LOGINDavid berjalan dengan gelisah di ruangannya. Sudah pukul setengah sepuluh, tapi sosok Freya belum juga muncul. “Sudah terlambat tiga puluh menit, kenapa dia tidak datang?” ucap David.
“Apa dia tidak mempercayaiku?”
“Arrgghhh!”
Tiba-tiba pintu ruangannya terbuka. Krisna masuk dengan santainya ke ruangan itu. “Ada apa? Kau terlihat gelisah.” Ucap Krisna.
‘Aku sedang menunggu seseorang.” Jawab David.
“Siapa?” tanya Krisna.
“Apa kau pernah tiba-tiba tertarik pada seorang gadis, yang kau sendiri belum tahu bagaimana sifatnya?” tanya David.
“Mana ada yang seperti itu?” ucap Krisna lalu tertawa.
“Menurutku, semua orang harus saling mengenal dulu baru timbul ketertarikan.”
“Kau jangan melucu seperti itu.
“Itu terjadi padaku.” Sahut David.
“Maksudmu?” gumam Krisna.
“Ya, aku tertarik pada seorang gadis yang baru saja kutemui dua hari lalu. Aku tidak tahu tapi tiba-tiba saja rasanya aku terikat padanya.” Jawab David.
“Sebentar, maksudmu kau menyukai gadis yang baru saja kau kenal? Dua hari lalu?” ucap Krisna tak percaya.
David mengangguk tegas. “Itu tidak mungkin. Bagaimana bisa?” tanya Krisna.
“Aku sendiri tidak tahu, Kris. Yang kutahu setelah aku bertemu dengannya, aku ingin dia selalu ada di dekatku.” Jawab David.
“Kau, tidak sedang kena guna-guna kan Dav?” ucap Krisna.
“Tidak, tidak. Aku yakin tidak.” Jawab David.
“Ini bukan guna-guna Kris. Aku juga tidak tahu apa.”
“Lalu? Apa dia akan datang kemari?” tanya Krisna.
“Harusnya, pukul sembilan tadi dia datang kemari. Tapi, aku tidak melihatnya sampai sekarang.” Ucap David.
“Seperti apa dia?” tanya Krisna lalu tertawa.
“Kenapa kau tertawa?” tanya David.
“Ayolah Dav, kita ini sudah lama bersahabat. Kita hanya berpisah saat kuliah. Mana mungkin aku tidak mengenalmu?” ucap Krisna.
“Aku jadi penasaran seperti apa gadis yang bisa membuatmu merasa seperti terikat itu?”
“Aku juga bingung. Dia tidak terlalu cantik menurutku. Dia biasa saja. Sama sekali bukan seperti bidadari atau putri-putri dongeng.” Jawab David.
“Tapi, aku yakin ada sesuatu yang spesial darinya.”
‘Kalau tidak, tidak mungkin aku seperti ini.”
“Aku selalu ingat kata-kata Dita, dia selalu bilang semua gadis selalu cantik di mata orang yang tepat.” ucap Krisna.
“Kalau menurutmu dia tidak cantik, berarti dia bukan orang yang tepat untukmu.”
“Arghh bukan seperti itu maksudku. Mungkin aku saja yang belum menyadari itu. Aku baru bertemu sekali dengannya. Dua hari lalu,itu pertemuan pertama kami.” Jawab David.
“Dimana kalian bertemu? Itu cinta pandang pertama?” tanya Krisna.
“Kami bertemu di tempat makan.” Jawab David.
“Wah.. itu aneh.” Kata Krisna lalu tertawa.
‘Sudahlah. Aku yakin ada yang tidak beres. Aku harus pergi sebentar.” Kata David.
David bergegas melangkah ke lobi. Sesampainya disana, ia langsung menemui resepsionis.
“Apa ada seorang gadis datang pukul sembilan pagi?” tanya David.
“Tadi, ada seorang gadis datang kira-kira pukul setengah sembilan, Pak. Dia menanyakan tentang lowongan pekerjaan dan wawancara.” Ucap resepsionis.
“Benarkah? Lalu dimana dia sekarang?” tanya David.
“Dia sudah pergi. Tadi saya menanyakan tentang lowongan pekerjaan dan wawancara ke bagian kepegawaian. Tapi tidak ada satupun lowongan yang dibuka, jadi saya memberitahunya kalau tidak ada lowongan.” Jawab sang resepsionis.
David menggeram emosi. Sejak tadi, ia tahu ada yang tak beres hari ini. “Aku bisa gila.” Ucap David.
“Apa gadis itu tidak terlalu tinggi? Kulitnya coklat? Rambutnya hitam lurus?” tanya David.
“Benar, Pak.” Jawab sang resepsionis.
“Apa warna bajunya?” tanya David.
“Atasan putih dan rok hitam, Pak.” Kata resepsionis.
David tak berpikir panjang. Ia langsung kembali ke ruangannya dan mengambil kunci mobil. Krisna yang masih duduk di ruangan itu, memandang David dengan kebingungan. Belum pernah ia melihat sahabatnya sangat gelisah hanya karena seorang gadis.
“Hei! Kau mau kemana?” seru Krisna.
“Batalkan semua rapat hari ini, aku ada urusan yang lebih penting.” Jawab David lalu melangkah pergi.
***
David langsung mengemudikan mobilnya dengan cepat. Tentu saja tanpa tujuan. Ia tahu mencari sosok Freya di tengah hiruk pikuk kota rasanya mustahil. Apalagi satu-satunya petunjuk yang dia punya adalah warna baju yang Freya kenakan hari ini.
“Aku benar-benar tidak tahu kenapa aku melakukan ini sekarang.” Ucap David.
“Aku tidak tahu kenapa aku harus melakukan ini demi seorang gadis.”
“Jadi kalau benar dia istimewa untukku, intuisi, hati apapun itu, tunjukkan dia dimana.”
“Aku tidak mungkin menyusuri seluruh kota sampai gang-gang kecil.”
“Jadi, kalau memang dia istimewa sebelum pukul sebelas pertemukan aku dengan dia.”
David semakin gelisah bahkan mulai khawatir. Jam tangannya menunjukkan pukul setengah sebelas dan David belum juga menemukan sosok Freya. Dalam hati rasanya ia tidak rela jika ia tak bertemu lagi dengan gadis itu. Dalam hati, David berharap Freya adalah orang istimewa baginya.
David menghela napasnya. Ia akhirnya berhenti di sebuah minimarket untuk membeli minum. Waktu terus berjalan, dan David akhirnya pasrah. Ia akan merelakan seandainya apa yang terjadi antara dirinya dan Freya hanya emosi sesaat.
Setelah mengambil sebotol minuman, David melangkah ke kasir. Tiba-tiba pandangannya jatuh pada seorang gadis yang baru saja masuk ke minimarket itu. “Freya!” sentaknya dalam hati.
David bergegas menghadang langkah Freya dengan berdiri tepat di depannya. Untuk sesaat, mereka saling berpandangan. “Kau, kenapa tidak datang?” tanya David.
“Kau membohongiku. Untuk apa aku percaya padamu?” tanya Freya dengan tatapan dingin.
“Aku benar-benar sial karena bertemu denganmu lagi.”
Ada sedikit rasa sakit saat David mendengar ucapan Freya. “Aku sama sekali tidak membohongimu.” Ucap David.
“Aku butuh kau jadi asistenku.”
“Apa?” gumam Freya.
“Apa aku kurang jelas?” tanya David.
“Resepsionis itu bilang, tidak ada lowongan pekerjaan di perusahaan itu.” Kata Freya.
“Benar, tidak ada lowongan pekerjaan untuk posisi-posisi umum. Pekerjaan itu hanya untukmu.” Jata David.
“Kau ini sebenarnya siapa? Apa kita pernah mengenal satu sama lain sebelumnya?” ucap Freya.
“Kau bahkan tidak mengenalku.”
“Aku tahu, aku memang belum mengenalmu. Aku tahu, kita baru bertemu sekali ,dua hari lalu.” Ucap David.
“Tapi aku tidak tahu kenapa aku bisa begini. Aku tidak tahu kenapa aku merasa terikat denganmu. Aku tidak tahu kenapa aku merasa aku membutuhkanmu.”
“Memang benar, terlalu cepat untuk mengatakan ini. Otakku juga kebingungan.”
“Tidak perlu pikirkan ucapanku. Anggap saja kau bekerja. Kau akan digaji dan mendapatkan uang.”
“Baiklah.” Gumam Freya singkat.
“Setelah ini, apa kau mau kembali ke perusahaan bersamaku?” tanya David.
***
David kembali mengemudikan mobilnya. Kini hatinya bisa lebih tenang. Tak ada gelisah dan khawatir lagi. David melirik jam tangannya. Masih sepuluh menit lagi menuju pukul sebelas dan David sudah menemukan Freya. Itu berarti, gadis disebelahnya itu memang istimewa bagi David. Tapi, apa keistimewaannya?
“Kau tinggal dimana?” tanya David.
“Aku belum mencari tempat tinggal baru.” Jawab Freya.
“Lalu semalam, kau tidur dimana?” tanya David.
“Di rumah temanku.” Jawab Freya.
Sampai di perusahaan, David langsung membawa Freya masuk ke ruangannya. Freya memadang ruangan itu. Ruangan yang cukup luas dan sangat rapi.
“Kau akan bekerja disini.” Ucap David.
“Disini? Satu ruangan denganmu?” tanya Freya.
“Ya, kau tidak suka?” tanya David.
“Apa aku bisa punya meja di luar saja?” tanya Freya.
“Kau disini saja.” ucap David.
“Aku minta maaf. Tapi tolong jangan tanya kenapa aku memintamu disini.”
“Aku tidak menemukan jawabannya di otakku, tapi hatiku..” gumam David.
“Ini mungkin terdengar menjijikan, tapi kumohon tetaplah disini.”
Freya mengangkat satu alisnya. Ia benar-benar tak paham dengan perilaku lelaki itu. “Baiklah, tapi jangan macam-macam padaku.” Ucap Freya.
David mengangguk. “Tentu saja. Aku tidak akan macam-macam denganmu.” Ucap David.
***
Hari pertama bekerja, sangat jauh seperti bayangan Freya. Hari itu, tidak banyak yang ia kerjakan. Ia bisa dibilang sama sekali tidak sibuk.
“Boleh aku tahu, apa saja tugasku?” tanya Freya.
“Menemaniku pergi kunjungan, menemani rapat, menemani ...” gumam David.
“Apa tugasku hanya menemanimu?” tanya Freya.
‘Sepertinya begitu.” Jawab David.
“Tapi aku janji, itu tidak akan membosankan.”
“Oh ya, kau bilang kau belum cari tempat tinggal bukan?”
“Mau ku bantu carikan?”
“Terimakasih, tapi tidak perlu. Sahabatku akan mencarikan tempat tinggal untukku.” Jawab Freya.
“Baiklah.” Jawab David lalu kembali ke mejanya.
Seharian itu, David sangat sering memperhatikan Freya. “Ternyata gadis itu manis juga” batin David. David merasa salah jika ia menganggap Freya tidak cantik. Semakin diperhatikan, ia justru semakin tertarik pada Freya. Ia ingin mengenal gadis itu lebih dalam lagi, sampai ia tahu kenapa Freya terasa begitu istimewa bagi David.
Entah jam berapa David terbangun. Ia langsung mencari sosok Freya di ruangan itu. Beruntung gadis itu masih menemani David. David tersenyum, lalu perlahan turun dari ranjangnya. Ia melangkah mendekati Freya sambil membawa selimutnya. David berlutut di depan Freya yang tertidur sambil duduk. “Aku tidak sabar ingin tahu kenapa aku jadi seperti ini.” Ucap David. “Tapi apapun alasannya, aku yakin kau gadis yang baik untukku.” Untuk beberapa lama David mema
David terbangun dari tidurnya. Ia melihat jam di ponselnya. “Ck, baru pukul empat.” Gumam David. “Sampai kapan aku harus disini?”David memandang ke seluruh sudut ruangan. Ia sedikit kecewa karena tak menemukan sosok Freya disana. “Hmm.. dia pasti sudah pulang.” Gumam David. Seketika David merasa bosan. Tak ada yang bisa ia lakukan disana selain bermain ponsel. David melihat nomor Freya. Ia ingin sekali menghubungi gadis itu, tapi ia ragu. &
Freya kembali dengan membawa beberapa bungkus roti. Ia lalu duduk di samping ranjang David. Freya melihat David yang sedang tidur. Ia tak bisa berbohong, pria itu terlihat tampan bagi Freya. Tapi, ia tak mau berharap banyak dari pria itu. Apalagi terlalu banyak perbedaan antara mereka. “Pasti akan sulit sekali kalau sampai aku menyukainya.” Batin Freya sambil tersenyum tipis. “Mungkin seperti pungguk merindukan bulan.” “Kenapa kau senyum-senyum?&
“Dit, besok bantu aku mencari tempat baru ya.” Ucap Freya. “Iya Frey, kau tenang saja tidak perlu buru-buru. Kalau besok belum dapat, kau bisa tinggal denganku dulu.” Jawab Dita. “Aku tidak mau terlalu lama merepotkanmu.” Jawab Freya.“Ck, kau ini.” Gumam Dita. “Kita kan sudah lama bersahabat,
Krisna cepat-cepat menghampiri Dita dan Freya yang sudah menunggunya. “Aku tidak bisa mengantar kalian pulang kali ini. Aku ada urusan mendadak.” Ucap Krisna. “Baiklah kalau begitu.” Ucap Freya. Dita masih terdiam sambil memasang wajah cemberutnya. “Kau bilang mau membelikanku es krim.” Gerutunya. “Besok pasti akan kubelikan. Tapi kali ini aku minta maaf sekali, aku tidak bisa mengantarmu pulang.” Ucap Krisna.
Dita melangkah bersama kekasihnya untuk kembali ke ruang kerja mereka masing-masing. “Rasanya sedikit aneh.” Ucap Dita.‘Sejak kapan ada lowongan untuk menjadi asisten David?” “Setahuku tidak ada lowongan kerja di posisi itu selama ini.” “Memang benar.” Kata Krisna.“Lagipula, untuk apa David butuh asisten? Sepertinya dia lebih nyaman bekerja sendirian.” Jawab Dita. “Apa ada sesuatu antara mereka?” “Tapi kelihatannya Frey