Masuk***
Di dalam mobil milik Kevin, suasana begitu sepi. Aku dan Kevin sama-sama saling diam, kebekuan ini mungkin akan lama mencairnya.
Aku tahu aku telah salah memilih jalan tapi aku harap Kevin tak melampiaskan kemarahannya kepada siapapun.
Suara decit mobil menghentikan lamunan panjangku. Rupanya mobil itu sudah sampai di depan rumahku.
Kulirik Kevin melepas sabuk pengaman nya guna turun dari mobil.
"Ehm, Kevin ..." ucapku lirih.
Sosok di sampingku itu berhenti sejenak walau tak menatapku.
"Aku harap kau bisa menjaga rahasia ini walau sebenarnya kau sudah tahu semuanya. Aku mohon berpura-puralah seolah ini tak terjadi."
"Sudah berapa kali kau mengulangnya?Aku tidak tuli," jawabnya ketus.
Kevin mendorong pintu mobilnya dan melangkah keluar. Aku hanya mengikutinya tanpa banyak bicara.
Dari dalam rumah Papa dan Mama menghambur keluar.
"Sayang, akhirnya kau kembali?!" ucap Mama seraya memeluk tubuhku.
"Iya Ma," jawabku mengumbar senyum.
"Bagaimana perjalanannya? Pasti melelahkan?!" kata Papa pada Kevin.
Kevin hanya tersenyum tak menjawab.
Dari dalam tampak keluar Irene menghampiri kami. Kevin meliriknya sejenak lalu merangkul pundakku mesra.
"Kami sangat menikmati bulan madu itu Pa, iyakan Irene?" kata Kevin seraya menatapku.
Aku balas menatapnya tak mengerti.
"Hai Irene bagaimana keadaanmu? Kenapa ponselmu sulit sekali di hubungi?" dengkus Irene pura-pura menyebutku Irene.
"Ponselku jatuh di laut," jawabku lirih.
"Iya ponselnya jatuh saat kami berciuman di kapal, iyakan Irene?" kata Kevin memperkeruh suasana.
Aku menyikut perutnya, aku melihat Irene mulai berwajah masam padaku.
"Irene ayo masuk ada yang ingin aku perlihatkan," ajaknya sembari menarik tanganku.
Aku hanya menurut, aku rasa Irene mulai cemburu dan marah padaku. Aku dibawanya ke kamar, dia membanting tubuhku ke ranjang.
"Apa benar kau ciuman dengannya?"
"Kau bicara apa sih?!"
"Kevin tak pernah berbohong, Irena!"
"Lalu kau menganggapnya benar?"
"Ya, mungkin saja," jawab Irene agak kelabakan.
Kemudian, tak ada suara dari kami berdua. Hanya suara detakan jarum jam yang berbunyi di kamar itu.
"Kalo begitu kita tukeran saja sekarang. Segera lepas bajumu," paksa Irene sembari menarik bajuku.
Aku tak kuasa menolak, kuturuti segala perintah Irene. Kulihat wajah Irene begitu semringah. Aku terduduk lesu usai bergantian baju dengan Irene.
Irene melangkah keluar kamar tanpa mengajakku.
Aku menundukkan kepalaku, sepertinya ada sesuatu yang hilang dari dalam diriku.
Ada rasa kecewa dalam hatiku.
***
Suasana meja makan tampak seperti biasanya, selalu ramai dan penuh canda tawa. Hanya aku yang terdiam dan menikmati makanku tanpa banyak bicara.
Sesekali kulirik Irene yang bermanja-manja sama Kevin.
Sebenarnya ada rasa sakit tapi aku mencoba untuk tidak memperhatikannya.
"Irena, ayo makan yang banyak!" kata Mama menegurku yang sedikit melamun.
Aku menatap beliau sambil mengangguk dan melempar senyum.
Irene tak peduli padaku, dia justru sibuk dengan Kevin. Huh?!
Suara bel ditekan mengalihkan perhatian kami.
"Siapa ya yang bertamu pagi-pagi begini?" gumam Mama sembari melongok ke arah ruang tamu.
"Palingan tetangga Ma," sahut Irene ketus.
"Biar aku lihat Ma," ucapku lirih lantas beranjak guna membuka pintu dan melihat siapa yang bertamu.
Wajahku memerah saat melihat Ian berdiri di ambang pintu.
"Ian?!" ucapku lirih.
"Irena?"
Ian lalu memelukku dengan tiba-tiba bersamaan dengan Papa Mama, Irene, dan Kevin keluar dari ruang makan.
"Aku kangen sama kamu," bisiknya.
"Ian lepaskan! Aku sesak tahu!" ucapku sembari mencoba melepaskan pelukan erat Ian.
Tampak Kevin menatap kami lalu membuang pandangan.
"Ehem," Papa berdehem membuat Ian sadar jika Papa Mama sudah berdiri di belakangku.
"Eh, Paman," ucapnya dengan malu.
"Segitu kangennya ya sama Irena?" singgung Irene seraya melirikku.
"Paman aku ingin mengajak Irena keluar sebentar. Boleh kan?"
"Boleh. Dia butuh hiburan," jawab Papa mantap.
"Terimakasih Paman," sahut Ian lantas menarikku begitu saja.
"Tapi ..."
"Sudah sana," ucap Irene sembari mendorongku agar mengikuti ajakan Ian.
Aku dan Ian berjalan beriringan tanpa bicara, suara gemerisik dedaunan menghiasi langkah kami.
" Bagaimana kuliahmu?" tanyaku mencoba mencairkan suasana.
"Saat aku tahu kau pergi melebihi ijinmu aku langsung ikut pulang guna menemuimu. Rupanya kau justru pergi dengan laki-laki itu," jawab Ian tanpa menatapku.
"Apa?"
Aku menghentikan langkahku tiba-tiba, Ian berhenti melangkahkan kaki dan menatapku.
"Aku sudah tahu kok apa yang terjadi antara kau dan keluargamu," ucap Ian serius.
Dia segera meraih tanganku dan menggenggamnya.
"Aku tak peduli kau pergi dengan siapa, tapi aku harap rasa cintamu tak berubah padaku. Aku sangat mencintaimu."
"Ian kau...."
"Sebenarnya aku cemburu tapi aku mencoba berpikir positif padamu. Aku tak ingin berprasangka jelek padamu."
"Maafkan aku Ian aku pergi secara mendadak waktu itu," kataku sesal.
"Tak apa aku mengerti," kata Ian lirih lalu merengkuh tubuhku.
Entah kenapa tiba-tiba aku menangis di pelukannya. Bahkan aku tak tahu tangisku ini untuk siapa dan soal apa.
***
Kucek semua email yang masuk ke dalam inboxku, sesekali kubenarkan letak kacamata bacaku. Pandanganku teralih ketika Kevin masuk ke dalam kamarku.
"Kevin?!" pekikku kaget sembari menutup Netbook. Aku berdiri tatkala Kevin menghampiriku.
"Kenapa kau kemari? Apa Irene tahu?" tanyaku bertubi-tubi.
Laki-laki itu telah sampai di hadapanku, masih membisu. Kutatap sorot matanya yang tampak meredup.
"Apa kau sakit?" tanyaku tiba-tiba. Kevin mengangguk berat.
"Sakit dimana? Kenapa gak ke dokter saja?"
"Di sini yang sakit." Kevin menyentuh dadanya sebelah kiri.
"Jantung?" tanyaku menegaskan. Kevin menggelengkan kepala.
"Hatiku yang sakit," jawabnya lirih.
Aku terdiam mendengar jawabannya itu.
Tiba-tiba Kevin memelukku dengan erat.
"Aku kangen sama kamu," tuturnya berbisik di telingaku.
"Lepaskan aku Kevin," ucap seraya mendorong tubuh Kevin.
"Kenapa kau kemari? kalau Irene tahu dia akan marah!" tegasku lagi
Kevin tak kunjung memberikan jawabannya membuat kesabaranku makin habis.
"Keluarlah!" perintahku lalu mendorong tubuh Kevin menuju pintu.
Kevin lantas menarik tanganku hingga aku jatuh ke dalam pelukannya. Dia menatapku dalam-dalam.
"Kevin aku bukan Irene jadi pergilah!"
"Aku tak peduli," jawabnya ketus.
"Apa?" tanyaku kurang mengerti.
Kevin memegang wajahku, aku masih berusaha melepaskan diri.
"Dengarkan aku baik-baik," pinta Kevin serius membuatku menghentikan usahaku. Aku menatap dua bola matanya.
"Terimakasih sudah membohongiku selama ini," bisiknya.
Aku terdiam mendengarnya, ada rasa bersalah dalam diri ini. Kevin melepaskan wajahku.
"Maafkan aku," ucapku lirih.
Belum sempat kami bicara lebih jauh lagi,tiba-tiba Irene masuk ke kamarku.
Suasana kembali menegang, di antara kami tak ada yang sanggup membuka suara.
"Irene ini tidak seperti yang kau bayangkan," kataku buru-buru mencairkan suasana.
"Kenapa Kevin ada di sini?"
"Dia mungkin salah masuk kamar tapi kami gak ngapa-ngapain kok," kataku meyakinkan.
"Kau tak menggodanya kan?! Tak mungkin kan Kevin salah masuk kamar?"
Irene masih tak percaya, wajahnya menggambarkan seribu kebingungan.
"Benar, aku salah masuk kamar. Ayo kita kembali," ajak Kevin sembari menarik tangan Irene.
Sejenak dia melirikku lalu meninggalkanku seorang diri di kamar.
Aku menarik napas lega sambil terduduk lemas, aku tak menyangka bakal serumit ini jadinya.
Tampak Mama masuk ke dalam kamarku.
Dia tak bicara hanya menepuk bahuku dengan napas berat.
"Sabar ya," ucap Mama padaku.
Aku menatapnya lalu mengangguk sambil tersenyum. Aku ingin berbisik, aku baik baik saja.
****_
Kusandarkan kepalaku di lengan Ian, pria itu hanya diam. Kami terpaku menatap senja sore yang makin tenggelam.
"Apa kau lelah?" tanya Ian tanpa menatapku. Aku mengangguk pelan.
"Kalo begitu sudahi saja. Ayo ikut aku kembali kuliah di luar negeri, dosen dan teman-temanmu pasti sudah sangat merindukanmu. Kau murid pintar," kata Ian datar.
Aku menegakkan kepalaku, kini kutatap wajah polos di sampingku itu. Ian membalas tatapanku lalu meraih tanganku.
"Apa kau kira aku juga tidak lelah? Kalau kau ingin tahu sebenarnya aku juga cemburu ketika kau memikirkan pria itu. Sebenarnya pacarmu siapa? Apa kau benar-benar terbawa perasaan pada pria itu. Kalau memang benar aku harus berjuang lagi untuk merebut hatimu dan membuatmu lupa akan sosoknya," kata Ian serius.
Aku mengelus wajahnya, aku merasa bersalah. Aku tak tahu kenapa perasaanku tiba-tiba hambar ke dia. Kasihan Ian, dia terlihat menderita karena keadaan ini.
"Maafkan aku, aku telah membuatmu menderita. Harusnya aku memikirkanmu bukan memikirkannya. Soal kembali ke bangku kuliah, mungkin katamu benar. Aku harus memikirkan kuliahku yang terbengkalai."
"Kalau kau tak keberatan biar aku yang mengurus tiketnya untukmu."
"Terimakasih Ian kau baik sekali," ucapku sambil tersenyum.
Ian hanya tersenyum manis lalu merangkul tubuhku penuh kelembutan.
Pria itu memang tak seromantis Kevin tapi kelembutan hatinya, lebih lembut dari pria manapun.
***
Pagi ini suasana di meja makan tetap sama, Kevin sibuk disuapi Irene. Papa dan Mama tampak bahagia, hanya aku yang merasa begitu sedih. Aku tak bisa begini terus-menerus.
"Pa, Ma, aku akan kembali kuliah. Aku harus menyelesaikan kuliahku yang terbengkalai," kataku membuat semuanya tercengang dan menatapku.
"Wah itu bagus Irena," sahut Irene dengan bahagia. Papa dan Mama menatap Irene sejenak lalu kembali menatapku.
"Kenapa buru-buru sekali, Nak?" tanya Mama dengan khawatir.
"Aku sudah lama di sini, kuliahku lebih penting. Jadi aku akan kembali secepatnya," jawabku sambil tersenyum.
Ini beda kenyataannya, karena hatiku hancur ketika mengatakannya.
"Lalu kapan kau akan pergi?" tanya Papa mengimbuhi.
"Secepatnya Pa, tiketku sedang diurus Ian. Jika tiket sudah ada aku pasti akan segera pergi."
"Itu bagus Irena, memang kuliahmu itu penting. Kau tinggal satu semester lagi kan?!" ucap Irene seraya menyuapkan nasi ke mulutnya.
Aku hanya menganggukkan kepala.
Suara ponselku berbunyi, ponsel itu pemberian Ian padaku. Walau dia tahu kisahku dengan Kevin, ia tak pernah marah padaku. Aku membukanya dan membaca pesan singkat dari Ian.
"Dari siapa Nak?" tanya Mama ingin tahu.
"Dari Ian Ma, ia bilang tiketnya sudah ada dan besok bisa berangkat. Aku senang akhirnya bisa ketemu teman lagi," kataku pura-pura tersenyum.
"Aku merasa gak enak badan, aku ke kamar dulu. Maaf," kata Kevin lalu beranjak pergi dari ruang makan.
Kami kembali tercengang oleh tingkah Kevin yang terlihat aneh.
"Aku akan menyusul Kevin," kata Irene lalu menyusul Kevin ke kamar.
Aku menundukkan kepala, wajahku tampak sedih. Terlihat di wajah Kevin tadi bahwa ia tampak seperti kecewa padaku.
"Irena kau baik-baik saja kan?" tanya Mama padaku.
"Ah, iya Ma. Aku akan pergi dengan Ian kok tenang saja. Aku akan jaga diri di sana," kataku tersenyum mencoba menenangkan hati orangtuaku.
Papa dan Mama hanya menganggukkan kepala dan mulai melanjutkan sarapannya.
***
Setelah membereskan barang-barangku, aku mencoba keluar dari kamar untuk mencari udara segar. Kulangkahkan kakiku menuju halaman depan, menatap langit yang penuh dengan bintang.
"Jangan pergi," kata seseorang di belakangku. Aku sudah tak asing dengan suara itu, aku menoleh padanya.
"Jangan pergi dengan orang itu," imbuhnya lagi seraya melangkah ke hadapanku.
"Ada urusan apa ya hingga kamu melarangku seperti itu?"
"Pokoknya kamu gak boleh pergi."
"Memangnya kenapa?" tanyaku pelan.
Kevin tak sanggup menjawab, aku tersenyum tipis.
"Aku akan tetap pergi," putusku tanpa menghadapnya.
"Aku harus meneruskan kuliahku yang lama kutinggalkan. Aku tak bisa lama-lama di sini," kataku lirih.
Tiba-tiba Kevin meraih lenganku dengan sedikit kasar.
"Apa kau tak peduli perasaanku sedikit saja," marahnya tiba-tiba.
Aku terdiam mendengarnya, kutatap wajahnya yang menatapku serius.
Tanpa aku dan Kevin sadari rupanya Irene mengamati kami dari balik pintu.
"Perasaan apa? Aku tak mengerti."
"Munafik! Katakan padaku bahwa sebenarnya kau juga menyukaiku kan?!"
Aku tersenyum kecut sambil melepas tangannya yang erat memegangi lenganku.
"Suka apa? Jauh sebelum aku kenal dirimu aku sudah berpacaran dengan Ian dan kau juga sudah berpacaran dengan Irene. Sudahlah jangan dipikirkan lagi," kataku pelan.
Kevin menatapku tak percaya.
"Kita sudah memiliki kekasih jadi tetaplah bersama kekasih kita. Aku akan melupakan semua yang pernah terjadi pada kita. Maaf jika selama ini aku mungkin mengganggu hidupmu," kataku dengan sedih.
Aku lalu melangkahkan kaki guna masuk ke dalam rumah.
Kevin menarik tanganku hingga aku terlempar ke dalam pelukannya. Dia memelukku dengan erat.
"Lepaskan aku!" ucapku berusaha meronta.
Kevin menahan tubuhku yang berontak.
Dia menarik tanganku dan melemparku hingga terbentur dengan pohon yang tumbuh di halaman. Dengan emosinya yang meluap-luap, dia mencengkeram wajahku dan mulai menciumi bibirku.
Aku berjuang untuk melemparkan diri dari ciumannya tapi Kevin lebih kuat dari tenagaku.
Napasku tersengal-sengal saat Kevin melepas ciumannya dariku.
"Sudah sekian lama kita tak melakukannya, apa kau tak merindukannya?! Apa kau akan melupakannya?!"
Aku sedikit marah mendengarnya bicara begitu, ada rasa sakit di dadaku.
"Lepaskan aku, biarkan aku pergi!" kataku lalu mendorong tubuh pria kekar itu.
"Kenapa? Kenapa kau seperti itu? Tidakkah kau ingin tahu bagaimana perasaanku?" ucap Kevin berteriak padaku.
Aku menelan ludah dan menghentikan langkahku.Tanganku terkepal tanda geram, dia pasti akan mengungkit-ungkit lagi perasaannya.
"Aku diam bukan berarti aku tak peduli, aku sedih harus berpura-pura tak tahu di depan orang banyak. Aku melakukan apa yang tidak aku inginkan," kata Kevin meletup-letup.
Dia melangkahkan kakinya menghampiriku, menarik lenganku hingga aku benar-benar menghadap padanya.
"Aku mencintaimu Irena," kata Kevin berat.
"Lupakan aku Kevin, jangan sakiti Irene. Setidaknya lakukan itu untukku," ucapku bergetar.
"Aku mohon jangan pergi dan menikahlah denganku. Kali ini dengan kejujuran hati dan keikhlasan," pinta Kevin sembari meraih tanganku.
"Tidak Kevin, kau harus tetap dengan Irene. Sejak semula memang kau berniat menikah dengan Irene bukan denganku."
"Aku tak tahu kenapa tiba-tiba aku menyukaimu, kau berbeda dengan Irene. Hatiku lebih nyaman jika berada di sisimu."
"Kau hanya terbawa emosi saja, aku yakin jika aku pergi rasa cintamu pasti akan kembali pada Irene. Mulai sekarang jangan bahas itu lagi." Kataku memcoba membendung air mata yang sedari tadi aku tahan.
Aku melepaskan tangan Kevin lalu melangkah masuk ke dalam rumah.
Kevin hanya menatap punggungku yang makin jauh dari dirinya.
Dia menghela napas berat berulang-ulang mencoba menyisihkan rasa sakit di dadanya.
***
Kupeluk Papa dan Mama bergantian, aku berpisah tanpa menangis. Itu sudah biasa kulakukan hanya bedanya sekarang ada rasa sakit ketika aku menatap Irene yang sedari tadi tak lepas dari samping Kevin.
Aku menyadari mungkin Irene tak ingin melepaskan Kevin walau sedetik saja.
"Hati-hati sayang," kata Mama sambil mengecup dahiku.
"Iya Ma," jawabku seraya tersenyum manis.
"Ian tolong jaga putriku," kata Papa pada Ian. Ian hanya melempar senyum dan menganggukkan kepala.
Aku mendekati Irene yang makin merapat pada Kevin. Aku menebar senyum pada saudara kembarku itu dengan tulus.
"Sampai jumpa Irene," kataku lalu merengkuhnya.
"Semoga kau selalu bahagia," bisikku di telinganya. Irene mengangguk-anggukan kepalanya.
"Hati-hati Irena," balasnya lalu melepaskan pelukanku.
Aku melirik Kevin sejenak lalu berputar meninggalkan Irene.
"Kau tak ingin bicara denganku?" singgung Kevin menghentikan langkahku.
Semua tercengang ketika Kevin tiba-tiba buka suara.
"Apa aku terlihat buruk hingga kau tak mau bicara padaku," katanya lagi.
Aku menelan ludah beberapa kali lalu berbalik badan serta menghampirinya.
Aku pura-pura tersenyum berharap orang-orang tak curiga pada kami.
"Oh, maaf aku lupa. Aku terlalu bersemangat untuk ..."
Aku dan orang-orang kembali tercengang ketika Kevin tiba-tiba memelukku erat. Semua orang terlihat tercengang melihat Kevin melakukan itu padaku.
"Kevin ..."
"Kau tak mengindahkan kata-kataku tadi malam?"
"Kau bicara apa?" tanyaku mencoba menutupi kejadian semalam.
Aku melepas pelukannya dengan sedikit memaksa.
"Irena ayo kita berangkat," ajak Ian lalu menarikku dari hadapan Kevin.
"Ah iya," kataku lalu mengikuti langkah Ian yang nampak buru-buru.
Tangannya masih menggengam tanganku.
Tiba-tiba aku terhenti ketika Kevin juga menarik tanganku. Dia berusaha menahan diriku.
Ian yang melihat mulai tak suka dengan sikap Kevin yang berubah. Bahkan ketika Irene menarik tangan Kevin, secara terang-terangan Kevin membuang tangan Irene.
"Tuan Kevin jauhkan tanganmu dari Irena," singgung Ian mencoba tetap bersikap sopan.
"Justru kau yang harus melepaskan Irena untukku."
"Apa maksudmu?"
Kevin masih membisu, dia melangkah maju ke depan memutuskan tautan tanganku dengan Ian.
"Aku mencintai Irena, lepaskan dia untukku. Aku sudah menikah dengannya," kata Kevin serius.
Ian hanya tersenyum sinis.
"Kau bermimpi Tuan Kevin, pernikahan kalian itu palsu. Dan sekarang istrimu adalah Irene jadi terima kenyataan itu," kata Ian datar.
Ian lalu menarik tanganku kembali, dia membawaku menuju taksi tapi lagi-lagi Kevin menarik tanganku.
"Bagaimana kalau aku sudah menodainya?"
Sungguh kata-kata yang menggemparkan dunia, bahkan seluruh keluargaku terbelalak mendengarnya.
"Apa kau bilang?" tanya Ian kaget.
Wajahku memanas, aku buru-buru angkat suara.
"Jangan didengar, Kevin hanya membual. Dia berbohong," kataku menepis membuat wajah Kevin jadi kecewa.
Aku segera membuang tangan Kevin, lantas menarik tangan Ian untuk segera pergi.
"Secepat itukah kau melupakannya? Aku berdoa semoga kau mengandung anakku agar semua orang tahu dengan kebohonganmu. Aku benar-benar menjaga harga diriku, bahkan sampai sekarang aku tak pernah menyentuh Irene. Karena hanya kau wanita yang kusentuh setelah pernikahan itu. Apapun alasanmu untuk menolakku aku tetap akan bertanggung jawab dengan apa yang kulakukan padamu," kata Kevin panjang lebar.
Tatapan semua orang tertuju padaku, mereka memandangku seakan tak percaya. Kevin menghampiriku dan merengkuh tubuhku.
"Kami sudah melakukannya," imbuh Kevin pelan. Irene yang merasa dikhianati menghampiriku.
"Benarkah itu Irena?" tanyanya tak percaya.
"Benarkah Nak?" tanya Papa dan Mama hampir bersamaan.
"Irena aku harap semua itu bohong," kata Ian tampak kecewa.
Semua orang menatapku minta jawaban.
Aku menundukkan kepalaku dengan malu.
"Ya," jawabku singkat.
Irene yang menahan diri dari tadi langsung kehilangan kendali. Dia mencoba menamparku tapi berhasil ditangkis Kevin.
"Kau penghianat," makinya padaku.
"Irene," panggilku ketika Irene berlari dari hadapanku.
Papa dan Mama tampak bingung, Ian juga begitu. Ian menghampiriku yang terdiam mulai menangis.
"Apa itu benar?" tanyanya masih tak percaya.
"Apa kami perlu melakukannya di sini," ucap Kevin mulai tak suka.
"Kalau begitu tanggungjawabi dia, kau harus mengasihinya. Aku akan senang jika kau melakukannya," balas Ian dengan rasa sakit.
Kevin mulanya tercengang namun ia segera menganggukkan kepala. Ian meraih tanganku dan memelukku sejenak.
"Kau harus bahagia Irena," bisik Ian sebelum pergi.
Ian lalu melangkahkan kaki menuju taksi dan mulai pergi.
"Mungkin kalian sudah ditakdirkan berjodoh," kata Papa dengan wajah sendu.
"Menikahlah secara sah," imbuh papa lagi.
Kami terbengong mendengar perkataan Papa.
"Tapi Irene?" tanyaku lirih.
Bagaimanapun aku khawatir dengan dengan Irene.
"Itu biar kami yang urus," kata Papa datar.
Mama dan Papa meyakinkanku.
Memang cinta itu tidak bisa di paksakan.
***
Sejak kejadian itu, Kevin membawaku pindah ke apartemen milik keluarganya.
Dia juga tak ingin kebahagiaannya dirusak oleh Irene.
Bagaimanapun aku dan Irene adalah bersaudara, pasti Irene takkan mudah menerima kenyataan.
Kevin pun mengurus surat pernikahan kami, ia berencana mengganti nama di akta pernikahan.
Lamunanku pudar ketika Kevin memasuki kamar dengan wajah berseri. Aku melempar senyum padanya, dia menatapku dan membalas senyumku.
"Sendirian saja?" tanyanya sambil duduk di sampingku.
"Aku sudah terbiasa sendiri."
"Tidak untuk saat-saat ini," tukas Kevin sembari meraih tanganku.
Aku menatapnya penuh tanda tanya, ia kembali melempar senyum.
"Setelah apa yang terjadi, aku memutuskan untuk membawamu ikut denganku. Kemanapun aku pergi kau harus ada di sampingku," kata Kevin dengan bahagia.
Aku tertawa mendengar ucapan Kevin yang terdengar aneh di telingaku.
"Kenapa tertawa? Apa ada yang salah?" heran Kevin.
"Aku memang selalu ada di sampingmu, memangnya aku mau kemana?!" tuturku sambil geleng-geleng kepala.
Kevin mencubit pipiku dengan ekspresi gemas.
"Aku ingin kau mendampingiku berlayar," jelasnya lagi.
Kini tawaku terhenti, aku kembali terheran-heran dan merasa tak percaya.
"Apa kau yakin? Pimpinanmu pasti keberatan jika aku ikut denganmu," kataku dengan ragu.
Kevin kembali menoel pipiku, pria ini tangannya tak pernah berhenti mencubiti tubuhku. Dia sepertinya gemas banget sama aku. Kevin merapatkan tubuhnya di sampingku, dia merengkuhku dengan tangannya.
"Aku sudah bilang dan beliau mengijinkan, jadi mulai sekarang berbahagialah denganku Irena," bisik Kevin lirih.
Aku terdiam, pikiranku kembali teringat dengan Irene. Ia pasti membenciku setengah mati karena menganggapku telah merebut pria idamannya.
Tanpa sadar dahiku berkerut membuat Kevin yang memperhatikanku menjadi heran.
"Kenapa? Apa kau tak bahagia?" tanya Kevin sembari menggoyang-goyang lenganku.
Aku tersadar dan kembali menguasai akal sehatku.
"Sebenarnya aku masih memikirkan Irene, dia pasti sangat membenciku. Dia pasti menganggapku telah merebutmu," kataku dengan mimik wajah sedih.
Kevin mengangkat daguku, dia menatap bola mataku mencoba meyakinkan hatiku.
"Jangan menyalahkan diri sendiri, aku tak ingin kau sedih karena memikirkan Irene. Apa kau tak yakin dengan perasaanku?" tanya Kevin serius.
Aku tetap dian hingga Kevin meraih tanganku dan menempelkan tanganku di dadanya.
"Di dalam sini hanya berdebar ketika aku bersanding denganmu. Hatiku memilih dirimu," katanya lagi.
Aku sadar, aku telah membuatnya kembali sedih dengan membahas masalah Irene.
Aku mencoba melempar senyum padanya, berharap Kevin tak larut dalam kesedihanku.
"Terimakasih kau sudah memilihku, aku janji akan jadi istri yang baik untukmu dan anak kita nanti."
Akhirnya Kevin kembali tersenyum. Dia menenggelamkanku dalam pelukannya yang hangat.
"Kira-kira apa aku boleh menyentuhmu lagi seperti waktu itu?!" tanya Kevin berbisik. Wajahnya kelihatan ragu dan takut menyinggungku.
Aku tetap diam, bergeming dari pelukannya. Jujur, hatiku berdebar ketika ia menyinggung masalah intim itu.
Kevin melepas pelukannya dan menatapku tajam. Wajahku memerah ketika menatap sorot matanya yang membara. Tangan Kevin menyentuh wajahku, membawanya mendekat dengan wajahnya.
"Aku menginginkanmu," bisik Kevin lirih hampir tak terdengar.
Jantungku berdesir ketika hidungnya menyentuh ujung hidungku.
Kucengkeram lengannya tanpa sadar saat bibir Kevin benar-benar menyentuh bibirku.
Kevin melumat bibirku dengan lembut, mencecap, dan menggigitnya. Seolah hasratnya yang terpendam ia keluarkan semua. Tangannya mulai menjamahi tubuhku, berusaha melepas pakaian yang menutupi tubuhku.
Dengan tenaganya yang lebih kuat dariku, dia merebahkanku di ranjang. Memulainya untuk lebih intim lagi tapi aku menahan dadanya agar menghentikan apa yang ia lakukan.
"Kenapa?" tanyanya dengan kecewa.
Aku bergegas bangun, aku merasa dilema dengan apa yang pernah kulalui waktu itu.
"Sebenarnya aku takut untuk melakukannya," jujurku lirih.
Kurapikan lagi bajuku yang hampir morat-marit karena Kevin. Kevin beringsut di sampingku, meraih tanganku, dan menggenggam erat.
"Aku memang memulainya dengan salah, maaf kalau waktu itu aku melukaimu. Aku bukan tipe pria sabar, aku tak terlalu romantis tapi aku akan mencoba memahami apa saja yang kau rasakan. Segenap hatiku aku mohon maaf atas apa yang telah kulakukan dan yang telah melukaimu. Mulai sekarang aku akan lebih berhati-hati dalam memperlakukanmu," kata Kevin datar.
Aku menatap matanya, kulihat ketulusan terpancar di sana. Ia tak berusaha berbohong padaku, ia sedang mencoba jujur padaku. Aku pantas memberi apresiasi padanya. Tanpa bicara aku lalu memeluk tubuhnya, ia lelaki yang hebat menurutku.
Dengan keberaniannya, dia mencoba mengutarakan apa yang ada di hatinya.
Tanpa ragu akan ditolak, ia tetap menyuarakan isi hatinya.
Dengan hati kecilnya itu ia mampu merobohkan dinding ketidakpercayaan.
Dan sekarang aku percaya, Tuhan memberikannya padaku agar aku tetap mendukungnya seperti itu.
Kevin yang dulu kuanggap pria mesum itu kini ada di sampingku. Bukan sebagai pria mesum lagi tapi pria bertanggungjawab dan mengesankan.
Aku bersyukur mendapatkannya dan aku tak akan melepaskannya selamanya.
******
***Di dalam mobil milik Kevin, suasana begitu sepi. Aku dan Kevin sama-sama saling diam, kebekuan ini mungkin akan lama mencairnya.Aku tahu aku telah salah memilih jalan tapi aku harap Kevin tak melampiaskan kemarahannya kepada siapapun.Suara decit mobil menghentikan lamunan panjangku. Rupanya mobil itu sudah sampai di depan rumahku.Kulirik Kevin melepas sabuk pengaman nya guna turun dari mobil."Ehm, Kevin ..." ucapku lirih.Sosok di sampingku itu berhenti sejenak walau tak menatapku."Aku harap kau bisa menjaga rahasia ini walau sebenarnya kau sudah tahu semuanya. Aku mohon berpura-puralah seolah ini tak terjadi.""Sudah berapa kali kau mengulangnya?Aku tidak tuli," jawabnya ketus.Kevin mendorong pintu mobilnya dan melangkah keluar. Aku hanya mengikutinya tanpa banyak bicara.Dari dalam rumah Papa dan Mama menghambur ke
***Sedikit kaget ketika Kevin memelukku dari belakang. Tangannya mendekap perutku, wajahnya menempel di pundakku."Sebentar lagi kita akan sampai di Hawai. Ini adalah puncak bulan madu kita. Aku harap kita tak menyia-nyiakan kesempatan ini," bisik Kevin di telingaku.Aku yang berdiri di depan jendela kamar segera membalikkan badan guna menatapnya."Maksudnya?""Kau tahu 'kan aku seorang Kapten, jika aku mulai bertugas maka aku akan jarang pulang. Jadi aku ingin bilang padamu ..."Kevin sedikit kesulitan untuk mengatakannya, hatinya sedikit tahu apa jawaban yang akan dia dapat."Aku ingin memenuhi tugasku sebagai seorang suami kepadamu. Kita sudah seminggu lebih berbulan madu tapi kita tak pernah kontak fisik secara intim. Apakah ini terlalu memalukan untukmu sehingga kau selalu menolakku," kata Kevin menunduk.Tangannya meraih tanganku, berusaha kompromi deng
Kunikmati sarapanku tanpa banyak bicara, Kevin juga begitu. Dia memilih diam dan sibuk dengan sarapannya.Udara semilir menyelingi suasana pagi yang cerah ini."Tumben kau manis sekali hari ini, biasanya kalau makan kau suka manja denganku," singgung Kevin setelah usai makan.Dasar! Dia mengataiku lagi, padahal aku selama ini tak begitu pada Ian apalagi pada dirinya."Benarkah? Aku ingin mengubah kebiasaan burukku," jawabku dengan wajah malu."Padahal aku suka banget sama Irene yang manja sama aku. Yang suka minta dicium atau menciumku terlebih dahulu. Jika kau tak menggodaku rasanya ada yang kurang," kata Kevin sembari menatapku.Aku terperangah kaget, benarkah dibalik kelembutan Irene dia bisa melakukan itu semua?"Kau ingat kan waktu pertama kali bertemu denganku? Kau mnggodaku habis-habisan. Dan aku bisa melihat betapa seksinya dirimu di mataku," kata Kevin.
***______****Geladak kapal yang mewah, kolam renang yang luas serta kamar-kamar yang megah kini ada di depan mataku. Aku tak mengira bahwa garis hidup mengantarku ke sini. Ke sebuah kapal pesiar ternama dan terhebat di dunia.Kulangkahkan kaki mengikuti langkah Kevin menuju kamar no.1. Kata Kevin kamar itu memang kamar spesial untuk para milyader yang menyewa kamar itu dengan tarif sangat tinggi.Tangan Kevin masih bertaut denganku, dia tak melepas tanganku sedari tadi. Dan aku tak keberatan dengan gandengan tangan Kevin.Pria tampan berambut pirang itu sesekali menyapa kawan seperjuangannya di kapal dengan hangat. Dia terlihat sangat sopan dan berwibawa. Tak terlihat sifat mesumnya sama sekali."Hai Kapten ganteng, inikah istrimu?" tanya seseorang yang berseragam rapi.Kevin berhenti melangkah, dia menjabat tangan pria itu sambil menebar senyum termanisnya."Ya, menurutmu bagaimana? Cantik bukan?" kata Kevin bercanda.
***Baru saja menikah langsung pergi bulan madu ke apartement mewah milik keluarga Thompson. Itu sangat melelahkan! Baru setengah hari menjalaninya, aku sudah merasa seperti hidup di neraka setengah abad lamanya.Aku membuang pandangan keluar jendela mobil Kevin. Tak kuhiraukan, entah Kevin bicara apa.Setelah pernikahan itu Kevin langsung memboyongku ke apartement keluarganya. Sungguh tak berperasaan, apa dia tak tahu aku capek sekali!Capek hati dan pikiran maksudnya!"Irene, kau dengar tidak?!" Suara Kevin memecah lamunanku di malam yang dingin ini."Ah, iya?""Sudah kutebak kau pasti tak mendengarkanku bicara," gerutunya tanpa menatapku.Dia menatap jalan lurus di depannya."Maaf aku tak fokus padamu. Bisa kau ulang?" kataku pura-pura menyesal.Huh, berpura-pura itu pekerjaan yang sangat melelahkan dan butuh energi ekstra."Kau tahu apa hadiah yang diberikan Tuan Albert untuk pernikahan kita?"Aku benc
*****Kakiku bergemeletuk sesaat setelah sampai di gedung resepsi. Aku menatap wajah orang-orang yang menatapku, mereka semua tampak asing di mataku.Aku mencengkeram lengan Papa, mulai gelisah, tapi Papa menepuk tanganku dengan lembut menandakan agar aku jangan gelisah atau pun panik.Aku melangkahkan kakiku menuju altar gereja, pandanganku hanya tertuju pada satu pria yang berjas putih dan tersenyum manis menyambutku.Itukah yang namanya Kevin?Yang membuat Irene tergila-gila sampai sampai tidak mau melepaskannya.Di mataku Kevin hanyalah sosok pria berperawakan tinggi tegap, berkulit putih dan memiliki senyum menawan. Hidung yang mancung, wajah ganteng serta mata yang tampak bersinar. Dia juga memiliki bola mata biru yang menurutku-, eksotis!Aku melangkahkan kakiku perlahan menghampiri pria itu dengan gugup.Bibirku bergetar, semoga pria bernama Kevin itu tak curiga padaku."Kau sangat cantik, Irene," pujinya padaku.Bu