Home / All / Perfect You / Pergi ke perusahaan

Share

Pergi ke perusahaan

Author: Hyune
last update publish date: 2020-10-11 21:49:07

“Terimakasih.” Ucap Freya.

David kembali tersenyum. Ia tak tahu kenapa gadis itu terasa menarik bagi Freya. Dan memang benar, dialah yang membuat David bertahan di tempat makan menjijikan seperti tadi. Entah apakah tempat itu pantas untuk disebut tempat makan. David yakin ada yang berbeda dengan gadis itu. Kalau tidak, tidak mungkin David mau membawa gadis itu pergi.

“Frey, bagaimana jika kau berangkat bersamaku besok?” tanya David.

“Hmm sebelumnya, aku tidak bermaksud apa-apa.”

“Kupikir, itu akan menghemat uangmu bukan?”

Freya kembali terdiam. Ia kembali bertanya-tanya dalam hatinya, kenapa pria di depannya itu begitu baik padanya.

“Terimakasih, tapi maaf. Kupikir aku akan berangkat sendiri saja.” Jawab Freya ragu-ragu.

“Hmm,, baiklah. Tidak masalah.” Jawab David.

Selama makan, David terus memperhatikan Freya. Ia merasa pernah bertemu dengan gadis itu, tapi ia lupa dimana.

“Oh ya, boleh aku tahu pukul berapa wawancaranya?” tanya Freya di sela-sela makan.

“Wawancara?” ucap David dengan sedikit terkejut.

“Ah wawancara ya. Kau bisa datang secepatnya.”

“Kami akan menunggumu.”

“Apa perusahaan kalian benar-benar kurang peminat? Maksudku, biasanya selalu ada jadwal wawancara untuk pelamar kerja.” Jawab Freya.

Sesaat, David terdiam. Ternyata gadis di depannya itu cukup teliti. “Baiklah, aku akan menelepon seseorang untuk menentukan jadwalnya.” Ucap David.

“Aku permisi sebentar.”

David melangkah menjauh. Ia berpura-pura menelepon seseorang. Kenyataannya, semua ini hanya rencana David. Entah kenapa ia ingin sekali menolong Freya. Lagi-lagi tentang intuisi. Walaupun ia belum mengenal Freya sepenuhnya, tapi hatinya sangat yakin pada gadis itu.

Tak lama, David kembali menemui Freya. “Begini, beritahu aku kapan kau sampai setelah itu aku baru bisa memberi jadwal wawancaranya.” Ucap David.

“Mungkin lusa.” Jawab Freya.

“Baiklah, datanglah pukul sembilan pagi.” Jawab David.

Freya mengangguk. Kali ini ia senang bercampur bingung. Harusnya ia senang karena mendapat pekerjaan baru, tapi ia juga bingung dengan situasi yang ia jalani sekarang.

“Boleh aku mengantarmu pulang?” tanya David dengan sopan.

Sekali lagi, Freya menatap David. Ia meneliti kedua mata pria itu, dan lagi-lagi Freya tidak menemukan sesuatu yang aneh.

Akhirnya Freya mengangguk, menyetujui permintaan David.

***

Pukul dua belas malam, Freya baru masuk ke kamar kosnya. Ia meletakkan tasnya dan langsung membersihkan tubuhnya. Setelah selesai, ia langsung merebahkan diri di ranjangnya. Masih teringat jelas wajah David di kepala Freya.

“Mimpi apa aku semalam.” Gumam Freya.

Freya terdiam. Hari ini, Freya merasa seperti bermimpi. Seorang pria besar memperlakukan Freya dengan buruk, dan tiba-tiba datang pangeran tampan menyelematkan dirinya.

“Awww.” Ucap Freya setelah mencubit pipinya.

“Arrgghhh!” seru Freya sambil mengacak rambutnya.

“Semua ini hanya kebetulan, Frey. Tidak ada yang spesial.”

“Jangan sekali-kali berharap lagi pada seorang pria.”

“Apalagi pada pria itu. Kau bahkan tidak mengenalnya. Lupakan dia.”

“Bekerjalah dengan baik. Hasilkan banyak uang, hiduplah bahagia.”

Freya menghela napas kasar. Bayangan David sedikit mengganggu malamnya.

“Dia, sama seperti Arga.” Ucap Freya.

“Dia tampan, dia kaya, dia baik di awal.”

“Aku harus berhati-hati dengannya. Jangan sampai kejadian itu terulang lagi.”

Freya mencoba untuk tidur. Tapi, otaknya tak bisa diajak kerja sama. Berbagai pertanyaan tentang asal-usul David terus berputar di otaknya. Lagi-lagi Freya mengacak rambutnya sendiri. “Astaga, lupakan dia Frey. Ada apa denganmu?” keluh Freya.

“Jangan karena dia menolongmu hari ini, lalu kau bisa percaya begitu saja dengannya.”

“Mungkin saja dia hanya memanfaatkanmu.”

***

David terdiam di kamar hotelnya. Ia kembali memikirkan kejadian hari ini. Ia tak pernah berpikir untuk mengunjungi tempat makan sempit di gang agak kecil seperti tadi. Biasanya ia selalu pergi ke restoran untuk makan. Tapi hari ini, entah apa yang memimpin David. Ia justru makan di tempat seperti itu.

Ia juga tak habis pikir kenapa ia bisa bertahan di tempat seperti itu hanya demi seorang gadis. Lalu ia juga menyelamatkan gadis itu dari pria kurang ajar yang mengganggunya.

David mengernyit. Ia merasa semua ini sudah diatur. Tapi, siapa yang mengatur pertemuan aneh seperti itu?

David mengehela napasnya. Lalu wajah Freya kembali membayanginya. David bahkan sadar, Freya tidak terlalu cantik seperti gadis lainnya. Dia biasa saja, tapi lagi-lagi David tak tahu apa yang membuatnya tertarik apda Freya.

“Posisi apa yang harus kuberikan padanya?” gumam David.

David kembali menghela napas. Kini ia harus bertanggungjawab dengan ucapannya. Tak ada lowongan pekerjaan apapun di perusahaannya. Semua posisi sudah terisi, tapi dengan mudahnya David mengatakan ada lowongan pekerjaan untuk Freya. Ia tak habis pikir kenapa mulutnya mudah sekali mengatakan itu.

***

Freya bangun pagi-pagi. Ia langsung mengemasi barang-barangnya dan berangkat kembali ke kota. Tak lupa ia menghubungi sahabatnya. Ia meminta Dita menjemputnya di stasiun kereta malam nanti. Freya tak menyangka ia akan kembali ke kota.

Perjalanan panjang berhasil di tempuhnya. Freya sampai di stasiun.

“Frey!” seru Dita.

Freya melambaikan tangannya ketika Dita berlari. Sahabatnya itu langsung memeluknya dengan erat seperti sudah lama berpisah. “Aku merindukanmu.” Rengek Dita.

“Aku juga.” Jawab Freya.

“Bagaimana kabarmu? Apa kau baik-baik saja?” tanya Dita.

“Ya, aku baik-baik saja. Seperti yang kau lihat, aku sangat sehat. Aku bahkan tidak kurus sedikitpun.” Jawab Freya . Ia sengaja tidak memberitahu Dita apa yang sudah terjadi sebelumnya, termasuk kejadian di tempat makan dan pertemuannya dengan David.

“Kalau begitu ayo ke tempatku. Kau belum mencari tempat baru bukan?” tanya Dita.

“Jadi, malam ini kau tidur di tempatku ya?”

Freya mengangguk. Mereka pun bergegas ke tempat Dita. Mereka masih sama akrabnya seperti dulu, bahkan seperti saudara. “Kau masih dengan Krisna?” tanya Freya.

“Benar. Aku bahkan bekerja di tempat yang sama dengan Krisna.” Jawab Dita.

“Oh ya? Itu bagus.” Jawab Freya.

“Aku juga akan wawancara besok. Doakan aku agar berhasil kali ini.”

‘Tentu saja. Aku yakin kau bisa.” Jawab Dita.

“Oh ya, apa kau bisa bantu aku mencari tempat baru?” tanya Freya.

“Seperti biasa. Jangan yang terlalu mahal.”

“Baiklah. Aku dan Krisna akan membantumu besok. Sekarang, istirahatlah di tempatku.” Jawab Dita.

“Baiklah, terimakasih.” Jawba Freya.

***

Pagi harinya, Dita sudah berangkat lebih dulu ke tampat kerjanya. Tinggal Freya yang harus bersiap untuk pergi wawancara. Pukul delapan pagi, Freya berangkat. Ia baru tahu kalau perusahaan itu tidak jauh dari tempat Dita. Setelah tiga puluh menit, akhirnya Freya sampai.

Freya langsung masuk ke perusahaan itu dan menemui resepsionis.

“Maaf, tapi tidak ada lowongan pekerjaan disini.” Ucap resepsionis.

“Apa benar? Tapi kemarin, ada seorang pria yang menawariku pekerjaan disini.” Jawab Freya.

“Setahu saya, tidak ada lowongan pekerjaan nona. Semua posisi sudah terisi penuh.” Jawab sang resepsionis.

“Apa anda bisa pastikan sekali lagi? Aku mendapat jadwal wawancara pukul sembilan pagi.” Ucap Freya.

“Baiklah tunggu sebentar.” Jawab sang resepsionis.

Freya menunggu sang resepsionis menelepon seseorang. Perasaannya sudah tidak enak. “Saya pastikan tidak ada lowongan pekerjaan apapun disini nona. Maaf.” Ucap sang resepsionis.

Freya menunduk lesu. Ia sangat kecewa karena merasa dibohongi. Padahal ia sudah membuang uang dan waktunya untuk bisa sampai ke perusahaan itu. “Baiklah, terimakash. Maaf mengganggumu.” Ucap Freya.

Freya melangkah lesu keluar dari perusahaan itu. Ia menyimpan kembali CV dan portofolio lain yang sudah ia siapkan. Freya berjalan tanpa arah, menyusuri jalanan yang semakin lama semakin terasa panas. “Lagi-lagi aku terlalu percaya dengan seseorang.” Gumam Freya.

“Kenapa aku bisa mempercayai pria yang baru saja kutemui dua hari yang lalu?”

“Aku merasa benar-benar bodoh sekarang. Tidak seharusnya aku kemari.”

“Sekarang aku tidak tahu harus berbuat apa. Benar-benar menyedihkan.”

“Lagipula, sekarang siapa yang mau memberi pekerjaan dengan cuma-cuma?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Perfect You   Sembuh

    Entah jam berapa David terbangun. Ia langsung mencari sosok Freya di ruangan itu. Beruntung gadis itu masih menemani David. David tersenyum, lalu perlahan turun dari ranjangnya. Ia melangkah mendekati Freya sambil membawa selimutnya. David berlutut di depan Freya yang tertidur sambil duduk. “Aku tidak sabar ingin tahu kenapa aku jadi seperti ini.” Ucap David. “Tapi apapun alasannya, aku yakin kau gadis yang baik untukku.” Untuk beberapa lama David mema

  • Perfect You   Menemani David II

    David terbangun dari tidurnya. Ia melihat jam di ponselnya. “Ck, baru pukul empat.” Gumam David. “Sampai kapan aku harus disini?”David memandang ke seluruh sudut ruangan. Ia sedikit kecewa karena tak menemukan sosok Freya disana. “Hmm.. dia pasti sudah pulang.” Gumam David. Seketika David merasa bosan. Tak ada yang bisa ia lakukan disana selain bermain ponsel. David melihat nomor Freya. Ia ingin sekali menghubungi gadis itu, tapi ia ragu. &

  • Perfect You   Menemani David

    Freya kembali dengan membawa beberapa bungkus roti. Ia lalu duduk di samping ranjang David. Freya melihat David yang sedang tidur. Ia tak bisa berbohong, pria itu terlihat tampan bagi Freya. Tapi, ia tak mau berharap banyak dari pria itu. Apalagi terlalu banyak perbedaan antara mereka. “Pasti akan sulit sekali kalau sampai aku menyukainya.” Batin Freya sambil tersenyum tipis. “Mungkin seperti pungguk merindukan bulan.” “Kenapa kau senyum-senyum?&

  • Perfect You   Sakit

    “Dit, besok bantu aku mencari tempat baru ya.” Ucap Freya. “Iya Frey, kau tenang saja tidak perlu buru-buru. Kalau besok belum dapat, kau bisa tinggal denganku dulu.” Jawab Dita. “Aku tidak mau terlalu lama merepotkanmu.” Jawab Freya.“Ck, kau ini.” Gumam Dita. “Kita kan sudah lama bersahabat,

  • Perfect You   Apartemen Baru

    Krisna cepat-cepat menghampiri Dita dan Freya yang sudah menunggunya. “Aku tidak bisa mengantar kalian pulang kali ini. Aku ada urusan mendadak.” Ucap Krisna. “Baiklah kalau begitu.” Ucap Freya. Dita masih terdiam sambil memasang wajah cemberutnya. “Kau bilang mau membelikanku es krim.” Gerutunya. “Besok pasti akan kubelikan. Tapi kali ini aku minta maaf sekali, aku tidak bisa mengantarmu pulang.” Ucap Krisna.

  • Perfect You   Rencana Pindah

    Dita melangkah bersama kekasihnya untuk kembali ke ruang kerja mereka masing-masing. “Rasanya sedikit aneh.” Ucap Dita.‘Sejak kapan ada lowongan untuk menjadi asisten David?” “Setahuku tidak ada lowongan kerja di posisi itu selama ini.” “Memang benar.” Kata Krisna.“Lagipula, untuk apa David butuh asisten? Sepertinya dia lebih nyaman bekerja sendirian.” Jawab Dita. “Apa ada sesuatu antara mereka?” “Tapi kelihatannya Frey

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status