Masuk
Aku mengabil tempat duduk di dekat dapur sembari mengamati seorang wanita yang kini sibuk dengan alat penggorengnya. Aku sudah mendesak menawarkan sedikit bantuan padanya, namun tugas yang aku terima hanya lah mengupas buah.
"Istirahat lah jika kau lelah," kata wanita itu dengan wajah cerah. Sepertinya memasakan makanan spesial untuk anaknya adalah hal yang menyenangkan.
Aku menggeleng. "Tidak, aku baik-baik saja."
Aku kembali mengupas apel. Itu adalah buah terakhir sebelum kemudian aku membersihkan tangan dengan tisu.
Mataku tiba-tiba terjatuh pada bingkai foto yang berada di dapur itu. Sebuah senyum cerah terpasang indah di wajah seorang pemuda dengan celemek merah muda, serta wajah bahagia seorang wanita yang tak lain adalah ibunya membuat foto selca itu tampak menyenangkan.
Sudut bibirku terangkat. Mataku tidak mau berhenti menatap bingkai foto itu.
"Tidak akan cukup hanya lihat foto itu, kan?" seruan wanita itu membuatku segera mengalihkan pandangan. Senyuman yang sama seperti yang ada di dalam foto itu terpampang jelas di wajahnya.
Aku tersenyum malu. "Sepertinya begitu," jawabku.
Setelah menggodaku lagi, wanita itu kembali fokus dengan masakannya. Ia sangat bekerja keras hingga pelipisnya pun sudah lembab karena keringat.
Tidak berselang lama dapat kudengar suara bel pintu berbunyi. Tiba-tiba jantungku berdetak kencang, tanganku memilin ujung baju yang kukenakan dengan gelisah. Aku tidak pernah segugup ini sebelumnya.
Senyuman wanita itu semakin lebar. Beliau kemudian membereskan sisa masakannnya lalu membersihkan diri dengan terburu-buru.
Aku masih terdiam dengan jantung yang berdetak kencang. Lantas tubuhku menegang ketika kudengar seruan bahagia dari ruang sebelah. Saat kudengar suara yang begitu kurindukan, tubuhku semakin tidak mau berkompromi.
"Ayo," ajak wanita itu yang kubalas dengan senyum gugup.
Aku tidak berniat untuk beranjak dari sana. Namun suara khas seseorang dari belakangku membuatku kursiku berputar dengan rasa tidak percaya.
Wanita yang sejak sore tadi memasak kini berhambur memeluknya dengan begitu erat. Seakan menggambarkan sebegitu rindunya ia pada anaknya. Sementara aku, bukanya ikut berlari memeluknya, aku hanya melihat mereka dengan jantung yang berdetak kencang.
Aku sangat merindukannya. Sungguh. Tetapi kaki ini tidak bisa di gerakkan.
hingga aku lupa mengedipkan mata. Kuamati wajahnya dengan seksama. Wajahnya masih sama dengan yang terakhir kulihat.
Tiba-tiba pria berambut hitam lebam itu mendongak, membalas tatapanku padanya. Sontak tubuhku menegang. Sepertinya aku harus memeriksa kesehatan jantungku besok karena hari ini ia terlalu banyak bekerja.
Pria yang tak lain adalah pria yang dua tahun ini mengisi hariku tentangnya itu kini tersenyum padaku. Membuatku tidak lagi merasakan pijakan di bawah kakiku.
"Jadi dia pulang?"Aku berhenti menyedot jus buahku. Kusilakan kedua tanganku di atas meja dan mendongak."Kau pikir dia tidak akan kembali?" tanyaku balik.Jihan mengangguk. "Mungkin hanya kau yang bisa bertahan ditinggal satu tahun penuh."Aku tersenyum kecut padanya. "Terimakasih untuk pujiannya."Menanggapi ucapannya hanya akan membawa ledekan-ledekan lain tentang hubunganku dengan Raga. Sebenarnya itu tidak masalah untukku. Apa yang ia katakan memang benar. Toh hanya Jihan yang bisa meledekku seperti itu karena memang ialah satu-satunya temanku yang mengetahuinya."Jika dipikirkan lagi, kau tidak salah menunggunya. Ia cukup tampan dan mapan."Aku kembali meminum jusku, sementara itu gadis cerewet yang berada depanku mengeluarkan kotak bekal dietnya. Aku juga tidak habis pikir mengapa ia seperduli itu dengan penilaian orang hingga sanggup memakan dedaunan hampir seminggu penuh ini. Lagi pula mengikuti standa
Kuteguk segelas air hingga tersisa seperempatnya. Akhirnya setelah melewati pertemuan dengan dramstis tadi, kami bisa makan dengan tenang hasil kerja keras seseorang yang masih saja menyunggingkan senyum cerah khas seorang ibu. Usahanya tidak sia-sia karena masakannya terasa sangat lezat."Ini sudah terlalu malam. Bagaimana jika kau menginap saja di sini, Leta?" usul wanita yang sebaya dengan ibuku itu."Itu benar, sabaiknya kau menginap saja." Sahut suaminya setuju.Aku tersenyum tidak enak. "Ah, sepertinya lain kali saja. Besok aku harus bekerja," ujarku mencoba menolak."Bagaimana jika kau berangkat dari sini saja? Aku akan menelepon orang tuamu, tidak baik jika kau pulang jam segini, bukan?"Aku tidak tahu harus menolak seperti apa lagi. Mataku sempat melirik Raga yang menghentikan gerakan sendoknya untuk menunggu jawabanku. Sebenarnya aku ingin tetap tinggal, aku juga belum puas melihat pria yang kini melihatku itu. Tet
Aku mengabil tempat duduk di dekat dapur sembari mengamati seorang wanita yang kini sibuk dengan alat penggorengnya. Aku sudah mendesak menawarkan sedikit bantuan padanya, namun tugas yang aku terima hanya lah mengupas buah."Istirahat lah jika kau lelah," kata wanita itu dengan wajah cerah. Sepertinya memasakan makanan spesial untuk anaknya adalah hal yang menyenangkan.Aku menggeleng. "Tidak, aku baik-baik saja."Aku kembali mengupas apel. Itu adalah buah terakhir sebelum kemudian aku membersihkan tangan dengan tisu.Mataku tiba-tiba terjatuh pada bingkai foto yang berada di dapur itu. Sebuah senyum cerah terpasang indah di wajah seorang pemuda dengan celemek merah muda, serta wajah bahagia seorang wanita yang tak lain adalah ibunya membuat foto selca itu tampak menyenangkan.Sudut bibirku terangkat. Mataku tidak mau berhenti menatap bingkai foto itu."Tidak aka