LOGINDita melangkah bersama kekasihnya untuk kembali ke ruang kerja mereka masing-masing. “Rasanya sedikit aneh.” Ucap Dita.
‘Sejak kapan ada lowongan untuk menjadi asisten David?”
“Setahuku tidak ada lowongan kerja di posisi itu selama ini.”
“Memang benar.” Kata Krisna.
“Lagipula, untuk apa David butuh asisten? Sepertinya dia lebih nyaman bekerja sendirian.” Jawab Dita.
“Apa ada sesuatu antara mereka?”
“Tapi kelihatannya Freya biasa saja.”
“Kau tahu sesuatu?”
Krisna hanya terdiam lalu memandang Dita. Ia masih ragu untuk menceritakan masalah David pada Dita.
“Aku yakin kau pasti tahu sesuatu, bukan?” tanya Dita.
“Apa kau tidak mau memberitahuku?”
“Bukan begitu, aku hanya belum siap untuk menceritakannya.” Kata Krisna.
Dita memasang wajah cemberutnya. Ia tahu itu satu-satunya cara untuk mengalahkan Krisna.
“Jadi kau mau mulai menutupi sesuatu dariku.” Gumam Dita.
“Astaga, bukan begitu maksudku. Aku sama sekali tidak ingin menutupi apapun darimu.” Jawab Krisna.
Dita hanya terdiam sambil memandang Krisna dengan penuh harap. “Ssshh.. baiklah kau menang.” Ucap Krisna.
Krisna lalu mencondongkan tubuhnya ke kekasihnya itu. “David menyukai Freya.” Bisik Krisna.
Seketika Dita membulatkan matanya. Ia tak tahu harus percaya atau tidak dengan ucapan Krisna barusan. “Kau yakin?” tanya Dita.
Krisna mengangguk. “Untuk apa dia meminta Freya menjadi asistennya kalau dia tidak menyukai Freya?” ucap Krisna.
“Tapi… tapi mereka baru saja bertemu beberapa hari lalu.” Gumam Dita.
“Itulah yang menjadi masalah. David tahu dia menyukai Freya, tapi dia tidak tahu kenapa dia menyukai sahabat kita itu.” Kata Krisna.
“Pertama kali bertemu, David sudah merasa terikat dengan Freya. Dia juga tidak tahu kenapa.”
“Dia akan berusaha mencari tahu.”
“Apa Freya tahu hal ini?” tanya Krisna.
“Dit, kalau Freya tahu dia tidak akan mau bekerja disini. Kau ingat, bagaimana Freya berubah setelah pesta ulang tahun Viona waktu itu?”
“Benar. Tadi dia juga mengatakan, kalau dia ragu apakah dia harus percaya pada David atau tidak.” Ucap Dita.
“Dia meragukan pekerjaannya sendiri.”
“Aku bisa menjamin David bukan pria seperti Arga. Tapi masalahnya ada pada Freya.” Ucap Krisna.
“Kalau Freya tahu hal ini dan waktunya tidak tepat, dia pasti akan pergi bukan?”
Dita mengangguk. “Aku tidak mau itu terjadi. Aku senang dia bekerja disini.” Ucap Dita.
“Aku sudah mengatakan pada David kalau dia harus berhati-hati untuk mendekati Freya.” Ucap Krisna.
“Ya, sepertinya Freya trauma. “ gumam Dita.
“Oh ya, aku ingin membantu David. Tapi aku juga butuh bantuanmu.” Kata Krisna.
“Bantuan apa?” tanya Freya.
Krisna mulai menceritakan kalau David ingin Freya tinggal di apartemen kosong di sebelahnya. Ia mengatakan kalau David ingin Freya tinggal di dekatnya.
“Itu tidak mungkin.” Ucap Dita.
“Freya pasti akan curiga kalau aku membawanya ke apartemen mewah itu.”
“Dia pasti akan mencari tempat sendiri yang lebih sederhana.”
“Aku juga tahu itu. Aku mengatakan pada David kalau dia mau, dia harus pindah ke tempat yang lebih sederhana dan murah.” Kata Krisna.
“Tapi aku belum bisa memastikan apakah dia pindah atau tidak.”
“Kalau David benar-benar mau, suruh dia pindah secepatnya.” Kata Dita.
“Kalau tidak, aku terpaksa mencari tempat untuk Freya dan itu berarti mereka berdua mungkin saja tidak bisa tinggal berdekatan.”
“Ya. Aku akan mengatakannya pada David.” Ucap Krisna.
“Suruh dia pindah hari ini. Freya pasti tidak nyaman kalau terlalu lama tinggal di tempatku. Kau tahu kan bagaimana Freya?” ucap Dita.
“Ya, dia pasti memilih untuk pindah secepatnya.” Jawab Krisna.
“Baiklah, kita urus pekerjaan kita dulu. Baru nanti aku akan mengurus David.”
“Tapi, tahan Freya agar malam ini dia tetap berada di tempatmu.”
Dita mengangguk. “Baiklah.” Jawab Dita.
***
Freya memandangi David yang sedang sibuk dengan laptopnya sedangkan Freya tak punya pekerjaan apa-apa. Ia lalu beranjak ke meja David.
“Apa aku bisa minta tugasku?” tanya Freya.
“Aku tidak melakukan apa-apa sejak tadi.”
“Ah ya, apa aku harus memanggilmu dengan sebutan Pak David atau apa?”
“David saja.” Jawab David singkat.
“Kalau begitu, apa aku bisa minta tugasku?”
David berhenti memandang laptopnya lalu pandangannya beralih ke Freya. Ia menatap mata Freya dalam-dalam. “Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya David.
“Kupikir tidak pernah.” Jawab Freya.
“Ada apa?”
“Kenapa kau memandangku seperti itu?”
“Apa ada yang salah?”
“Tidak ada.” Jawab David.
“Kalau begitu, tolong jangan memandangku seperti itu.” Kata Freya.
“Aku tidak suka tatapan seperti itu.”
“Kau tidak suka?” gumam David.
“Aku tidak suka ada pria memandangku seperti itu.” Jawab Freya dengan tegas.
“Baiklah, maaf kalau begitu.” Ucap David.
“Aku hanya merasa sedikit aneh.” Gumamnya.
“Besok temani aku bertemu dengan klien, itu tugasmu.”
“Bertemu dengan klien?” batin Freya terkejut.
“Aku tidak pandai bicara.” Jawab Freya.
“Aku yang akan bicara, tugasmu menemaniku.”
Freya berpikir keras untuk mencari alasan agar ia bisa bebas dari tugas mengerikan itu. Freya tidak percaya diri bertemu orang –orang baru, apalagi orang-orang penting yang punya jabatan.
“Kenapa kau diam?” tanya David.
“Tidak, tidak ada apa-apa.” Gumam Freya.
Freya berniat melangkah sebelum David menarik tangannya. “Kau mengkhawatirkan sesuatu?” tanya David tatapan tajam. Entah kenapa kini justru nyali Freya yang menciut.
“Tidak, tidak ada. Tolong lepaskan aku.” Ucap Freya dengan terbata-bata.
“Kau bisa mengatakan padaku kalau ada masalah.” Jawab David dengan lembut.
“Jangan takut padaku.”
“Kenapa aku harus mempercayaimu?” ucap Freya.
Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibi Freya, dan sekarang ia sangat menyesalinya.
“Karena aku akan menjagamu.” Jawab David.
Freya tertawa kecil untuk mencairkan suasana. “Aku bukan anak kecil, kau tidak perlu menjagaku.” Jawab Freya.
“Aku ini mandiri, aku biasa hidup sendiri.”
“Hidup sendiri?” David langsung tercengang saat kata-kata itu keluar dari mulut Freya. Entah kenapa itu membuat David justru ingin menjaga Freya lebih lagi.
“Sejak kapan kau hidup sendiri?” tanya David.
“Sudah lama.” Jawab Freya lalu tersenyum dan kembali ke mejanya.
Obrolan singkat itu membuat David semakin ingin tahu tentang Freya lebih jauh lagi. Tapi ia ingat ucapan Krisna untuk berhati-hati mendekati Freya.
***
Jam pulang akhirnya tiba. “Boleh aku pulang sekarang?” tanya Freya.
David menoleh. “Tentu saja boleh. Memang sudah waktunya.” Jawab David.
“Aku juga mau pulang. Mau ku antar?”
“Tidak perlu, aku pulang dengan Dita.” Jawab Freya.
“Baiklah.” Kata David lalu menutup laptopnya.
“Kalau begitu aku pergi dulu.” Ucap Freya lalu tersenyum.
Tak lama setelah Freya keluar, Krisna datang ke ruangan David.
“Dav! Kau punya waktu satu malam untuk mencari apartemen baru.” Ucap Krisna.
“Satu malam? Apa kau gila?” tanya David.
Krisna menggeleng. “Dalam satu malam kau harus temukan apartemen itu, dan pindah kesana kalau kau mau tinggal berdekatan dengan Freya. Dan jangan lupa, cari apartemen yang sederhana.” Jawab Krisna.
“Astaga, kau benar-benar gila.” Jawab David.
“Freya tidak suka tinggal di tempat orang lain. Dia pasti akan segera pindah dari tempat Dita, itulah kenapa kau harus lebih cepat.” Kata Krisna.
“Kalau begitu, kau bantu aku lah.” Minta David.
“Satu kali ini saja, kumohon.”
“Kalau saja aku ini bukan sahabatmu, aku tidak mau melakukan ini.” Kata Krisna.
Entah jam berapa David terbangun. Ia langsung mencari sosok Freya di ruangan itu. Beruntung gadis itu masih menemani David. David tersenyum, lalu perlahan turun dari ranjangnya. Ia melangkah mendekati Freya sambil membawa selimutnya. David berlutut di depan Freya yang tertidur sambil duduk. “Aku tidak sabar ingin tahu kenapa aku jadi seperti ini.” Ucap David. “Tapi apapun alasannya, aku yakin kau gadis yang baik untukku.” Untuk beberapa lama David mema
David terbangun dari tidurnya. Ia melihat jam di ponselnya. “Ck, baru pukul empat.” Gumam David. “Sampai kapan aku harus disini?”David memandang ke seluruh sudut ruangan. Ia sedikit kecewa karena tak menemukan sosok Freya disana. “Hmm.. dia pasti sudah pulang.” Gumam David. Seketika David merasa bosan. Tak ada yang bisa ia lakukan disana selain bermain ponsel. David melihat nomor Freya. Ia ingin sekali menghubungi gadis itu, tapi ia ragu. &
Freya kembali dengan membawa beberapa bungkus roti. Ia lalu duduk di samping ranjang David. Freya melihat David yang sedang tidur. Ia tak bisa berbohong, pria itu terlihat tampan bagi Freya. Tapi, ia tak mau berharap banyak dari pria itu. Apalagi terlalu banyak perbedaan antara mereka. “Pasti akan sulit sekali kalau sampai aku menyukainya.” Batin Freya sambil tersenyum tipis. “Mungkin seperti pungguk merindukan bulan.” “Kenapa kau senyum-senyum?&
“Dit, besok bantu aku mencari tempat baru ya.” Ucap Freya. “Iya Frey, kau tenang saja tidak perlu buru-buru. Kalau besok belum dapat, kau bisa tinggal denganku dulu.” Jawab Dita. “Aku tidak mau terlalu lama merepotkanmu.” Jawab Freya.“Ck, kau ini.” Gumam Dita. “Kita kan sudah lama bersahabat,
Krisna cepat-cepat menghampiri Dita dan Freya yang sudah menunggunya. “Aku tidak bisa mengantar kalian pulang kali ini. Aku ada urusan mendadak.” Ucap Krisna. “Baiklah kalau begitu.” Ucap Freya. Dita masih terdiam sambil memasang wajah cemberutnya. “Kau bilang mau membelikanku es krim.” Gerutunya. “Besok pasti akan kubelikan. Tapi kali ini aku minta maaf sekali, aku tidak bisa mengantarmu pulang.” Ucap Krisna.
Dita melangkah bersama kekasihnya untuk kembali ke ruang kerja mereka masing-masing. “Rasanya sedikit aneh.” Ucap Dita.‘Sejak kapan ada lowongan untuk menjadi asisten David?” “Setahuku tidak ada lowongan kerja di posisi itu selama ini.” “Memang benar.” Kata Krisna.“Lagipula, untuk apa David butuh asisten? Sepertinya dia lebih nyaman bekerja sendirian.” Jawab Dita. “Apa ada sesuatu antara mereka?” “Tapi kelihatannya Frey