LOGINDavid terbangun dari tidurnya. Ia melihat jam di ponselnya. “Ck, baru pukul empat.” Gumam David.
“Sampai kapan aku harus disini?”
David memandang ke seluruh sudut ruangan. Ia sedikit kecewa karena tak menemukan sosok Freya disana. “Hmm.. dia pasti sudah pulang.” Gumam David. Seketika David merasa bosan. Tak ada yang bisa ia lakukan disana selain bermain ponsel.
David melihat nomor Freya. Ia ingin sekali menghubungi gadis itu, tapi ia ragu. “Ck, aku sendiri yang memperbolehkannya pulang. Tapi sekarang aku sendiri yang menyesal.” Ucap David.
Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. “Frey.” Ucap David.
“Hai, kau sudah bangun.” Ucap Freya.
“Kupikir kau pulang.” Kata David.
“Aku ke toilet tadi.” Ucap Freya.
“Bukankah disini juga ada toilet? Kenapa harus keluar?” tanya David.
“Kau bisa gunakan yang ada disini.”
Freya hanya tersenyum. “Tidak apa-apa, aku pakai toilet umum saja.” Jawab Freya.
“Kau tidak pulang?” tanya David.
“Sudah pukul empat, jam kerjamu sudah habis.”
“Apa ada orang lain yang akan kemari?” tanya Freya.
“Hmm.. tidak.” Jawab David.
Ponsel David tiba-tiba berdering. Nama sang mama muncul di layar ponselnya.
“Iya ma, ada apa?” tanya David.
“Ah, aku sedang ada di kantor.”
“Ya, aku baik-baik saja.”
“Tidak, Krisna bohong ma. Aku baik-baik saja.”
“Ya, aku tadi hanya mual sedikit karena terlambat makan. Tapi sekarang aku baik-baik saja.”
“Mama jangan khawatir.”
“Untuk apa mengirim foto, Ma?”
“Ma, nanti kutelepon lagi. Aku sedang bersama kekasihku.”
Freya langsung menatap tajam ke arah David. Ia pun menggeleng cepat.
“Lain waktu, aku akan tunjukkan pada mama.” Ucap David lalu menutup teleponnya.
“Sshh, kenapa kau berbohong?” tanya Freya.
“Aku tidak mau membuat mama khawatir. Lagipula, mama ada di luar negeri sekarang.” Ucap David.
“Tapi kau tidak harus mengatakan kalau kau sedang bersama kekasihmu.” Ucap Freya
“Itu bisa menjadi masalah.”
“Masalah apa? Mama sudah lama ingin melihat aku punya kekasih. Mama justru akan senang dengan hal itu.” Jawab David.
“Tapi..” gumam Freya.
“Jangan khawatir. Itu tidak akan menimbulkan masalah apapun untukmu.” Jawab David.
Freya mengangguk pelan. “Bagaimana keadaanmu? Sudah lebih baik?” tanya Freya.
“Ya, rasanya aku ingin pulang sekarang.” Ucap David.
“Dokter belum mengizinkanmu pulang, jadi kau harus tetap ada disini.” Ucap Freya.
David menghela napas. “Baiklah.” Gumam David.
Freya menguap. Sejak tadi ia memang sudah mengantuk. “Kau ingin tidur?” tanya David.
“Tidak.” Jawab Freya sambil mengusap matanya.
David menggeser tubuhnya. “ Masih ada tempat untukmu.” Ucap David.
Freya tertawa kecil. “Itu tidak mungkin. Aku tidak mungkin tidur seranjang denganmu.” Ucap Freya.
“Kalau begitu aku bisa turun dari ranjang kalau kau mau tidur disini.” Ucap David.
David bangun dan siap turun dari ranjang, tapi Freya mencegahnya. “Disini, kau pasiennya. Jadi tidak mungkin aku tidur disitu.” Ucap Freya.
“Kenapa? Lagipula tidak ada yang akan tahu.” Ucap David.
“Sudahlah, tidurlah kembali.” Ucap Freya.
“Aku bosan terlalu lama tidur.” Jawab David.
“Wajahmu itu masih pucat tapi kau sudah ingin pergi kemana-mana.” Jawab Freya.
“Cepat tidurlah kembali.”
“Ck, baiklah kalau begitu.” Jawab David lalu kembali berbaring.
Freya lalu duduk di kursinya. Ia menutup matanya dan hendak terlelap.“Frey, apa kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya David.
“Sepertinya belum.” Gumam Freya.
“Tapi kenapa aku bisa seterikat ini denganmu?” ucap David.
“Rasanya aku tidak ingin berpisah denganmu.”
“Apa itu yang namanya jodoh?”
David dengan berdebar menunggu jawaban Freya. Tak kunjung mendengar suara Freya, David pun menoleh dan melihat Freya sudah tertidur di kursinya.
“Ck, bukankah tadi kau bilang kau tidak mau tidur.” Gumam David.
“Percuma saja aku mengatakan itu.”
***
Freya terbangun saat hari sudah mulai gelap. Ia sedikit heran karena ada selimut yang menutupi tubuhnya. Ia lalu melihat jam tangannya. “Hm, baru pukul enam.” Ucap Freya.
Freya lalu beranjak lalu melihat ranjang yang ternyata kosong. “Kemana dia?” gumam Freya.
“Tapi ponselnya masih ada disini.”
Tiba-tiba David keluar dari toilet di kamarnya . “Kau mencari aku?” tanya David.
“Iya.” Jawab Freya.
“Apa kau dengar pertanyaanku sore tadi?” tanya David.
“Pertanyaan yang mana?” tanya Freya.
David hanya bisa menghela napasnya. “Sudahlah lupakan saja.” Ucap David.
“Oh ya, hari ini Krisna dan Dita mencari tempat baru untukmu.”
“Kau tidak perlu memikirkan itu, serahkan saja pada mereka.”
“Bagaimana kau tahu?” tanya Freya.
“Mereka mengatakannya padaku.” Jawab David.
Tiba-tiba pintu terbuka, wanita yang sama mengantarkan makan malam untuk David. “Makan malam Anda, Pak.” Ucap wanita itu sambil tersenyum. Setelah meletakkan makanan, wanita itu langsung keluar.
“Kau mau makan apa?” tanya David
“Masih ada makanan tadi siang.” Jawab Freya.
“Apa masih enak? Kalau tidak aku pesankan lagi saja.” Jawab David.
“Tidak perlu, aku yakin itu masih bisa dimakan.” Jawab Freya.
“Baiklah kalau begitu.” Jawab David sambil melangkah ke ranjangnya.
David melihat makanan yang sama seperti menu siang tadi. “Apa? Ini lagi?” batin David. David melirik ke arah Freya. Ia berharap gadis itu mau menyuapinya lagi kali ini.
“Apa makananmu kali ini?” tanya Freya.
“Kurang lebih sama seperti yang tadi.” Jawab David.
“Kau harus tetap makan.” Ucap Freya.
“Aku tidak selera.” Jawab David.
“Cepatlah naik ke ranjangmu.” Ucap Freya sambil mengambil makanan itu.
David tersenyum karena ia yakin Freya akan kembali menyuapinya kali ini. Ia langsung duduk di atas ranjangnya.
Tebakan David benar. Tanpa banyak bicara, Freya langsung menyuapi David. “Pantas saja kau seperti ini, kau terlalu pilih-pilih makanan.” Ucap Freya.
“Ada makanan yang tidak kau sukai?” tanya David.
“Aku tidak suka makanan yang terlalu asin.” Jawab Freya.
David hanya mengangguk. “Kau suka coklat?” tanya David.
“Ya. Kenapa?” tanya Freya.
“Aku tidak terlalu suka.” Jawab David.
“Bukankah coklat juga baik untuk kesehatan?” tanya Freya.
“Benar, kalau tidak terlalu banyak.” Ucap David.
David menghabiskan makanannya dengan cepat. Ia benar-benar bahagia hari ini. “Terimakasih banyak.” Ucap David.
***
Dokter kembali ke ruangan dan memeriksa keadaan David. “Sudah membaik ya. Besok pagi, anda boleh pulang.” Ucap dokter.
“Tapi ingat, harus tetap jaga pola makan anda.”
“Baik dok, terimakasih.” Ucap David.
Setelah memeriksa, sang dokter keluar dari ruangan. “Aku senang aku bisa pulang besok.” Ucap David.
“Tapi aku tidak akan pergi ke kantor. Kau juga tidak perlu pergi.”
“Benarkah?” tanya Freya.
David mengangguk. “Sudah pukul tujuh malam, kau tidak pulang?” tanya David.
“Aku akan disini. Lagipula tidak ada orang lain yang menemanimu.” Jawab Freya.
“Bukankah sendirian itu membosankan?”
“Atau kau lebih suka sendiri?”
“Kalau kau lebih suka sendiri, aku akan pulang.”
“Tidak, aku tidak suka sendirian.” Jawab David.
“Kalau begitu aku akan tinggal.” Jawab Freya sambil tersenyum.
Freya sadar, ia tak begitu percaya dengan ucapan laki-laki. Tapi melihat atasannya yang sedang sakit itu, Freya tak tega meninggalkannya sendirian.
"Terimakasih." jawab David.
Entah jam berapa David terbangun. Ia langsung mencari sosok Freya di ruangan itu. Beruntung gadis itu masih menemani David. David tersenyum, lalu perlahan turun dari ranjangnya. Ia melangkah mendekati Freya sambil membawa selimutnya. David berlutut di depan Freya yang tertidur sambil duduk. “Aku tidak sabar ingin tahu kenapa aku jadi seperti ini.” Ucap David. “Tapi apapun alasannya, aku yakin kau gadis yang baik untukku.” Untuk beberapa lama David mema
David terbangun dari tidurnya. Ia melihat jam di ponselnya. “Ck, baru pukul empat.” Gumam David. “Sampai kapan aku harus disini?”David memandang ke seluruh sudut ruangan. Ia sedikit kecewa karena tak menemukan sosok Freya disana. “Hmm.. dia pasti sudah pulang.” Gumam David. Seketika David merasa bosan. Tak ada yang bisa ia lakukan disana selain bermain ponsel. David melihat nomor Freya. Ia ingin sekali menghubungi gadis itu, tapi ia ragu. &
Freya kembali dengan membawa beberapa bungkus roti. Ia lalu duduk di samping ranjang David. Freya melihat David yang sedang tidur. Ia tak bisa berbohong, pria itu terlihat tampan bagi Freya. Tapi, ia tak mau berharap banyak dari pria itu. Apalagi terlalu banyak perbedaan antara mereka. “Pasti akan sulit sekali kalau sampai aku menyukainya.” Batin Freya sambil tersenyum tipis. “Mungkin seperti pungguk merindukan bulan.” “Kenapa kau senyum-senyum?&
“Dit, besok bantu aku mencari tempat baru ya.” Ucap Freya. “Iya Frey, kau tenang saja tidak perlu buru-buru. Kalau besok belum dapat, kau bisa tinggal denganku dulu.” Jawab Dita. “Aku tidak mau terlalu lama merepotkanmu.” Jawab Freya.“Ck, kau ini.” Gumam Dita. “Kita kan sudah lama bersahabat,
Krisna cepat-cepat menghampiri Dita dan Freya yang sudah menunggunya. “Aku tidak bisa mengantar kalian pulang kali ini. Aku ada urusan mendadak.” Ucap Krisna. “Baiklah kalau begitu.” Ucap Freya. Dita masih terdiam sambil memasang wajah cemberutnya. “Kau bilang mau membelikanku es krim.” Gerutunya. “Besok pasti akan kubelikan. Tapi kali ini aku minta maaf sekali, aku tidak bisa mengantarmu pulang.” Ucap Krisna.
Dita melangkah bersama kekasihnya untuk kembali ke ruang kerja mereka masing-masing. “Rasanya sedikit aneh.” Ucap Dita.‘Sejak kapan ada lowongan untuk menjadi asisten David?” “Setahuku tidak ada lowongan kerja di posisi itu selama ini.” “Memang benar.” Kata Krisna.“Lagipula, untuk apa David butuh asisten? Sepertinya dia lebih nyaman bekerja sendirian.” Jawab Dita. “Apa ada sesuatu antara mereka?” “Tapi kelihatannya Frey