LOGINFreya kembali dengan membawa beberapa bungkus roti. Ia lalu duduk di samping ranjang David. Freya melihat David yang sedang tidur. Ia tak bisa berbohong, pria itu terlihat tampan bagi Freya. Tapi, ia tak mau berharap banyak dari pria itu. Apalagi terlalu banyak perbedaan antara mereka.
“Pasti akan sulit sekali kalau sampai aku menyukainya.” Batin Freya sambil tersenyum tipis.
“Mungkin seperti pungguk merindukan bulan.”
“Kenapa kau senyum-senyum?” tanya David.
“Hah? Apa?” ucap Freya terkejut.
“Kupikir kau tidur.”
“Aku tidak akan bisa tidur kalau kau tidak ada disini.” Jawab David.
“Memangnya kenapa?” tanya Freya.
“Karena aku mau kau ada disini.” Ucap David.
“Ssshhh.. jangan tanya kenapa. Aku tidak mau menjelaskannya.”
“Kau marah padaku?”
“Untuk apa aku marah padamu?” tanya Freya.
“Apa menurutmu aku merepotkan?” tanya David.
“Mungkin kau hanya ceroboh.” Gumam Freya.
“Kenapa kau tidak tersenyum lagi?” tanya David.
“Senyummu itu hilang begitu kau bicara padaku.”
“Maaf.” Gumam Freya.
“Frey, kau terlalu banyak minta maaf.” Jawab David.
Freya akhirnya terdiam lagi. Ia tak tahu harus bicara apa pada atasannya itu. Situasi ini benar-benar membuat Freya menjadi canggung.
“Kau beli apa?” tanya David.
“Ah aku beli roti, kau mau?” tanya Freya.
David mengangguk. Freya lalu mengambil sebuah roti dan memberikannya pada David.
“Maaf kalau aku merepotkanmu.” Ucap David.
“Tidak, jangan begitu.” Gumam Freya.
“Aku jadi tidak nyaman kalau kau meminta maaf padaku.”
“Kenapa?” tanya David.
“Karena kau atasanku.” Jawab Freya.
“Jangan menganggapku seperti itu. Aku tidak suka ada jarak antara kita.” Kata David.
Freya kembali terdiam. Entah apa maksud ucapan David yang barusan itu, yang jelas itu membuat dadanya kembali berdegup kencang.
“Rotinya enak, kenapa kau tidak makan?” tanya David.
“Iya, iya.” Gumam Freya.
Freya mengambil roti lainnya lalu mulai memakannya. Tak ada hal lain yang bisa ia lakukan untuk menutupi rasa gugupnya kali ini. Apalagi ia tahu, David memandanginya sejak tadi.
“Kenapa kau memandangku seperti itu?” tanya Freya.
“Ada yang salah?”
“Tidak, tidak ada yang salah denganmu.” Ucap David.
“Aku hanya suka memandangmu.”
“Apa kau tidak menelepon seseorang untuk menjengukmu? Kekasihmu misalnya.” Ucap Freya.
“Aku tidak punya.” sahut David.
Kali ini Freya menatap David dengan heran. “Mana mungkin pria ini tidak punya kekasih.” Batinnya.
“Kau tidak percaya?” tanya David.
“Kau bisa memeriksa ponselku kalau kau mau.”
“Aku tidak menyimpan nomor gadis manapun. Hanya ada mamaku disana.”
“Kau mau lihat?”
Dengan cepat Freya menggeleng. “Tidak, terimakasih.” Jawab Freya.
David lalu mengambil ponselnya. “Masukkan nomormu.” Ucap David.
“Apa? Nomorku?” gumam Freya.
David mengangguk. “Apa kau keberatan? Kau punya kekasih?” tanya David.
“Baiklah, sebentar.” Ucap Freya sambil memasukkan nomor ponselnya.
“Sudah.”
“Terimakasih.” Jawab David sambil tersenyum.
“Aw!” seru David.
Seketika Freya langsung terbangun dengan panik. “Apa yang terjadi? Perutmu sakit? Sudahlah jangan makan roti itu lagi.” Ucap Freya.
“Aku panggil dokter sebentar.”
Tiba-tiba David justru tertawa. “Aku hanya bercanda. Aku baik-baik saja.” Kata David.
David yang berharap Freya ikut tertawa bersamanya nyatanya tak mendapat apa yang ia mau. Freya justru terdiam sambil memandang David. Dan dari tatapannya, David tahu Freya kesal padanya.
“Frey, aku tidak bermaksud apa-apa.” Ucap David.
“Aku benar-benar hanya ingin bercanda. Maaf.”
Freya mengangguk. “Tidak apa-apa.” Ucap Freya.
David sedikit merasa bersalah karena sudah membuat Freya panik dua kali seharian ini. Ia harusnya ingat apa yang Krisna katakan sebelumnya.David memandang Freya yang duduk agak jauh dari ranjangnya, gadis itu masih sibuk dengan ponselnya.
***
Pukul dua belas siang, David sudah merasa bosan. Padahal baru beberapa jam dia ada di rumah sakit.
“Frey kau lapar?” tanya David.
“Hm? Tidak.” Jawab Freya.
“Tapi ini sudah jam makan siang. Aku pesan makanan untukmu ya?” kata David.
“Tidak perlu, aku bisa cari sendiri nanti.” Jawab Freya.
“Karena kau disini, aku akan bertanggungjawab. Kau juga sudah menemaniku.” Ucap David.
David mengambil ponselnya lalu memesan makanan.
“Kau mau makan apa? Kau suka pedas?” tanya David.
“Hmm lumayan.Aku bisa makan apa saja, jadi terserah kau saja.” Jawab Freya.
David mengangguk namun masih tetap memandang ponselnya. “Kau tunggu sebentar ya.” Ucap David.
Setelah tiga puluh menit, ponsel David berbunyi. “Frey, kau bisa ambil makanannnya?” ucap David.
“Baiklah.” Jawab Freya.
Freya melangkah keluar untuk mengambil pesanan David. Alangkah terkejutnya ia saat melihat David memesan banyak sekali makanan.
“Uh bagaimana aku bisa makan sebanyak ini.” Gumam Freya sambil kembali ke kamar David.
***
“Apa kau memang memesan sebanyak ini?” tanya Freya.
“Iya, makanlah.” Jawab David.
“Aku tidak bisa menghabiskan semuanya.” Kata Freya.
“Kau mau makan bersamaku?”
“Makanan itu agak pedas, aku tidak bisa memakannya.” Jawab David.
Baru saja mengatakan itu, seorang wanita berumur membawa makan siang untuk David. “Ini makan siang anda Pak. Semoga lekas sembuh.” Ucap wanita itu.
“Terimakasih.” Jawab David.
“Sudah berapa lama anda disini?” tanya wanita itu.
“Baru saja, pagi ini.” Jawab David.
“Anda beruntung karena istri anda menemani anda. Saya banyak melihat pasien yang berhari-hari sendirian.” Ucap wanita itu.
“Aku..” gumam Freya.
“Ibu benar, aku memang beruntung.” Sahut David.
Wanita itu tersenyum lalu keluar dari kamar David. “Aku memang beruntung.” Ucap David sambil memandang Freya.
Freya tak tahu harus bahagai atau tidak melihat tingkah pria itu. “Aku beruntung karena kau menemaniku.” Ucap David.
“Tapi aku ini bukan istrimu.” Kata Freya.
“Benar, tapi aku mau menjadi suamimu.” Jawab David.
Entah sudah berapa kali Freya seperti terkena serangan jantung kecil karena ucapan David. Tapi ketika Freya sedikit merasa senang, ia langsung teringat tingkah Arga dulu. Pria itu sama-sama suka mengatakan hal manis seperti David.
“Frey, kenapa diam?” tanya David.
“Kau tidak makan? Makananmu dingin.”
“Ah iya iya” Jawab Freya.
Freya membuka makanannya. Semua terlihat lezat, tapi Freya tahu perutnya tidak akan muat untuk menghabiskan semua.
“Kalau aku tidak bisa menghabiskan semuanya, bagaimana?” tanya Freya.
David tertawa kecil. “Kau tidak harus menghabiskannya. Kalau memang tidak habis, kau bisa buang atau kau bawa pulang, terserah kau saja.” Jawab David.
“Baiklah, terimakasih.” Ucap Freya.
David memandang makanannya. Ia merasa semua makanan itu sama sekali tak menarik baginya. Dan saat mencicipnya, semua makanan itu terasa hambar. Ia jadi kehilangan selera makannya. Tapi sekarang, perutnya sedang tidak kompromi untuk menerima makanan lain yang David suka.
“Ada apa dengan makanannya? Kenapa kau seperti malas makan?” tanya Freya sambil mendekati David.
“Rasanya hambar. Sebenarnya aku sudah tahu makanan rumah sakit pasti akan seperti ini, hanya saja..” ucap David.
Freya duduk di samping David, ia mengambil sesendok bubur dna siap menyuapi atasannya itu. “Makanlah.” Ucap Freya.
David langsung membuka mulutnya. Entah kenapa ia tidak bisa menolak ucapan Freya, padahal makanannya masih sama.
“Kau harus makan agar cepat sembuh.” Ucap Freya.
David menahan senyumnya ketika mengunyah. Ia tak mau kalau sampai senyumnya mengacaukan momen ini. “Terimakasih banyak.” Ucap David.
David terus mengunyah makanannya sambil memandang wajah Freya yang terlihat fokus menyuapi David. “Baru kali ini aku sakit tapi aku senang.” Ucap David.
“Maksudmu?” tanya Freya.
“Ya, Aku senang.” Jawab David.
“Kau tidak boleh suka sakit. Memangnya kau mau berhari-hari di rumah sakit? Bukankah itu membosankan?” tanya Freya.
“Iya, kau benar juga.” Jawba David sambil tertawa.
David akhirnya bisa menghabiskan makanannya dengan cepat.Tentu saja semua itu berkat Freya. “Istirahatlah.” Ucap Freya lalu melangkah menjauh.
“Frey.” Panggil David.
Freya berbalik lalu memandang wajah tampan David. “Kau boleh pulang kapan saja. Kau tidak harus disini semalaman menemaniku.” Ucap David.
“Apa ada orang lain yang akan kemari? Krisna?” tanya Freya.
“Tidak, lagipula aku sudah terbiasa sendiri. Aku sudah sering ada di rumah sakit sendirian.” Jawab David.
Freya hanya mengangguk. “Baiklah.” Jawab Freya.
Kini giliran Freya yang menghabiskan makanannya. Sesekali ia memandang David yang terlelap. “Kasihan juga kalau dia sendirian.” Batin Freya.
“Kalau ada apa-apa, tidak ada yang menolong.”
“Kupikir dia punya banyak teman yang bisa diandalkan, ternyata sama saja walaupun dia kaya.”
Setelah makan, Freya kembali mendekati David. Ia memandang wajah pucat pria itu. “Kau ini pria seperti apa? Apa kau sama saja dengan Arga?” batin Freya.
Entah jam berapa David terbangun. Ia langsung mencari sosok Freya di ruangan itu. Beruntung gadis itu masih menemani David. David tersenyum, lalu perlahan turun dari ranjangnya. Ia melangkah mendekati Freya sambil membawa selimutnya. David berlutut di depan Freya yang tertidur sambil duduk. “Aku tidak sabar ingin tahu kenapa aku jadi seperti ini.” Ucap David. “Tapi apapun alasannya, aku yakin kau gadis yang baik untukku.” Untuk beberapa lama David mema
David terbangun dari tidurnya. Ia melihat jam di ponselnya. “Ck, baru pukul empat.” Gumam David. “Sampai kapan aku harus disini?”David memandang ke seluruh sudut ruangan. Ia sedikit kecewa karena tak menemukan sosok Freya disana. “Hmm.. dia pasti sudah pulang.” Gumam David. Seketika David merasa bosan. Tak ada yang bisa ia lakukan disana selain bermain ponsel. David melihat nomor Freya. Ia ingin sekali menghubungi gadis itu, tapi ia ragu. &
Freya kembali dengan membawa beberapa bungkus roti. Ia lalu duduk di samping ranjang David. Freya melihat David yang sedang tidur. Ia tak bisa berbohong, pria itu terlihat tampan bagi Freya. Tapi, ia tak mau berharap banyak dari pria itu. Apalagi terlalu banyak perbedaan antara mereka. “Pasti akan sulit sekali kalau sampai aku menyukainya.” Batin Freya sambil tersenyum tipis. “Mungkin seperti pungguk merindukan bulan.” “Kenapa kau senyum-senyum?&
“Dit, besok bantu aku mencari tempat baru ya.” Ucap Freya. “Iya Frey, kau tenang saja tidak perlu buru-buru. Kalau besok belum dapat, kau bisa tinggal denganku dulu.” Jawab Dita. “Aku tidak mau terlalu lama merepotkanmu.” Jawab Freya.“Ck, kau ini.” Gumam Dita. “Kita kan sudah lama bersahabat,
Krisna cepat-cepat menghampiri Dita dan Freya yang sudah menunggunya. “Aku tidak bisa mengantar kalian pulang kali ini. Aku ada urusan mendadak.” Ucap Krisna. “Baiklah kalau begitu.” Ucap Freya. Dita masih terdiam sambil memasang wajah cemberutnya. “Kau bilang mau membelikanku es krim.” Gerutunya. “Besok pasti akan kubelikan. Tapi kali ini aku minta maaf sekali, aku tidak bisa mengantarmu pulang.” Ucap Krisna.
Dita melangkah bersama kekasihnya untuk kembali ke ruang kerja mereka masing-masing. “Rasanya sedikit aneh.” Ucap Dita.‘Sejak kapan ada lowongan untuk menjadi asisten David?” “Setahuku tidak ada lowongan kerja di posisi itu selama ini.” “Memang benar.” Kata Krisna.“Lagipula, untuk apa David butuh asisten? Sepertinya dia lebih nyaman bekerja sendirian.” Jawab Dita. “Apa ada sesuatu antara mereka?” “Tapi kelihatannya Frey