Share

6. Hal Terbesar

Author: Dacytta Peach
last update publish date: 2020-11-13 19:36:45

***

Sedikit kaget ketika Kevin memelukku dari belakang. Tangannya mendekap perutku, wajahnya menempel di pundakku.

"Sebentar lagi kita akan sampai di Hawai. Ini adalah puncak bulan madu kita. Aku harap kita tak menyia-nyiakan kesempatan ini," bisik Kevin di telingaku.

Aku yang berdiri di depan jendela kamar segera membalikkan badan guna menatapnya.

"Maksudnya?"

"Kau tahu 'kan aku seorang Kapten, jika aku mulai bertugas maka aku akan jarang pulang. Jadi aku ingin bilang padamu ..."

Kevin sedikit kesulitan untuk mengatakannya, hatinya sedikit tahu apa jawaban yang akan dia dapat.

"Aku ingin memenuhi tugasku sebagai seorang suami kepadamu. Kita sudah seminggu lebih berbulan madu tapi kita tak pernah kontak fisik secara intim. Apakah ini terlalu memalukan untukmu sehingga kau selalu menolakku," kata Kevin menunduk.

Tangannya meraih tanganku, berusaha kompromi dengan hatiku.

Bagiku itu sebuah pil pahit, aku bahkan bingung untuk menelannya.

Kevin menatapku, aku mencoba mengalihkan pandangku tapi lagi-lagi Kevin meraih wajahku.

Dia maju beberapa langkah, meraih pinggangku dan mendekapnya erat. Wajah kami begitu dekat, dapat kulihat sorot matanya yang jernih.

"Apa kau tak merasa kasihan padaku?Apakah suamimu ini harus memohon untuk menjalankan kewajibannya?Berikan aku jawaban," kata Kevin pelan.

Seperti biasa, aku tak bisa berkata-kata. Bibirku bungkam seribu bahasa.

Kevin melepaskan dekapannya dan menarik tanganku. Dia mendudukkanku di tepian ranjang. Tanpa banyak cakap dia melangkah ke pintu dan menguncinya. Dia melirikku dari arah pintu, aku terbengong melihat perbuatannya.

Dia melangkah menghampiriku, berdiri tegap di hadapanku. Bibirnya tak mengeluarkan suara apapun, hanya suara desiran ombak menghantam kapal.

Reaksiku biasa hingga akhirnya aku benar-benar terkejut ketika melihat Kevin perlahan melepas kancing bajunya dan melepas baju yang ia pakai di depanku.

Dia kini bertelanjang dada tepat di depan mataku. Jantungku berdegup, bukan karena nafsu melainkan takut.

Aku merasa ini seperti api yang membakar diriku sendiri .

Kevin mendekatiku, menyentuh kerah bajuku. Tangannya perlahan turun melepas kancingku, aku diam kaku tapi tubuhku gemetar seakan mau rontok.

Aku menahan tangannya ketika tangannya itu sudah hampir setengah menelanjangi dadaku.

Kevin berhenti sambil menatapku, aku menatapnya dengan wajah hampir pucat.

"Apa kau takut? Apa kau malu padaku?Aku tak mempermasalahkan jika payudaramu kecil atau ada goresan luka di pahamu. Aku hanya ingin lebih dekat denganmu. Apa ada yang ingin kau katakan sebelum aku melanjutkannya?"

"Aku..." ucapku tersendat.

Bibirku hanya bergetar, tak mendukungku untuk mengutarakan niatku.

Kevin merasa tak sabaran, dia sedikit menarik bajuku hingga sobek. Ini baju kedua yang ia sobek dalam minggu ini.

Dia merengkuhku, getaran tubuhku karena dingin tak ia hiraukan. Dia menggapai bibirku memulai aksinya.

Perlahan, tubuh kekarnya merebahkan tubuhku yang ringkih dengan sekali dorong. Kutatap langit-langit di kamarku seolah berputar, aku bingung dan pusing.

Haruskah kukorbankan kehormatanku demi reputasi saudaraku? Demi kebaikan Irene, aku harus menikmati kebohongan ini dan menuai karmaku sendiri.

Tak terasa rasa takutku mewujudkan air mata di sudut mataku. Aku menahan kegelisahan yang dalam hingga membuat dadaku terasa sesak.

Kevin yang menciumi leherku dengan sangat bernafsu tiba-tiba menghentikan ciumannya dan menatapku.

"Ada apa? Aku bahkan belum memulainya tapi kau sudah menangis?"

Disindir seperti itu membuat air mataku makin membeludak. Kudorong tubuh yang menindihku tadi ke samping.

Aku bangun dan terduduk, aku menangis sambil menutupi wajahku dengan kedua telapak tanganku.

Sontak saja hal itu membuat Kevin terheran-heran padaku.

"Kenapa?"

Hanya itu kata yang sanggup ia ucapkan.

"Aku masih perawan, jangan lakukan itu padaku. Aku tidak siap," gumamku lirih namun cukup jelas di telinga Kevin.

Dia terdiam namun sedikit shock. Nafsunya yang memuncak tiba-tiba lenyap seketika.

"Apa kau tak bisa memberikannya kepadaku? Aku juga masih perjaka kok," kata Kevin sedikit merajuk.

Tak ada jawaban di bibirku, hanya suara isak tangis yang kutahan.

"Kalau kau keberatan ya sudah, tak apa-apa. Aku bukan tipe pemaksa, aku juga tak akan melakukannya kalau kau merasa tak nyaman dan tak menikmatinya. Mulai malam ini aku takkan memintanya lagi," kata Kevin pelan bernada kecewa.

Dia berdiri, melangkah mengambil baju dan memakainya kembali.

"Sejauh ini aku heran padamu. Kau seperti bukan Irene yang kukenal," imbuhnya lalu keluar dari kamar tanpa menoleh padaku.

Aku mendengarnya dan makin hancur ketika menyadari permainan ini benar-benar menjeratku.

***

Suasana Hawaii yang meriah menyambut kapal kami. Semua penghuni turun dari kapal, berbaur dengan masyarakat dan mulai menikmati pesta.

Aku menikmati pesta itu dari kapal. Aku enggan turun dan tetap berada di kamar.

Kuseret langkahku menuju geladak kapal. Kutatap bintang yang bertaburan indah di langit

Aku melirik sejenak ketika melihat sosok Kevin hanya melintas di belakangku tanpa menyapaku.

Pria itu kini membuatku terpuruk dan merasa tak berarti. Ada apa dengan diriku? Kenapa aku begitu membutuhkannya dengan tiba-tiba.

Dia benar-benar membuatku merasa hina, bahkan tak disapanya adalah hal yang terberat dalam hidupku. Kenapa?

Sepertinya aku benar-benar mencintainya.

Kuingat kembali apa yang telah kulakukan kepadanya. Andai saja waktu itu aku menurut dan memberikan apa yang ia mau, mungkin ....

Tidak! Pikiran kotor untuk merebut suami orang kutepis jauh-jauh. Hanya berciuman dengannya saja itu sudah dosa apalagi melakukan hak yang terlarang?! Aku hanya melaksanakan perintah Irene, tak lebih!!

"Irene ...."

Suara Kevin menyeruak kalbuku. Aku menoleh pada sosoknya yang berada di belakangku, jauh.

Kevin melangkah mendekatiku, dia berhadapan denganku.

"Ian itu siapa?"

Jlebb!

Seakan panah menebus jantungku ketika bibir sensual itu menyebut nama kekasihku.

"Dia berulang kali menelponmu, itu sangat mengganggu telingaku."

Wajah Kevin penuh curiga seraya  menunjukkan ponsel padaku.

Aku mau meraihnya tapi Kevin menghindarkan ponsel itu dari tanganku.

"Katakan padaku siapa Ian itu?Kelihatannya penting sekali," kata Kevin makin curiga.

"Itu ..., temanku."

"Teman? Teman yang mana? Kau tak pernah bercerita tentang Ian padaku."

"Apa aku harus bercerita satu per satu temanku?"

"Bahkan tanpa kuminta sekalipun kau selalu cerita tentang teman-temanmu. Apa kau lupa kebiasaanmu itu?"

Aku terbungkam tak sanggup menjawab lagi.

"Sekarang buktikan kalau dia benar-benar temanmu. Telpon balik dia dan loudspkear suaranya, biar aku bisa mendengar suaranya."

Kevin menyodorkan ponsel itu padaku, aku menerimanya dengan ragu-ragu.

"Ayo telponlah?!"

Aku menekan tombol panggil dan me-loudspeaker suaranya.

"Hai Sayang, kemana saja kau seminggu ini? Aku tak bisa menelponmu," suara Ian disana tiba-tiba muncul.

"Ian ..., aku...."

"Aku tahu kau punya urusan tapi kabari aku juga dong. Aku khawatir sama kamu Sayang."

Kata Ian terdengar mesra, belum sempat aku bicara Kevin sudah merebut ponsel itu dari tanganku.

"Hei brengsek! Siapa kau? Beraninya mengganggu istriku. Mulai sekarang jangan telpon-telpon istriku lagi," teriak Kevin marah pada Ian.

Kevin lalu mematikan sambungan telponnya.

"Kau sangat kasar Kevin!" dengkusku tak suka.

Ini sebuah bencana, mungkin Ian akan shock dan memutuskanku dengan segera.

"Kenapa? Kau tak suka? Kau berselingkuh di belakangku?" tuduhnya begitu menyakitkan.

Aku memilih diam tak menanggapi ucapannya.

"Kembalikan ponselku," pintaku lirih.

"Kau ingin menghubunginya lagi? Apa kau ingin minta maaf soal barusan? Inikah alasanmu menolak berhubungan denganku?"

"Kembalikan ponselku!" teriakku tak menghiraukan ucapannya sembari mencoba merampas ponsel dari tangannya.

"Begitu pentingkah dia ketimbang aku?" kata Kevin tak kalah keras.

Saat ia melihatku tak mampu menjawabnya, ia makin naik pitam. Ponselku dilemparnya ke lautan dengan bengis.

"Kenapa kau lakukan itu?"

"Jangan berhubungan dengannya lagi. Jika kau ingin berhubungan dengannya lagi, sana ambil di laut!" marah Kevin.

Aku menatapnya sejenak dengan pandangan kesal, terbersit di otakku untuk menceburkan diri di laut untuk mengambil ponselku.

Aku melangkahkan kakiku, menaiki besi pembatas kapal guna menceburkan diri di laut tapi Kevin segera menarik tanganku kuat-kuat.

"Apa yang kau pikirkan?"

"Ponsel itu berarti buatku lalu kau membuangnya seenaknya sendiri. Apa kau tahu perjuanganku mendapatkan ponsel se-mewah itu? Aku harus kerja paruh waktu dan kau datang hanya untuk menghancurkannya?" marahku kesal.

Kevin lantas menyeret tubuhku memasuki kamar, hatinya menahan emosi yang luar biasa. Dia tak peduli padaku yang berteriak-teriak kesakitan.

Sesampainya di kamar dia melemparku ke ranjang. Dia melepas seluruh pakaian yang ia kenakan lalu mendekatiku.

"Apa-apa yang akan kau lakukan?" tanyaku tergagap.

"Layani aku sekarang juga!" teriaknya sembari merengkuhku.

Aku mencoba melepaskan tubuhnya namun perlawananku sia-sia saat dia mengunci kedua tanganku dan terus merangsek menyentuh tubuhku.

Malam itu, malam yang kelam untukku.

Malam indah untuk orang-orang yang berpesta tapi malam yang menyakitkan untukku. Ketika apa yang kubanggakan dari diriku direnggut oleh orang yang bukan milikku. Ya, aku telah diperkosanya.

***

Kepalaku terasa pening, sebagian rambutku menutupi wajahku. Rasa sakit menjalar di sekujur tubuhku, aku merasa lemas dan tak berdaya.

Mataku ini menitikkan airmata tanpa suara, kuremas bantal di samping kepalaku. Menahan rasa sakit di dada.

Aku tak bisa menerima kenyataan bahwa saat ini aku telanjang dan hanya berselimutkan selimut tebal.

Kuraba sudut bibirku yang berdarah akibat gigitan Kevin yang teramat bernafsu tadi malam.

Suara langkah menghampiriku, aku tak tertarik pada siapa yang datang padaku.

Kulihat sosok Kevin sedang menaruh susu hangat di meja lalu duduk di tepian ranjang.

"Apakah sakit?" tanyanya berbasa-basi.

Aku diam, mencoba bangun melawan rasa sakit di tubuhku.

"Maaf tadi malam aku lost control, kau membuatku begitu emosi. Aku sebenarnya tak ingin kehilanganmu jadi aku terpaksa melakukannya padamu. Sekali lagi maafkan aku," ucap Kevin pelan.

Aku kembali terdiam, aku hanya bersandar di ranjang dengan pikiran kosong. Bahkan saat Kevin merengkuh kepalaku agar mendekat dengan wajahnya, aku tak sanggup menolaknya.

Dia mengulum bibir bawahku dengan lembut, tak peduli dengan lukaku yang masih berdarah.

"Kau membuatku kembali bergairah," bisiknya di telingaku.

Kata-kata itu sangat menjijikkan untukku tapi aku tak sanggup menolaknya dengan ragaku yang rapuh ini.

"Aku ingin pulang," ucapku pelan. Kevin melepas ciumannya di leherku lantas menatap mataku.

"Kita sudah dalam perjalanan pulang," jawab Kevin datar.

Dia meraba tanganku dan menciumnya, aku hanya memperhatikannya sesaat.

"Jangan berpaling dariku atau kau akan melihat kemarahanku seperti tadi malam," ucap Kevin lirih.

Dia merogoh saku bajunya dan menyelipkan cincin di sela jariku.

"Aku sangat mencintaimu, berjanjilah untuk tidak meninggalkanku. Aku bisa memuaskanmu berapa kali pun kau mau," ucapnya memohon.

Kevin menatapku, sebenarnya dia malu mengatakan itu tapi diberanikannya untuk bilang begitu.

Semua itu dilakukannya karena dia sangat mencintai wanita yang ada di hadapannya.

***

Ku gosok-gosok rambutku dengan handuk, sensasi segar kurasakan di tubuhku setelah mandi.

Aku tercengang melihat Kevin sudah menantiku tepat di depan pintu toilet.

Pikiranku kembali melayang, aku takut akan terjadi yang aneh-aneh lagi padaku.

"Kevin?!"

Yang kusebut namanya hanya menoleh tak berekspresi, dia mendekat padaku. Tiba-tiba dia menarik tanganku dan membenturkan tubuhku ke dinding.

Ya Tuhan, jantungku!

"Sebenarnya siapa kau?" tanyanya tiba-tiba.

Deg!

Jantungku seakan berhenti berdenyut. Seperdetik kemudian, Kulihat Kevin tertawa terbahak-bahak melihat wajahku yang pucat pasi.

"Irene, ada apa dengan wajahmu?Wajahmu terlihat lucu tau!!" ucapnya menertawakanku.

"Kau ini kenapa sih?!" ucapku sedikit marah. Kudorong tubuhnya agar mundur dari hadapanku.

Aku berjalan menuju ke cermin guna menyisir rambutmu yang masih acak-acakan.

Kevin menghentikan tawanya lantas memelukku dari belakang.

"Maaf aku cuma bercanda, akhir-akhir ini kau agak mendung."

"Aku baik-baik saja kok," jawabku tanpa melepas pelukannya.

"Aku suka aromamu yang seperti ini. Apa kau berganti parfum?"

"Tidak, aku pakai yang biasanya."

Kevin membalikkan tubuhku, menggenggam lenganku dengan erat.

Matanya menelisik mataku, seperti ada yang ingin dikatakannya padaku.

"Maukah kau memelukku?" kata Kevin terdengar konyol.

Aku terdiam, aku bingung mau berbuat apa.

"Ah, kau ini membuatku jadi tak sabar," dengkus Kevin lantas menarikku dalam pelukannya yang hangat.

Lambat laun kusambut pelukannya, kutepuk perlahan punggungnya.

"Apakah kau siap untuk kutinggal lama Irene?"

"Maksudnya?" tanyaku lirih tanpa melepas pelukannya.

"Aku seorang Kapten, hidupku sepenuhnya di lautan. Aku akan kembali  ke rumah 3 bulan sekali. Aku takut kau akan bosan dan mencari orang lain sebagai temanmu."

"Kau bicara apa?!"

"Aku ini laki-laki normal, apa salah jika aku berpikiran seperti itu?!"

"Aku tahu."

Kevin melepas pelukannya dan kembali menatapku.

"Kok jawabnya gitu?"

"Aku harus jawab apa?"

"Kamu ini makin menggemaskan ya," kata Kevin seraya mencubit pipiku dengan gemas.

Aku tak melawan, hanya mengaduh dan sedikit tersenyum.

Kevin menatapku berarti, dia mendekatkan wajahnya padaku.

Aku tahu dia akan menciumku, maka dengan segera aku menutup mataku tapi....

"Kau mau apa?" godanya sambil tersenyum.

Aku membuka mataku, wajahku memerah karena dia mempermainkanku. Rupanya dia memang hanya ingin menggodaku.

Aku sudah kepalang tanggung, akhirnya aku memberanikan diri meraih wajahnya dan mengecup bibirnya.

Karena dia begitu tinggi jadi aku harus berjingkat untuk menggapai wajahnya.

Kevin mengerti maksudku, dia merendahkan tubuhnya agar aku bisa menguasai wajahnya.

Aku hanya menciumnya dengan sekali kecup, hal itu membuatnya sedikit kecewa.

"Kemana kemampuanmu mencium yang dulu?" bisiknya padaku.

"Maksudnya?"

"Kau sangat pelit," dengkusnya sedikit kesal.

Aku terdiam tak mengerti.

"Biar kuajarkan sekali lagi bagaimana mencium yang baik itu," gumam Kevin padaku.

Dia meraih kepalaku lalu mendaratkan bibir mungilnya di bibirku. Dia menciumku dengan hati-hati, mengulumnya dengan lembut.

"Apa kau menikmatinya?" tanya Kevin pelan.

Aku hanya menatapnya, jarinya sibuk mengusap bibirku yang basah. Tanpa diminta lagi, Kevin kembali menciumku makin intim.

Ya, aku menikmatinya. Menikmati dosa dan cinta terlarang ini. Maafkan aku Irene, ijinkan aku sekali ini saja.

Jika nanti telah tiba, aku akan mengembalikannya padamu.

****

Kevin membanting tubuhku di ranjang, apakah dia akan melakukannya lagi?!

Aku harap tidak.

Perlahan dia mendekatiku, sedikit bermain dengan rambutku dan mencium pipiku.

Aku tak bisa melepaskan tatapanku dari sosok yang ada di hadapanku.

"Kau sangat cantik jika tanpa make up," pujinya terdengar tulus.

"Aku memang tak suka bersolek," kataku lirih menimbulkan wajah bingung di wajah Kevin.

Kevin menyentuh wajahku, menyibakkan rambutku ke belakang telingaku.

Matanya begitu bersinar, aku dapat melihat api yang berkobar di sana.

Dia mendekatkan wajahnya di telingaku dan mulai mengecupnya sesekali menjilatnya. Aku hanya bergidik mencoba mengusir perasaan anehku.

"Jangan malu jika kau menginginkannya," bisiknya di telingaku.

Kutundukkan wajahku yang merah, Kevin hanya tersenyum manis. Dia mengangkat daguku, menyorot mataku yang mencoba berdusta.

"Kita hanya berdua, tak ada salahnya jika jujur. Jika kau meminta aku pasti akan senang, aku akan memuaskanmu berapa kali pun kau mau," ucapnya penuh percaya diri.

Aku memalingkan wajahnya yang bernafsu itu, dia hanya tertawa lirih.

"Kau bicara apa? Kau membuatku malu," tandasku tak berhenti menahan rasa di dadaku.

"Aku paling senang menggodamu. Jadi malam ini kau minta berapa kali?"

"Sudahlah," kataku memalingkan wajahku dari Kevin.

Dengan sigap Kevin meraih wajahku dan mencium bibirku penuh kelembutan.

"Bagaimana kalau dua kali saja?" bisiknya lagi.

"Maaf Kevin aku sedang datang bulan," jawabku pelan.

Aku mencoba menolaknya dengan halus.

"Baiklah tak masalah! Masih tersisa beberapa hari lagi," jawabnya sembari tersenyum.

Walau begitu aku dapat melihat kekecewaan di wajahnya. Maaf Kevin.

***

Aku dan Kevin seperti sepasang kekasih yang sedang jatuh cinta. Entah kenapa dosa ini makin hari makin nikmat saja.

Aku berdiri di geladak kapal, menatap lautan yang tak terbatas.

Kurasakan Kevin menghampiriku, dia merengkuh pinggangku dengan erat.

Dia menawarkan senyum manis kepadaku, seperti biasa aku cuma membalasnya.

Sesekali Kevin menciumi pipiku dengan manja. Saat dia memelukku ada sesuatu yang jatuh dari kantong jaketku membuat Kevin memungutnya.

Aku tak memperhatikan Kevin yang sibuk memeriksa dompetku yang jatuh.

Wajahnya tampak bingung.

"Irena?"

"Ya," jawabku tanpa sadar sembari menoleh pada Kevin.

Aku beradu tatap dengannya, wajahnya tampak bingung. Aku juga tiba-tiba shock saat melihat Kevin memegang dompetku.

"Irena? Kenapa kau membawa Identitas saudaramu?"

"Itu ..."

Aku tak berkutik saat dia terus memeriksa isi dompetku.

"Kenapa isinya semua nama Irena? Tidak mungkin kan kau membawa dompet saudaramu? Atau jangan-jangan ...."

Kevin menatapku curiga. Aku membeku ketika tatapannya tiba-tiba dingin. Dia menarik lenganku sedikit kasar.

"Apa kau bukan Irene?"

Aku terdiam.

"Katakan padaku apa kau ..., Irena?"

Aku masih diam.

"Jelaskan padaku!" teriak Kevin bingung. Dia mengguncang-guncang tubuhku sangat keras.

Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba tegar walau air mataku mulai membendung.

Mungkin ini saatnya aku jujur dan bebas dari bebanku.

"Ya. Apa yang kau katakan itu benar," jawabku pelan.

Bagai disambar petir di siang hari, Kevin lantas melepaskan tangannya yang sedari tadi menempel di lenganku.

Dia tampak shock dan kecewa.

"Kenapa bisa?"

"Aku hanya menolong Irene, Kevin. Dia sakit tapi dia tak ingin mengecewakanmu," jelasku lirih.

Kevin terus membisu, aku tahu itu hal berat yang menimpanya saat ini. Begitu banyak hal yang terjadi pada kami berdua.

"Irene sangat mencintaimu maka dari itu dia minta tolong padaku agar menggantikan posisinya sebentar saja. Sebenarnya aku tak mau tapi dia terus memaksaku, dia tak ingin kau melihatnya sakit."

"Kenapa kau tak memberitahuku dari awal?"

"Irene melarangku. Maafkan aku ..."

"Aku sangat bingung."

"Aku mohon Kevin jika kita kembali nanti, terimalah Irene seperti istrimu. Anggap saja apa yang terjadi pada kita itu tak pernah terjadi. Semua demi Irene aku rela membungkam mulutku," kataku dengan memohon.

Kevin menatapku dengan sinis, dia menarik tanganku.

"Kau anggap aku ini apa? Kau melemparku seperti gampang saja memindahkan hati. Apa kau menganggapku boneka?" kata Kevin tegas.

Dia menghempaskan tanganku lalu pergi meninggalkanku. Air mataku sudah tak berbendung lagi, ini menyakitkan Tuhan!

***_____

Aku memasuki kamar, kulihat Kevin duduk di samping jendela tanpa menatapku yang datang.

Dia mematikan AC lantas mengeluarkan sebungkus rokok dari sakunya.

Mengambilnya sebatang dan mulai merokok. Itu bukan Kevin yang kukenal.

Dia mencoba mengenyahkanku, aku duduk di atas ranjang tanpa bicara.

Hubungan kami jadi dingin.

Kevin terbatuk-batuk tapi ia tak kunjung berhenti merokok.

"Kita sedang punya masalah tapi jangan sampai kau merokok seperti itu. Kau terlihat menyiksa dirimu," nasehatku lirih.

"Kau ini siapa? Beraninya menasehatiku," ucap Kevin ketus.

Aku kecewa mendapati jawaban ketus seperti itu.

"Aku mohon nanti jika kau bertemu Irene, pura-pura saja gak tahu. Anggap saja ini semua tak terbongkar. Maaf aku sudah lancang karena masuk ke kehidupan kalian. Aku ingin kalian bahagia."

"Munafik!" tegas Kevin. Dia berdiri dan menghampiriku.

"Kau sangat munafik!" ucapnya sekali lagi.

Bahkan kali ini dia sampai menunjuk wajahku.

Kevin lalu keluar kamar tanpa lupa membanting pintu kamar.

Aku kembali menangis tak berdaya, lebih sakit rasanya ketimbang kemarin.

Tuhan kuatkan aku!

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • 20 Days, Married With Captain (Indonesia)   7. Keputusan Terakhir

    ***Di dalam mobil milik Kevin, suasana begitu sepi. Aku dan Kevin sama-sama saling diam, kebekuan ini mungkin akan lama mencairnya.Aku tahu aku telah salah memilih jalan tapi aku harap Kevin tak melampiaskan kemarahannya kepada siapapun.Suara decit mobil menghentikan lamunan panjangku. Rupanya mobil itu sudah sampai di depan rumahku.Kulirik Kevin melepas sabuk pengaman nya guna turun dari mobil."Ehm, Kevin ..." ucapku lirih.Sosok di sampingku itu berhenti sejenak walau tak menatapku."Aku harap kau bisa menjaga rahasia ini walau sebenarnya kau sudah tahu semuanya. Aku mohon berpura-puralah seolah ini tak terjadi.""Sudah berapa kali kau mengulangnya?Aku tidak tuli," jawabnya ketus.Kevin mendorong pintu mobilnya dan melangkah keluar. Aku hanya mengikutinya tanpa banyak bicara.Dari dalam rumah Papa dan Mama menghambur ke

  • 20 Days, Married With Captain (Indonesia)   6. Hal Terbesar

    ***Sedikit kaget ketika Kevin memelukku dari belakang. Tangannya mendekap perutku, wajahnya menempel di pundakku."Sebentar lagi kita akan sampai di Hawai. Ini adalah puncak bulan madu kita. Aku harap kita tak menyia-nyiakan kesempatan ini," bisik Kevin di telingaku.Aku yang berdiri di depan jendela kamar segera membalikkan badan guna menatapnya."Maksudnya?""Kau tahu 'kan aku seorang Kapten, jika aku mulai bertugas maka aku akan jarang pulang. Jadi aku ingin bilang padamu ..."Kevin sedikit kesulitan untuk mengatakannya, hatinya sedikit tahu apa jawaban yang akan dia dapat."Aku ingin memenuhi tugasku sebagai seorang suami kepadamu. Kita sudah seminggu lebih berbulan madu tapi kita tak pernah kontak fisik secara intim. Apakah ini terlalu memalukan untukmu sehingga kau selalu menolakku," kata Kevin menunduk.Tangannya meraih tanganku, berusaha kompromi deng

  • 20 Days, Married With Captain (Indonesia)   5. Kehilangan Jiwa (2)

    Kunikmati sarapanku tanpa banyak bicara, Kevin juga begitu. Dia memilih diam dan sibuk dengan sarapannya.Udara semilir menyelingi suasana pagi yang cerah ini."Tumben kau manis sekali hari ini, biasanya kalau makan kau suka manja denganku," singgung Kevin setelah usai makan.Dasar! Dia mengataiku lagi, padahal aku selama ini tak begitu pada Ian apalagi pada dirinya."Benarkah? Aku ingin mengubah kebiasaan burukku," jawabku dengan wajah malu."Padahal aku suka banget sama Irene yang manja sama aku. Yang suka minta dicium atau menciumku terlebih dahulu. Jika kau tak menggodaku rasanya ada yang kurang," kata Kevin sembari menatapku.Aku terperangah kaget, benarkah dibalik kelembutan Irene dia bisa melakukan itu semua?"Kau ingat kan waktu pertama kali bertemu denganku? Kau mnggodaku habis-habisan. Dan aku bisa melihat betapa seksinya dirimu di mataku," kata Kevin.

  • 20 Days, Married With Captain (Indonesia)   4. Kehilangan Jiwa (1)

    ***______****Geladak kapal yang mewah, kolam renang yang luas serta kamar-kamar yang megah kini ada di depan mataku. Aku tak mengira bahwa garis hidup mengantarku ke sini. Ke sebuah kapal pesiar ternama dan terhebat di dunia.Kulangkahkan kaki mengikuti langkah Kevin menuju kamar no.1. Kata Kevin kamar itu memang kamar spesial untuk para milyader yang menyewa kamar itu dengan tarif sangat tinggi.Tangan Kevin masih bertaut denganku, dia tak melepas tanganku sedari tadi. Dan aku tak keberatan dengan gandengan tangan Kevin.Pria tampan berambut pirang itu sesekali menyapa kawan seperjuangannya di kapal dengan hangat. Dia terlihat sangat sopan dan berwibawa. Tak terlihat sifat mesumnya sama sekali."Hai Kapten ganteng, inikah istrimu?" tanya seseorang yang berseragam rapi.Kevin berhenti melangkah, dia menjabat tangan pria itu sambil menebar senyum termanisnya."Ya, menurutmu bagaimana? Cantik bukan?" kata Kevin bercanda.

  • 20 Days, Married With Captain (Indonesia)   3. Permulaan Yang Gila

    ***Baru saja menikah langsung pergi bulan madu ke apartement mewah milik keluarga Thompson. Itu sangat melelahkan! Baru setengah hari menjalaninya, aku sudah merasa seperti hidup di neraka setengah abad lamanya.Aku membuang pandangan keluar jendela mobil Kevin. Tak kuhiraukan, entah Kevin bicara apa.Setelah pernikahan itu Kevin langsung memboyongku ke apartement keluarganya. Sungguh tak berperasaan, apa dia tak tahu aku capek sekali!Capek hati dan pikiran maksudnya!"Irene, kau dengar tidak?!" Suara Kevin memecah lamunanku di malam yang dingin ini."Ah, iya?""Sudah kutebak kau pasti tak mendengarkanku bicara," gerutunya tanpa menatapku.Dia menatap jalan lurus di depannya."Maaf aku tak fokus padamu. Bisa kau ulang?" kataku pura-pura menyesal.Huh, berpura-pura itu pekerjaan yang sangat melelahkan dan butuh energi ekstra."Kau tahu apa hadiah yang diberikan Tuan Albert untuk pernikahan kita?"Aku benc

  • 20 Days, Married With Captain (Indonesia)   2. Pernikahan Palsu

    *****Kakiku bergemeletuk sesaat setelah sampai di gedung resepsi. Aku menatap wajah orang-orang yang menatapku, mereka semua tampak asing di mataku.Aku mencengkeram lengan Papa, mulai gelisah, tapi Papa menepuk tanganku dengan lembut menandakan agar aku jangan gelisah atau pun panik.Aku melangkahkan kakiku menuju altar gereja, pandanganku hanya tertuju pada satu pria yang berjas putih dan tersenyum manis menyambutku.Itukah yang namanya Kevin?Yang membuat Irene tergila-gila sampai sampai tidak mau melepaskannya.Di mataku Kevin hanyalah sosok pria berperawakan tinggi tegap, berkulit putih dan memiliki senyum menawan. Hidung yang mancung, wajah ganteng serta mata yang tampak bersinar. Dia juga memiliki bola mata biru yang menurutku-, eksotis!Aku melangkahkan kakiku perlahan menghampiri pria itu dengan gugup.Bibirku bergetar, semoga pria bernama Kevin itu tak curiga padaku."Kau sangat cantik, Irene," pujinya padaku.Bu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status