Mag-log in
"Miss Alena!"
Dipercepat langkah kedua kakinya yang mengenakan high heels dengan tinggi mencapai lima sentimeter. Sudah cukup terbiasa digunakan jadi ia berjalan pun santai, tanpa beban. Walaupun tahu jika masalah baru tengah menantinya.
Arah tujuan Alena adalah meja kerja milik Jasmine Vlaour Reyes, sekretaris utama sang atasan. Lambaikan tangan dilakukan wanita itu ditambah akan ekspresi cemas di wajah sudah menjadi tanda jika kehadiran dirinya memang sudah ditunggu-tunggu sejak tadi.
"Akhirnya kau sampai juga. Untung saja aku tidak jadi menyuruh bodyguard khusus menjemputmu karena aku berpikir kau tidak akan datang kemari. Untung saja kau masih bisa menunjukkan sikap patuhmu."
Respons pertama Alena hanyalah tawa yang cukup kencang, meskipun ucapan Jasmine Vlaour sama sekali tidak patut ia anggap sebagai lelucon karena wanita itu mengatakan dengan raut yang serius.
"Siapa memerintah? Pasti 'Bos Cerewet Cantik' kita itu bukan? Aku sudah menduganya, Miss Jasmine. Kau jangan menyembunyikan," ujar Alena dengan santai, setelah sampai di depan meja Jasmine.
Tak lama menanti tanggapan dari wanita itu, diberi anggukan pelan. Lalu, Alena menambah lagi tarikan pada masing-masing sudut bibir untuk membentuk senyuman yang semakin melebar. Tawa keluar.
"Kau benar, Miss Alena. Tapi, tidak jadi karena kau sudah datang kemari, walau kau terlambat. Miss Amanda pasti akan tetap mengomelimu."
Alena mengangguk. Menandakan kesetujuan atas perkataan Jasmine. "Tentu saja aku kena marah."
"Astaga, aku heran pada Miss Amanda. Tidak bisa aku dipercaya? Aku tidak akan mungkin sampai membatalkan kontrak yang sudah ditawar dengan cara kabur. Ada-ada saja atasan kita itu sampai meminta bodyguard khusus menjemputku," lanjut Alena mengeluarkan pendapat tengah dipikirkan.
"Aku tahu jika aku sangat dibutuhkan. Tidak mu--"
"Miss Alena, kau lebih baik cepat masuk ke dalam saja. Teruskan keluh kesahmu nanti setelah urusan dengan Miss Amanda selesai. Aku akan menemani sampai jam berapa pun yang kau mau. Oke?"
Tak ada pilihan lain selain menuruti perkataan dari Jasmine, enggan menimbulkan masalah yang bisa membuat wanita itu menampakkan sisi galak cukup menyeramkan. Jasmine juga bisa saja berdiam diri beberapa hari terhadapnya. Sesuatu yang ia tidak inginkan. Lebih baik memang menuruti saja.
"Baiklah, aku akan menemui Miss Amanda," ujar Alena masih dalam nada santai sembari melangkah menjauhi dari meja kerja rapi dan tertata Jasmine.
Tujuannya tentu ruangan yang berjarak sekitar lima meter di depan. Kedua kaki digerakkan dengan laju sama seperti tadi. Hanya akan diperlukan kurang dari satu menit untuk sampai. Dan, beberapa detik setelahnya, ia sudah bisa berada di dalam ruangan.
"Kauuu!"
Alena masih memasang ekspresi biasa saja, saat mendapatkan seruan lantang yang kesal dari atasannya, Miss Amanda Georvant. Ia lantas berhenti melangkah, sudah berada di depan meja kerja CEO sekaligus founder dari perusahaan tempatnya bekerja kini itu.
"Aku terlambat? Baiklah, aku minta maaf. Aku kurang disiplin," balasnya dengan nada santai. Tanpa ada rasa bersalah sama sekali.
"Ya, hanya sedikit kurang disiplin," ralatnya kemudian. Senyuman tipis diukir, kali ini.
"Kau tidak hanya kurang disiplin. Ada lagi. Dan sebagian besar sikapmu membuatku ingin marah. Tapi, kau salah satu talent di sini yang bisa memberikanku keuntungan hingga jutaan dollar. Jadi, aku tidak akan bisa memecatmu. Kau terlalu berharga."
"Aku bisa menolerir sikapmu. Kau bukanlah orang arogan, walaupun suka membantah nasihat yang selalu aku beri kepadamu. Aku tetap tidak akan protes. Karena, kau sudah memberikan keuntungan cukup besar."
Alena menyunggingkan senyum yang lebih besar seraya meloloskan suara tawa juga. Ia lantas mengangguk. Dua kali saja. Ditatap masih dengan lekat sang atasan. "Trims, ya. Kau memang bos terbaik, Miss Amanda."
Tak ada ketersinggungan yang dirasakan karena sahutan dari Amanda Geovant untuknya. Sudah diketahui benar sikap sang atasan sebab mereka sudah mengenal sejak lama. Lebih dari sepuluh tahun berteman. Walau tidak dekat layaknya sahabat baik, tetapi mereka cukup bisa saling memahami.
Alena merasakan perubahan pada sifat sang atasan sejak beberapa menit lalu berubah drastis. Lebih banyak diam, setelah David Morgan pergi dari ruangan. Hanya dua sampai tiga patah kata saja yang keluar dari mulut sang atasan.Tadi, pria itu sempat tersenyum dan menatapnya dengan hangat. Bahkan, memberikan perlakuan yang manis. Namun hanya bertahan sampai rekan bisnis pria itu tidak bersama mereka lagi.Alena pun enggan semakin lama menghadapi sikap aneh ditunjukkan oleh Davae. Sepertinya ia harus memulai terlebih dahulu. Menciptakan sebuah topik pembicaraan. Entah apa yang harus dibahas, tidak terlalu dipikirkan dengan matang.“Mr. Hernandez…,”“Ada apa?” Davae menanggapi cepat. Namun tak memandang Alena. Asyik membaca dokumen. Namun, percayalah ia benar-benar sedang tidak dalam konsentrasi yang penuh.“Rapat akan mulai lima belas menit lagi. Aku sarankan kau segera pergi ke ruangan rapa
.............................."Kau pasti gagal memperoleh proyek besar jika kegiatanmu hanya memandangiku."Davae memperlebar senyuman, ketika Alena menatap balik dirinya. "Tidak akan gagal.""Aku mempunyai dirimu. Kau pasti memberi hasil terbaik dalam membantuku. Aku telah membayarmu mahal. Ingatlah Miss Alena. Kau harus menolongku," imbuhnya santai.Hari ini akan menjadi momen pertamanya dan Alena berbagi ruangan kerja. Benar, ia sudah mengangkat resmi wanita itu menjadi sekretaris pribadinya. Mereka berdua akan menghabiskan waktu bersama kurang lebih delapan jam setiap hari selama satu minggu.Ditambah pula dengan menetap dalam satu apartemen, maka ia dan Alena berinteraksi setiap saat. Sangat rasional jika rasa tertarik dan hasratnya melihat wanita itu semakin menjadi-jadi. Tidak mampu dikendalikan.Alena terus saja menggoda. Wanita itu selalu memiliki pesona tersendiri untukny
Berangkat dari apartemen mewah sang atasan saat waktu menunjukkan pukul sembilan pagi bersama dengan mengendarai mobil sport mahal dari Davae Hernandez menuju ke kantor pria itu. Mereka berdua hanya membutuhkan 30 menit untuk menempuh jarak. Tidak ada hambatan berarti terjadi, misalkan saja kemacetan yang panjang. New York cukup bisa diajaknya bersahabat pagi ini. Alena tentu berharap hingga nanti malam, kendaraan tidak padat di jalan."Bagaimana menurutmu, Miss Alena?"Alena segera mengalihkan pandangan dari julangan gedung besar dan berarsitektur modern, berlantai hampir dua puluhan yang baru saja dimasuki oleh kendaraan mewah kemudikan sang atasan. Ia pun menebak bahwa mereka akan menuju ke basement guna memarkirkan mobil sport Davae.Sebagai tanggapan atas pertanyaan diajukan oleh pria itu yang sudah mampu dimengerti maksudnya, kepala dianggukan dengan mantap. "Penilaianku?""Aku semak
Biasanya, Davae akan sedikit malas menyambut hari baru karena mengingat sejumlah laporan yang di kantor harus dituntaskan sampai malam. Namun, pagi ini sangat berbeda. Ia tidak terbebani dengan pikiran tentang pekerjaan. Hanya diisi oleh sosok Alena. Mulai dari senyuman manis hingga tubuh wanita itu yang seksi. Membuatnya ingin terus saja berimajinasi. Tetapi, berusaha untuk dikontrolnya.Dan, daripada harus berkhayal menerus dan juga menciptakan fantasi semakin liar, Davae memilih menikmati pemandangan manis yang nyata tengah tersaji di hadapannya berkaitan dengan Alena. Ya, wanita itu tengah memasak, memunggunginya.Barang satu menit pun, tak mampu ia mengalihkan fokus dari Alena. Walaupun, hanya bagian belakang tubuh wanita itu dapat diabadikan. Namun, sudah dapat membangkitkan gairahnya. Terutama, bokong dan pinggang ramping Alena yang ingin sekali ia peluk secara erat. Merebahkan kepala juga di salah satu bahu putih wanita itu. Pastinya
.........................."Makanlah cepat, walau rasanya tidak enak. Tapi, bisa mengganjal lapar. Sekarang kau yang memilih. Mau makan atau tidak," ujar Alena santai. Namun, tetap ada penekanan dalam kalimat-kalimatnya."Aku akan makan semua ini. Rasanya tidak buruk. Masih bisa diterima oleh lidahku. Hmm harus aku akui kau cukup pandai memasak. Ada bakat."Alena menyiapkan sarapan yang sederhana. Menu tidak cukup sulit untuk ia buat. Roti panggang serta omelet. Ditambah dengan segelas susu hangat. Dirasanya akan mampu mengisi perut dari Davae hingga jam makan siang nanti tiba saatnya.Tadi, sekitar 30 menit yang lalu, Alena pun sempat dilanda oleh perasaan kesal. Sebab, tugasnya bertambah yakni membuatkan makanan untuk Davae Hernandez. Kewajiban yang tidak pernah tertulis di dalam kontrak.Alena terus berperang dengan ego dan juga rasa iba. Pada akhirnya, ia tak ragu memilih kata hati. Alena berpik
"Bangun, Mr. Davae!" seru Alena dengan sengajanya dalam intonasi begitu kencang."Astaga, kau ternyata menyebalkan dan pemalas juga." Alena mengungkapkan sindiran. Ia kesal.Nyaris seperti berteriak. Insting meminta ia melakukan hal yang demikian agar Davae Hernandez segera bisa mengakhiri tidur lelap. Mengingat waktu bangun sudah ditentukan. Alena juga mengguncang-guncang tubuh klien tampannya itu dengan cukup keras.Tak akan ada pemberlakuan toleransi atas kemalasan yang ditunjukkan. Alena hanya berusaha menjalankan tugas sebagaimana mestinya. Jika tak sesuai, maka ia memiliki hak menegur. Tercantum jelas di kontrak."Ckck. Kau tidak mendengarkanku?" gumam Alena kesal karena tak mendapat respons.Davae masih tetap tertidur, bahkan sekalipun tidak bergerak. Sungguh, pria itu menciptakan kesan negatif pada dirinya dan ampuh mengurangi kekaguman ia miliki.Berkaitan dengan sifat. Jik