan mengobrak-abrik dan meletakkannya asal.
"Ngomong-ngomong kau tidak mau membaca surat kabar ini?" Ara melotot pada Mina, menggeleng kuat dengan wajah datar.
"Kupikir kau sangat penasaran. Ya sudah, aku baca sendiri saja," lanjut Mina dengan nada kecewa.
Temannya yang satu ini memang menyebalkan. Disaat Ara hampir mati karena buku-buku, ia malah mencari gosip seperti itu lalu duduk santai bersandar sembari membaca.
Ara menghela nafas. Tangannya mulai merapikan kembali buku-buku itu ke tempatnya semula dari pada berakhir mendapat bonus omelan penjaga perpustakaan.
"Ah, iya. Aku baru teringat, namanya Yuna," oceh Mina dengan dirinya sendiri.
Tiba-tiba Ara menghentikan kegiatannya. Ia menatap Yuna dengan mata terkejut sampai temannya itu mengambil langkah mundur merasa terimidasi.
"Kau bilang apa tadi?" tanya Ara untuk memastikan.
"Apa?" heran Mina dengan tampang polos. Ini bukan waktunya untuk memasang wajah itu, dasar.
"Kau, tadi kau bilang apa? "
Mina menyerngit. "Apa? Yuna?"
Ara memundurkan tubuhnya setelah mendapat jawaban. Ia sempat merampas surat kabar dari tangan Mina lalu mengalihkan perhatiannya pada surat kabar itu.
"Ya! Kau bilang kau tidak tertarik," desis Mina.
Tidak. Ara tidak pernah tertarik dengan surat kabar atau semacamnya. Namun ada suatu hal yang membuatnya sangat penasaran dan ingin memeriksanya.
Nama yang Mina sebut dan juga inisial yang tertulis di surat kabar itu.
HYN. Park Yuna.
Nama yang sangat Ara hafal sampai di luar kepala.
Mata Ara tidak berkedip membaca kata-perkata di dalam surat kabar itu. Seolah hidup dan matinya tergantung yang ada di dalam sana, Ara mencengkram surat kabar itu.
Seorang siswi SMA Jangyun ditemukan meninggal karena bunuh diri di dalam sekolah.
Ara berhenti membaca dikalimat pertama untuk ketiga kalinya. Ia menoleh ke arah Mina lalu memojokan gadis itu kembali tanpa ia sadari.
Mina sedikit panik ketika tubuhnya terhimpit diantara rak buku dan tubuh Ara. Perasaan aneh muncul dibenaknya. Ara tidak pernah bertingkah seaneh ini.
"Apa kau tahu dimana mencari album angkatan kita?" tanya Ara dengan nada serius.
Mina mengerjap, lalau ragu-ragu untuk mengangguk. Kemudian Mina memimpin jalan menuju rak buku dipaling bojok dimana tempat berjejer album sekolah setiap angkatan.
Ara mengambil langkah cepat. Ia mulai mengobrak-abrik mencari album yang ia maksud lalu setelah menemukannya ia buru-buru untuk membukanya.
Lembar demi lembar Ara mencari. Di dalam hati Ara berharap untuk tidak menemukan apa yang ia cari dan dugaannya salah, tetapi tetnyata tuhan berkehendak lain.
Tangannya berhenti disebuah foto seorang gadis lengkap dengan biodatanya serta senyuman manis seperti dulu.
Mata Ara memanas. Kemudian bulir bening menetes membasahi kedua pipinya. Tangannya mencengkram album itu dengan kuat. Itu tidak mungkin Yuna yang ia kenal. Park Yuna temannya baik-baik saja.
"Ya, kenapa kau menangis?"
Bibir bergetar Ara kini telah berganti dengan isakan pilu penuh kesedihan. Ia tidak bisa lagi untuk menahan air matanya yang tumpah.
"Hei, jangan membuatku bingung. Kau kenapa?"
"Kenapa kau tidak mengatakan kalau itu dia?" ucap Ara ditengah isakannya.
***
"Ada apa dengan kau?"
"Apa ada masalah? Apa Alex mengganggumu lagi?" Ada nada kekhawatiran dalam runtutan pertanyaan Jeka.
Ara menggeleng. Mengusap sisi wajahnya dengan punggung tangan untuk menghilangkan jejak air mata.
Jeka mendekat lalu memegang tangan Ara. Matanya menatap mata Ara dengan penuh perhatian. Seketika ia menyesal tidak menjemput gadis itu ke kelasnya saja.
"Katakan padaku, apa ada masalah?"
Sekali lagi Ara menggeleng. "Tidak."
"Lalu kenapa kau habis menangis?"
"Tidak apa-apa. Aku hanya merasa sedih."
Tangan Jeka terulur mengusap jejak air mata yang belum menghilang lalu merambat ke atas merapikan poni Ara yang berantakan.
"Mengapa?"
Kalau tadi Jeka bertanya dengan nada khawatir, kali ini nada yang ia gunakan mampu sedikit menenangkan Ara.
Ara tidak ingin membuat Jeka khawatir padanya. Ia tidak ingin menyusahkan Jeka apalagi membuat kekasihnya itu kerepotan.
"Aku tidak bisa bercerita sekarang." Ara menurunkan tangan Jeka dari kepalanya. "Kau pulang dulu saja. Aku ada urusan."
"Urusan apa?"
"Pergi ke suatu tempat."
Ara sudah menebak kalau Jeka akan mengatakan, "Biar aku temani." Dan Ara akan menjawab.
"Tidak perlu. Kau pulang duluan saja."
Sebelum Jeka kembali memprotes, Ara memotongnya dengan permohonan. "Kumohon."
Namun Jeka tetaplah Jrma. Pemuda keras kepala dan posesif yang manis.
"Tidak. Aku akan tetap menemanimu."
Kakau sudah begini, tidak ada pilihan lain selain memasang wajah kecewa untuk membuat Jeka luluh lalu memenuhi permintaan.
Jeka menghela nafas. "Apa kau akan baik-baik saja?"
Ara mengangguk dengan penuh keyakinan.
Bis tujuan Ara berhenti tepat di depan mereka. Ara menatap Jeka untuk mengatakan ia akan baik-baik saja sebelum melambaikan tangan lalu naik ke dalam bis.
Ara pikir Dowon sudah pulang setelah membiarkannya mengunjungi Yuna. Nyatanya sosok tinggi itu berdiri diluar sana menunggunya.Kalau saja Ara tidak mengenalinya, gadis itu mungkin akan mengira bahwa Dowon adalah model yang tersesat didepan rumah pemakaman.Ah, benar. Bukankah Dowon memang seperti model. Terlebih pemuda itu bersandar ditembok putih dengan wajah tenang berlatar cahaya rembulan.Sempurna.Mungkin kata itu yang dapat mendefisikannya. Kalau begini bagaimana Ara tidak gugup?"Dowon."Dowon menoleh. Pemuda tampan itu mengeluarkan tangannya dari saku celana lalu tersenyum seperti biasa.Ah, senyum itu. Bisakah tuhan mengurangi efek dari senyumannya sedikit saja?Aera menggeleng-geleng. Ini bukan waktunya untuk memikirkan hal konyol seperti itu. Ingatlah pada Jeka."Sudah selesai?" tanya Dowon
29, juli 2016"Kau benar-benar akan pergi?" tanya Yuna untuk ketiga kalinya.Sama seperti Yuna, Ara mengangguk untuk ketiga kalinya pula. "Tentu saja.""Ah, kau tidak seru lagi. Lagi pula apa hebatnya sekolah di Jepang."Yuna berbalik menghadap Ara lalu memperbaiki posisi duduknya. "Kau juga payah dalam mengusai bahasa asing, bukan? Aku tidak tahu kalau kau bisa Bahasa Jepang." lanjutnya."Ya, jangan mencoba mengubah keputusanku lagi."Yuna memasang wajah cemberut. Sebanyak apapun temannya diluar sana, kehilangan sahabat adalah hal yang terburuk. Tetapi ia tidak bisa memaksakan keegoisannya untuk memaksa Ara.Perlu beberapa bulan untuk Ara memutuskan kepindahanannya. Dengan bujukan bertubi-tubi dari kedua orang tuanya serta fakta bahwa pekerjaan orang tuanya sangat berharga ia berlapang dada menyetujui.Mungkin Yuna adalah salah satu alasan terbesar untuk Ara tetap
Berita itu mungkin adalah sebuah kesalahan yang tidaklah benar. Sahabatnya-Yuna juga mungkin baik-baik saja. Tapi seberapa keras pun ia menyakini itu, faktanya adalah sebaliknya.Ara mengetuk pintu untuk ketiga kalinya, seorang nenek dengan rambut yang mulai memutih membuka pintu.Nenek itu sempat terkejut. Sesaat kemudian matanya mulai menghangat lalu merengkuh tubuh Ara ke dalam pelukannya.Ara membalas pelukan nenek itu."Apa kabar nenek.""Oh, astaga. Ara?" ucap nenek Yuna setelah melepaskan pelukannya dengan semangat seorang ibu yang baru bertemu anaknya setelah sekian lama."Maafkan aku karena datang terlambat."Nenek itu menggeleng. Mengusap pucuk kepala Ara dengan sayang."Ayo masuk."Ara tetap berada diposisinya ketika nenek Yuna menariknya masuk ke dalam rumah. Seperti tujuan awal ia datang kemari, Ara memutuskan untuk me
Kalau saja ada pilihan kedua, Ara akan memilih pilihan yang kedua dari pada berakhir diantara rak-rak buku yang memuakkan.Selama menjadi anak sekolah, bisa dihitung berapa kali Ara mengunjungi tempat itu. Ruangan sepi dengan bau buku-buku, Ara tidak menyukainya. Kalau saja bukan guru menyebalkan itu yang memerintahkannya Ara pasti menolak."Ara, apa kau mau lihat orang yang kuceritakan," kata Mina yang muncul diantara dua rak dengan menunjukan sebuah surat kabar ditangan kanannya."Ya! Cari dulu buku yang diminta," ujar Ara sembari mengobrak-abrik deretan buku di rak itu.Ini tidak bisa dibiarkan lagi. Ara mulai bosan dengan benda persegi panjang ini."Ah menyebalkan. Mengapa harus kita yang dipilih oleh guru sialan itu."Bukannya menyemangatinya, perkataan Mina justru membuatnya ingin segera mengakhiri semua ini. Bukannya mencari, Ara beralih kegiatan menjadi me
Dentuman musik pop mengiringi kesibukan di dalam kafe. Ara berjalan mengendap-endap lalu menarik salah satu earphone yang menyumpali telinga Jeka.Pemuda itu terkejut reflek mendongak ke arahnya.Satu tarikan bibir membentuk senyum membuat Jeka semakin tampan yang sialnya Ara suka."Kau sudah datang?" ujar Jeka."Jangan menyindir. Aku tahu aku terlambat," kata Ara membuat senyum Jeka semakin lebar.Jeka menggeser tubuhnya untuk memberi tempat duduk pada Ara. Menutup buku yang tadi ia baca lalu menyingkirkannya."Aku selalu heran mengapa kau bisa belajar dengan mendengarkan musik seperti itu, tapi aku lebih heran mengapa kau mendengarkan musik diruangan yang ada musiknya.""Karena aku suka," jawab Jeka.Ara mencibir. Memasang earphone Jungkook yang ia ambil tadi ditelinganya."Ngomong-ngomong aku juga hera
"Bukankah ini sepatu milikmu?"Mata Ara mengerjap. Ia mengulurkan tangan menerima sepatunya sambil berkata, "Ah iya. terimakasih. 'Ara malu bukan main, ia sampai menutupi sisi kiri wajahnya dengan tangan bak orang bodoh ketika pemuda itu ikut duduk di sampingnya.Kemudian Ara sangat berterima kasih pada bis yang datang tepat waktu. Ia segera beranjak dari duduknya untuk menaiki bis dengan terburu-buru. Sayangnya Ara tidak pernah menduga kalau pemuda itu juga sedang menunggu bis yang sama."Ah iya, apa lagi yang dia tunggu di halte kalau bukan bis. Dasar Ara bodoh," ujarnya dalam hati.Kursi kedua dari belakang dekat dengan jendela adalah kursi yang selalu menjadi pilihannya. Seakan kursi itu sudah menja