Share

4. Kehilangan Jiwa (1)

Author: Dacytta Peach
last update publish date: 2020-11-13 19:34:23

***______

****

Geladak kapal yang mewah, kolam renang yang luas serta kamar-kamar yang megah kini ada di depan mataku. Aku tak mengira bahwa garis hidup mengantarku ke sini. Ke sebuah kapal pesiar ternama dan terhebat di dunia.

Kulangkahkan kaki mengikuti langkah Kevin menuju kamar no.1. Kata Kevin kamar itu memang kamar spesial untuk para milyader yang menyewa kamar itu dengan tarif sangat tinggi.

Tangan Kevin masih bertaut denganku, dia tak melepas tanganku sedari tadi. Dan aku tak keberatan dengan gandengan tangan Kevin.

Pria tampan berambut pirang itu sesekali menyapa kawan seperjuangannya di kapal dengan hangat. Dia terlihat sangat sopan dan berwibawa. Tak terlihat sifat mesumnya sama sekali.

"Hai Kapten ganteng, inikah istrimu?" tanya seseorang yang berseragam rapi.

Kevin berhenti melangkah, dia menjabat tangan pria itu sambil menebar senyum termanisnya.

"Ya, menurutmu bagaimana? Cantik bukan?" kata Kevin bercanda.

"Kau pintar memilih istri Kevin. Selamat menempuh hidup baru ya," ucapnya lalu memeluk tubuh Kevin.

Aku dan Kevin kembali melangkahkan kaki dengan sesekali menebar senyum kepada mereka. Jauh juga melangkahkan kaki ke kamar no.1, kakiku rasanya pegal.

Bagaimana tak jauh, kamar no.1 itukan ada di lantai 4.

Kevin menoleh padaku yang menggerutu dalam hati. Ajaib! Dia seakan mengerti apa yang kukeluhkan.

"Capek ya jalannya?" tanyanya seraya tersenyum.

"Ah, tidak kok," jawabku pura-pura.

Kevin berhenti berjalan, dia lantas mengangkat tubuhku.

"Hei, kamu mau apa?" tanyaku panik dan bingung.

"Aku tahu kau capek. Aku akan menggendongmu sampai ke kamar," katanya datar.

Bibirku membisu saat pria yang baru kukenal beberapa hari itu mengangkat tubuhku dan menggendongku.

Tak kudengar suara keluhannya tentang berat badanku atau keluhannya tentang rasa capeknya. Rasanya aku merasakan moment itu walau hanya sebentar saja.

"Aku akan turun jika kau lelah," kataku jadi gak enak hati.

"Sudah dekat kok," jawabnya pelan.

Kevin benar-benar menggendongku sampai di depan pintu kamar. Dia mengeluarkan kunci kamar dan membuka pintu itu dengan sekali putar.

Aku lalu masuk ke dalam kamar, melihat sekeliling dan akhirnya aku terpukau dengan arsitekturnya.

"Bagaimana? Indah bukan?" kata Kevin di belakangku.

Aku masih terpukau dengan keindahan yang ada di depan mataku ini.

"Setiap pagi, siang, ataupun malam hari kau bisa melihat luasnya hamparan lautan di sini. Ada jendela yang bisa kau buka kapan saja kau mau. Atau kau bisa keluar menuju geladak kapak lewat pintu kaca itu," kata Kevin seraya menunjuk pintu kaca dekat toilet.

Kevin lalu meraih tanganku, aku menatap kedua bola matanya dengan bertanya-tanya.

"Apakah kau bahagia dengan hadiah ini?" tanyanya di hadapanku.

Aku masih menatapnya lekat-lekat, seandainya Irene benar-benar ada di sini dia pasti akan melompat ke pelukan laki-laki yang ada di hadapannya ini.

"Ya," jawabku singkat seraya tersenyum manis.

Kevin membalas senyumku, dengan tangannya yang kuat, dia merengkuh pinggangku hingga aku jatuh ke pelukannya. Hal itu membuat aku makin dekat dengan Kevin hanya beberapa senti saja.

"Bisakah kita melakukannya hari ini?" tanya Kevin setengah berbisik.

Wajahku meradang, rasanya panas sekali. Aku harus alasan apalagi hari ini?

Aku kaget saat bibir Kevin menyentuh bibirku. Secara refleks aku memundurkan wajahku darinya. Dia menatapku lalu kembali menciumku, perlahan dia maju beberapa langkah membuatku sempoyongan.

Kevin lantas menjatuhkan tubuhku di atas ranjang bersamaan dengan dirinya. Aku terasa sesak tertindih tubuh Kevin, sejenak aku panik memikirkan apa yang harus aku lakukan.

Ku dorong tubuh Kevin ke samping dengan kuat-kuat dan pura-pura terbatuk-batuk.

"Irene kau tak apa-apa?" tanya Kevin dengan cemas.

"Aku sedikit pusing, rasanya mau muntah. Aku ke toilet dulu," kataku sembari bangkit dan berlari ke toilet.

Aku menata napasku yang tersengal-sengal, hampir saja tadi ....

"Irene, apa kau sakit?" tanya Kevin di luar sana.

Aku lantas menghidupkan kran dan pura-pura muntah.

Kevin masuk ke dalam toilet, kutatap matanya yang menyiratkan kecemasan luar biasa.

"Bagaimana? Aku panggil dokter ya?"

"Tak usah, mungkin aku kecapekan saja. Mungkin dengar tidur aku bisa sembuh," kataku dengan lesu.

Kevin menyentuh pipiku dengan lembut, dia sedikit merasa lega.

"Kalau begitu istirahatlah! Aku akan keluar memesan makan dan minum untukmu," kata Kevin lalu tersenyum.

Dia memeluk tubuhku penuh kasih sayang.

Andaikan saja hubunganku dengan Ian berjalan seperti ini, seperti hubungan Irene dan Kevin pasti aku sangat bahagia.

Tanpa sadar aku membalas pelukan Kevin yang begitu hangat.

***

Pagi yang terasa hangat, sinar matahari menembus di sela-sela kaca menyilaukan mataku yang masih terpejam rapat.

Aku menarik selimutku, ayunan kapal yang berjalan di atas air membuatku untuk terus terpejam menikmati suasana.

Hingga sebuah benda panjang tak sengaja menimpa tubuhku dengan cukup keras.

Di saat mataku masih terpejam otakku mulai berpikir, benda apa ini?! Aku menyentuhnya, menyerupai sebuah tangan. Lalu tangan siapa?

Aku membuka mataku tiba-tiba lantas menatap tangan itu dengan jantung deg-degan. Aku segera membuang tangan Kevin dan bangun dari tidurku.

Kuperiksa tubuhku dengan segera, aku menghembuskan napas lega karena tidak terjadi apa-apa tadi malam. Diriku masih utuh, masih memakai piyama hadiah dari Mama.

"Ada apa Irene?" tanya Kevin kaget. Dia ikut bangun dan mengerjap-ngerjapkan matanya yang merah.

"Maaf aku hanya bermimpi buruk," jawabku penuh dusta.

Aku menundukkan kepalaku dan sedikit menggeser dudukku agak menjauh dari Kevin.

Kevin menatapku, disentuhnya wajahku agar aku menatap matanya.

"Apakah sangat buruk hingga kamu kaget seperti itu? Aku tahu kamu pasti takut, wajar anak gadis berpisah dari orang tuanya untuk yang pertama kali dan ikut suami. Hal itu akan membuatmu takut dan bermimpi buruk," kata Kevin dengan lembut.

Aku tak bicara, masih menatap matanya yang terlihat tulus. Kevin meraih tanganku dan menggenggamnya.

"Aku akan menjagamu jadi jangan bermimpi buruk lagi," kata Kevin berbisik.

Dia kemudian mencium tanganku dan itu terlihat sangat manis di mataku.

"Apakah kau sudah baikan?" tanya Kevin membuyarkan lamunanku.

"Ah, ya," jawabku singkat.

"Kalau begitu segeralah mandi, aku akan pesan sarapan dulu."

Kevin beranjak dari tidurnya begitu juga diriku, aku melangkahkan kaki masuk ke toilet.

"Sebaiknya kamu pakai air hangat agar badanmu terasa segar," saran Kevin sebelum pergi.

Aku hanya mengangguk dan tersenyum kepadanya. Dalam hati aku berterimakasih kepadanya, atas kebaikannya.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • 20 Days, Married With Captain (Indonesia)   7. Keputusan Terakhir

    ***Di dalam mobil milik Kevin, suasana begitu sepi. Aku dan Kevin sama-sama saling diam, kebekuan ini mungkin akan lama mencairnya.Aku tahu aku telah salah memilih jalan tapi aku harap Kevin tak melampiaskan kemarahannya kepada siapapun.Suara decit mobil menghentikan lamunan panjangku. Rupanya mobil itu sudah sampai di depan rumahku.Kulirik Kevin melepas sabuk pengaman nya guna turun dari mobil."Ehm, Kevin ..." ucapku lirih.Sosok di sampingku itu berhenti sejenak walau tak menatapku."Aku harap kau bisa menjaga rahasia ini walau sebenarnya kau sudah tahu semuanya. Aku mohon berpura-puralah seolah ini tak terjadi.""Sudah berapa kali kau mengulangnya?Aku tidak tuli," jawabnya ketus.Kevin mendorong pintu mobilnya dan melangkah keluar. Aku hanya mengikutinya tanpa banyak bicara.Dari dalam rumah Papa dan Mama menghambur ke

  • 20 Days, Married With Captain (Indonesia)   6. Hal Terbesar

    ***Sedikit kaget ketika Kevin memelukku dari belakang. Tangannya mendekap perutku, wajahnya menempel di pundakku."Sebentar lagi kita akan sampai di Hawai. Ini adalah puncak bulan madu kita. Aku harap kita tak menyia-nyiakan kesempatan ini," bisik Kevin di telingaku.Aku yang berdiri di depan jendela kamar segera membalikkan badan guna menatapnya."Maksudnya?""Kau tahu 'kan aku seorang Kapten, jika aku mulai bertugas maka aku akan jarang pulang. Jadi aku ingin bilang padamu ..."Kevin sedikit kesulitan untuk mengatakannya, hatinya sedikit tahu apa jawaban yang akan dia dapat."Aku ingin memenuhi tugasku sebagai seorang suami kepadamu. Kita sudah seminggu lebih berbulan madu tapi kita tak pernah kontak fisik secara intim. Apakah ini terlalu memalukan untukmu sehingga kau selalu menolakku," kata Kevin menunduk.Tangannya meraih tanganku, berusaha kompromi deng

  • 20 Days, Married With Captain (Indonesia)   5. Kehilangan Jiwa (2)

    Kunikmati sarapanku tanpa banyak bicara, Kevin juga begitu. Dia memilih diam dan sibuk dengan sarapannya.Udara semilir menyelingi suasana pagi yang cerah ini."Tumben kau manis sekali hari ini, biasanya kalau makan kau suka manja denganku," singgung Kevin setelah usai makan.Dasar! Dia mengataiku lagi, padahal aku selama ini tak begitu pada Ian apalagi pada dirinya."Benarkah? Aku ingin mengubah kebiasaan burukku," jawabku dengan wajah malu."Padahal aku suka banget sama Irene yang manja sama aku. Yang suka minta dicium atau menciumku terlebih dahulu. Jika kau tak menggodaku rasanya ada yang kurang," kata Kevin sembari menatapku.Aku terperangah kaget, benarkah dibalik kelembutan Irene dia bisa melakukan itu semua?"Kau ingat kan waktu pertama kali bertemu denganku? Kau mnggodaku habis-habisan. Dan aku bisa melihat betapa seksinya dirimu di mataku," kata Kevin.

  • 20 Days, Married With Captain (Indonesia)   4. Kehilangan Jiwa (1)

    ***______****Geladak kapal yang mewah, kolam renang yang luas serta kamar-kamar yang megah kini ada di depan mataku. Aku tak mengira bahwa garis hidup mengantarku ke sini. Ke sebuah kapal pesiar ternama dan terhebat di dunia.Kulangkahkan kaki mengikuti langkah Kevin menuju kamar no.1. Kata Kevin kamar itu memang kamar spesial untuk para milyader yang menyewa kamar itu dengan tarif sangat tinggi.Tangan Kevin masih bertaut denganku, dia tak melepas tanganku sedari tadi. Dan aku tak keberatan dengan gandengan tangan Kevin.Pria tampan berambut pirang itu sesekali menyapa kawan seperjuangannya di kapal dengan hangat. Dia terlihat sangat sopan dan berwibawa. Tak terlihat sifat mesumnya sama sekali."Hai Kapten ganteng, inikah istrimu?" tanya seseorang yang berseragam rapi.Kevin berhenti melangkah, dia menjabat tangan pria itu sambil menebar senyum termanisnya."Ya, menurutmu bagaimana? Cantik bukan?" kata Kevin bercanda.

  • 20 Days, Married With Captain (Indonesia)   3. Permulaan Yang Gila

    ***Baru saja menikah langsung pergi bulan madu ke apartement mewah milik keluarga Thompson. Itu sangat melelahkan! Baru setengah hari menjalaninya, aku sudah merasa seperti hidup di neraka setengah abad lamanya.Aku membuang pandangan keluar jendela mobil Kevin. Tak kuhiraukan, entah Kevin bicara apa.Setelah pernikahan itu Kevin langsung memboyongku ke apartement keluarganya. Sungguh tak berperasaan, apa dia tak tahu aku capek sekali!Capek hati dan pikiran maksudnya!"Irene, kau dengar tidak?!" Suara Kevin memecah lamunanku di malam yang dingin ini."Ah, iya?""Sudah kutebak kau pasti tak mendengarkanku bicara," gerutunya tanpa menatapku.Dia menatap jalan lurus di depannya."Maaf aku tak fokus padamu. Bisa kau ulang?" kataku pura-pura menyesal.Huh, berpura-pura itu pekerjaan yang sangat melelahkan dan butuh energi ekstra."Kau tahu apa hadiah yang diberikan Tuan Albert untuk pernikahan kita?"Aku benc

  • 20 Days, Married With Captain (Indonesia)   2. Pernikahan Palsu

    *****Kakiku bergemeletuk sesaat setelah sampai di gedung resepsi. Aku menatap wajah orang-orang yang menatapku, mereka semua tampak asing di mataku.Aku mencengkeram lengan Papa, mulai gelisah, tapi Papa menepuk tanganku dengan lembut menandakan agar aku jangan gelisah atau pun panik.Aku melangkahkan kakiku menuju altar gereja, pandanganku hanya tertuju pada satu pria yang berjas putih dan tersenyum manis menyambutku.Itukah yang namanya Kevin?Yang membuat Irene tergila-gila sampai sampai tidak mau melepaskannya.Di mataku Kevin hanyalah sosok pria berperawakan tinggi tegap, berkulit putih dan memiliki senyum menawan. Hidung yang mancung, wajah ganteng serta mata yang tampak bersinar. Dia juga memiliki bola mata biru yang menurutku-, eksotis!Aku melangkahkan kakiku perlahan menghampiri pria itu dengan gugup.Bibirku bergetar, semoga pria bernama Kevin itu tak curiga padaku."Kau sangat cantik, Irene," pujinya padaku.Bu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status