LOGINPernikahan itu milik mereka-mereka yang sedang dilanda bahagia. Pernikahan bahagia tidak berlaku untuk Irena. Kenapa? Ketika kembarannya—Irene—sakit, Irena harus terpaksa menggantikan posisi kembarannya dan berdiri sebagai seorang mempelai wanita untuk Mr. Kevin, sang kapten kapal pesiar. Gila? Ya. Tapi itu nasib Irena. Si kutu buku yang pendiam kini menjelma menjadi istri palsu dari Mr. Kevin. Sampai kapan? Entahlah.
View MoreHari yang bahagia...
Ketika matahari bersinar seperti emas menyinari dan menyeruak sela-sela jendela kaca, ada secercah harapan yang ia bawa kepada bumi yang manis. Memberi kabar hangat tentang sebuah pernikahan .
Hari ini hari pernikahan saudari kembarku, Irene Amber Keneddy. Aku ikut bahagia untuknya.
Aku merias diriku di kamar,aku ingin terlihat cantik walau sebenarnya aku jauh dari kata cantik. Beruntung Irene terlahir cantik, bola mata besar bermanik coklat ia miliki. Tubuh indah semampai juga ia dapatkan.
Hmm...terkadang aku iri dengan dia.Walau kami kembar dan 98% hampir sama tapi kami punya perbedaan yang menonjol. Irene gadis yang supel pandai bergaul sedang aku cenderung pemalu dan kutu buku. Tak heran jika Irene mendapat calon suami seorang kapten muda ~yang tentunya pasti tampan~ di sebuah kapal pesiar milik asing.
Belakangan ini aku kurang memperhatikan aktivitas saudari kembarku karena aku sendiri mendapat bea siswa kuliah ke luar negeri. Dan pulang-pulang kalau ada acara penting. Yahh....seperti ini.
Kaget juga tiba-tiba dengar kabar Irene akan menikah, makanya aku pulang kampung untuk ikut merayakan hari bahagia saudari kembarku itu.
"Irena...."panggil Mama memasuki kamarku dengan panik. Aku berdiri dari kursiku saat melihat Mama masuk ke kamarku dalam keadaan panik dan menangis."Ada apa Ma?"
"Irene tiba-tiba pingsan ,"kata Mama tak berhenti menangis.
Aku lalu menghambur keluar kamar menuju kamar Irene. Ku lihat Irene sudah siuman tapi hidungnya mimisan, dia nampak mendekap dadanya.
"Irene kau kenapa? Apa kau sakit?" tanyaku dengan cemas. Tangan Irene menggapai-gapai ke arahku, aku mendekat padanya. Ia meraih tanganku dengan erat.
"Irena aku mohon bantu aku, "pintanya mengiba.
"Aku harus bantu apa Irene?"
"Menikahlah dengan Kevin, wakili aku di sana. Aku tak ingin pernikahan ini gagal, aku tak ingin kehilangan Kevin. Aku mohon!"
"Tapi Irene mana bisa aku melakukan itu?"
"Wajahmu mirip denganku, Kevin pasti tak akan mengetahuinya kecuali kalau kau membuka mulutmu. Jika kau tak melakukan ini Mama dan Papa akan malu."
"Tapi aku tak punya persiapan Irene, kau tahu berdusta dalam sebuah pernikahan itu sebuah dosa. Bagaimana kalo aku bilang ke Kevin saja kalo kamu sakit dan ...."
"Tidak Irena, dia pasti akan sangat kecewa padaku dan aku takut kalo dia akan menjauhiku. Kevin berarti sekali buatku Irena," ucapnya di sela-sela rasa sakit.
"Aku tidak bisa Irene, maaf ...."
"Ayolah Irena, nanti bila aku sembuh aku janji akan cerita pada Kevin soal penyakitku dan aku akan mengambil lagi posisiku. Aku cuma tidak ingin kehilangan Kevin," ucap Irene seraya menahan sakit.
Aku masih diam, mencoba mempertimbangkan permintaan aneh Irene.
"Bantulah Irene sayang, Mama dan Papa tahu itu hal buruk tapi apa kau tak merasa kasihan? Lihat saudaramu seperti ini sebentar saja," kata Mama ikut memohon padaku.
"Pernikahan tinggal 2 jam lagi, tidak mungkin kan kita membatalkan pernikahannya. Papa juga akan malu jika pernikahan ini tiba-tiba dibatalkan. Di gedung resepsi itu pasti banyak relasi keluarga Kevin, apa kau ingin keluarga Kevin yang terpandang jadi malu gara-gara kita? Bagaimana kalau setelah itu Kevin memutuskan hubungannya dengan keluarga ini dan dendam pada kita?"ucap Papa macam-macam.
Aku makin bingung, ini terdengar aneh!
Aku tidak bisa menikah dengan orang yang tak kukenal. Jangankan kenal, melihat sosoknya saja belum.Irene terbatuk-batuk, dia mengeluarkan darah lagi dari mulutnya. Keluargaku semakin panik, Papa lantas mengangkat tubuh Irene untuk dibawa ke rumah sakit. Aku melihat Irene begitu tersiksa dengan penyakitnya, aku heran kenapa dia tak memberitahukan soal penyakitnya pada Kevin.
"Irena, jangan termenung saja. Cepat ganti gaunmu, pakailah gaun pengantin milik Irene. Kau harus menyelamatkan wajah keluarga ini," kata Bibi Helena sembari menarikku ke dalam kamar Irene.
"Tapi Bibi Helena, aku tak tahu apa-apa. Kumohon jangan paksa aku," kataku ikut cemas.
"Berpura-puralah sebagai Irene di depan Kevin, maka kau akan selamat. Selama kau manis Kevin tak akan curiga padamu," kata Bibi Helena seraya mengubah penampilanku.
Aku merengut bagaimana pun hal ini tidak bisa dibenarkan.
"Papa dan mamamu akan segera kembali setelah memastikan Irene dapat kamar ICU. Sementara itu diamlah di sini biar aku yang mengubahmu menjadi seperti Irene. Sebagai saudara kau harus membantu Irene meraih mimpinya untuk menikah dengan Kevin," jelas Bibi Helena tanpa menatapku sedikit pun.
Mau tak mau, suka atau tidak aku harus menghadapi kenyataan itu. Menikah dengan pria yang asing bagiku.
"Sempurna! Kau mirip Irene sekarang," kata Bibi Helena setelah usai mendandaniku.
Aku tersadar dari lamunanku dan menatap wajahku di kaca rias. Aku kaget bukan main.
Aku benar-benar mirip Irene, saudari kembarku yang super cantik. Aku tersenyum simpul, tak menyangka bakal secantik ini."Tapi 'kan kau bukan Irene,"celetuk hatiku mengandaskan senyumku. Aku kembali tak bahagia.
"Ayo sayang tersenyumlah! Jangan cemberut di depan Kevin," hibur Bibi Helena menggodaku.
"Kevin 'kan bukan siapa-siapaku," ucapku ketus membuat Bibi Helena mencubit lenganku. Aku mengaduh kesakitan.
"Justru kau harus menyelamatkan pernikahan saudaramu! Irene sudah bilang 'kan nanti dia akan datang untuk mengambil posisinya lagi jika sudah sembuh. Kau jangan khawatir! Sumpah sucinya juga pakai nama Irene jadi kau jangan cemas, doakan saja agar Irene cepat sembuh. Dan kau bisa bebas lagi," ucap Bibi Helena cerewet sekali.
Dia lalu mengambil gaun yang tergantung di lemari kaca milik Irene. "Segera ganti gaunmu dan pakai ini!"
Aku belum juga beranjak dari dudukku hingga akhirnya Bibi menarik tanganku dan mendorong tubuhku ke kamar ganti.
"Ayo! Pernikahannya tinggal 1 jam lagi," kata Bibi sudah tidak sabar.
Aku menuruti permintaan bibiku yang cerewet itu, aku segera ganti gaun dan memakai gaun pengantin milik Irene.
"Gila! Kenapa Irene pilih gaun seperti ini," gumamku lirih sedikit mengumpat.
Aku keluar dari kamar ganti dan menemui Bibi Helena.
"Apa tak ada gaun lain selain ini? Ini sangat terbuka untukku," umpatku pada Bibi.
"Memangnya kenapa? Gaun ini pas di badanmu cuma di bagian dada sedikit longgar.Kau ini anak gadis tak suka perawatan ya? Setidaknya besarkan sedikit payudaramu," komentar Bibi seraya memegang dadaku.
"Jangan pegang dadaku seperti itu atau aku akan memukulmu!" marahku membuat Bibi Helena tertawa lucu.
Dia membantuku merapikan gaun putih itu tanpa rasa marah sedikit pun.
"Sekarang kau sudah siap untuk pergi ke gedung resepsi," kata Bibi Helena pelan.
Menyusul Papa dan Mama di belakang Bibi Helena, mereka menatapku dengan terharu.
"Ayo sayang kita berangkat," kata Mama lalu memeluk tubuhku.
"Mam, aku sangat takut."
"Jangan takut Papa akan ada di sampingmu," kata Papa mendekatiku.
"Papa sangat berharap padamu Nak," imbuhnya seraya menatapku penuh harap.
Aku menatap Mama kemudian, beliau hanya menganggukkan kepalanya padaku.
Sial!
Aku benar-benar terjebak dengan pernikahan palsu ini.
Aku hanya berdoa semoga Tuhan mengampuni dosa yang kuperbuat.
*****
Hallo teman, jika menurutmu cerita ini bagus silakan review dan kasih komentar ya. Saran dan kritik terbuka lebar.
Sebelumnya terima kasih sudah mau mampir. Masukkan cerita ini ke librarymu ya.
❤❤
***Di dalam mobil milik Kevin, suasana begitu sepi. Aku dan Kevin sama-sama saling diam, kebekuan ini mungkin akan lama mencairnya.Aku tahu aku telah salah memilih jalan tapi aku harap Kevin tak melampiaskan kemarahannya kepada siapapun.Suara decit mobil menghentikan lamunan panjangku. Rupanya mobil itu sudah sampai di depan rumahku.Kulirik Kevin melepas sabuk pengaman nya guna turun dari mobil."Ehm, Kevin ..." ucapku lirih.Sosok di sampingku itu berhenti sejenak walau tak menatapku."Aku harap kau bisa menjaga rahasia ini walau sebenarnya kau sudah tahu semuanya. Aku mohon berpura-puralah seolah ini tak terjadi.""Sudah berapa kali kau mengulangnya?Aku tidak tuli," jawabnya ketus.Kevin mendorong pintu mobilnya dan melangkah keluar. Aku hanya mengikutinya tanpa banyak bicara.Dari dalam rumah Papa dan Mama menghambur ke
***Sedikit kaget ketika Kevin memelukku dari belakang. Tangannya mendekap perutku, wajahnya menempel di pundakku."Sebentar lagi kita akan sampai di Hawai. Ini adalah puncak bulan madu kita. Aku harap kita tak menyia-nyiakan kesempatan ini," bisik Kevin di telingaku.Aku yang berdiri di depan jendela kamar segera membalikkan badan guna menatapnya."Maksudnya?""Kau tahu 'kan aku seorang Kapten, jika aku mulai bertugas maka aku akan jarang pulang. Jadi aku ingin bilang padamu ..."Kevin sedikit kesulitan untuk mengatakannya, hatinya sedikit tahu apa jawaban yang akan dia dapat."Aku ingin memenuhi tugasku sebagai seorang suami kepadamu. Kita sudah seminggu lebih berbulan madu tapi kita tak pernah kontak fisik secara intim. Apakah ini terlalu memalukan untukmu sehingga kau selalu menolakku," kata Kevin menunduk.Tangannya meraih tanganku, berusaha kompromi deng
Kunikmati sarapanku tanpa banyak bicara, Kevin juga begitu. Dia memilih diam dan sibuk dengan sarapannya.Udara semilir menyelingi suasana pagi yang cerah ini."Tumben kau manis sekali hari ini, biasanya kalau makan kau suka manja denganku," singgung Kevin setelah usai makan.Dasar! Dia mengataiku lagi, padahal aku selama ini tak begitu pada Ian apalagi pada dirinya."Benarkah? Aku ingin mengubah kebiasaan burukku," jawabku dengan wajah malu."Padahal aku suka banget sama Irene yang manja sama aku. Yang suka minta dicium atau menciumku terlebih dahulu. Jika kau tak menggodaku rasanya ada yang kurang," kata Kevin sembari menatapku.Aku terperangah kaget, benarkah dibalik kelembutan Irene dia bisa melakukan itu semua?"Kau ingat kan waktu pertama kali bertemu denganku? Kau mnggodaku habis-habisan. Dan aku bisa melihat betapa seksinya dirimu di mataku," kata Kevin.
***______****Geladak kapal yang mewah, kolam renang yang luas serta kamar-kamar yang megah kini ada di depan mataku. Aku tak mengira bahwa garis hidup mengantarku ke sini. Ke sebuah kapal pesiar ternama dan terhebat di dunia.Kulangkahkan kaki mengikuti langkah Kevin menuju kamar no.1. Kata Kevin kamar itu memang kamar spesial untuk para milyader yang menyewa kamar itu dengan tarif sangat tinggi.Tangan Kevin masih bertaut denganku, dia tak melepas tanganku sedari tadi. Dan aku tak keberatan dengan gandengan tangan Kevin.Pria tampan berambut pirang itu sesekali menyapa kawan seperjuangannya di kapal dengan hangat. Dia terlihat sangat sopan dan berwibawa. Tak terlihat sifat mesumnya sama sekali."Hai Kapten ganteng, inikah istrimu?" tanya seseorang yang berseragam rapi.Kevin berhenti melangkah, dia menjabat tangan pria itu sambil menebar senyum termanisnya."Ya, menurutmu bagaimana? Cantik bukan?" kata Kevin bercanda.