LOGIN“Dit, besok bantu aku mencari tempat baru ya.” Ucap Freya.
“Iya Frey, kau tenang saja tidak perlu buru-buru. Kalau besok belum dapat, kau bisa tinggal denganku dulu.” Jawab Dita.
“Aku tidak mau terlalu lama merepotkanmu.” Jawab Freya.
“Ck, kau ini.” Gumam Dita.
“Kita kan sudah lama bersahabat, aku sama sekali tidak keberatan kau ada di sini.”
“Iya aku tahu.” Jawab Freya.
“Sudahlah jangan dipikirkan lagi. Besok aku dan Krisna akan membantumu, tapi aku tidak bisa janji dalam satu hari kita bisa menemukan tempat yang tepat untukmu.” Kata Dita.
“Baiklah, tidak masalah.” Jawab Freya.
“Sekarang mari kita tidur, besok kita harus kembali ke kantor.” Jawab Dita.
***
David membuka matanya. Tubuhnya masih terasa lemas, tapi hari ini ia tetap ingin pergi ke kantor. Ia melihat jam di ponselnya, baru pukul setengah enam. Ia pun segera beranjak dari ranjangnya. David melangkah melewati sudut yang katanya bisa menjadi dapur. Sudut itu terlalu sempit bagi David, dan membuat dia jadi malas membuat makanan disitu.
David menghela napas. Ia memutuskan untuk langsung pergi mandi. Kamar mandi yang agak sempit juga sedikit membuat David tak nyaman. Tapi ia yakin ia bisa beradaptasi dengan keadaan ini.
Selesai mandi, David kembali ke kamarnya. Ia melihat ponselnya berdering.
“Iya Ma, ada apa?” tanya David.
“Kau pindah kemana sayang? Mama ingin melihat tempat tinggalmu.” Kata Mama.
“Nanti kalau semua urusannya sudah selesai aku akan memberi alamatnya pada Mama.” Jawab David.
“Kenapa suaramu seperti itu? Kau sakit? Tanya Mama.
“Tidak Ma, aku hanya masih mengantuk.” Kata David.
“Ah baiklah. Kalau begitu mama tutup teleponnya, maaf mengganggumu.” Ucap Mama.
“Tidak masalah Ma. Aku akan segera berangkat ke kantor.” Jawab David.
“Kalau kau memang masih mengantuk, dan kau lelah karena baru saja pindah tidak perlu memaksa pergi ke kantor.” Ucap Mama.
“Lagipula perusahaan itu milikmu, kau tidak perlu memaksakan diri seperti itu.”
“Ma, perusahaan itu tanggung jawabku. Lagipula aku tahu kapan aku harus datang dan kapan aku tidak datang.” Ucap David.
“Baiklah kalau begitu, yang penting kau jaga kesehatanmu.” JawabMama.
David menutup teleponnya. Ia lalu mengambil kemeja dan segera memakainya. Pandangan David berhenti pada sebungkus makanan yang semalam Krisna beli untuknya.
“Ah itu pasti sudah basi.” Ucap David sambil mengambil makanan itu.
“Maaf Kris, aku harus membuangnya.”
Setelah semua persiapan selesai, David langsung menuju ke kantor. Ia melirik jam tangannya dan baru pukul tujuh pagi. Ia tahu itu terlalu pagi untuk berangkat ke kantor, tapi ia sudah tak sabar untuk bertemu Freya.
Sampai di perusahaan, suasana masih sangat sepi. Bahkan resepsionis pun belum datang. David melangkah menuju ke ruangannya. Sampai di sana ia langsung membuka laptopnya sambil menunggu Freya.
***
“Dit, aku berangkat denganmu ya.” Ucpa Freya.
“Iya. Astaga kau bicara seperti aku ini orang asing bagimu.” Kata Dita.
“Sampai kapan kau akan seperti ini? Aku ini sudah menganggapmu seperti saudara sendiri.”
Freya tertawa kecil.” Terimakasih.”
“Kau ini harus lebih percaya diri. Kau harus belajar bicara dengan tegas, tegakkan kepalamu itu. Untuk apa memandangi ujung kakimu setiap waktu?”
“Iya, iya.” Jawab Freya.
“Oh ya, kita belum terlambat kan?”
Dita menggeleng. “Biasanya aku datang pukul delapan. Kita tidak akan terlambat.”
***
Pukul delapan tepat Dita dan Freya sampai di perusahaan. Mereka langsung melangkah menuju ruang masing-masing. Perlahan, Freya mengetuk pintu ruangan David lalu ia melangkah masuk.
“Selamat pagi. Apa aku terlambat?” tanya Freya.
David tersenyum tipis. “Tidak, kau tidak terlambat.” Jawab David.
Freya melangkah menuju meja kerjanya sambil memperhatikan David yang terlihat berbeda. Ia ingin sekali bertanya pada pria itu, tapi sebisa mungkin Freya menahannya. Ia merasa tidak perlu tahu urusan atasannya itu.
“Boleh aku tahu tugasku hari ini?” tanya Freya.
“Aku membatalkan pertemuan dengan klien, jadi hari ini kau tetap disini bersamaku.” Jawab David.
“Kenapa?” tanya Freya.
Freya langsung menutup mulutnya setelah pertanyaan itu keluar dari mulutnya. “Maaf.” Lanjutnya.
“Untuk apa minta maaf? Kau hanya bertanya kenapa, apakah itu membuatmu merasa bersalah?” tanya David.
“Aku takut itu tidak sopan.” Gumam Freya lirih.
“Kau bisa bertanya apapun padaku.” Jawab David.
Freya tidak sengaja menatap David dan itu membuat jantungnya berdegup kencang.
“Ada yang mau kau tanyakan?” tanya David.
Pertanyaan itu membuat Freya tersadar dari lamunannya. Ia menggeleng cepat lalu bergegas kembali ke mejanya.
“Apa kau sudah sarapan?” tanya David.
Freya mengangguk. “Apa kau baik-baik saja?” tanya Freya dengan ragu.
“Kenapa?” tanya David.
“Kau terlihat sedikit pucat.” Jawab Freya dengan suara lirih.
Entah kenapa David justru tersenyum. Padahal seharusnya ia memikirkan kesehatannya, apalagi orang lain sudah menilai dirinya pucat.
“Aku baik-baik saja.” Jawab David. Freya kembali mengangguk lalu berhenti bertanya.
***
Pukul sepuluh pagi tiba-tiba saja David tertunduk di atas mejanya dan membuat Freya panik seketika. Ia langsung berlari ke arah David dan menepuk-nepuk punggung pria itu.
“Hei ada apa? Kau kenapa?” tanya Freya dengan panik.
David terdiam sambil menutup matanya. Freya tahu pria itu sedang menahan sakit dan itu membuatnya semakin panik. Dengan cepat, Freya menelepon Krisna dan memintanya untuk datang ke ruangan.
“Hei, kau kenapa? Tolong bicaralah. Kau butuh sesuatu?” tanya Freya.
“Air.” Jawab David.
David tak tahu apakah air bisa membantunya kali ini. Ia hanya asal bicara tadi. Lagipula David tak bisa berkata banyak karena perutnya yang terasa sangat sakit.
Freya langsung berlari mengambil segelas air. Beruntung di ruangan itu sudah disediakan. Dan tiba-tiba Krisna masuk ke ruangan itu dan berlari ke arah David.
“Dav, kau kenapa?” tanya Krisna.
David kembali tak menjawab. Tapi melihat sahabatnya itu meringis kesakitan, Krisna tahu apa yang terjadi. Krisna langsung mencari obat di sebuah lemari di ruangan itu.
“Frey berikan airnya.” Ucap Krisna.
Freya meletakkan segelas air ke meja dan Krisna langsung memberikan sebuah obat ke tangan David.
“Cepat minum.” Ucap Krisna.
David segera meminum obat itu. Tadi, ia bahkan lupa kalau ia punya obat di lemarinya. Sambil menenggak segelas air putih, David memperhatikan Freya yang terlihat begitu panik.
“Aku tahu kenapa kau begini.” Ucap Krisna dengan kesal.
“Aku kan sudah bilang semalam kau seharusnya…”
Ucapan Krisna terhenti saat David menatapnya. “Ssshh, kita pergi ke rumah sakit sekarang.” Ucap Krisna.
Dengan cepat Krisna langsung menarik tangan David, membuat pria itu terbangun dari kursinya. “Frey, kau ikut kami.” Ucap Krisna.
David mengikuti langkah Krisna sambil menggerutu dalam hati. Pria itu memang paling kesal saat melihat David sakit.
Krisna membawa David masuk ke mobilnya, lalu mereka pun langsung menuju ke rumah sakit. “Aku tidak perlu ke rumah sakit.” Ucap David.
“Sssttt. Kau ini sangat merepotkan.” Sahut Krisna.
Freya hanya terdiam mendengar ucapan Krisna dengan nada kesalnya. Ia ingin sekali bertanya pada David tentang sakitnya, tapi lagi-lagi Freya tak berani mengutarakannya.
Sampai di rumah sakit, David langsung mendapat ruangan. Freya dan Krisna menemani David hingga seoarang dokter dan perawat memeriksa kesehatannya.
“Anda harusnya tahu pak, kondisi lambung anda kurang baik. Jadi anda seharusnya tidak melewatkan waktu makan, dan sudah seharusnya anda memperhatikan pola makan anda.” Ucap Dokter.
“Baiklah, silahkan beristirahat hingga kondisi anda membaik.”
Setelah mengatakan itu, sang dokter dan perawat itu keluar dari ruangan. “Sudah berapa kali kubilang, kau ini harus makan teratur.” Ucap Krisna.
“Kalau kau tidak bisa menjaga dirimu sendiri, bagaimana kau bisa menjaga orang lain?”
“Kris sudahlah. Jangan marah-marah seperti itu.” Ucap Freya
David hanya terdiam sambil memandang sahabatnya yang marah itu. Ia tahu ini memang kesalahannya.
“Aku masih banyak pekerjaan, kau bisa temani dia kan Frey?” ucap Krisna.
“Hm? Aku?” gumam Freya.
“Iya kau, siapa lagi?” tanya Krisna.
“Oh ya, baiklah.” Ucap Freya dengan cepat. Melihat Krisna sudah kesal, Freya tak ingin banyak bicara lagi.
Setelah mengatakan itu, Krisna langsung melangkah pergi. Dan sebenarnya, Freya masih bingung kenapa Krisna bisa semarah itu pada David. Padahal setahu Freya, Krisna bukan orang yang pemarah.
Kini pandangan Freya tertuju pada David. “Kenapa bisa seperti ini?” ucap Freya.
“Aku lupa makan.” Jawab David.
“Mana mungkin lupa, kau hanya tidak mau bukan?” ucap Freya.
“Apa kau marah padaku?” tanya David.
“Bukan, bukan seperti itu maksudku.” Ucap Freya.
Freya akhirnya terdiam. Ia tak melanjutkan ucapannya lagi. Ia pun melangkah ke luar ruangan.
“Kau mau kemana?” tanya David.
“Aku keluar sebentar.” Jawab Freya.
Kali ini David yang terdiam. “Kenapa dia seperti itu? Apa aku salah?” batinnya.
Entah jam berapa David terbangun. Ia langsung mencari sosok Freya di ruangan itu. Beruntung gadis itu masih menemani David. David tersenyum, lalu perlahan turun dari ranjangnya. Ia melangkah mendekati Freya sambil membawa selimutnya. David berlutut di depan Freya yang tertidur sambil duduk. “Aku tidak sabar ingin tahu kenapa aku jadi seperti ini.” Ucap David. “Tapi apapun alasannya, aku yakin kau gadis yang baik untukku.” Untuk beberapa lama David mema
David terbangun dari tidurnya. Ia melihat jam di ponselnya. “Ck, baru pukul empat.” Gumam David. “Sampai kapan aku harus disini?”David memandang ke seluruh sudut ruangan. Ia sedikit kecewa karena tak menemukan sosok Freya disana. “Hmm.. dia pasti sudah pulang.” Gumam David. Seketika David merasa bosan. Tak ada yang bisa ia lakukan disana selain bermain ponsel. David melihat nomor Freya. Ia ingin sekali menghubungi gadis itu, tapi ia ragu. &
Freya kembali dengan membawa beberapa bungkus roti. Ia lalu duduk di samping ranjang David. Freya melihat David yang sedang tidur. Ia tak bisa berbohong, pria itu terlihat tampan bagi Freya. Tapi, ia tak mau berharap banyak dari pria itu. Apalagi terlalu banyak perbedaan antara mereka. “Pasti akan sulit sekali kalau sampai aku menyukainya.” Batin Freya sambil tersenyum tipis. “Mungkin seperti pungguk merindukan bulan.” “Kenapa kau senyum-senyum?&
“Dit, besok bantu aku mencari tempat baru ya.” Ucap Freya. “Iya Frey, kau tenang saja tidak perlu buru-buru. Kalau besok belum dapat, kau bisa tinggal denganku dulu.” Jawab Dita. “Aku tidak mau terlalu lama merepotkanmu.” Jawab Freya.“Ck, kau ini.” Gumam Dita. “Kita kan sudah lama bersahabat,
Krisna cepat-cepat menghampiri Dita dan Freya yang sudah menunggunya. “Aku tidak bisa mengantar kalian pulang kali ini. Aku ada urusan mendadak.” Ucap Krisna. “Baiklah kalau begitu.” Ucap Freya. Dita masih terdiam sambil memasang wajah cemberutnya. “Kau bilang mau membelikanku es krim.” Gerutunya. “Besok pasti akan kubelikan. Tapi kali ini aku minta maaf sekali, aku tidak bisa mengantarmu pulang.” Ucap Krisna.
Dita melangkah bersama kekasihnya untuk kembali ke ruang kerja mereka masing-masing. “Rasanya sedikit aneh.” Ucap Dita.‘Sejak kapan ada lowongan untuk menjadi asisten David?” “Setahuku tidak ada lowongan kerja di posisi itu selama ini.” “Memang benar.” Kata Krisna.“Lagipula, untuk apa David butuh asisten? Sepertinya dia lebih nyaman bekerja sendirian.” Jawab Dita. “Apa ada sesuatu antara mereka?” “Tapi kelihatannya Frey