LOGIN"Aku ingin wanita ini mati" menyerahkan selembar foto.
"Tapi nyonya, orang ini sepertinya sangat berharga. kau tau kan bayarannya akan sangat mahal"
"Aku tak peduli, yang penting dia mati. Tidak mengusik hidup kami lagi."
Kami? lelaki itu tak bisa menahan geli. bagaimana bisa wanita simpanan bilang istri sah mengusik hidupnya. wah, dunia memang sudah rusak sepertinya.
"Kau sanggup kan?"
"Tentu, tak ada yang tidak bisa kami lakukan."
"Bagus," wanita itu menyerahkan selembar cek dengan nominal fantastis. "Ini dp bayaranmu, jika semuanya berhasil aku akan menambahkan bonusnya"
Sudut bibir lelaki itu naik. Melihat cek dengan nominal fantastis. Deret nol di belakang angka ini terlihat indah, Bukannya tak pernah melihat angka seperti ini sebelumnya. Sebelumnya ia bahkan pernah menerima bayaran yang jauh lebih tinggi. Hanya saja nominal disini tak lebih tinggi dari uang jajan anak istrinya selama satu minggu. Jadi, itulah yang membuatnya geli. Padahal nyawa yang ingin dilenyapkan adalah nyawa yang sangat berharga. Orang yang punya kedudukan penting, tapi bayarannya untuk membunuh seperti tidak setara.
"Baiklah, kau mau aku membunuhnya dengan cara apa? mau yang dramatis atau seperti yang terakhir kali."
Wanita itu bergidik ngeri. Bukan pertama kalinya ia menggunakan jasa pembunuh bayaran. Tapi rasanya masih saja mengerikan. Tatapan bos pembunuh ini jauh lebih mematikan dari pistol yang ia bawa. Walaupun dibalik topeng, ia tau tatapan lelaki di hadapannya terlalu menakutkan. Jika saja ia membuat masalah sedikit saja, ia yakin pasti akan mati disana.
"Terserah, yang penting dia mati. aku akan tunggu namanya masuk berita. kuharap kau tak mengecewakanku" wanita itu beranjak pergi menyisakan lelaki yang masih terduduk di ruang pertemuan. Sendirian.
Lelaki itu memandangi foto yang kliennya berikan. menggeleng pelan tanpa memudarkan senyum di bibir.
"Han Allice, yang benar saja" lalu membuang foto itu ke tempat sampah.
...
Lisa pov
Hari ini Sehun mengajak ku kencan. Di pinggiran sungai gangnam. Tempat, pertama kali kami bertemu.
My Hubby
El dimana? Sudah berangkat? Sudah dandan? Sudah sampai mana?
Sehun masih sama seperti 18 tahun yang lalu. Tidak sabaran, sombong, boros, sedikit bodoh, Tampan, kaya dan pastinya sangat mencintaiku.
Masih dirumah, mau berangkat
SABAR
My Hubby
Sifat ku tidak sabar Mrs Han.
Cepat datang, atau aku dan helypadku datang menjemputmu.
Aku berangkat sekarang
Aku segera mengenakan gaun yang ia kirim untukku. Satu kata yang mendefinisikan diriku saat ini.
'Cantik'
Bahkan Anson mengakuinya. Dari tatapan matanya saja aku tau. Dia pasti memuji ibunya. Anson nampak semangat mengirimku kencan. Anak ku satu ini, terlalu menggemaskan. Setidaknya dia menggemaskan dibalik semua perbuatannya yang memusingkan kepala.
Tapi lupakan itu sejenak. Setidaknya Anson manis akhir akhir ini. Jadi aku tak perlu menghukumnya. Jika kalian pikir hukuman ku adalah mencabut fasilitas seperti di tv tv, itu salah besar. Aku tak akan melakukannya. Anakku perlu hidup mewah, aku tak suka membuatnya susah. Buat apa aku mencari uang jika tidak dia gunakan. Jadi aku dan Sehun sepakat, semarah apapun kami hukuman finansial tidak akan pernah diberikan.
Selain percumah dan tidak berguna, hukuman itu malah tidak membuat jera tapi membuat nagih. Anson akan menghubungi salah satu sahabat chain nya. Chenle, misalnya. Anak itu punya aset terlalu banyak. Jadi Anson hanya perlu menelfon lele, dan anak itu pasti akan memberikan banyak bantuan.
Jika chenle menolak membantu, tapi itu kemungkinan sangat kecil. Lele tak pernah menolak apapun yang Anson minta. Tapi jika lele benar benar tak mau, Anson akan menghubungi yang lain.
Yuta, winwin, Johnny, dan yang terakhir Lucas. Lucas di urutan terakhir, karena Anson tak akan mau minta bantuan Lucas meskipun benar benar kepepet. Alasannya hanya mereka yang tau.
Karena hal ini lah kami sepakat untuk tidak menghukum Anson secara finansial. Hukuman yang pantas Anson terima adalah di diamkan. Anak itu akan di diamkan 1-2 hari maksimal agar intropeksi diri sendiri.
Walaupun hukumannya ku diamkan saja, Anson pasti akan sangat frustasi. Anak ini gampang sekali stress jika aku tak membalas pesan atau bicara padanya barang semenit.
"Bagaimana sayang?" Aku memutar tubuhku.
"Cantik mom, cantik seperti biasanya" menunjukkan jempolnya tanpa menghampiriku.
Anson masih berkutat dengan semangka di blender elektrik itu. Seharian anak itu belajar membuat jus semangka. Minuman paling mudah dibuat sedunia. Tapi anak itu selalu gagal membuatnya. Dan sekali berhasil anson tak mau lepas dari blender dan semangkanya.
Anson menuang jus semangka di gelasnya. Menghampiriku.
"Mau mom?"
Sudut bibirku terangkat. Aku tau Anson tidak menawariku. Tapi Anson meminta ku meminum jus semangka nya. Walaupun nadanya jelas menawarkan, tapi yang sudah tau lama pasti mengerti. Jika Anson tidak sekedar menawarkan. Anak itu melakukan sekuat tenaganya untuk memberikan sesuatu pada seseorang.
Aku meminum jus semangkanya. Rasanya tidak hambar atau asin seperti sebelumnya. Kali ini manis, terlalu manis karena memandang Anson.
"Enak mom?" Tanya nya.
"Luar biasa sayang. Lain kali buatkan lagi nde. Ayahmu juga" pujianku padanya. Apapun yang anakku berikan pasti akan kuberi pujian. Tak pernah sekalipun aku membentaknya.
Aku meminum jus itu sampai habis. Didepan anakku agar ia tau sesuatu yang ia buat dihargai. Dihargai orang tua sendiri jauh lebih menakjubkan dari orang lain. Aku tau karena dulu aku sedikit merasakannya.
Anson tersipu malu. Ia senang dipuji.
"Habis, mommy pergi sekarang nde" pamitku. Sembari mencium pelipis Anson.
"Siap mom, hati hati"
Aku segera menuju ke mobil. Si tua Han itu pasti akan marah jika aku tak segera berangkat. Sifatnya yang kekanakan pasti akan muncul. Membayangkan saja membuatku gemas.
"Mom, yakin mau menyetir sendiri? Tak mau diantar sopir kim saja? Kita bayar banyak, sayang sekali kalau tidak digunakan jasanya"
"Tidak sayang, mommy mau menyetir sendiri. Jangan khawatirkan mommy. Tank saja mommy taklukan apalagi mobil kecil ini" jawabku menenangkannya.
"Baiklah, hati hati ya mom"
"Ya sayang"
Aku mengemudikan mobil itu sendiri. Menyalakan musik agar tidak terlalu hening. Aku suka suasana ini.
Sekitar 10 menit perjalanan. Tinggal melewati jembatan menuju sungai Han. Tapi sebentar, kenapa jalanku terlihat mengabur. Ini mata ku yang salah atau memang jalannya mengabur.
Kepalaku rasanya jadi sangat pusing. Dadaku terasa sesak. Pandanganku terasa semakin mengabur. Kaki ku sudah mati rasa untuk menginjak gas dan rem.
Aku segera mengambil ponsel menghubungi seseorang. Sebelum kesabaranku musnah.
Tut
Tut
Tut
"Halo sayang"
"Sehuna"
"Kau dimana sayang?" Tanya suamiku. Yang kuyakin masih berkutat menyiapkan kejutan di seberang sana.
"Sehun maaf"
"Maaf? kau tak bisa datang ya? Hmm tak apa el. Kita bisa melakukan ini lain waktu" sehun menenangkan. Padahal di seberang sana wajahnya sudah sangat kecewa. Bunga ditangannya lepas dibiarkan ke meja. Fokusnya beralih ke ponsel yang ia loudspeaker.
"Tidak, aku akan datang" ucapku memaksa. Hari ini aku sudah janji menghabiskan waktu dengannya di sungai han. menikmati kembang api yang selalu ia banggakan. ia ingin mengulang kencan kami semasa kuliah.
"El apa yang terjadi. Kau mabuk? suaramu tak terdengar jelas?"
"Sehun, kau tau aku sangat mencintaimu. Aku sangat mencintai keluarga kita hiks" aku berucap lirih. Mengucapkan dengan seluruh tenaga yang tersisa.
"El kau dimana?" sehun panik. Jelas dari nada di seberang telepon. Ia tak pernah mendengarku menangis. Ia tak akan pernah membuatku meneteskan air mata sialan ini.
Pandanganku semakin mengabur. Tubuhku sudah lemas.
"sehun,__ maaf. Lagi lagi aku tak bisa menepati janji."
"EL, KAU DIMANA? JAWAB AKU" Teriak lelaki di seberang sana. membuang bunga yang ia bawa, lalu lari menuju mobil.
"Aku mencintaimu sehuna. Jaga anson untukku, Maaf tidak bisa jadi istri yang baik untukmu" aku mengucapkannya dengan sepenuh tenaga. Merasa hidupku sepertinya tak lama. Nafasku terasa sesak.
"El jangan bicara begitu. kau wanita terbaik untukku"
"KATAKAN KAU DIMANA!"
Suara sehun menyadarkanku sejenak. Aku memukul kepalaku sendiri agar tetap sadar. Perjalananku tinggal sedikit lagi melewati Jembatan, setelah itu aku harus siap mencari pertolongan yang kurasa tak akan bisa menolongku. Rasanya tubuhku semakin lemah. Kakiku tak bisa bergerak, tanganku sudah mati rasa. handphone yang ku pegang sudah jatuh ke tanah.
Brak
Brak
Brak
Sial, Mobilku tak bisa dikendalikan. menabrak pembatas jalan. pandanganku menggelap, air mataku menetes tubuhku tak berfungsi sama sekali. mulutku tak bertenaga mengucapkan beberapa kata.
Author pov
Sehun yang diseberang sana panik setengah mati. Ia mulai menghubungi sekertaris nya untuk melacak lisa. Menghidupkan mobil dan meluncur, sekiranya yang ia dengar tadi salah. Apa yang lisa ucapkan hanya candaan. Sehun memutar arah kembali, menyusuri jalan kembali.
"Ayolah el jawab" sehun terus mencoba menghubungi. tapi jangankan diangkat, tersambung saja tidak. Nomor lisa mendadak jadi tak aktif.
Mobilnya terus mencari. menuju jalan pulang. Mencoba berfikir positif lisa pasti ada di rumah. Lisa banyak minum sampai mabuk dan bicara melantur menelfonnya. Sehun akan terima jika lisa berbuat begitu.
"Apa yang terjadi disini" sehun melihat jalur yang dialihkan. pikirannya mendadak bercabang. tak mungkin kebetulan ada kecelakaan. Sehun turun dari mobilnya, mencoba mendekat ke garis polisi.
Mobil itu hancur sendirian. Mungkin kecelakaan tunggal. tapi sebentar, mobil merah Ferrari Enzo itu terasa tak asing. Pupil matanya melebar, melihat wanita yang bersimbah darah dibawa mobil ambulance. Kakinya langsung berlari menerobos garis polisi yang terpasang.
"Tuan, anda tidak boleh melewati gar_" petugas itu menahan tangan Sehun.
"LEPAS, Dia Istriku. Sialan" Sehun menerobos batas, berteriak histeris. melihat tubuh lisa bersimbah darah. tertutup kain putih yang menandakan korban tak selamat. sehun memeluk tubuh lisa yang dingin. Tak ada tawa ataupun senyum manis, hanya wajah pucat tanpa hembusan nafas.
"El bangun el," Menggoyangkan tubuh lisa di dekapannya.
"Tolong bangun sayang kumohon"
"Tuan, kami harus membawa mayatnya ke rumah sakit"
Apa yang ia dengar sekarang? mayat? sehun menggeleng "Tidak. Istriku tidak mati. Periksa lagi. Kumohon"
Dokter ambulance itu menuruti apa yang sehun inginkan. Memeriksa tubuh wanita yang sudah terpisah dari raganya. Kasihan dengan lelaki yang mengaku suami wanita itu.
"Detak jantungnya sudah tidak ada tuan. Pasien meninggal 14 februari 2018 pukul 19.38" Dokter itu mengumumkan waktu kematian pasien tepat di hadapan sehun yang masih tak percaya.
"El bangun el, kau janji akan datang. Kau bilang mencintaiku. Bangun sayang. BANGUN EL" sehun berteriak menggoyangkan badan lisa, berharap lisa sadar dan hanya membohonginya.
Tapi sayang. Ini kenyataan. Lisa tak berbohong, wanita itu masih tetap menutup matanya. Sehun menangis sampai pandangannya menggelap. Jatuh pingsan di samping tubuh allice yang sudah tak bernyawa.
...
Pagi itu Rumah besar keluarga Han harusnya diselingi dengan canda tawa seperti biasa. Nyonya rumah yang jarang sekali pulang biasanya akan mencairkan suasana. menikmati waktu keluarga. Tak jarang juga sampai memperhatikan para pelayan yang sudah ia anggap keluarga sendiri. Tapi pagi ini, suasana rumah itu jauh dari kata menyenangkan.
Sehun masih menangis memegang foto istrinya. istrinya yang tersenyum hangat di foto itu. memakai baju tentara seperti cita citanya dulu.
"Kau bohong, katamu kau tak akan meninggalkanku. Katamu mau bersama sampai mati" bisiknya yang masih bisa terdengar para pelayat. tangisan sehun terdengar parau.
Di lain tempat anson mengunci dirinya di kamar memandangi foto ibu dan dirinya beberapa waktu yang lalu. Dadanya terasa sesak seperti dihimpit. Air matanya tak berhenti mengalir.
Ia bukanlah orang yang pandai mengungkapkan kesedihan. Ia tak bisa menunjukkan kelemahannya di depan orang orang. Anson lebih suka menyendiri sampai hatinya merasa tenang.
"Mom, kenapa" jarinya mengusap wajah di foto itu.
"kenapa kau pergi mom. kau bilang sayang padaku?" air mata menetes lagi di pipi anson.
flashback
"Bagaimana baju mommy sayang?" lisa memutar tubuhnya bak pertunjukan red carpet.
"Cantik, penampilan mommy memang yang terbaik" anson masih berkutat dengan semangkanya. ia membuat banyak jus semangka hari ini. Setelah mengikuti instruksi dari YouTube, dia jadi lebih tau jika semangka harus dikupas dulu sebelum di blender. Tidak dimasukkan beserta kulitnya. Lalu di masukkan semua bahannya, jadi lah jus semangka buatan Anson. Enak, manis, dan sehat tentu saja. Anson berinisiatif membuatkan segelas untuk ibunya sebelum berangkat kencan.
"Mom, mau?"
Sudut bibir lisa terangkat. Akhirnya setelah menghabiskan banyak waktu untuk belajar, anson bisa membuat sesuatu yang layak dikonsumsi juga.
Lisa langsung meraih gelas kecil itu dari anson. Menyesap jus semangka, meminumnya sampai tandas.
"bagaimana? enak?"
lisa mengangguk
"luar biasa sayang, lain kali buatkan mommy lagi nde. daddymu juga, buatkan untuknya"
"siap mom"
lisa menyambar tas selempangnya. memeluk anson, mengecup pelipisnya singkat. "mommy pamit sayang, jaga dirimu di rumah"
"okey mom, hati hati"
Lisa memasuki mobilnya, berlalu pergi. Meninggalkan kediamannya.
Tapi belum ada 1 jam sejak kepergian mommynya. Anson dihubungi agar ke rumah sakit. Awalnya tak ada yang memberi tahunya kenapa ia harus sampai ke rumah sakit. Ia baik baik saja. Masih sehat, tampan, seperti biasa.
Anson pov
Aku disambut sekertaris lee. Orang kepercayaan ayahku. ia menuntunku ke ruangan, dimana ayahku yang bersimbah darah duduk disamping wajah pucat ibuku.
"Dad, kau tak apa?, apa yang terjadi" aku menarik tubuh ayahku. kukira ayahku yang kecelakaan. Bajunya penuh darah yang sudah mengering. tapi bukannya menjawab ayahku malah diam saja. Matanya memerah, sementara tangannya masih menggenggam erat tangan ibuku. Aku beralih ke wajah ibuku.
Aku melihat ibuku yang memucat. sudut bibirnya robek. Beberapa bagian tubuhnya memar. Tak tau. Aku mencoba memegang tangan ibuku juga. Mencoba membangunkannya.
Tapi saat ku sentuh.
Dingin
Tak ada detak nadi.
Lututku rasanya lemas seperti jelly.
"Tidak, ini tidak mungkin dad" aku meremat rambutku. masih dengan posisi terduduk. Ayahku mendekap tubuhku.
"Ikhlaskan ibumu nak. Dia sudah pergi" ucap sehun dengan suara serak khas orang yang habis menangis.
Tubuhku bergetar hebat. Tak bisa terima. Apa apaan ini. kenapa bisa bagaimana bisa. Ibu tadi masih pamit dengan senyum terukir di bibirnya. aku tak salah ingat, ibu pamit pergi kencan bukan pergi ke pemakaman. tolong, pukul kepalaku sampai sadar. aku tau ini mimpi. Aku tak bisa percaya ini.
Aku bangkit memeluk ibuku yang terbaring tak bernyawa. Memposisikan telingaku di dada, tepat di jantungnya. Tapi nihil, tak ada detak apapun. Aku menangis keras, biasanya ibu akan mendekapku kuat. Menenangkan tangisanku. Memelukku sampai tenang. tapi kali ini ibu diam saja. Tak ada dekapan hangat. tak ada senyum ceria saat melihatku. Tak ada permintaan lagi yang ia ucapkan.
"Mom bangun mom, ini aku Anson. Han Anson anakmu. Bangun mom."
"Mom bangun. Marahi aku, aku tadi minum wine. Aku clubbing. Aku balapan lagi mom. Mom marahi aku. cabut fasilitasku. Ambil atmku mom. Tolong bangunlah mom" aku menangis, air mata seenaknya turun dari pelupuk mataku.
"Mom, bangunlah. Aku akan menuruti apapun yang kau mau. serius aku akan jadi anak baik. Aku akan kembali jadi han lagi. Kumohon" aku memegang erat tangan dingin itu. Berharap ada sahutan atau setidaknya merasakan detak nadi ibuku. Tapi nihil, ia sama Sekali tak bergerak.
Aku berbalik ke arah ayahku yang masih terduduk di lantai. Tatapannya kosong. Tak ada lagi yang bisa dilakukan. Ia menangis. Untuk pertama kalinya aku melihat ayah menangis seperti itu. Terakhir kali hanya meneteskan air mata singkat. karena terharu saat ibuku bilang ia mencintainya. Tapi kali ini. Air mata kesedihan dengan tingkat 100% kesedihan murni.
Aku sadar sesuatu. Ini bukan mimpi. Ibuku benar pergi.
Flashback off
...
Berita kematian Allice menggegerkan seluruh negara. Wanita kuat nan tangguh itu kini terbaring di dalam peti mati sendirian memegang bunga di tengah tubuhnya.
Banyak yang tak percaya. Han allice mati semudah itu. Tak terkecuali Min-seok / kapten Xiumin yang menjadi rekan kerja allice selama bertahun tahun. Ia sama sekali tak percaya berita itu, sampai ia menatap langsung jenazah wanita yang terbaring di depannya.
Xiumin langsung datang saat berita itu beredar. Memastikan bahwa rekan kerjanya yang tangguh tak mati semudah itu. Kecelakaan harusnya hanya jadi lecet kecil baginya, mengingat allice sangat pandai dalam melakukan penyelamatan diri.
Harusnya ia bisa lompat saja atau terjun ke bawah jembatan. Lalu berenang keluar dari mobil busuk itu. Tapi yang ia lihat sepertinya allice tak melakukannya. Apa allice diam saja sampai kematian datang padanya.
Setetes air mata mengalir di pipi Xiumin. Mengenang bagaimana sepak terjang lisa selama di perbatasan. Wanita ini terlalu hebat untuk segera dipanggil tuhan. Kenapa tuhan mengambilnya padahal banyak yang membutuhkannya.
Harusnya Tuhan mengambil manusia tidak berguna yang sering menembaki mereka di perbatasan. Bukannya merancang kecelakaan Lisa yang berakhir dengan kematian.
"Hyung"
"Jumnyeon kau datang?"
Suho mengangguk
"Dia teman ku juga, aku harus menyampaikan penghormatan terakhir ku padanya"
Sudut bibir Xiumin sedikit tertarik ke atas. Melihat suho, rekan kerja Lisa yang masih menyempatkan waktu untuk melakukan penghormatan terakhir pada wanita ini.
Setelah itu mereka duduk di tempat yang disediakan. Menunggui sampai jenazah akan di makamkan.
"Dia orang baik, kenapa mati semudah ini" Suho menegak Soju di depannya.
Frustasi. Sedih. Tak bisa dijelaskan. Perasaan setelah ditinggalkan. Ditinggal mati, bukan ditinggal tugas menjaga perbatasan.
"Mungkin memang sudah waktunya"
Brak
Bugh
Bugh
Suara pertengkaran di rumah duka mengalihkan perhatian pelayat. 2 orang lelaki dewasa tengah bergulat. Dimana yang satu hanya pasrah, ingin dipukul atau apapun ia hanya diam saja. Sementara yang satu wajahnya memerah marah. Tangannya mengayun ayunkan kerah lawannya.
"BODOH, BRENGSEK. KENAPA KAU TAK BISA MENJAGANYA"
Tangan lelaki itu melepaskan tangannya. Mengusap wajah nya yang dipenuhi air mata. Meremat rambutnya.
"KENAPA SEHUN, KENAPA KAU TAK MENJAGANYA" lelaki itu menangis.
Sementara Sehun hanya diam saja, pandangannya kosong.
"Jung, sudah tenangkan dirimu" Seokjin menahan lelaki yang akan melampiaskan kekesalannya pada Sehun.
Sementara Sehun masih diam.
"KAU, KENAPA KAU CEROBOH SEKALI. KENAPA KAU MEMBIARKAN LISA MENYETIR SENDIRIAN. APA KAU MISKIN SAMPAI TAK SANGGUP MEMBAYAR SUPIR. JAWAB AKU HAN SEHUN BRENGSEK" lelaki itu mengguncang tubuh Sehun. Tapi yang diguncang diam saja, ia sudah pasrah. Mati sekarang pun ia akan berterima kasih.
"JIKA KAU MISKIN, KATAKAN PADAKU. KAU HARUSNYA BILANG PADAKU. AKU BISA MEMBAWANYA PERGI. AKU BISA MEMBERINYA SEMUANYA. BUKAN MALAH MATI KARENAMU" lelaki itu masih emosi. Mengucap kata kata kasar, melantur, menyalahkan Sehun yang bahkan tak menjawab apapun darinya.
"AYAH BERHENTI"
"Somi! Tidak. Ayah tidak akan berhenti. Lelaki ini pembunuh"
"JEON JUNGKOOK BERHENTI" suara hyerin menginstruksi. "Tidak kah kau lihat Sehun juga terluka, tidak kah kau lihat kita semua sama sama terluka. Bukan kau saja yang menyayangi allice. Tapi kami juga. Kami semua kehilangan dia jung"
Jungkook jatuh bersimpuh. Rasanya ia tak kuat menahan kakinya sendiri. Kepalanya menggeleng. Menolak menerima.
"Tidak, Allice tak mungkin mati Hye. Allice wanita kuat. Dia wanita paling tangguh. Kenapa dia mati seperti ini'
Hyerin memeluk Jungkook.
"Ikhlaskan dia Jung, ikhlaskan"
Jungkook menangis tersedu sedu. Suaranya terdengar pilu.
.
Dari balik itu semua. Terlihat wanita angkuh yang tersenyum bahagia melihat kedukaan ini.
Kang Hyena
Tersenyum puas. Melihat kehancuran orang orang di sekitar Lisa. Menatap puas foto wanita yang disemayamkan disana.
"Dasar orang orang bodoh. Kenapa repot repot menangisinya. Dia memang pantas mati."
Hyena memakai kacamata hitamnya lagi. Berakting ikut berduka. Yah, ia memang harus totalitas. Menjadi Calon anggota keluarga Han memang sulit. Tapi ia yakin pasti bisa meraih itu. Hanya cukup menghitung waktu. Tapi tak akan lama, Han Sehun dan seluruh hartanya akan jadi miliknya.
To Be Continued
.
.
.
To Be Continued
Sehun yang sedih banget. Jelas sedih. Istrinya udah gaada. Kasian beut anak ayam. 🥺
Tuan Jeon Jungkook yang Dateng Dateng seenak jidat. Mukul Sehun yang gatau apa apa.
Ikhlaskan allice Jung ♥️
Han Anson yang lagi nangis di kamar. Dia masih gapercaya ibunya Gaada 🥺. Btw Anggep aja ini foto Anson lagi nangis 🙈.
(Maaf gabisa Search foto Mark yang nangis. Mungkin ada yang mau ngasih aku pict Mark lagi sad 🙈)
Sehun Pergi ke busan. Sendirian tanpa Anson, tanpa bodyguard. Bukan tanpa alasan ia pergi. Jika bukan karena bosan, dan Terlebih ada wanita ular yang senantiasa membuatnya muak di rumah. Niat pulang Sehun yang tadinya 50% bakal terjun bebas ke kemungkinan tidak pulang.Sehun berhenti di sebuah rumah kecil. Menghela nafas berat melihat betapa sepinya rumah itu.Cklek
"L"Suara Jungkook membuyarkan lamunannya."Kau melamun?.""Jangan melamun, melamun tak ada gunanya my ang___ L."
"Aku ingin wanita ini mati" menyerahkan selembar foto.
Suara hairdryer memecah suasana kamar utama. Tampak Lisa tengah mengeringkan rambut Sehun. Mengusak usak rambut yang panjangnya hanya 5cm kotor itu agar cepat kering.Sehun menikmatinya. Yah, pelayanan Lisa setiap mereka bersama. Ah salah, setiap Lisa ada di rumah dan Sehun free. Lisa akan merawat Sehun dengan sepenuh hati jiwa dan raga seperti sekarang. Sehun bahkan tak bisa menyembunyikan senyuman tipis dari wajahnya. Bahagia?, Tentu saja.