Share

5. Kehilangan Jiwa (2)

Author: Dacytta Peach
last update publish date: 2020-11-13 19:35:39

Kunikmati sarapanku tanpa banyak bicara, Kevin juga begitu. Dia memilih diam dan sibuk dengan sarapannya.

Udara semilir menyelingi suasana pagi yang cerah ini.

"Tumben kau manis sekali hari ini, biasanya kalau makan kau suka manja denganku," singgung Kevin setelah usai makan.

Dasar! Dia mengataiku lagi, padahal aku selama ini tak begitu pada Ian apalagi pada dirinya.

"Benarkah? Aku ingin mengubah kebiasaan burukku," jawabku dengan wajah malu.

"Padahal aku suka banget sama Irene yang manja sama aku. Yang suka minta dicium atau menciumku terlebih dahulu. Jika kau tak menggodaku rasanya ada yang kurang," kata Kevin sembari menatapku.

Aku terperangah kaget, benarkah dibalik kelembutan Irene dia bisa melakukan itu semua?

"Kau ingat kan waktu pertama kali bertemu denganku? Kau mnggodaku habis-habisan. Dan aku bisa melihat betapa seksinya dirimu di mataku," kata Kevin.

Aku terdiam, aku menyelusuri bola matanya yang indah itu. Tampak ada kejujuran yang tersirat di sana.

"Kau selalu memakai pakaian terbuka di hadapanku, memakai perhiasan yang indah dan akhirnya aku jatuh cinta padamu. Tapi sekarang jangankan terbuka, memperlihatkan belahan dadamu saja kau merasa malu."

Wajahku memerah mendengar ucapan Kevin yang terbuka itu, aku ingin marah tapi aku berusaha menahannya.

"Bahkan sampai sekarang kita belum melakukannya sama sekali, apa kau tak ingat masa pacaran kita dulu waktu kau merengek minta begituan sama aku."

"Cukup Kevin!" teriakku sembari bangun dari duduk.

Aku benar-benar berang mendengarnya dan Kevin yang kaget hanya bengong menatapku.

"Sudah cukup kau membuatku malu dengan ceritamu itu! Aku ini wanita baik-baik, aku menutup tubuhku untuk menjaga harga dirimu, aku gak mau mempermalukan dirimu di depan umum. Aku berusaha jadi istri yang pantas buatmu dan satu lagi yang harus kau ingat! Aku ini masih virgin jadi jangan samakan aku dengan wanita lain," marahku membabi buta.

Aku membanting sendok dan garpu yang masih kugenggam sedari tadi dengan keras. Aku langsung pergi meninggalkan Kevin yang terheran-heran.

****

Aku berdiri di geladak kapal seraya makan es krim. Jika aku lagi marah pelampiasanku adalah makan es krim rasa vanila. Semilir angin meniup rambutku kemana-mana. Kutatap hamparan laut yang membiru indah, tapi aku tak menikmati semua itu karena moodku tiba-tiba buruk gara-gara Kevin.

Aku menghembuskan napas panjang lalu menyendok es krim lagi dengan kesal. Aku melirik sebentar ke arah Kevin yang menghampiriku dengan langkah santai. Aku pura-pura tak tahu dan sibuk menatap laut.

Kevin meraih lenganku dan membuatku berdiri berhadapan sejajar dengannya.

"Kau makan es krim?"

"Iya, memangnya kenapa? Hal itu juga masalah buatmu," ucapku ketus.

Aku menyendok es krim dengan kesal tanpa menatapnya. Kevin terdiam sejenak melihatku makan es krim sampai berlepotan.

Kevin menarik lenganku dan mencium bibirku. Aku mendorongnya namun Kevin jauh lebih kuat, dia mengunci kedua tanganku.

Dia melepas ciumannya, mengusap bibirku yang masih ada sisa es krimnya. Dia menatapku dengan pandangan tajam seolah mau menusuk jantungku.

"Maaf, maafkan aku," bisiknya.

Aku mencoba melepaskan tanganku tapi Kevin masih memegangiku.

"Mungkin aku terlalu menyinggungmu jadi maafkan aku. Aku tak berpikiran kalau kamu sampai seperti itu hanya untuk diriku. Aku berjanji tidak mengulanginya lagi," ucap Kevin menyesal.

"Berjanjilah padaku, kamu tak akan meremehkan wanita manapun dan tidak akan menyakitinya. Karena mereka kelak akan jadi Ibu, orang yang akan melahirkan anak-anak sepertimu."

Kevin menatapku lalu menganggukkan kepala tanda setuju. Aku kembali menatap lautan luas hingga seseorang menghampiri kami.

"Kapten bisakah kau menggantikan Kapten Eddy? Beliau tiba-tiba sakit dan tidak ada yang menggantikannya," kata seseorang yang berseragam begitu rapi.

Kevin menatap orang itu dengan wajah ragu.

"Aku gak tahu ya bisa atau nggak soalnya aku dalam keadaan bebas tugas. Lagipula aku di sini sedang bulan madu bersama istriku jadi ... " Kata Kevin sedikit tak enak hati.

Aku mengerti kecemasan di wajah Kevin, dia takut aku marah lagi sama dia gara-gara ditinggal tugas.

"Berangkatlah! Walau ini bukan tugas tapi lakukanlah yang terbaik karena ini menyangkut ribuan nyawa. Aku tak apa-apa kok," kataku lirih.

"Benar tidak apa?"

"Iya, apa aku terlihat berbohong?" ucapku balik bertanya. Dia hanya menggelengkan kepala.

"Baiklah kalau begitu aku akan siap-siap dulu," kata Kevin  memutuskan.

"Terimakasih Kapten," kata pria itu dengan semringah lalu pergi.

Kevin menatapku lagi seolah cemas padaku.

"Jangan seperti itu, wajahmu jelek tahu?!Kau tadi lihatkan senyum seseorang itu sangat berharga artinya. Itu pertanda kau sudah membuatnya bahagia. Membuat bahagia orang itu pekerjaan sulit loh," ucapku menghibur.

Kevin tersenyum lalu pamit padaku untuk ganti baju. Aku menatap kepergiannya, rasanya tak ada salahnya jika aku membantunya memakai seragam kerennya.

Aku melihat dia sibuk berganti baju, aku menghampirinya perlahan.

"Bisa kubantu?" tanyaku pelan menciptakan senyum manis di wajahnya.

Tanpa babibu aku lalu mengancingkan kemeja putihnya, memasang dasi dan memakaikan jas kebesarannya.

Aku menatap pria di hadapanku, dia terlihat gagah dengan seragam kerennya.

Aku tersenyum lantas mengambil topi Kaptennya sekaligus memakaikannya.

Kevin cuma tersenyum simpul lalu memelukku dengan erat.

"Terimakasih bantuannya Irene," ucapnya pelan.

Aku hanya menganggukkan kepalaku tanpa bicara apa-apa lagi .

****

Mataku terpejam rapat, hawa hangat menjalar ke seluruh tubuhku. Aku sungguh merasakannya.

Aku membuka mataku perlahan, rasa kaget tiba-tiba meletup-letup di dadaku.

Bagaimana tidak?! Kulihat Kevin tidur di sampingku.

Dia menghadapku dan memelukku.

Sejenak aku menatap matanya yang terpejam tampak lelah. Aku bergegas bangun tapi tangan Kevin menahanku.

"Tidurlah di sampingku sebentar saja," ucapnya masih terpejam.

Aku mengurungkan niatku dan kembali merebahkan diri di samping Kevin.

"Kau sudah bangun?" tanyaku pelan.

Kevin membuka matanya dan menatapku sayu. Kevin mengusap pipiku perlahan dan tersenyum sangat manis.

"Aku ingin merasakan kebersamaan ini dengan mu berdua saja."

"Bukankah kita selalu berdua setiap harinya?"

"Ini berbeda. Aku ingin berdua saja di atas ranjang," jawabnya lirih.

Darahku berdesir saat dia menyinggung soal ranjang di hadapanku. Rasanya aneh gitu! Suara bel di pencet seseorang, aku bangun dan menoleh ke arah pintu.

"Biarkan saja," ucap Kevin sembari menarikku.

"Tapi itu..."

"Ku mohon," kata Kevin dengan nada memohon.

Aku kalah dan kubiarkan orang itu sampai tak kudengar suara bel lagi.

"Kenapa kau seperti itu? Itu kelihatan jahat sekali," protesku tanpa menatapnya.

Aku bangun dan bersandar di ranjang. Kevin ikut bangun, dia duduk di hadapanku dan merapat.

"Itu tadi hanya pelayanan kamar, dia mendatangi setiap kamar hanya untuk menanyakan apa ada yang bisa dibantu. Menurutku itu sangat mengganggu kita," kata Kevin lalu meraih tanganku.

"Kita? Kamu kali?!"

"Kenapa akhir-akhir ini kamu berubah?"

"Berubah apa? Aku tak berubah kok," ucapku sedikit salah tingkah.

"Kenapa kau tiba-tiba jadi sabar biasanya kau suka marah-marah? Kau juga tak suka es krim kenapa kemarin tiba-tiba makan es krim padahal kau sangat benci vanilla?"

"Benarkah?" ucapku lirih.

"Apakah ini perubahanmu setelah setengah tahun kita tak bertemu?"

"Aku tidak ingin kekanak-kanakan terus, aku tak ingin merepotkanmu. Aku ingin kau bangga kepadaku," jawabku singkat sambil tersenyum.

Kevin menatapku dengan tatapan penuh tanda tanya, aku sedikit bingung dengan tatapan seperti itu.

"Kenapa? Apa aku salah bicara?" tanyaku memberanikan diri.

"Aku suka kau jadi wanita seperti itu. Seperti itulah setiap hari agar aku makin mencintaimu. Aku menyukai dirimu yang seperti ini, maka jangan berubah walau aku tak ada di sampingmu. Jika kau ingin membuatku bangga maka lakukanlah hal yang pantas membuat suamimu bangga," kata Kevin lirih sambil menatap mataku dalam-dalam.

Aku terdiam mendengarnya, tiba-tiba aku hanyut oleh kata-katanya. Semua itu terasa menusuk jantungku, sejenak aku merasa aku ini benar-benar seperti diriku sendiri.

"Aku sangat mencintaimu," bisiknya lagi.

Bodohnya lagi aku hanya terdiam tatkala Kevin meraih daguku dan mengecup bibirku. Gesekan di bibirku sangat kunikmati. Bahkan kekasihku Ian tak lagi ada di pikiranku.

Entah kenapa tiba-tiba hariku diisi penuh oleh laki-laki ini, tiada hari tanpa pria ini.

Aku menatap mata Kevin, entah itu tatapan seperti apa. Aku sendiri tak mengerti tentang kemauan diriku sendiri.

Kevin mengusap bibirku yang basah dengan salah satu jarinya. Dia kembali menciumku, bahkan kubiarkan saja lidah pria itu masuk ke dalam dan bermain dengan lidahku yang kaku.

"Apa ini Irena? Kau melakukan hal yang tak pantas kaulakukan. Kau merebut suami saudaramu sendiri, apakah itu yang kau lakukan sekarang? Cepat sudahi permainanmu atau kau akan tenggelam semakin dalam," ucap batinku memperingatkan.

Ini sebuah ciuman yang harusnya terasa nikmat namun justru sebaliknya yang kurasakan. Kenapa mendadak jadi terasa sakit?

Aku mendorong sosok Kevin di hadapanku, kuperingatkan dirinya agar menjauh dariku walau hanya lewat bahasa tubuh.

Kevin menatapku sejenak, seolah dia tak mengerti. Dia justru memegangi kedua tanganku dengan erat.

"Kenapa kau senang sekali membuatku menunggu?" katanya pelan.

Tersirat rasa sedih di dalam ucapannya yang pelan itu. Aku kembali menatap bola mata birunya, sesaat aku terpaku.

"Kita suami istri kan? Jangan menolak ajakanku lagi," katanya lagi.

Kevin mendekatkan wajahnya padaku tanpa melepaskan tangannya padaku. Dia kembali mendaratkan bibirnya kali ini di leherku.

"Kevin, " ucapku lirih mencoba mengelak darinya. Kevin tak menggubris ucapanku, dia sibuk dengan kemauannya.

Kevin menarik bajuku hingga kancingnya terlepas, aku menahannya namun Kevin lebih kuat. Dia menyingkirkan tanganku dan mulai bermain dengan area dadaku.

"Kevin, jangan sekarang!" peringatku lagi.

Kevin tak menjawab sama sekali.

Kurasakan tangan besarnya itu meremas payudaraku sedikit kencang, darahku berdesir hebat. Jantungku berpacu hebat di susul napasku yang mulai memuncak.

Aku dilema tapi aku masih sadar dengan apa yang terjadi saat ini. Aku ingin berteriak tapi hanya tertahan di tenggorokanku. Rasa takut menakuti diriku.

Aku terdiam saat Kevin tiba-tiba menghentikan perbuatannya. Aku kira dia akan mundur dan mengurungkan niatnya, tapi anggapanku itu salah! Dia justru melepas bajunya di hadapanku. Astaga!

Aku dihadapkan pada kenyataan bahwa sekarang Kevin telanjang dada di depanku. Dia menggenggam tanganku dan menempelkannya di dada Kevin.

"Apa kau tak menginginkanku?" tanyanya lirih dan terdengar sedih.

Entah kenapa aku yang terpaku mendengarnya jadi ikut merasa sedih dan tentunya merasa bersalah.

Kutarik tanganku dari genggamannya, aku beranjak berdiri dan merapatkan bajuku.

"Aku tidak bisa," kataku seraya melangkah ke kamar mandi.

"Kau tak bisa?" ulang Kevin heran.

Aku menghentikan langkahku sejenak sambil menelan ludah pahit.

"Aku belum bisa untuk saat ini. Maafkan aku," jawabku tanpa menatap Kevin.

Kevin terdiam, dia tampak kecewa.

"Kenapa?" tanyanya pelan.

Aku memilih untuk diam dan tak menjawab. Kulanjutkan langkahku menuju kamar mandi.

"Karena aku bukan Irene, Kevin!" ucapku di dalam hati.

Aku menarik napas dalam-dalam dan bayangku hilang di balik pintu kamar mandi.

***

Kuteguk kopi di hadapanku seraya membaca buku favoritku. Cuaca yang panas tak menyurutkanku untuk berada di luar ruangan.

Seseorang datang lalu mengecup pipiku, aku menoleh padanya. Dia tersenyum dan aku hanya membalasnya tanpa bicara.

Kevin duduk di hadapanku, memperhatikanku yang sibuk membaca buku.

"Sejak  kapan kau mulai suka buku?" tanya Kevin penuh selidik.

Aku meliriknya sejenak lalu menutup buku yang aku baca.

"Hanya untuk mengisi waktu senggang saja," jawabku sekenanya.

Kevin tersenyum lalu meraih cangkir kopi milikku hendak meminumnya.

"Hei, mau mau apa?" tanyaku terkejut.

"Kenapa? Bukannya aku selalu minum di gelasmu?"

"Mulai sekarang tidak boleh! Aku pesankan, ya."

"Memang kenapa?"

"Apa aku harus menjelaskannya padamu?Jika kau minum di cangkir bekas kupakai, itu terkesan melecehkanmu. Hargailah sedikit kehormatanmu," jawabku dengan tegas.

Aku lantas berdiri dan pergi ke kedai kopi untuk memesankan kopi untuk Kevin. Aku menoleh padanya, dia menatapku sambil tersenyum. Dengan segera aku mendapatkan kopi pesananku, aku membawanya ke hadapan Kevin.

"Ini untukmu. Dan jangan pernah lakukan itu lagi," tukasku dengan nada tak suka.

Aku hanya mendapati senyum manis di bibir Kevin, aku lalu meraih buku yang tadi sempat kututup.

Tanpa aku sadari secara refleks Kevin menyingkirkan buku yang mengalihkan perhatianku darinya, tanpa dikomando ia lalu melayangkan bibir manisnya ke bibirku.

Itu sebuah hal yang mengejutkan tapi manis untukku. Kutatap mata biru yang tak jauh dari pandangku itu dengan penuh tatapan tak berdaya.

Aku tak berdaya jika diperlakukan seperti ini secara terus-menerus. Tanganku ini menyentuh wajahnya untuk yang pertama kalinya tanpa kusadari. Mata biru itu seakan mengajak bicara mataku yang menginginkan tatapan seperti itu.

Entah setan mana yang membisikiku dengan kejam hingga aku pun secara perlahan menyambut bibirnya seolah aku menginginkannya kembali.

Ciuman itu makin intim ketika Kevin  mengusap pipiku dengan lembut, jantungku berpacu dengan cepat seiring panasnya tubuhku menahan napasku yang kian pendek.

"Apakah kau sudah mulai menginginkanku?" bisik Kevin di wajahku.

Bibirku bisu, hanya mataku yang menatapnya sayu. Kevin mengangkat daguku berharap aku menjawab pertanyaannya yang konyol.

"Ya." Aku mengisyaratkannya hampir tak kedengaran.

Kevin tersenyum kepadaku, aku hanya sanggup menatapinya dengan perasaanku yang mulai tak menentu.

"Irene jangan pernah pergi dariku," kata Kevin sangat mesra.

Kevin meraih tanganku dan mengecupnya.

"Irene," panggil Kevin begitu romantis.

Kebahagiaanku berada di sisi laki-laki yang dulu kuanggap mesum itu tiba-tiba hilang seiring dia menyebut nama Irene di hadapanku.

Ku tarik kembali tanganku dari genggamannya. Aku segera berdiri di hadapannya.

"Maaf aku ke toilet dulu," pamitku lalu nyelonong pergi ke toilet terdekat.

Aku melangkah hampa menuju toilet. Kutatap wajahku di cermin toilet, cukup lama.

"Kau sangat menjijikkan!" maki hatiku tiba-tiba.

Mendadak aku diserang rasa bersalah yang luar biasa. Aku menangis dan memohon maaf pada Irene dalam hati.

"Harusnya kau tak melakukan ini sejak dulu," bisik hatiku lagi.

Aku macam orang stress, yang beberapa menit lalu bahagia dan sekarang menangis sejadi-jadinya.

"Mulai sekarang jauhi dia atau kau akan semakin terluka," peringatnya lagi.

Aku menundukkan kepalaku, aku menyesal. Karena dengan tiba-tiba perasaanku tak menentu dan mulai kehilangan arah.

Aku mulai jatuh cinta pada suami saudara kembarku sendiri. Ya, aku jatuh cinta pada Kevin. Dan kini aku bingung untuk mengatasi rasa sukaku ini.

Aku harus bagaimana?

******


Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • 20 Days, Married With Captain (Indonesia)   7. Keputusan Terakhir

    ***Di dalam mobil milik Kevin, suasana begitu sepi. Aku dan Kevin sama-sama saling diam, kebekuan ini mungkin akan lama mencairnya.Aku tahu aku telah salah memilih jalan tapi aku harap Kevin tak melampiaskan kemarahannya kepada siapapun.Suara decit mobil menghentikan lamunan panjangku. Rupanya mobil itu sudah sampai di depan rumahku.Kulirik Kevin melepas sabuk pengaman nya guna turun dari mobil."Ehm, Kevin ..." ucapku lirih.Sosok di sampingku itu berhenti sejenak walau tak menatapku."Aku harap kau bisa menjaga rahasia ini walau sebenarnya kau sudah tahu semuanya. Aku mohon berpura-puralah seolah ini tak terjadi.""Sudah berapa kali kau mengulangnya?Aku tidak tuli," jawabnya ketus.Kevin mendorong pintu mobilnya dan melangkah keluar. Aku hanya mengikutinya tanpa banyak bicara.Dari dalam rumah Papa dan Mama menghambur ke

  • 20 Days, Married With Captain (Indonesia)   6. Hal Terbesar

    ***Sedikit kaget ketika Kevin memelukku dari belakang. Tangannya mendekap perutku, wajahnya menempel di pundakku."Sebentar lagi kita akan sampai di Hawai. Ini adalah puncak bulan madu kita. Aku harap kita tak menyia-nyiakan kesempatan ini," bisik Kevin di telingaku.Aku yang berdiri di depan jendela kamar segera membalikkan badan guna menatapnya."Maksudnya?""Kau tahu 'kan aku seorang Kapten, jika aku mulai bertugas maka aku akan jarang pulang. Jadi aku ingin bilang padamu ..."Kevin sedikit kesulitan untuk mengatakannya, hatinya sedikit tahu apa jawaban yang akan dia dapat."Aku ingin memenuhi tugasku sebagai seorang suami kepadamu. Kita sudah seminggu lebih berbulan madu tapi kita tak pernah kontak fisik secara intim. Apakah ini terlalu memalukan untukmu sehingga kau selalu menolakku," kata Kevin menunduk.Tangannya meraih tanganku, berusaha kompromi deng

  • 20 Days, Married With Captain (Indonesia)   5. Kehilangan Jiwa (2)

    Kunikmati sarapanku tanpa banyak bicara, Kevin juga begitu. Dia memilih diam dan sibuk dengan sarapannya.Udara semilir menyelingi suasana pagi yang cerah ini."Tumben kau manis sekali hari ini, biasanya kalau makan kau suka manja denganku," singgung Kevin setelah usai makan.Dasar! Dia mengataiku lagi, padahal aku selama ini tak begitu pada Ian apalagi pada dirinya."Benarkah? Aku ingin mengubah kebiasaan burukku," jawabku dengan wajah malu."Padahal aku suka banget sama Irene yang manja sama aku. Yang suka minta dicium atau menciumku terlebih dahulu. Jika kau tak menggodaku rasanya ada yang kurang," kata Kevin sembari menatapku.Aku terperangah kaget, benarkah dibalik kelembutan Irene dia bisa melakukan itu semua?"Kau ingat kan waktu pertama kali bertemu denganku? Kau mnggodaku habis-habisan. Dan aku bisa melihat betapa seksinya dirimu di mataku," kata Kevin.

  • 20 Days, Married With Captain (Indonesia)   4. Kehilangan Jiwa (1)

    ***______****Geladak kapal yang mewah, kolam renang yang luas serta kamar-kamar yang megah kini ada di depan mataku. Aku tak mengira bahwa garis hidup mengantarku ke sini. Ke sebuah kapal pesiar ternama dan terhebat di dunia.Kulangkahkan kaki mengikuti langkah Kevin menuju kamar no.1. Kata Kevin kamar itu memang kamar spesial untuk para milyader yang menyewa kamar itu dengan tarif sangat tinggi.Tangan Kevin masih bertaut denganku, dia tak melepas tanganku sedari tadi. Dan aku tak keberatan dengan gandengan tangan Kevin.Pria tampan berambut pirang itu sesekali menyapa kawan seperjuangannya di kapal dengan hangat. Dia terlihat sangat sopan dan berwibawa. Tak terlihat sifat mesumnya sama sekali."Hai Kapten ganteng, inikah istrimu?" tanya seseorang yang berseragam rapi.Kevin berhenti melangkah, dia menjabat tangan pria itu sambil menebar senyum termanisnya."Ya, menurutmu bagaimana? Cantik bukan?" kata Kevin bercanda.

  • 20 Days, Married With Captain (Indonesia)   3. Permulaan Yang Gila

    ***Baru saja menikah langsung pergi bulan madu ke apartement mewah milik keluarga Thompson. Itu sangat melelahkan! Baru setengah hari menjalaninya, aku sudah merasa seperti hidup di neraka setengah abad lamanya.Aku membuang pandangan keluar jendela mobil Kevin. Tak kuhiraukan, entah Kevin bicara apa.Setelah pernikahan itu Kevin langsung memboyongku ke apartement keluarganya. Sungguh tak berperasaan, apa dia tak tahu aku capek sekali!Capek hati dan pikiran maksudnya!"Irene, kau dengar tidak?!" Suara Kevin memecah lamunanku di malam yang dingin ini."Ah, iya?""Sudah kutebak kau pasti tak mendengarkanku bicara," gerutunya tanpa menatapku.Dia menatap jalan lurus di depannya."Maaf aku tak fokus padamu. Bisa kau ulang?" kataku pura-pura menyesal.Huh, berpura-pura itu pekerjaan yang sangat melelahkan dan butuh energi ekstra."Kau tahu apa hadiah yang diberikan Tuan Albert untuk pernikahan kita?"Aku benc

  • 20 Days, Married With Captain (Indonesia)   2. Pernikahan Palsu

    *****Kakiku bergemeletuk sesaat setelah sampai di gedung resepsi. Aku menatap wajah orang-orang yang menatapku, mereka semua tampak asing di mataku.Aku mencengkeram lengan Papa, mulai gelisah, tapi Papa menepuk tanganku dengan lembut menandakan agar aku jangan gelisah atau pun panik.Aku melangkahkan kakiku menuju altar gereja, pandanganku hanya tertuju pada satu pria yang berjas putih dan tersenyum manis menyambutku.Itukah yang namanya Kevin?Yang membuat Irene tergila-gila sampai sampai tidak mau melepaskannya.Di mataku Kevin hanyalah sosok pria berperawakan tinggi tegap, berkulit putih dan memiliki senyum menawan. Hidung yang mancung, wajah ganteng serta mata yang tampak bersinar. Dia juga memiliki bola mata biru yang menurutku-, eksotis!Aku melangkahkan kakiku perlahan menghampiri pria itu dengan gugup.Bibirku bergetar, semoga pria bernama Kevin itu tak curiga padaku."Kau sangat cantik, Irene," pujinya padaku.Bu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status