LOGINAra melakukan kesalahan dengan mengabaikan hilangnya komunikasi jarak jauh dengan Yeso. Hingga sebuah berita kematian sahabatnya itu mengejutkannya. Atas rasa bersalahnya, Ara mencari tahu penyebab Yeso bunuh diri hingga menyebabkannya bertemu lima pemuda tampan dengan masalahnya masing-masing yang mengubah alur hidupnya.
View More"Apa sesuatu yang buruk juga pernah terjadi di sekolah ini?" Rasa penasaran seketika mendatanginya.
Entah apa yang mereka bicarakan awalnya hingga tiba-tiba mereka mulai menceritakan cerita mereka masing-masing.
Ara adalah gadis yang sangat ingin tahu. Terkadang karena keingin tahuannya yang tinggi membuatnya tertimpa masalah.
"Kau benar-benar tidak tahu?" Mina menatap remeh pada Ara, lalu bersifat angkuh untuk meremehkan.
Ara menggeleng. Mina mencondongkan wajah lebih dekat dengan Ara, begitu pun sebaliknya sebagai tanda antusiasnya.
"Seorang gadis mengakhiri hidupnya disini." Ara terbelalak dan rasa penasarannya pun semakin bertambah.
"Apa dia bunuh diri?"
"Sebagai siswi pindahan, kau terbilang payah. Berita umum begini saja kau tidak tahu?" Mina menggeleng tak percaya. Teman barunya ini memang terkadang sedikit menyebalkan sampai Ara ingin melemparinya dengan batu.
Ara mumatar bola mata malas. "Ya ya, terserah kau saja lah. Lebih baik lanjutkan ceritamu. "
"Beri aku satu lemon tea dulu," ujar Minhee. Ia melipat kedua tangannya di depan dada menunggu Ara menyetujuinya.
"Kau itu perhitungan sekali." Ara menghela nafas. Lalu Ara memanggil pelayan untuk memesankan Mina.
"Baiklah." Mina berdehem." Seorang gadis malang mengakhiri hidupnya sendiri di sekolah ini tepat satu tahun yang lalu," ucapnya penuh keyakinan.
"Satu tahun yang lalu?" potong Ara terkejut. Minhee menepuk puncak kepalanya karena terganggu.
"Ya! Jangan memukulku," protes Ara.
"Diamlah dulu." Mina meminum minuman gratis yang ia dapatkan sebelum melanjutkan ceritanya. "Gadis itu satu angkatan dengan kita. Maksudku, satu angkatan denganku tahun lalu."
Ara semakin memajukan wajahnya. Bahkan tubuhnya sudah membentur meja yang tidak lain adalah satu-satunya benda pemisah diantara mereka. Seakan ia akan mati penasaran kalau satu kata saja terlewatkan.
"Dia gadis yang cantik yang punya banyak teman dan juga terkenal keramahannya. Ia bahkan pernah menyapaku padahal kami tidak saling kenal. Karena itulah berita bunuh dirinya langsung menggemparkan semua orang."
Kedua wajah itu berubah semakin serius disetiap detik cerita masa lalu. Membicarakan orang lain memang tidak benar, tetapi cerita yang satu ini benar-benar menegangkan.
"Beritanya, ia bunuh diri karena tekanan dari keluarganya. Tapi banyak orang yang mengatakan bahwa dia bunuh diri karena sedang mengandung."
"Mengandung?"
"Entahlah. Kabarnya seseorang memperkosanya."
Ara reflek menutup mulutnya dengan kedua tangan. Membulatkan mata mendengar penjelasan Mina. Ia semakin tertarik.
"Aku tidak tahu yang mana yang benar. Semua orang lebih percaya kalau ia tengah mengandung diluar penikahan karena kekasihnya. Polisi juga tidak menyelidiki sampai sana."
"Kekasihnya?"
"Kau tahu Alex dari kelas dua tiga?" Ara mengangguk. "Banyak orang yang mengatakan itu perbuatannya."
Ara mengagguk-angguk mengerti. Minhee dengan nada hati-hati dan waspada melanjutkan ceritanya.
"Yang membuat situasinya lebih parah adalah fakta bahwa ia gantung dirin di uks sekolah. "
Ara sempat terpekik, terlebih lagi karena intonasi yang Mina gunakan membuat itu bulu kuduk merinding. Sebuah kesalahan karena ia tidak tahu Mina pandai bercerita.
"Itu sebabnya kami lebih memilih ke kantin untuk beristirahat dari pada ke UKS."
"Apa arwahnya gentayangan di dalam UKS?"
Mina sudah akan menjawab ketika pandangannya jatuh pada seseorang dibalik punggung Ara. Ia mengatupkan mulutnya rapat-rapat lalu melipat kedua tangannya di depan dada.
"Kau memang payah dalam hal informasi tetapi tidak terlalu payah sebagai anak baru dalam urusan laki-laki," ujar Minha tersenyum miring.
"Eh?" Ara mendongak mengikuti arah pandangan Mina lalu mendapati Jeka yang berdiri dengan tas sekolah dibahu kirinya.
"Ayo pulang," ajak Jeka dengan nada datar.
"Bisakah kau tunggu sebentar?" tawar Ara. Tentu saja ia masih ingin mendengarkan cerita Mina.
"Itu bukan tawaran." Jeka meraih salah satu lengan Ara. Membuat gadis itu berdiri walau dengan enggan lalu menariknya pergi.
"Aku pulang duluan," pamitnya pada Mina sembil meraih tas sekolahnya.
Jeka bukanlah orang yang sabar. Bahkan tidak sabar sama sekali. Pemuda bergigi mirip kelinci yang imut itu menarik Ara keluar dari kantin dengan langkah tergesa-gesa sampau Ara tidak bisa menyamai langkah kaki panjangnya.
"Bisakah kau pelan-pelan?" protes Ara mulai merasa kesal.
"Jeka." bukannya pelan, langkah Jeka semakin cepat.
Ara mencoba melepaskan genggaman Jeka pada lengannya tetapi itu berakhir sia-sia. Pemuda itu tetap menariknya dengan wajah datar dan mata yang tajam.
"Lepaskan." Untuk ketiga kalinya Jeka tidak menghiraukan Ara walau gadis itu semaikin kuat memberontak.
"Lepas, kau menyakitiku."
Jeka melepaskan lengan Ara kemudian berbalik menghadap kekasihnya itu.
"Ada apa?" tanya Ara.
"Tidak. Aku hanya ingin segera pulang." Jeka berjalan kembali dan Ara betjalan di sampingnya.
"Kau tidak seharusnya membicarakan orang yang sudah meninggal," ujar Jeka tiba-tiba. Kening Ara berkerut tanda ia tidak mengerti.
"Apalagi sampai membicarakan yang tidak-tidak tentangnya," lanjut Jeka dan Ara masih tidak bisa mengerti.
Jeka mulai melambatkan jalannya untuk menyamai langkah Ara yang tertinggal kemudian sambil memasang wajah tak terbaca ia terus berbicara.
"Kau mengerti?"
Apa maksudnya adalah orang yang diceritakan oleh Mina tadi? Jeka mendengar semuanya? Tapi, sejak kapan Jeka menjadi orang yang perduli dengan orang lain?
Wajah datar Jeka tidak menghilang, artinya Jeka sedang marah. Jeka juga tidak menatap Ara saat berbicara dan artinya ia marah pada Ara.
"Maaf."
Walau tidak tahu apa sebenarnya kesalahnya. Walau ia juga menjadi ikut kesal, Ara mengucapkan maaf.
Jeka tetap diam. Ara sempat menyesali permintaan maaf tak bersalahnya sebelum mereka berhenti di depan halte bus.
Tidak seperti hari biasnya Jeka tidak lagi menggenggam tangan atau mengajaknya berbicara sembari menunggu bis tiba. Meraka hanya diam saja.
"Hari ini kau pulang sendiri." Jeka melangkah pergi. Ara hanya memandang kekasihnya itu dengan kesal.
Ketika Jeka telah cukup jauh, Ara melepaskan sepatu kirinya lalu melemparkannya ke arah Jeka.
"Ya!! Pergi saja kau brengsek!" teriak Ara dengan penuh emosi setelah memastikan Jeka tidak akan bisa mendengarnya.
Sepatu itu tidak benar-benar mengenai Jeka. Ara hanya mengarahkannya pada tubuh Jeka yang telah menjauh.
"Aish." Ara menghela nafas. Menetralkan nafasnya yang terengah-engah lalu duduk di bangku halte.
"Percuma saja memiliki wajah tampan kalau memiliki tempramen yang buruk," gumamnya sambil menunduk.
Ini bukan kali pertamanya ia menghadapi sikap aneh kekasihnya, namun selalu saja berakhir sama. Kalau bukan karena Jeka marah, pasti karena mereka berdebat lalu pada akhirnya Jeka meninggalkannya pulang sendirian.
Sebuah tangan terulur memegang sepatu yang ia lemparkan tadi sempat mengejutkannya. Jeka mendongak untuk menemukan seorang pemuda berseragam sama dengannya tengah tersenyum ke arahnya.
"Bukankah ini sepatu milikmu?"
Ara pikir Dowon sudah pulang setelah membiarkannya mengunjungi Yuna. Nyatanya sosok tinggi itu berdiri diluar sana menunggunya.Kalau saja Ara tidak mengenalinya, gadis itu mungkin akan mengira bahwa Dowon adalah model yang tersesat didepan rumah pemakaman.Ah, benar. Bukankah Dowon memang seperti model. Terlebih pemuda itu bersandar ditembok putih dengan wajah tenang berlatar cahaya rembulan.Sempurna.Mungkin kata itu yang dapat mendefisikannya. Kalau begini bagaimana Ara tidak gugup?"Dowon."Dowon menoleh. Pemuda tampan itu mengeluarkan tangannya dari saku celana lalu tersenyum seperti biasa.Ah, senyum itu. Bisakah tuhan mengurangi efek dari senyumannya sedikit saja?Aera menggeleng-geleng. Ini bukan waktunya untuk memikirkan hal konyol seperti itu. Ingatlah pada Jeka."Sudah selesai?" tanya Dowon
29, juli 2016"Kau benar-benar akan pergi?" tanya Yuna untuk ketiga kalinya.Sama seperti Yuna, Ara mengangguk untuk ketiga kalinya pula. "Tentu saja.""Ah, kau tidak seru lagi. Lagi pula apa hebatnya sekolah di Jepang."Yuna berbalik menghadap Ara lalu memperbaiki posisi duduknya. "Kau juga payah dalam mengusai bahasa asing, bukan? Aku tidak tahu kalau kau bisa Bahasa Jepang." lanjutnya."Ya, jangan mencoba mengubah keputusanku lagi."Yuna memasang wajah cemberut. Sebanyak apapun temannya diluar sana, kehilangan sahabat adalah hal yang terburuk. Tetapi ia tidak bisa memaksakan keegoisannya untuk memaksa Ara.Perlu beberapa bulan untuk Ara memutuskan kepindahanannya. Dengan bujukan bertubi-tubi dari kedua orang tuanya serta fakta bahwa pekerjaan orang tuanya sangat berharga ia berlapang dada menyetujui.Mungkin Yuna adalah salah satu alasan terbesar untuk Ara tetap
Berita itu mungkin adalah sebuah kesalahan yang tidaklah benar. Sahabatnya-Yuna juga mungkin baik-baik saja. Tapi seberapa keras pun ia menyakini itu, faktanya adalah sebaliknya.Ara mengetuk pintu untuk ketiga kalinya, seorang nenek dengan rambut yang mulai memutih membuka pintu.Nenek itu sempat terkejut. Sesaat kemudian matanya mulai menghangat lalu merengkuh tubuh Ara ke dalam pelukannya.Ara membalas pelukan nenek itu."Apa kabar nenek.""Oh, astaga. Ara?" ucap nenek Yuna setelah melepaskan pelukannya dengan semangat seorang ibu yang baru bertemu anaknya setelah sekian lama."Maafkan aku karena datang terlambat."Nenek itu menggeleng. Mengusap pucuk kepala Ara dengan sayang."Ayo masuk."Ara tetap berada diposisinya ketika nenek Yuna menariknya masuk ke dalam rumah. Seperti tujuan awal ia datang kemari, Ara memutuskan untuk me
Kalau saja ada pilihan kedua, Ara akan memilih pilihan yang kedua dari pada berakhir diantara rak-rak buku yang memuakkan.Selama menjadi anak sekolah, bisa dihitung berapa kali Ara mengunjungi tempat itu. Ruangan sepi dengan bau buku-buku, Ara tidak menyukainya. Kalau saja bukan guru menyebalkan itu yang memerintahkannya Ara pasti menolak."Ara, apa kau mau lihat orang yang kuceritakan," kata Mina yang muncul diantara dua rak dengan menunjukan sebuah surat kabar ditangan kanannya."Ya! Cari dulu buku yang diminta," ujar Ara sembari mengobrak-abrik deretan buku di rak itu.Ini tidak bisa dibiarkan lagi. Ara mulai bosan dengan benda persegi panjang ini."Ah menyebalkan. Mengapa harus kita yang dipilih oleh guru sialan itu."Bukannya menyemangatinya, perkataan Mina justru membuatnya ingin segera mengakhiri semua ini. Bukannya mencari, Ara beralih kegiatan menjadi me