MasukKalau saja Ara tidak mengenalinya, gadis itu mungkin akan mengira bahwa Dowon adalah model yang tersesat didepan rumah pemakaman.
Ah, benar. Bukankah Dowon memang seperti model. Terlebih pemuda itu bersandar ditembok putih dengan wajah tenang berlatar cahaya rembulan.
Sempurna.
Mungkin kata itu yang dapat mendefisikannya. Kalau begini bagaimana Ara tidak gugup?
"Dowon."
Dowon menoleh. Pemuda tampan itu mengeluarkan tangannya dari saku celana lalu tersenyum seperti biasa.
Ah, senyum itu. Bisakah tuhan mengurangi efek dari senyumannya sedikit saja?
Ae
ra menggeleng-geleng. Ini bukan waktunya untuk memikirkan hal konyol seperti itu. Ingatlah pada Jeka."Sudah selesai?" tanya Dowon pada Ara.
Pertanyaan yang tidak asing. Tapi bukan Dowon yang seharusnya mengatakan itu melainkan Jeka. Jungkook yang biasanya bertanya seperti itu. Ah, Ara jadi merindukannya.
Gadis itu mengangguk. Kemudian Ara berjalan mendekati Dowon yang berjarak tiga meter dari tempatnya.
"Jadi kau mengenal Yuna?" kali ini Ara yang bertanya dan Dowon yang mengangguk.
"Aku tahu Yuna mempunyai banyak teman tapi aku tidak tahu kalau kau salah satunya," ujar Ara.
"Bukankah dunia memang sempit?" ujar Dowon sambil tertawa kecil. Ara menyutujui perkataan Dowon.
Mereka melangkah menuruni tangga bersama. Walau Ara bingung mengapa Dowon menunggunya, tetapi Aera bersyukur kerena ada sesuatu yang ingin ia tahu dari Dowon.
"Apa kau akan pulang sekarang?" tanya Dowon pada Ara.
"Hmm, apa kau mau makan Tteokbokki? Aku yang traktir" ajak Ara.
"Bukankah sudah terlalu malam?"
Kalau melihat kondisi mereka yang masih menggunakan seragam sekolah, pergi larut malam bukanlah hal baik tetapi Ara tidak perduli.
"Tidak juga." jawaban Ara.
Bersama dinginnya angin dimalam itu, mereka berjalan sampai di kedai makanan dengan berjalan kaki.
Dowon yang beranjak untuk memesan Tteokbokki walau Ara berkata bahwa ia yang akan menraktirnya.
Setelah beberapa kali bertemu dengan Dowon, Ara bisa menyimpulkan bahwa pemuda itu adalah orang yang ramah dan penuh senyum seperti sekarang ini.
Dowon duduk tenang didepan Ara, sesekali tersenyum untuk memecah kecanggungan.
Ara tidak bermaksud lain selain memuaskan rasa penasaran dengan kejadian kebetulan di rumah pemakaman tadi. Bertemu dengan Dowon disana mungkin sebuah kebetulan tetapi mungkin juga sebuah jawaban.
Ketika Ara akan mulai berbicara pada Dowon, benda pipih miliknya berketar di dalam saku. Ara terkesiap ketika kata 'Inj' terpampang jelas begitu ia menghidupkan ponselnya.
"Iya, Ibu?"
"Kau ada dimana? Mengapa jam segini kau belum pulang?" tanya ibu Aea dengan nada khawatir.
"Aku pergi mengunjungi Yuna. Maaf aku tidak menghubungi Ibu terlebih dulu."
Terdengar jelas bahwa lawan bicara Ara tengah menghela napas diseberang sana. "Eoh, baiklah. Kukira terjadi sesuatu."
"Tapi, bolehkan aku menginap malam ini?" tanya Ara dengan hati-hati. Ibunya ini bisa saja menjadi buas seketika kalau ia salah berbicara.
"Baiklah. Jaga dirimu baik-baik dan hubungi Jeka setelah ini. Dia baru saja datang ke rumah menanyakanmu."
Ah tentu saja. Ara baru teringat dengan Jeka yang ia tinggalkan di halte bis begitu saja. Pemuda itu pasti sangat khawatir.
"Baiklah." Ara mengakhiri telepon itu lalu menyimpan ponselnya kembali.
Taehyung baru membuka mulutnya disaat ponsel Ara kembali bergetar. Ae
ra meminta ijin untuk mengangkat telepon pada Dowon.Dengan menutup mata sekalipun Ae
ra pasti tahu bahwa yang meneleponnya kali ini adalah Jeka. Dan dugaanya dipastikan benar begitu suara pemuda itu langsung menyambar."Kau dimana?"
Ara tidak terkejut. Ia bahkan menjauhkan benda itu dari telinganya sambil menyerngit.
"Sedang diluar."
"Semalam ini? Mengapa kau tidak langsung pulang? Mengapa kau tidak mengangkat teleponku tadi?" tanya Jeka bertubi-tubi dengan nada seakan memerintahkan Ara untuk cepat menjawab.
"Tidak. Urusanku masih belum selesai, kau tidak perlu khawatir."
"Apa perlu aku menjemputmu sekarang?"
Ara menggeleng walau tahu Jeka tidak akan melihatnya."Tidak perlu. Lagi pula aku akan menginap."
Dengan nada penasaran, Jeka kembali melontarkan perntanyaannya. "Menginap dimana?"
"Itu rahasia," goda Ara. Jeka pasti terpancing diseberang sana.
"Sekarang kau bersama siapa?" Ara melirik Dowon didepannya.
"Dengan teman," jawabnya mantap.
"Laki-laki atau perempuan?"
Dan inilah pertanyaan yang menantang sebenarnya. Ara tidak pandai dalam berbohong.
Bukankah ini seperti kuis? Menayakan pertanyaan kemudian menjawab. Jika benar, ia selamat.
"Perempuan." Suara Ara bergetar. Ara berharap semoga saja Dowon tidak mendengar ini, tetapi ternyata telinga pemuda itu setajam pisau.
Dowon menoleh dan Ara tersenyum kikuk.
"Sudah dulu, ya." ujar Ara, cepat.
Jeka memutar bola mata disana. "Telepon aku kalau kau ingin pulang, aku akan menjemputmu."
"Tidak perlu, kau jangan menungguku. Selamat malam."
"Lain kali jangan lupa untuk mengecek ponselmu," Jeka menekankan sebelum mengakhiri.
Telepon itu berakhir ditangan Jeka. Ara sangat bersyukur Jeka tidak bersikeras untuk menjemputnya malam ini.
"Ah, maaf Dowon." Ara sangat malu atas ucapannya. Ia meminta maaf dengan sedikit menyesal.
"Jeka pasti khawatir, bukan?" ujar Dowon.
"Iya, tentu saja."
"Dia memang terkadang berisik dan menyebalkan tetapi ia bersungguh-sungguh."
Ara mengangguk antusias. "Kau benar. Dia sangat menyebalkan. Em.. Ngomong-ngomong kalian sedekat itu?"
Diluar dugaan Ara, Fowon menggeleng. "Tidak juga."
Bersamaan dengan itu, pesanan mereka datang. Meja mereka mulai terisi oleh makanan. Beberapa menit kemudian mereka sibuk menyantap pesanan mereka masing-masing.
Sesekali Ara melirik Dowon yang sedang makan. Gadis itu tidak tahu memulai dari mana tapi ia sangat ingin berbicara.
"Ada apa?" tanya Dowon setelah meletakkan sumpitnya dan berhenti makan.
"Bolehlah aku bertanya?"
"Tentu saja."
Ara menghela napas. Ia merasa sangat terpukul.
"Apa kau tahu penyebab Yuna bunuh diri?" tanya Ara hati-hati.
Dowon terdiam memikirkan bagaimana ia menjawab. Ara jelas tahu keengganan Dowon untuk menjawab.
"Iya."
"Aku membaca buku harian milik Yuna.".
Dowon yang tadi menunduk melihat mangkuk bekas makannnya sekarang mendongak.
Ara tidak tahu Dowon sedekat apa dengan Yuna tapi melihat Dowon yang masih mengunjungi pemakaman setelah sekian lama cukup meyakinkannya bahwa ia bisa dipercaya.
"Sebelum kematiannya, Yuna menulis semuanya."
Dowon memasang wajah terkejut dengan apa yang Ara katakan.
"Apa...apa yang terjadi padanya?"
"Itu benar-benar terjadi." Dowon tetap diam terpana namun mendengarkan. Dengan satu tarikan napas, Ara melanjutkan. "Seseorang telah melukainya. Seseorang telah memperkosanya."
Dowon terhenyak. Jantung berdetak lebih kencang dan napasnya tercekat.
"Apa kau tahu pelakunya?"
"Itu yang ingin aku tanyakan padamu. Yuna tidak menulis siapa pelakunya."
"Kupikir itu tidak benar," gumam Dowon.
"Bukankah semua orang bilang kalau pelakunya Jimin?" ujar Ara.
Dowon menunduk kembali. "Kami sudah mencoba menyelidikinya, tapi tidak ada bukti kalau Alex pelakunya"
"Lalu kau akan membiarkannya begitu saja?"
"Aku sudah meminta polisi untuk menyelidikinya juga tetapi buktinya tidak cukup-"
"Jadi, kau akan membiarkan Alex begitu saja? Bukankah orang yang salah harus dihukum?"
Apapun itu. Siapapun pelakunya. Ara tidak akan menerima begitu saja hidup sahabatnya telah dihancurkan dengan mudahnya. Ara tidak akan tinggal diam.
Ara pikir Dowon sudah pulang setelah membiarkannya mengunjungi Yuna. Nyatanya sosok tinggi itu berdiri diluar sana menunggunya.Kalau saja Ara tidak mengenalinya, gadis itu mungkin akan mengira bahwa Dowon adalah model yang tersesat didepan rumah pemakaman.Ah, benar. Bukankah Dowon memang seperti model. Terlebih pemuda itu bersandar ditembok putih dengan wajah tenang berlatar cahaya rembulan.Sempurna.Mungkin kata itu yang dapat mendefisikannya. Kalau begini bagaimana Ara tidak gugup?"Dowon."Dowon menoleh. Pemuda tampan itu mengeluarkan tangannya dari saku celana lalu tersenyum seperti biasa.Ah, senyum itu. Bisakah tuhan mengurangi efek dari senyumannya sedikit saja?Aera menggeleng-geleng. Ini bukan waktunya untuk memikirkan hal konyol seperti itu. Ingatlah pada Jeka."Sudah selesai?" tanya Dowon
29, juli 2016"Kau benar-benar akan pergi?" tanya Yuna untuk ketiga kalinya.Sama seperti Yuna, Ara mengangguk untuk ketiga kalinya pula. "Tentu saja.""Ah, kau tidak seru lagi. Lagi pula apa hebatnya sekolah di Jepang."Yuna berbalik menghadap Ara lalu memperbaiki posisi duduknya. "Kau juga payah dalam mengusai bahasa asing, bukan? Aku tidak tahu kalau kau bisa Bahasa Jepang." lanjutnya."Ya, jangan mencoba mengubah keputusanku lagi."Yuna memasang wajah cemberut. Sebanyak apapun temannya diluar sana, kehilangan sahabat adalah hal yang terburuk. Tetapi ia tidak bisa memaksakan keegoisannya untuk memaksa Ara.Perlu beberapa bulan untuk Ara memutuskan kepindahanannya. Dengan bujukan bertubi-tubi dari kedua orang tuanya serta fakta bahwa pekerjaan orang tuanya sangat berharga ia berlapang dada menyetujui.Mungkin Yuna adalah salah satu alasan terbesar untuk Ara tetap
Berita itu mungkin adalah sebuah kesalahan yang tidaklah benar. Sahabatnya-Yuna juga mungkin baik-baik saja. Tapi seberapa keras pun ia menyakini itu, faktanya adalah sebaliknya.Ara mengetuk pintu untuk ketiga kalinya, seorang nenek dengan rambut yang mulai memutih membuka pintu.Nenek itu sempat terkejut. Sesaat kemudian matanya mulai menghangat lalu merengkuh tubuh Ara ke dalam pelukannya.Ara membalas pelukan nenek itu."Apa kabar nenek.""Oh, astaga. Ara?" ucap nenek Yuna setelah melepaskan pelukannya dengan semangat seorang ibu yang baru bertemu anaknya setelah sekian lama."Maafkan aku karena datang terlambat."Nenek itu menggeleng. Mengusap pucuk kepala Ara dengan sayang."Ayo masuk."Ara tetap berada diposisinya ketika nenek Yuna menariknya masuk ke dalam rumah. Seperti tujuan awal ia datang kemari, Ara memutuskan untuk me
Kalau saja ada pilihan kedua, Ara akan memilih pilihan yang kedua dari pada berakhir diantara rak-rak buku yang memuakkan.Selama menjadi anak sekolah, bisa dihitung berapa kali Ara mengunjungi tempat itu. Ruangan sepi dengan bau buku-buku, Ara tidak menyukainya. Kalau saja bukan guru menyebalkan itu yang memerintahkannya Ara pasti menolak."Ara, apa kau mau lihat orang yang kuceritakan," kata Mina yang muncul diantara dua rak dengan menunjukan sebuah surat kabar ditangan kanannya."Ya! Cari dulu buku yang diminta," ujar Ara sembari mengobrak-abrik deretan buku di rak itu.Ini tidak bisa dibiarkan lagi. Ara mulai bosan dengan benda persegi panjang ini."Ah menyebalkan. Mengapa harus kita yang dipilih oleh guru sialan itu."Bukannya menyemangatinya, perkataan Mina justru membuatnya ingin segera mengakhiri semua ini. Bukannya mencari, Ara beralih kegiatan menjadi me
Dentuman musik pop mengiringi kesibukan di dalam kafe. Ara berjalan mengendap-endap lalu menarik salah satu earphone yang menyumpali telinga Jeka.Pemuda itu terkejut reflek mendongak ke arahnya.Satu tarikan bibir membentuk senyum membuat Jeka semakin tampan yang sialnya Ara suka."Kau sudah datang?" ujar Jeka."Jangan menyindir. Aku tahu aku terlambat," kata Ara membuat senyum Jeka semakin lebar.Jeka menggeser tubuhnya untuk memberi tempat duduk pada Ara. Menutup buku yang tadi ia baca lalu menyingkirkannya."Aku selalu heran mengapa kau bisa belajar dengan mendengarkan musik seperti itu, tapi aku lebih heran mengapa kau mendengarkan musik diruangan yang ada musiknya.""Karena aku suka," jawab Jeka.Ara mencibir. Memasang earphone Jungkook yang ia ambil tadi ditelinganya."Ngomong-ngomong aku juga hera
"Bukankah ini sepatu milikmu?"Mata Ara mengerjap. Ia mengulurkan tangan menerima sepatunya sambil berkata, "Ah iya. terimakasih. 'Ara malu bukan main, ia sampai menutupi sisi kiri wajahnya dengan tangan bak orang bodoh ketika pemuda itu ikut duduk di sampingnya.Kemudian Ara sangat berterima kasih pada bis yang datang tepat waktu. Ia segera beranjak dari duduknya untuk menaiki bis dengan terburu-buru. Sayangnya Ara tidak pernah menduga kalau pemuda itu juga sedang menunggu bis yang sama."Ah iya, apa lagi yang dia tunggu di halte kalau bukan bis. Dasar Ara bodoh," ujarnya dalam hati.Kursi kedua dari belakang dekat dengan jendela adalah kursi yang selalu menjadi pilihannya. Seakan kursi itu sudah menja