Share

Her

Author: nhra writer
last update publish date: 2020-11-07 00:31:53

"Bukankah ini sepatu milikmu?"

Mata Ara mengerjap. Ia mengulurkan tangan menerima sepatunya sambil berkata, "Ah iya. terimakasih. '

Ara malu bukan main, ia sampai menutupi sisi kiri wajahnya dengan tangan bak orang bodoh ketika pemuda itu ikut duduk di sampingnya.

Kemudian Ara sangat berterima kasih pada bis yang datang tepat waktu. Ia segera beranjak dari duduknya untuk menaiki bis dengan terburu-buru. Sayangnya Ara tidak pernah menduga kalau pemuda itu juga sedang menunggu bis yang sama.

"Ah iya, apa lagi yang dia tunggu di halte kalau bukan bis. Dasar Ara bodoh," ujarnya dalam hati.

Kursi kedua dari belakang dekat dengan jendela adalah kursi yang selalu menjadi pilihannya. Seakan kursi itu sudah menjadi hak milik tak tertulis, hari ini pun kursi itu kosong.

Ketika ia akan berdaratkan tubuhnya dikursi, dahi kerasnya tidak sengaja berbenturan dengan dahi milik orang lain. Itu pasti sakit mengingat kepala Ara sekeras batu.

"Oh,maafkan aku. " ucap mereka bersamaan.

Mata mereka bertemu ketika Ara mendongak. Membisu seakan waktu telah berhenti seperti yang terjadi di dalam drama lalu detik selanjutnya mereka tertawa.

Menertawakan apa yang barusan terjadi pada mereka untuk memaksa mengusir rasa canggung.

Seperti di halte bis tadi, pemuda itu duduk di samping Ara dengan santainya.

Kecanggungan kembali menyelimuti Ara ketika ia tidak tahu akan bagaimana atau diam membiarkannya saja. Ara tidak pandai berbicara, jadi opsi kedua adalah pilihannya.

Tangan Ara memilin ujung seragamnya dengan gusar. Lalu memilih memandang keluar dan bertemu semilir angin dimusim semi.

Waktu berlalu begitu cepat. Rasanya baru kemarin ia kembali ke Korea namun nyatanya sudah tiga bulan lamanya ia telah menetap disini.

Ara pikir semua tidak berjalan dengan mudah sebelum ia bertemu dengan Mina dan Jeka. Ah, memikirkan Jeka membuatnya kembali kesal. Ada apa lagi dengan pemuda itu?

"Kau Ara Kim, bukan?"

Ara terkejut. Menengok kanan kirinya untuk memastikan kalau pemuda itu berbicara padanya.

Tentu saja pemuda itu berbicara padanya. Bahkan jelas menyebut namanya.

"I-iya."

Pemuda yang Ara tidak tahu siapa namanya itu mengagguk-angguk mengerti. Entah apa tujuannya bertanya dan bagaimana ia tahu nama Ara bahkan sampai ke marganya.

Pemuda itu mendongak melihat keluar jendela, memperjelas mata Ae

ra untuk melihat rahang lancip milik pemuda itu lebih dekat. Hidung yang mancung dan wajah yang tampan. Jika saja ia tidak teringat memiliki kekasih, sudah dipastikan Ara sedikit tergoyah.

Ah, tidak juga. Jeka juga tampan.

"Kau berhenti dimana?" tanya pemuda itu, mengejutkannya lagi.

"Di pemberhentian kedua." Kali ini Ara menjawab dengan lebih santai.

Ara ingin bertanya bagaimana bisa pemuda itu menghantui namanya, tapi bukankah akan aneh bila ia bertanya? Tidak, tidak. Itu terlalu berlebihan, mungkin saja pemuda itu tidak sengaja mengenalnya.

Ara mulai mengabsen wajah-wajah baru di ingatannya, tetapi nihil. Ara tidak mengingat pemuda itu. Tidak mungkin juga kalau pemuda itu tertarik padanya.

Tetapi hukum Ara yang selalu ingin tahu tidak bisa dikendalikan.

"Kau..tahu namaku dari mana?" Ara tahu ini terlalu berlebihan. Tidak mungkin juga ia punya stalker.

"Ah itu, anak baru selalu terkenal di sekolah." Pemuda itu mengulurkan tangannya, senyum berbentuk kotak tidak luput dari wajah tampannya. "Aku Dowon. Kau bisa memanggilku Dowon."

Ara menerima uluran tangan Dowon. Setelah salam perkenalan itu, Dowon beranjak berdiri dan memencet bel.

"Aku sampai di sini. Sampai jumpa, Ara Kim." Kemudian melangkah pergi keluar dari bis.

Ara memandang luar jendela

mengamati kepergian Dowon sampai punggung Dowon terlihat lagi.

"Dowon.." gumamnya.

Bukankah ia pernah mendengar nama itu sebelumnya?

***

Pada hari biasanya Jeka akan berdiri menunggu Ara di depan pintu rumah untuk mengajaknya berangkat bersama. Tidak perduli meskipun Jeka harus berdiri selama setengah jam menunggu Ara keluar dengan siap.

Terkadang Ara akan terkejut lalu tersenyum senang ketika menemukan kekasihnya dipagi hari. Juga ketika mereka habis bertengkar, Ara akan kesal ketika Jeka memasang wajah jutek andalannya.

Hari ini pun terjadi hal yang sama seperti biasanya.

"Hm? Jeka?"

Jeka membalikkan tubuhnya. Kemudian meraih lengan Ara untuk ia genggam sebelum berjalan.

"Ayo, kita sudah terlambat."

Mereka tidak jalan dengan terburu-buru.  Jeka hanya menggenggam tangannya untuk berjalan bersama sampai di halte bis lalu menunggu sampai bis selanjutnya tiba.

Ara tahu mereka akan benar-benar terlambat kalau Jeka berjalan seperti itu, tetapi Ara menyukainya.

Kalau biasanya Jeka berbicara banyak atau menjahili Ara sembari menunggu, hari ini Jeka lebih hemat bicara. Jeka hanya menjawab iya, tidak dan "Oh begitu." ketika Ara bercerita.

Jeka mendahului Ara menaiki bis setelah beberapa orang bertubuh besar. Menahan tubuh Ara yang hampir tersenggol dan menjadikan tubuhnya sebagai benteng pertahan Ara.

Hanya ada satu kursi kosong yang tersisa di pojok. Tas Jeka mendarat lebih cepat ke arah kursi itu ketika seseorang pemuda sebayanya akan duduk di sana.

Setelah mengucapkan permisi, Jeka mengambil tasnya lalu menyuruh Ara untuk segera duduk di sana.

Sungguh perlakuan manis sederhana yang Ara suka.

Jeka berdiri di samping Ara, berpegangan kuat dengan tas dibahu kirinya bersama beberapa siswa lain.

"Terima kasih," ujar Aera.

Jeka mengangguk.

"Apa tas itu berat? Biar aku yang bawa."

"Tidak perlu. Kau hanya perlu duduk dengan tenang."

Ara menurut. Berdiam diri mengamati Jeka yang berdiri tanpa masalah. Pemuda itu memasang earphone ditelinga kanannya.

Pada pemberhentian selanjutnya, seorang ibu yang duduk di samping Ara turun dan Jeka segera mengambil duduk di sampingnya.

"Jeka," panggil Ara. Jeka berdehem tanda ia mendengar. "Apa kau marah?"

Jeka melepas earphonenya lalu menatap Ara dengan hangat. "Tidak. Apa aku terlihat sedang marah?"

"Aku hanya berpikir kau marah. Kalau begitu syukurlah," kata Ara lalu tersenyum sambil memeluk lengan Jeka.

Tangan Jrka meraih bel. Menekannya satu kali lalu mengajak Ara untuk segera turun.

"Kita sudah sampai. "

Jeka melakukan hal yang sama seperti sebelum mereka menaiki bis. Menggenggam tangan Ara sampai mereka berpisah di persimpangan koridor karena letak kelas mereka yang berbeda.

Begitulah hari-hari yang mereka jalani sejak hubungan mereka dimulai. Lalu pada waktu istirahat mereka akan bertemu di kantin begitu pula setelah jam sekolah berakhir.

***

Hal yang ditunggu-tunggu seorang pelajar adalah dimana waktu istirahat tiba. Semua orang suka dengan waktu istirahat tidak terkecuali Ara.

Perlahan penghuni kelas mulai berkurang satu-persatu. Berpindah ke kantin yang jaraknya lumayan jauh bila dihitung dari kelas Ae

ra atau sekedar nongkrong di toilet.

Mina beranjak dari duduknya, meraih bahu Ara yang sudah berdiri.

"Cepatlah. Aku sudah sangat lapar," ucap Minhee mendesak.

Sejujurnya Ara sedang malas untuk berjalan jauh, tapi karena sahabat yang satu ini ia rela.

Sampainya di kantin setelah mengamati setiap inci di dalamnya, Ara tak kunjung menemukan keberadaan Jeka membuatnya mengela napas. Tidak biasanya Jeka absen datang ke kantin seperti ini.

Ia menerima sekaleng cola yang Mina sodorkan. Membukanya lalu meneguk sampai hanya tersisa setengah kaleng.

"Dimana Jeka?" tanya Mina.

Ara menghedikkan bahu. "Tidak tahu."

"Mau menunggu?"

"Tidak perlu." Ara mendahului Mina untuk kembali ke kelas mereka. Namun hal yang terjadi selanjutnya adalah hal yang tidak pernah Ara kira.

Baru tiga langkah Ara melangkah, tubuhnya terhuyung menabrak bahu seseorang dan cola yang ia bawa berakhir manis diseragam pemuda itu.

Kalau saja yang Ara tabrak adalah siswa biasa yang akan langsung memaafkannya dan mungkin ia hanya akan berakhir bertanggung jawab untuk mencuci seragam. Sayangnya bahu yang ia tabrak sekaligus ia kotori adalah bahu milik seorang bernama Alex.

Pembuat masalah, kasar dan tidak mau tahu. Ada pasal tak tertulis mengenai Alex yang tersebar luas di sekolah, "Kalau kau sampai berurusan dengan Alex berarti kau telah mengibarkan bendera kematian."

"Maaf," ucap Ara penuh rasa bersalah.

Ara meminta maaf atas kesalahanya. Mencoba membersihkan seragam Alex dengan tisu tetapi belum sampai menyentuh seragam Alex, tangan Ara ditepis kasar.

"Apa kau tidak punya mata?!" bentak Alex. Seketika seluruh pasang mata yang berada di dekat mereka beralih dari kegiatannya.

"Aku minta maaf."

Mata tajam milik Alex menatap Ara seakan ingin menguliti Ara saat itu juga. Alex menjinjing lengannya yang telah basah dengan bau cola lalu mendengus tidak suka.

"Apa matamu itu buta?!"

Sayangnya Si kepala batu yang bernama Ara itu tidak menghiraukan pasal tentang Alex. Ia membalas tatapan Alex sama beraninya.

"Kubilang aku minta maaf. Itu tidak disengaja dan jelas aku punya mata di sini." Ara menunjuk kedua matanya.

"Kau benar benar!!" kepalan tangan Alex sudah melayang ke arah Ara ketika sebuah tangan lain menahannya menyentuh Ara tepat waktu.

Ara menyerngit ngeri melihat betapa kuatnya kepalan tangan Alex, lalu menoleh ke sampingnya dimana Jeka berdiri dengan tangan kanannya menahan kepalan Alex.

"Jeka..," gumam Ara tanpa sadar.

Jeka menurunkan tangannya beserta kepalan tangan Alex. Beralih meraih lengan Ara.

"Dia sudah meminta maaf, bukan?" ujar Jeka pada Alex dengan tenang.

Ara tidak bisa menutupi keheranannya saat melihat Alex diam membisu dengan tatapan yang berbeda dari sebelumnya. Apalagi Alex masih diam ditempat ketika  Jeka membawanya pergi. Ara pikir akan ada perkelaian sengit antara Alex si brandal sekolah dan Jeka sang malaikat.

Ara masih menerima perlakuan Jeka yang menarik lengannya setelah menyadari tatapan dari orang-orang yang mereka lewati disepanjang koridor.

Tatapan penuh kagum untuk pasangan ini dan tatapan lapar dari para gadis kepada Jeka. Ara tidak menyukainya gadis-gadis itu dan menunduk malu karena menjadi pusat perhatian.

"Apa aku belum pernah bilang kalau kau tidak boleh berurusan dengan Alex?"

Jeka menurunkan tangannya. Membuka telapak tangan Ara lalu menggenggamnya erat.

"Belum, tapi Mina sudah pernah mengatakannya."

Mereka berhenti di depan kelas Ara.

"Lalu?"

"Aku anak baru, tidak tahu kalau Alex semengerikan itu, " jelas Ara.

"Tiga bulan tidak bisa lagi dikatakan baru."

"Tidak masalah. Ada kau yang akan menghadapi Jimin untukku." Kalau Jeka memutar bola mata malas, Ara malah tersenyum manis.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Let me know (Indonesia)     Wonder

    Ara pikir Dowon sudah pulang setelah membiarkannya mengunjungi Yuna. Nyatanya sosok tinggi itu berdiri diluar sana menunggunya.Kalau saja Ara tidak mengenalinya, gadis itu mungkin akan mengira bahwa Dowon adalah model yang tersesat didepan rumah pemakaman.Ah, benar. Bukankah Dowon memang seperti model. Terlebih pemuda itu bersandar ditembok putih dengan wajah tenang berlatar cahaya rembulan.Sempurna.Mungkin kata itu yang dapat mendefisikannya. Kalau begini bagaimana Ara tidak gugup?"Dowon."Dowon menoleh. Pemuda tampan itu mengeluarkan tangannya dari saku celana lalu tersenyum seperti biasa.Ah, senyum itu. Bisakah tuhan mengurangi efek dari senyumannya sedikit saja?Aera menggeleng-geleng. Ini bukan waktunya untuk memikirkan hal konyol seperti itu. Ingatlah pada Jeka."Sudah selesai?" tanya Dowon

  • Let me know (Indonesia)    Converse high

    29, juli 2016"Kau benar-benar akan pergi?" tanya Yuna untuk ketiga kalinya.Sama seperti Yuna, Ara mengangguk untuk ketiga kalinya pula. "Tentu saja.""Ah, kau tidak seru lagi. Lagi pula apa hebatnya sekolah di Jepang."Yuna berbalik menghadap Ara lalu memperbaiki posisi duduknya. "Kau juga payah dalam mengusai bahasa asing, bukan? Aku tidak tahu kalau kau bisa Bahasa Jepang." lanjutnya."Ya, jangan mencoba mengubah keputusanku lagi."Yuna memasang wajah cemberut. Sebanyak apapun temannya diluar sana, kehilangan sahabat adalah hal yang terburuk. Tetapi ia tidak bisa memaksakan keegoisannya untuk memaksa Ara.Perlu beberapa bulan untuk Ara memutuskan kepindahanannya. Dengan bujukan bertubi-tubi dari kedua orang tuanya serta fakta bahwa pekerjaan orang tuanya sangat berharga ia berlapang dada menyetujui.Mungkin Yuna adalah salah satu alasan terbesar untuk Ara tetap

  • Let me know (Indonesia)    Purpose

    Berita itu mungkin adalah sebuah kesalahan yang tidaklah benar. Sahabatnya-Yuna juga mungkin baik-baik saja. Tapi seberapa keras pun ia menyakini itu, faktanya adalah sebaliknya.Ara mengetuk pintu untuk ketiga kalinya, seorang nenek dengan rambut yang mulai memutih membuka pintu.Nenek itu sempat terkejut. Sesaat kemudian matanya mulai menghangat lalu merengkuh tubuh Ara ke dalam pelukannya.Ara membalas pelukan nenek itu."Apa kabar nenek.""Oh, astaga. Ara?" ucap nenek Yuna setelah melepaskan pelukannya dengan semangat seorang ibu yang baru bertemu anaknya setelah sekian lama."Maafkan aku karena datang terlambat."Nenek itu menggeleng. Mengusap pucuk kepala Ara dengan sayang."Ayo masuk."Ara tetap berada diposisinya ketika nenek Yuna menariknya masuk ke dalam rumah. Seperti tujuan awal ia datang kemari, Ara memutuskan untuk me

  • Let me know (Indonesia)    Begin

    Kalau saja ada pilihan kedua, Ara akan memilih pilihan yang kedua dari pada berakhir diantara rak-rak buku yang memuakkan.Selama menjadi anak sekolah, bisa dihitung berapa kali Ara mengunjungi tempat itu. Ruangan sepi dengan bau buku-buku, Ara tidak menyukainya. Kalau saja bukan guru menyebalkan itu yang memerintahkannya Ara pasti menolak."Ara, apa kau mau lihat orang yang kuceritakan," kata Mina yang muncul diantara dua rak dengan menunjukan sebuah surat kabar ditangan kanannya."Ya! Cari dulu buku yang diminta," ujar Ara sembari mengobrak-abrik deretan buku di rak itu.Ini tidak bisa dibiarkan lagi. Ara mulai bosan dengan benda persegi panjang ini."Ah menyebalkan. Mengapa harus kita yang dipilih oleh guru sialan itu."Bukannya menyemangatinya, perkataan Mina justru membuatnya ingin segera mengakhiri semua ini. Bukannya mencari, Ara beralih kegiatan menjadi me

  • Let me know (Indonesia)    Cafe

    Dentuman musik pop mengiringi kesibukan di dalam kafe. Ara berjalan mengendap-endap lalu menarik salah satu earphone yang menyumpali telinga Jeka.Pemuda itu terkejut reflek mendongak ke arahnya.Satu tarikan bibir membentuk senyum membuat Jeka semakin tampan yang sialnya Ara suka."Kau sudah datang?" ujar Jeka."Jangan menyindir. Aku tahu aku terlambat," kata Ara membuat senyum Jeka semakin lebar.Jeka menggeser tubuhnya untuk memberi tempat duduk pada Ara. Menutup buku yang tadi ia baca lalu menyingkirkannya."Aku selalu heran mengapa kau bisa belajar dengan mendengarkan musik seperti itu, tapi aku lebih heran mengapa kau mendengarkan musik diruangan yang ada musiknya.""Karena aku suka," jawab Jeka.Ara mencibir. Memasang earphone Jungkook yang ia ambil tadi ditelinganya."Ngomong-ngomong aku juga hera

  • Let me know (Indonesia)    Her

    "Bukankah ini sepatu milikmu?"Mata Ara mengerjap. Ia mengulurkan tangan menerima sepatunya sambil berkata, "Ah iya. terimakasih. 'Ara malu bukan main, ia sampai menutupi sisi kiri wajahnya dengan tangan bak orang bodoh ketika pemuda itu ikut duduk di sampingnya.Kemudian Ara sangat berterima kasih pada bis yang datang tepat waktu. Ia segera beranjak dari duduknya untuk menaiki bis dengan terburu-buru. Sayangnya Ara tidak pernah menduga kalau pemuda itu juga sedang menunggu bis yang sama."Ah iya, apa lagi yang dia tunggu di halte kalau bukan bis. Dasar Ara bodoh," ujarnya dalam hati.Kursi kedua dari belakang dekat dengan jendela adalah kursi yang selalu menjadi pilihannya. Seakan kursi itu sudah menja

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status