Share

3. Permulaan Yang Gila

Author: Dacytta Peach
last update publish date: 2020-11-13 19:31:30

***

Baru saja menikah langsung pergi bulan madu ke apartement mewah milik keluarga Thompson. Itu sangat melelahkan! Baru setengah hari menjalaninya, aku sudah merasa seperti hidup di neraka setengah abad lamanya.

Aku membuang pandangan  keluar jendela mobil Kevin. Tak kuhiraukan, entah Kevin bicara apa.

Setelah pernikahan itu Kevin langsung memboyongku ke apartement keluarganya. Sungguh tak berperasaan, apa dia tak tahu aku capek sekali!

Capek hati dan pikiran maksudnya!

"Irene, kau dengar tidak?!" Suara Kevin memecah lamunanku di malam yang dingin ini.

"Ah, iya?"

"Sudah kutebak kau pasti tak mendengarkanku bicara," gerutunya tanpa menatapku.

Dia menatap jalan lurus di depannya.

"Maaf aku tak fokus padamu. Bisa kau ulang?" kataku pura-pura menyesal.

Huh, berpura-pura itu pekerjaan yang sangat melelahkan dan butuh energi ekstra.

"Kau tahu apa hadiah yang diberikan Tuan Albert untuk pernikahan kita?"

Aku benci teka teki.

"Apa?" tanyaku singkat. Kevin menebar senyum lalu melirikku sejenak.

"Tuan Albert mengijinkanku membawamu naik kapal pesiar yang selama ini kukendalikan. Kita akan bulan madu di kapal pesiar secara gratis selama 2 minggu. Wow, itu sangat fantastis," katanya dengan semringah.

Aku hanya tersenyum lebar, sebenarnya aku tak tertarik sama sekali.

"Kelihatannya kau tak senang? Bukankah kau dulu pernah ingin bulan madu di kapal pesiar mewah?"

"Aku senang kok cuma aku merasa capek aja," jawabku sekenanya.

Aku kembali membuang muka keluar jendela. Hingga tak terasa mobil Kevin memasuki sebuah apartement mewah bercat hijau.

Aku segera turun dan mengambil koperku yang ada di bagasi belakang.

"Kenapa repot-repot, kan ada security," katanya sembari menarik tanganku memasuki rumah.

"Tapi ... "

Dia sudah tak menghiraukan ucapanku, dia sibuk menggelandangku ke kamar utama. Bahkan sapaan pelayan rumah tak digubrisnya.

"Angkuh sekali," batinku kesal.

Aku duduk di sofa bundar, melepas jaketku dan melipatnya rapi. Aku terdiam sejenak hingga akhirnya pria kurang ajar itu memelukku dari belakang.

"Irene, bagaimana kalau kita mulai saja?" ucapnya berbisik di telingaku.

Aku terperanjat kaget, tanganku sudah mulai terkepal tapi ..., lagi-lagi aku ingat aku ini siapa?! Sial!

"Ah, nanti saja ya, aku belum mandi," kataku memberi alasan.

Kevin masih memelukku, makin erat saja. Aku hampir sesak olehnya.

"Kita mandi nanti saja," bujuknya lalu mengecup leherku.

Aku menahan emosiku yang meluap-luap, aku mencoba melepaskan pelukan laki-laki itu dan beranjak berdiri.

"Beri waktu aku untuk mandi. Sebentar saja," kataku lalu berlari ke dalam kamar mandi.

Kevin hanya mendengkus sedikit kesal, dia lalu membanting tubuhnya di ranjang.

"Irene aku memberimu waktu hanya 10 menit," teriaknya padaku.

Aku memang mendengarnya, tapi aku tak menjawab sama sekali.

"Pria kurang ajar itu harus diberi pelajaran. Biarin aja dia nunggu di situ sampai pagi. Aku bisa tidur di sofa," gumamku sendiri.

Aku menatap wajahku di cermin, sejenak aku termangu. Ini kenyataan pahit yang harus kujalani selama Irene sakit.

"Dasar Irene!" dengkusku kesal lalu menyalakan shower untuk mencuci muka.

"Aku tak menyangka kau bakal jatuh cinta sama pria separah itu," imbuhku lagi.

Aku memercikkan air lagi ke wajahku.

Mulai malam ini aku harus waspada terhadap laki-laki bajingan itu.

***

Kulihat Kevin duduk rapi di atas meja makan, dia terlihat manis jika begitu. Perlahan aku melangkah mendekatinya dan duduk di hadapannya.

Dia hanya diam melihatku dan terus sibuk mengamati Tabletnya.  Aku tahu dia pasti marah gara-gara aku tolak tadi malam.

"Maaf soal tadi malam, usai mandi ... "

"Di meja makan tak pantas membicarakan soal ranjang," tukasnya dingin.

Hoho, dia memblokir ucapanku dengan sadis. Aku jadi malu sendiri karena menyinggung hal itu.

"Boleh kubuatkan sarapan untukmu?" tawarku padanya.

Bagaimanapun aku merasa tak enak padanya, mungkin aku harus sedikit lembut pada Kevin.

Saat ini statusku adalah istri, aku harus melayaninya dengan baik kecuali urusan ranjang. Aku tidak mau berurusan ranjang dengan dia!

"Kan sudah ada pembantu," jawabnya tanpa menatapku.

"Jangan mengharapkan pembantu, mereka sedang sibuk. Biar aku saja yang buatkan sarapan untukmu," kataku datar lalu beranjak menuju dapur.

Kevin menatapku penuh keheranan tapi ia menepisnya kemudian.

Sesampainya di dapur aku melihat bahan makanan dan mulai memasak. Sembari menunggu masakan matang, aku membuatkan susu hangat untuk Kevin.

Konsentrasiku pecah tatkala ada pesan singkat masuk ke ponselku. Aku membuka SMS dari Irene.

"Bagaimana tadi malam? Aku tak bisa tidur memikirkan kalian. Aku harap kalian tidak berbuat aneh-aneh."

Aku tersenyum geli lantas membalas SMS Irene.

"Selama ini aman tapi nanti-nanti aku gak jamin. Kevin itu cowok liar aku gak habis pikir kenapa kau sangat mencintainya."

"Teruslah jaga jarak dengannya aku gak ingin kau dekat-dekat dengannya."

"Kalau begitu cepatlah sembuh dan selamatkan aku dari suamimu."

"Oke. Aku mau terapy dulu, sementara itu baik-baikin Kevin ya untuk diriku tapi ingat!! Jangan digodain," bunyi SMS Irene yang terakhir.

Aku menutup ponselku seraya tersenyum. Kuletakkan susu itu di nampan dan membawanya ke meja makan.

"Minumlah dulu," ucapku lirih sambil menyodorkan segelas susu hangat.

Aku lantas berbalik arah menuju dapur tapi Kevin menarik tanganku. Untuk sejenak kami saling bertatap-tatapan.

"Kenapa kau harus repot-repot? Biasanya kau mengandalkan pembantu untuk melayanimu," kata Kevin curiga padaku.

"Ah itu ..."

Aku menarik tanganku yang digenggam Kevin dan berpura-pura menyibakkan rambutku.

"Itu karena sekarang aku sudah jadi istrimu jadi aku harus melayanimu dengan baik. Aku tak bisa mengandalkan pembantu untuk memenuhi keinginanku setiap waktu," jawabku sekenanya.

Kevin diam,wajahnya tampak terbengong-bengong. Dengan secepat kilat aku kembali ke dapur. Jantungku berdegup kencang, inilah yang kurasakan setiap kali aku berbohong pada orang lain.

Aku menepis pikiranku, berusaha se-natural mungkin. Aku harap Kevin tak melihat kebohonganku tadi.

Aku kembali memasak sayur di kompor gas, aku tak sadar jika Kevin ada di belakangku dan merengkuhku. Jari-jarinya yang besar itu mengerayang di perutku lalu memaksa tubuhku jatuh dalam dekapannya yang hangat. Aku kaget tak terkira tapi aku berhasil menguasai diriku kembali.

Kevin langsung menyasarkan bibirnya di leherku, membuat bulu-bulu halus di tanganku merinding.

"Ada apa?" tanyaku sedikit takut.

Dia tak menjawab pertanyaanku, justru tangannya bergerilya makin ke atas dan menyentuh dadaku. Aku berjuang melepaskan tangannya yang mesum itu dari dadaku.

"Kau baik-baik saja, kan?Aku sedang memasak jadi jangan main-main di dekat api," peringatku pada Kevin.

Kevin melepaskan tangannya lalu mematikan kompor gas, dia membalikkan badanku dengan sedikit kasar. Aku menatap mata birunya yang berkobar-kobar, aku dapat melihat ada nafsu yang menyala di sana.

"Mungkin sekadar bermain-main sebentar tak apa-apa," kata Kevin seraya meraih wajahku.

Aku harus bagaimana ini?!

"Kita ada di dapur,nanti kalau ada pembantu yang lihat gimana? Gak enak kan?" kataku mencoba menolak.

"Enyahkan saja mereka, kita kan pengantin baru. Mereka pasti ngerti kok," kata Kevin lirih.

Jarinya mengusap bibirku dengan lembut, jujur saja aku panik.

"Tapi aku malu ..."

"Sejak kapan Irene jadi pemalu? Bahkan dulu waktu kuciumi di pelabuhan pun kau tak serepot ini?!" tandasnya menusuk jantungku.

Aku terbungkam seketika, aku berbicara bukan sebagai Irene barusan. Semoga Kevin tak curiga dengan diriku. Aku pasrah saja saat Kevin langsung mencium bibirku. Meraup bibir bawahku dan melumatnya agak lama.

Dia menatapku sayu, tangannya masih memegangi wajahku. Dia menciumku kembali, kali ini sedikit lembut dan menghayatinya.

Tangannya turun dan meraba dadaku, tapi aku segera mendorong tubuhnya agar menjauh dariku.

"Aku harus segera menyelesaikan masakku," kataku lalu berbalik badan dan memunggunginya.

Aku kembali menyalakan kompor gas, Kevin masih di belakangku lalu memelukku lagi.

"Terimakasih atas perhatianmu hari ini Irene," bisiknya di telingaku.

Aku memilih diam tak menjawab ucapannya.

"Bersiaplah! Kita akan berlayar malam ini. Jaga kesehatanmu karena kita akan ada di lautan selama 2 minggu," kata Kevin lantas melepas pelukannya.

"Baiklah!" ucapku lirih tanpa menatap wajahnya.

Kulirik sejenak ke arah Kevin yang berlalu meninggalkanku. Aku menghembuskan napas panjang, terdengar begitu berat dan lelah.

Ya, aku lelah dengan sandiwara ini.

Kapan semua ini akan berakhir?

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • 20 Days, Married With Captain (Indonesia)   7. Keputusan Terakhir

    ***Di dalam mobil milik Kevin, suasana begitu sepi. Aku dan Kevin sama-sama saling diam, kebekuan ini mungkin akan lama mencairnya.Aku tahu aku telah salah memilih jalan tapi aku harap Kevin tak melampiaskan kemarahannya kepada siapapun.Suara decit mobil menghentikan lamunan panjangku. Rupanya mobil itu sudah sampai di depan rumahku.Kulirik Kevin melepas sabuk pengaman nya guna turun dari mobil."Ehm, Kevin ..." ucapku lirih.Sosok di sampingku itu berhenti sejenak walau tak menatapku."Aku harap kau bisa menjaga rahasia ini walau sebenarnya kau sudah tahu semuanya. Aku mohon berpura-puralah seolah ini tak terjadi.""Sudah berapa kali kau mengulangnya?Aku tidak tuli," jawabnya ketus.Kevin mendorong pintu mobilnya dan melangkah keluar. Aku hanya mengikutinya tanpa banyak bicara.Dari dalam rumah Papa dan Mama menghambur ke

  • 20 Days, Married With Captain (Indonesia)   6. Hal Terbesar

    ***Sedikit kaget ketika Kevin memelukku dari belakang. Tangannya mendekap perutku, wajahnya menempel di pundakku."Sebentar lagi kita akan sampai di Hawai. Ini adalah puncak bulan madu kita. Aku harap kita tak menyia-nyiakan kesempatan ini," bisik Kevin di telingaku.Aku yang berdiri di depan jendela kamar segera membalikkan badan guna menatapnya."Maksudnya?""Kau tahu 'kan aku seorang Kapten, jika aku mulai bertugas maka aku akan jarang pulang. Jadi aku ingin bilang padamu ..."Kevin sedikit kesulitan untuk mengatakannya, hatinya sedikit tahu apa jawaban yang akan dia dapat."Aku ingin memenuhi tugasku sebagai seorang suami kepadamu. Kita sudah seminggu lebih berbulan madu tapi kita tak pernah kontak fisik secara intim. Apakah ini terlalu memalukan untukmu sehingga kau selalu menolakku," kata Kevin menunduk.Tangannya meraih tanganku, berusaha kompromi deng

  • 20 Days, Married With Captain (Indonesia)   5. Kehilangan Jiwa (2)

    Kunikmati sarapanku tanpa banyak bicara, Kevin juga begitu. Dia memilih diam dan sibuk dengan sarapannya.Udara semilir menyelingi suasana pagi yang cerah ini."Tumben kau manis sekali hari ini, biasanya kalau makan kau suka manja denganku," singgung Kevin setelah usai makan.Dasar! Dia mengataiku lagi, padahal aku selama ini tak begitu pada Ian apalagi pada dirinya."Benarkah? Aku ingin mengubah kebiasaan burukku," jawabku dengan wajah malu."Padahal aku suka banget sama Irene yang manja sama aku. Yang suka minta dicium atau menciumku terlebih dahulu. Jika kau tak menggodaku rasanya ada yang kurang," kata Kevin sembari menatapku.Aku terperangah kaget, benarkah dibalik kelembutan Irene dia bisa melakukan itu semua?"Kau ingat kan waktu pertama kali bertemu denganku? Kau mnggodaku habis-habisan. Dan aku bisa melihat betapa seksinya dirimu di mataku," kata Kevin.

  • 20 Days, Married With Captain (Indonesia)   4. Kehilangan Jiwa (1)

    ***______****Geladak kapal yang mewah, kolam renang yang luas serta kamar-kamar yang megah kini ada di depan mataku. Aku tak mengira bahwa garis hidup mengantarku ke sini. Ke sebuah kapal pesiar ternama dan terhebat di dunia.Kulangkahkan kaki mengikuti langkah Kevin menuju kamar no.1. Kata Kevin kamar itu memang kamar spesial untuk para milyader yang menyewa kamar itu dengan tarif sangat tinggi.Tangan Kevin masih bertaut denganku, dia tak melepas tanganku sedari tadi. Dan aku tak keberatan dengan gandengan tangan Kevin.Pria tampan berambut pirang itu sesekali menyapa kawan seperjuangannya di kapal dengan hangat. Dia terlihat sangat sopan dan berwibawa. Tak terlihat sifat mesumnya sama sekali."Hai Kapten ganteng, inikah istrimu?" tanya seseorang yang berseragam rapi.Kevin berhenti melangkah, dia menjabat tangan pria itu sambil menebar senyum termanisnya."Ya, menurutmu bagaimana? Cantik bukan?" kata Kevin bercanda.

  • 20 Days, Married With Captain (Indonesia)   3. Permulaan Yang Gila

    ***Baru saja menikah langsung pergi bulan madu ke apartement mewah milik keluarga Thompson. Itu sangat melelahkan! Baru setengah hari menjalaninya, aku sudah merasa seperti hidup di neraka setengah abad lamanya.Aku membuang pandangan keluar jendela mobil Kevin. Tak kuhiraukan, entah Kevin bicara apa.Setelah pernikahan itu Kevin langsung memboyongku ke apartement keluarganya. Sungguh tak berperasaan, apa dia tak tahu aku capek sekali!Capek hati dan pikiran maksudnya!"Irene, kau dengar tidak?!" Suara Kevin memecah lamunanku di malam yang dingin ini."Ah, iya?""Sudah kutebak kau pasti tak mendengarkanku bicara," gerutunya tanpa menatapku.Dia menatap jalan lurus di depannya."Maaf aku tak fokus padamu. Bisa kau ulang?" kataku pura-pura menyesal.Huh, berpura-pura itu pekerjaan yang sangat melelahkan dan butuh energi ekstra."Kau tahu apa hadiah yang diberikan Tuan Albert untuk pernikahan kita?"Aku benc

  • 20 Days, Married With Captain (Indonesia)   2. Pernikahan Palsu

    *****Kakiku bergemeletuk sesaat setelah sampai di gedung resepsi. Aku menatap wajah orang-orang yang menatapku, mereka semua tampak asing di mataku.Aku mencengkeram lengan Papa, mulai gelisah, tapi Papa menepuk tanganku dengan lembut menandakan agar aku jangan gelisah atau pun panik.Aku melangkahkan kakiku menuju altar gereja, pandanganku hanya tertuju pada satu pria yang berjas putih dan tersenyum manis menyambutku.Itukah yang namanya Kevin?Yang membuat Irene tergila-gila sampai sampai tidak mau melepaskannya.Di mataku Kevin hanyalah sosok pria berperawakan tinggi tegap, berkulit putih dan memiliki senyum menawan. Hidung yang mancung, wajah ganteng serta mata yang tampak bersinar. Dia juga memiliki bola mata biru yang menurutku-, eksotis!Aku melangkahkan kakiku perlahan menghampiri pria itu dengan gugup.Bibirku bergetar, semoga pria bernama Kevin itu tak curiga padaku."Kau sangat cantik, Irene," pujinya padaku.Bu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status