LOGINBerita itu mungkin adalah sebuah kesalahan yang tidaklah benar. Sahabatnya-Yuna juga mungkin baik-baik saja. Tapi seberapa keras pun ia menyakini itu, faktanya adalah sebaliknya.
Ara mengetuk pintu untuk ketiga kalinya, seorang nenek dengan rambut yang mulai memutih membuka pintu.
Nenek itu sempat terkejut. Sesaat kemudian matanya mulai menghangat lalu merengkuh tubuh Ara ke dalam pelukannya.
Ara membalas pelukan nenek itu."Apa kabar nenek."
"Oh, astaga. Ara?" ucap nenek Yuna setelah melepaskan pelukannya dengan semangat seorang ibu yang baru bertemu anaknya setelah sekian lama.
"Maafkan aku karena datang terlambat."
Nenek itu menggeleng. Mengusap pucuk kepala Ara dengan sayang.
"Ayo masuk."
Ara tetap berada diposisinya ketika nenek Yuna menariknya masuk ke dalam rumah. Seperti tujuan awal ia datang kemari, Ara memutuskan untuk menanyakan pertanyaan yang sebenarnya tidak ingin ia dengar jawabannya. Nenek itu menoleh dengan raut wajah bertanya mengapa ia tidak masuk.
"Apa itu benar, Nek?" Ara menahan napas lalu menghembuskannya sebelum melanjutkan. "Apa yang ada disurat kabar, apa itu benar?"
Raut sedih yang bangkit dalam wajah nenek Yuna sudah menjawab pertanyaan Ara.
"Katakan padaku kalau itu tidak benar." Mata Ara kembali memanas. Bibirnya sudah bergetar menahan air mata.
Ada setipis harapan didalam diri Ara untuk berharap ia bertemu Yuna kembali. Berharap apa yang baru saja ditemukannya hanya sebuah mimpi belaka.
Nenek Yuna kembali memeluknya, mengusap punggung Ara dengan lembut. Ara tidak bisa lagi menahan air matanya saat itu. Tetesan air mata dan isak tangisnya berakhir dipelukan hangat nenek Yeon Soo.
"Bagaimana bisa itu terjadi, Nek."
Dan bagaimana Yuna tega mengakhiri hidupnya sendiri seperti itu. Yuna yang ia kenal tidak seperti itu.
***
Pintu yang lama tidak terbuka itu bersuara seakan menyampaikan betapa rindunya ia pada seseorang untuk membukanya kembali.
Ara melepas engsel pintu dengan perasaan lebih baik. Matanya langsung bertemu dengan gelapnya ruangan serta bau khas milik Yuna yang sedikit memudae.
Ia meraba sisi kirinya untuk menemukan skalar lampu lalu menghidupkannya. Warna hitam putih yang dominan serta susunan bingkai foto menyambutnya.
Kata nenek, kamar ini tidak pernah ditempati siapapun setelah kepergian pemiliknya. Hanya kadang kala ketika nenek merindukan Yuna atau sekedar membersihkan kamar. Tidak heran kalau ruangan itu bersih dan tidak jauh beda dari dulu.
Tidak. Ruangan itu masih sama.
Sama seperti terakhir kali Ara kemari. Sama seperti ketika mereka terakhir kali bertemu dan mengabadikan momen itu disebuah foto cantik yang mereka pajang dikamar masing-masing.
Foto-foto mereka yang lain masih ada di dinding kamar Ara dengan keadaan yang sama seperti diingatan Ara.
Tangan Ara terulur meraba kepingan kenangan itu. Ingatan dimana waktu mereka bersama kembali bangkit.
"Harusnya aku langsung kemari," gumam Ara penuh penyesalan.
Ara duduk menghadap meja belajar. Buku-buku Yuna masih berjejer rapi di tempatnya. Ternyata nenek Yuna benar-benar tidak ingin menghilangkan jejak hidup Yuna.
Ara melihat foto dua gadis kecil tengah tersenyum lebar sambil bergandengan tangan. Itu mereka. Ara dan Yuna. Seminggu setelah mereka bertemu.
Tangannya kembali meraba benda-benda di sana sebelum pandangan Ara jatuh pada deretan buku warna pastel. Ah iya, Ara lupa bahwa Yuna adalah tipikal orang yang tidak akan membagikan kisahnya ke sosial media melainkan menuangkannya dibuku pribadi.
Ara pernah mengatakan bahwa hal seperti itu konyol mengingat mereka bukan lagi anak sekolah dasar. Tapi dengan hebatnya Yuna mampu memiliki diary mulai dari ia kecil sampai umur kematiannya.
Yuna pernah mengatakan bahwa ia akan membaca semuanya kembali setelah ia menua. Konyol memang.
"Lagi pula kalau disosial media semua akan mengetahuinya. Aku hanya akan membacanya sendiri nanti." Begitu kata Yuna.
Ara membulatkan mata. Tangannya berhenti di tempat. Tepat pada jejeran buku bersampul pastel itu.
Tunggu.
Diary. Yuna.
Dengan cepat tangan Ara mengobrak-abrik susunan buku itu. Mengeceknya satu-persatu lalu berhenti dibuku keempat. Buku bersampul biru. Buku harian SMA Yuna.
Ketika Ara membukanya, kepingan kertas terjatuh dari sana. Ara segera berjongkok untuk memungutnya.
Itu adalah sebuah foto yang dirobek dengan kuat sampai fotonya tak terbaca.
Ketika Ara mencoba menyatukannya kembali, kening Ara menyerngit ketika menyadari robekan foto itu hanya setengah dari bagian foto yang seharusnya.
Dimana sisa robekannya? Lagi pula mengapa Yuna merobeknya.
Ara mengalihkan perhatian pada buku harian Yuna kembali. Ujung buku itu menyenggol sesuatu ketika Ara mengambilnya. Ara menyerngit kembali. Ia baru sadar kalau dibalik foto itu ada tulisannya.
Kali ini Ara menyatukannya dengan terbalik. Lalu sebuah kalimat muncul dibalik foto itu.
Dengan 7 pemuda tampan.
Ara pikir Dowon sudah pulang setelah membiarkannya mengunjungi Yuna. Nyatanya sosok tinggi itu berdiri diluar sana menunggunya.Kalau saja Ara tidak mengenalinya, gadis itu mungkin akan mengira bahwa Dowon adalah model yang tersesat didepan rumah pemakaman.Ah, benar. Bukankah Dowon memang seperti model. Terlebih pemuda itu bersandar ditembok putih dengan wajah tenang berlatar cahaya rembulan.Sempurna.Mungkin kata itu yang dapat mendefisikannya. Kalau begini bagaimana Ara tidak gugup?"Dowon."Dowon menoleh. Pemuda tampan itu mengeluarkan tangannya dari saku celana lalu tersenyum seperti biasa.Ah, senyum itu. Bisakah tuhan mengurangi efek dari senyumannya sedikit saja?Aera menggeleng-geleng. Ini bukan waktunya untuk memikirkan hal konyol seperti itu. Ingatlah pada Jeka."Sudah selesai?" tanya Dowon
29, juli 2016"Kau benar-benar akan pergi?" tanya Yuna untuk ketiga kalinya.Sama seperti Yuna, Ara mengangguk untuk ketiga kalinya pula. "Tentu saja.""Ah, kau tidak seru lagi. Lagi pula apa hebatnya sekolah di Jepang."Yuna berbalik menghadap Ara lalu memperbaiki posisi duduknya. "Kau juga payah dalam mengusai bahasa asing, bukan? Aku tidak tahu kalau kau bisa Bahasa Jepang." lanjutnya."Ya, jangan mencoba mengubah keputusanku lagi."Yuna memasang wajah cemberut. Sebanyak apapun temannya diluar sana, kehilangan sahabat adalah hal yang terburuk. Tetapi ia tidak bisa memaksakan keegoisannya untuk memaksa Ara.Perlu beberapa bulan untuk Ara memutuskan kepindahanannya. Dengan bujukan bertubi-tubi dari kedua orang tuanya serta fakta bahwa pekerjaan orang tuanya sangat berharga ia berlapang dada menyetujui.Mungkin Yuna adalah salah satu alasan terbesar untuk Ara tetap
Berita itu mungkin adalah sebuah kesalahan yang tidaklah benar. Sahabatnya-Yuna juga mungkin baik-baik saja. Tapi seberapa keras pun ia menyakini itu, faktanya adalah sebaliknya.Ara mengetuk pintu untuk ketiga kalinya, seorang nenek dengan rambut yang mulai memutih membuka pintu.Nenek itu sempat terkejut. Sesaat kemudian matanya mulai menghangat lalu merengkuh tubuh Ara ke dalam pelukannya.Ara membalas pelukan nenek itu."Apa kabar nenek.""Oh, astaga. Ara?" ucap nenek Yuna setelah melepaskan pelukannya dengan semangat seorang ibu yang baru bertemu anaknya setelah sekian lama."Maafkan aku karena datang terlambat."Nenek itu menggeleng. Mengusap pucuk kepala Ara dengan sayang."Ayo masuk."Ara tetap berada diposisinya ketika nenek Yuna menariknya masuk ke dalam rumah. Seperti tujuan awal ia datang kemari, Ara memutuskan untuk me
Kalau saja ada pilihan kedua, Ara akan memilih pilihan yang kedua dari pada berakhir diantara rak-rak buku yang memuakkan.Selama menjadi anak sekolah, bisa dihitung berapa kali Ara mengunjungi tempat itu. Ruangan sepi dengan bau buku-buku, Ara tidak menyukainya. Kalau saja bukan guru menyebalkan itu yang memerintahkannya Ara pasti menolak."Ara, apa kau mau lihat orang yang kuceritakan," kata Mina yang muncul diantara dua rak dengan menunjukan sebuah surat kabar ditangan kanannya."Ya! Cari dulu buku yang diminta," ujar Ara sembari mengobrak-abrik deretan buku di rak itu.Ini tidak bisa dibiarkan lagi. Ara mulai bosan dengan benda persegi panjang ini."Ah menyebalkan. Mengapa harus kita yang dipilih oleh guru sialan itu."Bukannya menyemangatinya, perkataan Mina justru membuatnya ingin segera mengakhiri semua ini. Bukannya mencari, Ara beralih kegiatan menjadi me
Dentuman musik pop mengiringi kesibukan di dalam kafe. Ara berjalan mengendap-endap lalu menarik salah satu earphone yang menyumpali telinga Jeka.Pemuda itu terkejut reflek mendongak ke arahnya.Satu tarikan bibir membentuk senyum membuat Jeka semakin tampan yang sialnya Ara suka."Kau sudah datang?" ujar Jeka."Jangan menyindir. Aku tahu aku terlambat," kata Ara membuat senyum Jeka semakin lebar.Jeka menggeser tubuhnya untuk memberi tempat duduk pada Ara. Menutup buku yang tadi ia baca lalu menyingkirkannya."Aku selalu heran mengapa kau bisa belajar dengan mendengarkan musik seperti itu, tapi aku lebih heran mengapa kau mendengarkan musik diruangan yang ada musiknya.""Karena aku suka," jawab Jeka.Ara mencibir. Memasang earphone Jungkook yang ia ambil tadi ditelinganya."Ngomong-ngomong aku juga hera
"Bukankah ini sepatu milikmu?"Mata Ara mengerjap. Ia mengulurkan tangan menerima sepatunya sambil berkata, "Ah iya. terimakasih. 'Ara malu bukan main, ia sampai menutupi sisi kiri wajahnya dengan tangan bak orang bodoh ketika pemuda itu ikut duduk di sampingnya.Kemudian Ara sangat berterima kasih pada bis yang datang tepat waktu. Ia segera beranjak dari duduknya untuk menaiki bis dengan terburu-buru. Sayangnya Ara tidak pernah menduga kalau pemuda itu juga sedang menunggu bis yang sama."Ah iya, apa lagi yang dia tunggu di halte kalau bukan bis. Dasar Ara bodoh," ujarnya dalam hati.Kursi kedua dari belakang dekat dengan jendela adalah kursi yang selalu menjadi pilihannya. Seakan kursi itu sudah menja