LOGINKrisna membuka pintu ruangan David. Ia begitu terkejut melihat sosok wanita yang duduk di ruangan itu.
“Freya?” ucap Krisna.
“Kris, hai!” seru Freya dengan gembira.
“Kau bekerja disini?”
Krisna mengangguk. “Dan kau tahu apa yang lebih istimewa? Dita juga bekerja disini.” Kata Krisna.
Freya berteriak gembira. Ia sama sekali tak tahu kalau sahabatnya itu berada di kantor yang sama dengannya. “Benarkah?” ucap Freya.
“Kalian saling kenal?” tanya David dengan kebingungan.
“Tentu saja. Mereka ini sahabatku.” Jawab Freya dengan bersemangat.
“Boleh aku bertemu Dita? Sebentar saja.” Minta Freya.
“Baiklah, aku akan memanggil dia kemari.” Jawab David.
David teleponnya lalu meminta Dita untuk datang ke ruangannya. “Ssshhh..” gumam David. Ia heran melihat Freya mengobrol begitu akrab dengan Krisna. David pun melangkah mendekati kedua orang itu.
“Kalian terdengar asyik sekali.” Gumam David sambil tersenyum kecut.
“Kami sudah lama tidak bertemu. Hmm.. tidak lama sih. Hanya saja setelah wisuda aku berpisah dengan mereka.” Jawab Freya.
Krisna melempar senyumnya ke arah David lalu menepuk bahu pria itu. Ia memandang David dengan penuh makna. “Apa?” tanya David dengan dingin.
“Aku bisa membantumu.” Jawab Krisna lalu tersenyum.
Seakan mengerti maksud Krisna, David pun berdeham agar Freya tidak mencuigainya. “Sialan kau Kris.” Batin David.
Tak lama, Dita membuka pintu. Sesaat ia terdiam ketika melihat sahabatnya ada di ruangan itu. “Aku bekerja disini.” Ucap Freya.
Sontak Dita langsung berteriak dengan suara melengkingnya yang khas. Ia pun langsung memeluk Freya dengan erat. “Aku tidak menyangka kita bekerja di satu tempat.” Ucap Dita dengan bahagia.
“Kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau akan melamar pekerjaan disini?”
“Kita kan bisa berangkat bersama tadi pagi.”
“Maaf, tadinya aku ingin bercerita kalau aku sudah diterima bekerja. Aku tidak tahu kita akan bekerja di tempat yang sama.” Jawab Freya.
“Kau bekerja di bagian apa?” tanya Dita.
“Aku bekerja di ruangan ini.” Jawab Freya dengan polos.
Dita menaikkan alisnya lalu memandang David. “Kalian boleh keluar sebentar. Freya belum tahu seluk beluk perusahaan ini jadi aku bisa mengajaknya berjalan-jalan sebentar.” Sahut David.
“Ah, baiklah.” Jawab Dita.
“Apa kami boleh membeli teh susu yang ada di depan sana?”
“Ya, tentu saja. Kalian boleh membeli minuman apapun yang ada di sana.” Jawab David dengan cepat.
Dita pun tersenyum gembira. Ia tahu David pasti akan mengizinkannya pergi walaupun ini bukan jam istirahat. “Ayo, aku akan mengajakmi berjalan-jalan.” Kata Dita. Freya mengangguk lalu mengikuti langkah Dita.
***
“Jadi gadis itu, Freya?” tanya Krisna.
David mengangguk. “Aku juga tidak tahu kenapa aku tiba-tiba menginginkan Freya.” Jawab David.
“Aku mau dia selalu ada di dekatku.”
“Aku mau dia selalu bersamaku. Aku ingin menjaganya.”
“Kau bilang tadi, kau bisa membantuku kan?”
Krisna mengangguk. “Benar. Aku bisa membantumu untuk lebih dekat dengan Freya. “ jawab Krisna.
“Aku sudah lama mengenalnya jadi paling tidak aku tahu apa yang dia suka dan yang dia tidak suka.”
“Tapi aku tidak bisa menjamin kau dengan mudah bisa mendapatkan hatinya.”
“Apa dia sekeras itu?” tanya David.
“Bukan keras. Dia itu baik, dia bahkan lembut. Tapi dia tidak terlalu mempercayai laki-laki.” Kata Krisna.
“Kenapa?” tanya David.
“Kupikir, untuk masalah itu kau harus cari sendiri jawabannya.” Jawab Krisna.
“Kalau aku memberitahu semuanya, itu berarti kau tidak berjuang.”
“Kau juga harus tahu kenapa kau tiba-tiba bisa menginginkannya. Dia sahabatku dan Dita. Aku tidak mau dia menjadi korban emosi dan perasaan sesaatmu.”
“Kau pikir pria macam apa aku..” gumam David dengan kesal.
“Aku tidak tahu mungkin saja kau terlalu lama melajang jadi perasaanmu tidak stabil.” Jawab Krisna lalu tertawa.
“Hey, aku tidak seburuk itu.” Kata David.
David menghela napas. “Hampir saja aku kehilangan dia.” Kata David.
“Jadi, kenapa dia ada disini?” tanya Krisna.
“Dia menjadi asistenku mulai sekarang. Dia akan bekerja di ruangan ini.” Jawab David.
“Boleh aku minta bantuanmu?”
“Apa?” tanya Krisna.
“Apartemen di sebelahku kosong. Freya bilang kau dan Dita akan mencarikan tempat baru baginya. Bisa kau..” gumam David.
“Hey, hey, tunggu sebentar. Maksudmu kau mau Freya tinggal disana?” tanya Krisna.
David mengangguk. “Tidak mungkin. Itu terlalu mahal baginya.” Jawab Krisna.
“Dav, Freya itu bukan orang kaya sepertimu. Dia pasti akan memilih tinggal di tempat yang lebih murah.”
“Mana mungkin dia mau menghabiskan seluruh gajinya hanya untuk biaya sewa apartemen itu.”
“Dia tidak sepertimu. Kau sudah punya rumah besar tapi justru membeli apartemen.”
“Ssshhh.. haruskah aku beli apartemen itu juga?” gumam David.
“Astaga, kau benar-benar ingin dia tinggal disana?” tanya Krisna.
“Aku sudah mengatakannya padamu. Aku mau dia selalu di dekatku.” Jawab David.
“Begini saja. Bawa dia kesana aku akan urus pembayarannya siang ini juga.”
“Ck, kau benar-benar gila.” Kata Krisna.
“Katakan padanya, harga sewanya murah. Dia pasti bisa membayarnya.” Ucap David.
“Hey, wanita bodoh mana yang akan percaya? Apartemenmu itu apartemen mewah, tidak mungkin harganya murah. Kau bodoh?” ucap Krisna dengan kesal.
“Jadi aku harus bagaimana?” tanya David.
“Mau tidak mau, kau yang harus pindah ke apartemen yang lebih sederhana.” Jawab Krisna.
***
“Sejak kapan kau bertemu dengan David?” tanya Dita.
“Beberapa hari yang lalu.” Jawab Freya.
“Kau sudah lama bekerja disini?”
“Setelah wisuda, aku dan Krisna langsung bekerja disini.” Jawab Dita.
“Karena Krisna sahabat David. Dia yang memiliki perusahaan ini.”
“Maaf, bukan berarti aku tidak mengingatmu waktu itu.”
“Kau tahu, aku selalu memikirkanmu sejak kau pindah. Aku juga selalu bertanya-tanya apakah kau sudah mendapat pekerjaan atau belum.”
“Tapi setiap kali ingin menanyakan itu, aku takut itu akan melukai perasaanmu.”
“Aku juga bukan siapa-siapa disini, jadi aku tidak bisa memberikan pekerjaan apapun padamu.”
Freya tersenyum. “Itu bukan masalah. Aku tahu kau bukannya ingin melupakanku.” Jawab Freya.
“Baiklah, mari beli teh susu.” Ucap Dita dengan semangat.
Merekapun keluar dari perusahaan itu dengan santai. “Sebelumnya, aku tidak pernah keluar dari kantor sebelum jam istirahat.” Ucap Dita.
“Tapi kali ini karena kau aku jadi bisa.”
“Sebenarnya aku tidak yakin dengan pekerjaan ini. Bekerja sebagai asisten direktur, bukankah itu aneh?” gumam Freya.
“Pekerjaan macam apa itu?”
“Apalagi saat aku tanya apa tugasku, dia hanya menjawab tugasku adalah menemaninya ke pertemuan, menemani kunjungan pokoknya hanya menemani.”
“Bukankah itu aneh? Jujur saja aku tidak bisa percaya padanya.”
“Selama aku kenal David, yang ku tahu dia pria yang baik.” Kata Dita.
“Dia sudah lama bersahabat dengan Krisna. Krisna juga bilang dia pria baik-baik.”
“Kupikir, kau bisa percaya padanya.”
“Baiklah, aku akan mencobanya. Lagipula hanya ini satu-satunya pekerjaan yang kupunya.” Kata Freya.
Setelah beberapa langkah, merekapun sampai ke penjual the susu yang Dita maksud. “Pilihlah, kau mau yang mana.” Ucap Dita.
“Mbak, teh susu originalnya dua ya.”
“Kau beli dua, apa itu untukku?” tanya Freya.
“Untuk Krisna. Dia suka yang original.” Ucap DIta malu-malu.
“Ah begitu. Baiklah, aku juga original dua ya.” Ucap Freya.
“Kau juga beli dua, untuk siapa?” tanya Dita.
“Untuk atasanku itu. Apa tidak masalah?” tanya Freya.
“Tidak, itu bukan masalah.” Jawab Dita.
Tak lama pesanan mereka pun selesai dibuat. Setelah membayar, mereka kembali masuk ke perusahaan.“Sekali kau mencobanya, kau pasti ingin membelinya setiap hari.” Ucap Dita sambil melangkah ke ruangan David.
Freya membuka pintu ruangan itu. Ia melihat dua pria yang sedang bicara serius. “Apa kami mengganggu?” tanya Freya.
“Tidak, sama sekali tidak.” Jawab Krisna sambil beranjak.
“Lagipula, bukankah ini juga ruang kerjamu?”
“Eh, apa kau beli untukku juga?” tanya Krisna.
Dita mengangguk. “Tentu saja, aku tidak akan melupakanmu saat minum teh ini. Ini kan juga kesukaanmu.” Jawab Dita dengan suara ala anak kecil.
“Hmm terimakasih. Kau memang yang terbaik.” Jawab Krisna sambil menerima minumannya.
“Kalau begitu kami pergi dulu ya. Kami juga punya banyak tugas.”
“Frey, nanti kita pulang bersama ya.” Ucap Dita.
Freya mengangguk. “BAiklah.” Katanya.
Dita dan Krisna pun melangkah keluar dari ruangan itu. Dan kini hanya tersisia Freya dan David di ruangan itu.
“Kau juga beli dua, untuk siapa?” tanya David.
“Ah ini. Aku tidak tahu kau suka atau tidak dengan minuman seperti ini, ini hanya ucapan terimakasih karena kau sudah memberiku pekerjaan.” Ucap Freya dengan terbata-bata.
“Tidak masalah kalau kau tidak mau menerimanya.” Lanjutnya dengan ragu.
David langsung mengambil minuman itu dari tangan Freya. “Kata siapa aku tidak suka?” jawab David.
“Aku pasti suka apapun yang kau berikan.”
David melangkah mendekati gadis itu dan seketika itu juga jantungnya berdegup kencang. “Apa ini? Apa aku mulai menyayanginya?” batin David.
“Terimakasih.” Bisik David tepat di telinga Freya.
Entah jam berapa David terbangun. Ia langsung mencari sosok Freya di ruangan itu. Beruntung gadis itu masih menemani David. David tersenyum, lalu perlahan turun dari ranjangnya. Ia melangkah mendekati Freya sambil membawa selimutnya. David berlutut di depan Freya yang tertidur sambil duduk. “Aku tidak sabar ingin tahu kenapa aku jadi seperti ini.” Ucap David. “Tapi apapun alasannya, aku yakin kau gadis yang baik untukku.” Untuk beberapa lama David mema
David terbangun dari tidurnya. Ia melihat jam di ponselnya. “Ck, baru pukul empat.” Gumam David. “Sampai kapan aku harus disini?”David memandang ke seluruh sudut ruangan. Ia sedikit kecewa karena tak menemukan sosok Freya disana. “Hmm.. dia pasti sudah pulang.” Gumam David. Seketika David merasa bosan. Tak ada yang bisa ia lakukan disana selain bermain ponsel. David melihat nomor Freya. Ia ingin sekali menghubungi gadis itu, tapi ia ragu. &
Freya kembali dengan membawa beberapa bungkus roti. Ia lalu duduk di samping ranjang David. Freya melihat David yang sedang tidur. Ia tak bisa berbohong, pria itu terlihat tampan bagi Freya. Tapi, ia tak mau berharap banyak dari pria itu. Apalagi terlalu banyak perbedaan antara mereka. “Pasti akan sulit sekali kalau sampai aku menyukainya.” Batin Freya sambil tersenyum tipis. “Mungkin seperti pungguk merindukan bulan.” “Kenapa kau senyum-senyum?&
“Dit, besok bantu aku mencari tempat baru ya.” Ucap Freya. “Iya Frey, kau tenang saja tidak perlu buru-buru. Kalau besok belum dapat, kau bisa tinggal denganku dulu.” Jawab Dita. “Aku tidak mau terlalu lama merepotkanmu.” Jawab Freya.“Ck, kau ini.” Gumam Dita. “Kita kan sudah lama bersahabat,
Krisna cepat-cepat menghampiri Dita dan Freya yang sudah menunggunya. “Aku tidak bisa mengantar kalian pulang kali ini. Aku ada urusan mendadak.” Ucap Krisna. “Baiklah kalau begitu.” Ucap Freya. Dita masih terdiam sambil memasang wajah cemberutnya. “Kau bilang mau membelikanku es krim.” Gerutunya. “Besok pasti akan kubelikan. Tapi kali ini aku minta maaf sekali, aku tidak bisa mengantarmu pulang.” Ucap Krisna.
Dita melangkah bersama kekasihnya untuk kembali ke ruang kerja mereka masing-masing. “Rasanya sedikit aneh.” Ucap Dita.‘Sejak kapan ada lowongan untuk menjadi asisten David?” “Setahuku tidak ada lowongan kerja di posisi itu selama ini.” “Memang benar.” Kata Krisna.“Lagipula, untuk apa David butuh asisten? Sepertinya dia lebih nyaman bekerja sendirian.” Jawab Dita. “Apa ada sesuatu antara mereka?” “Tapi kelihatannya Frey